
"Please Andrew. Aku hanya perlu mengambil beberapa barang di condominium juga memproses surat pindah untuk Conrad." Diana memohon pada Andrew untuk diijinkan keluar dari rumah.
"Tidak." Sahut Andrew tegas.
"Ayolah, kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku merasa bebas di condominium." Rajuk Diana yang merasa kesal karena sudah selama beberapa bulan dia terkurung di Mansion ini tanpa bisa pergi kemanapun tanpa seijin Andrew. Yang dia lakukan selama ini hanya belajar dengan Profesor bahasa, atau berjalan-jalan di pantai Malibu bersama Conrad ditemani para pengawal. Itupun hanya sekali. Dan itu membosankan. Aktifitas lainnya hanya dihabiskan dengan membaca dan berolahraga.
"Urusan pindah sekolah Conrad sudah ditangani Briant." Kata Andrew menjelaskan.
"Segala sesuatu pasti Briant. Apakah kau tidak kasihan pada dia, banyak hal yang harus dia urus."
"Briant memiliki banyak asisten yang membantunya."
"Tetap saja kau terlalu mengandalkan dia."
"Kenapa kau begitu mencemaskan Briant, tidak taukah kau kalau banyak hal yang harus aku pikirkan juga." suara Andrew berubah menjadi dongkol dengan bantahan dari Diana.
"Bukan begitu sayang, aku juga ingin kau melibatkan aku. Jangan buat aku seperti burung dalam sangkar." Suara Diana mulai melemah, dia kembali merajuk.
"Kau bisa pergi kemanapun di seputaran area Malibu bukan?" Ucapan Andrew memang fakta tapi tak sepenuhnya fakta itu memberinya kebebasan.
"Cuma sekali." Jawab Diana hampir tak terdengar.
"Apa katamu?"
"Ah tidak ada apa-apa." Diana buru-buru memalingkan wajahnya takut Andrew mengetahui kalau dia masih jengkel. Tapi terlambat pria itu sudah begitu mengenal wanita disebelahnya dengan baik. Bila dia mengatakan tidak ada apa-apa maka hal sebaliknya yang terjadi.
"Baiklah." Ucap Andrew lembut ditelinga Diana.
"Maksudmu?" Diana berbalik dari duduknya dan menghadap kearah Andrew.
"Kau boleh pergi ke Condominium dan mengambil barang yang kau butuhkan tapi dengan syarat."
"Apa syaratnya?" mata Diana sudah berbinar kegirangan dengan ijin tang diberikan Andrew.
"Kau harus ditemani dengan pengawal dan dari Condominium segera pulang. Tidak perlu menjemput Conrad." ujar Andrew.
"Baiklah. Deal sayang." Diana bersorak kegirangan dan mendaratkan kecupan di pipi Andrew. Kemudian sebelum sempat dia beranjak dari posisinya untuk keluar ruang kerja, Andrew sudah menangkap pinggangnya.
"Hanya kecupan?" tanya Andrew menggoda. Diana tertawa kemudian duduk dipangkuan Andrew. Merengkuh wajah Andrew dan memandangnya sejenak kemudian mendaratkan kecupan lama di kening Andrew. Andrew sempat kaget karena yang dia harapkan adalah ciuman panjang di bibir, tapi akhirnya dia menikmati kecupan panjang di dahi. Kecupan kasih sayang.
__ADS_1
Diana berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan kemudian segera menemui butler Jhon. Dan mengatakan pada butler Jhon kalau dia akan keluar hari ini tapi tampaknya butler Jhon tidak percaya buktinya dia langsung naik keatas dan menemui Andrew di ruang kerja. Dengan jengkel Diana masuk kedalam kamar berganti pakaian, membawa tas. Ketika dia sudah siap di bawah, tampaknya Papito dan seorang pengawal sudah siap di depan pintu rumah.
Tak ada yang mereka perbincