Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Menghilanglah sebelum aku lenyapkan


__ADS_3

"ANDREW!!!" suara tuan besar menggelegar di ruang keluarga dalam rumah Andrew. Pria setengah baya itu masih memilki kekuatan untuk mengeluarkan suara yang membuat gendang telinga pecah.


Conrad yang baru saja reda dari menangis karena merindukan mommy Diana dan masih dalam pelukan Lia menjadi ketakutan. Dia semakin merapatkan pelukannya.


"Unty siapa itu?" tanyanya sambil menengadahkan kepalanya menatap Lia.


"Conrad disini dulu ya unty Lia lihat siapa yang datang." ucap Lia dengan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Conrad.


"ANDREWWW!!!! Kemana kau anak tidak tahu diri!" suara tuan besar kembali terdengar lantang.


Andrew yang baru saja jatuh tertidur setelah lebih dari Tiga luluh enam jam terjaga, meloncat dari sofa di ruang kerjanya dan bergegas keluar melihat apa yang terjadi. Jantungnya berdebar berharap cemas.


"Daddy, what are you doing here?" tanya Andrew dengan lantang pula. Dia heran kenapa ayahnya tiba-tiba muncul dengan marah.


"Turun kau anak tidak tahu diuntung." tuan besar yang marah segera menghempaskan tubuhnya di kursi begitu Andrew muncul dihadapannya.


"Apa yang membuatmu kemari pria tua." ucap Andrew dengan kesal.


"Apa yang kau perbuat terhadap cucu dan mantuku, hah?!"


"Maksud daddy?" Andrew kebingungan, mantu dan cucu yang mana yang dimaksudkan.


"Aku tidak mendidikmu menjadi pria bodoh!"


"Mantuku, Diana apa kau sudah menemukan dia?" tanya tuan besar masih dengan marah.


Andrew terperangah, ternyata kekasih hatinya sudah mendapatkan pengakuan dari pria tua dihadapannya. Sayangnya dia tidak ada disini. Seandainya dia mendengarkannya langsung, pasti akan sangat bahagia.


"Belum dad." jawab Andrew dengan lemah.


"Apa saja yang kau lakukan sehingga bisa kecolongan seperti ini!" Suara tuan besar sudah bisa lebih tenang daripada sebelumnya.


"Arghhh dad! Jangan kau tambahi lagi dengan omelanmu, kepalaku sudah cukup pusing. Kau pikir aku bahagia Diana menghilang. Dia alasanku untuk tetap hidup. Kau tahu itu!"


Tuan besar diam. Dia bisa melihat kalau anak laki-lakinya saat ini sedang frustasi.


"Bagaimana hasil kerja anak buahmu?"


"Plat mobil yang digunakan pria itu untuk membawa Diana adalah khusus mobil sewaan. Dan dia mengganti kendaraannya sewaktu mengganti mobil, tapi sayangnya plat mobil itu juga palsu."


"Apa mau orang itu? Apa dia sudah menghubungi untuk uang tebusan?" tanya tuan besar dengan kesal. Saat ini dia mengkhawatiran keselamatan cucu nya yang merupakan penerus keluarga.


Andrew menggelengkan kepalanya dengan lesu dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku tidak yakin ini mengenai uang tebusan."


"Maksudmu?" tuan besar mengernyitkan keningnya.


"Itu ulah pria yang terobsesi dengan wanitaku." ujar Andrew kesal.


"Kenapa tidak sedari awal kau membuat pria itu mengerti atau melenyapkannya?"

__ADS_1


"Kau pikir aku sedari awal berpangku tangan. Aku sudah pernah menghajarnya habis-habisan."


"Dari mana asal dia?"


"Negeri seberang."


"Itu lebih mudah b#doh! Laporkan penculikan dan bekerja sama dengan pemerintah untuk mendeportasinya." ujar tuan besar dengan kesal.


"Ayah, aku tahu itu. Briant sudah berhubungan dengan kepolisiaan."


"Kenapa sedari awal kau tidak membuat dia dideportasi?"


"Ah. Karena hati wanitaku terlalu lembut. Dia tidak ingin menjatuhkan karier pria yang dulu adalah temannya."


"Seharusnya kau melakukan itu diam-diam." ujar tuan besar dengan kesal sambil mengetuk-ngetukan tangannya di pegangan kursi.


Andrew diam. Saat ini apa yang dikatakan ayahnya terasa benar. Seandainya dia membuay Dylan di deportasi dari awal. Hal ini tidak akan memusingkan. Pengaruh Diana sudah membuatnya terlalu lembut.


Butler Jhon masuk dengan seorang pengawal.


"Ada apa?" tanya Andrew segera.


"Kami menemukan orang suruhan keluarga Willingthon disekitar kediaman tuan besar." ucap pengawal itu setelah mengangguk hormat.


"S##t! Tua bangka itu mau bermain-main denganku rupanya." ujar tuan besar dengan kesal.


"Tinggalah disini."


"Tinggalan disini dad, untuk sementara waktu. Jangan membuatku bertambah pusing dengan berpikir pada dua arah."


"Kau pikir aku tidak bisa menghadapi tua bangka itu?" ujar tuan besar dengan angkuh.


"Tinggalah disini, kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana aku bertanggung jawab kepaada menantumu, hah?!" ujar Andrew dengan kesal.


Tuan besar diam. Sesungguhnya hal itu amat dia inginkan tapi ego terlalu tinggi untuk mengakuinya.


"Jhon, antar aku menemui Conrad. Aku ingintahu bisa apa dia sekarang." ucap tuan besar sambil berdiri dan meninggalkan Andrew diikuti butler Jhon.


Andrew tersenyum.


"Katakan pada butler Markus ayahku akan menginap disini." kata Andrew kepada oengawal yang masih berdiri menunggu perintah.


Pengawal itu membungkuk hormart sebelum meninggalkan ruangan.


****************


Dylan berbaring di rumah sakit setempat. Beruntunglah pemilik motel segera membawanya ke rumah sakit. Beberapa giginya sudah rontok akibat pukulan pengawal Rachel. Sedangkan bagian dalam tubuhnya mengalami pendarahan dan dia pingsan selama dua puluh empat jam lamanya.


Saat dia terbangun, bau obat-obatan begitu menyengat penciumannya. Dia melihat sekeliling tidak ada siapapun. Sendiri merasakan sakit yang dia sadari pada akhirnya akibat keegoisannya sendiri.


Dylan memencet bel disebelahnya berulang-ulang. Dia tidak sabar menanti datangnya perawat.

__ADS_1


"Anda sudah sadar tuan." Seorang perawat wanita yang masih muda sudah tiba diruangan Dylan.


"Ponsel." ucap Dylan dengan lirih.


Perawat itu tampaknya tidak mengerti maksud perkataan Dylan, karena dia tetap diam saja sambil tersenyum. Dia bahkan sibuk mengecek tensi Dylan, nadi dan cairan infus.


"Ponsel." Sekali lagi Dylan berbicara.


"Ya tuan?" Perawat itu mendekatkan badannya kearah Dylan.


"Ponsel." dengan sekuat tenaga Dylan berusaha mengeluarkan suara.


"Ponsel anda, ah iya ada disini." Perawat tersebut mengambil sebuah ponsel di laci dan memberikannya pada Dylan.


Dengan gemetaran Dylan mengambil ponsel tersebut. Dia harus menghubungi Lia atau Andrew dan saat itu dia baru sadar kalau dia bahkan tidak memiliki nomer ponsel mereka. Yang dia punya hanya nomor Diana. Dan handphone itu dia tinggal di toilet sewaktu dia menculik wanita itu.


Akhirnya Dylan berharap cemas mencoba menghubungi ponsel Diana.


Tidak butuh waktu lama, seseorang mengangkatnya.


"Kemana kau bawa Diana, bang##t!" suara Andrew terdengar memaki di seberang sana.


"Katakan padaku cepat! Atau aku akan menghajarmu!"


Dylan terkekeh. Dia saat ini pun sudah babak belur tanpa perlu Andrew turun tangan.


"Diana tidak ada padaku."


"S#al! Dimana kau sembunyikan dia. Kau cari mati hah?!"


"Seandainya dia mau, aku rela mati demi dirinya." ucap Dylan lirih.


"Kau terlalu berbelit-belit. Apa kau tidak sadar kau bisa mencelakai dirinya? Dia sedang hamil, apa kau ingin membuat dia mengalami preklamsia?!" ucap Andrew yang sudah tidak sabar lagi ingin mematahkan tulang-tulang orang yang menculik kekasih hatinya.


"Dia tidak bersamaku."


"Omong kosong apa. Dari rekaman cctv, kau kriminal yang membawa lari Diana."


"Benar. Tapi sayang istrimu menemukanku dan membawa Diana pergi."


"Breng##k! Semua karena kebodohanmu! Kemana dia bawa Diana?" Andrew sudah tidak dapat mengatur intonasi suaranya. Kemarahannya sudah memuncak apalagi mengetahui Diana ada ditangan Rachel.


"Mansionnya." ucap Dylan


Sebelum Andrew memutuskan sambungan telphone mereka dia sempat melontarkan kata ancaman.


"Menghilanglah kembali lah ke asalmu sebelum aku menemukanmu dan menghabisimu!"


Dylan menarik nafas panjang. Air mata menetes di wajahnya. Ini semua kesalahannya. Kalau terjadi sesuatu dengan wanita itu seumur hidup dia akan menyesal.


Dia tahu saat ini cara yang terbaik adalah dengam pergi jauh dari kehidupan mereka. Tetapi semua hal yang menjadi semakin berantakan ini akibat perbuatannya.

__ADS_1


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2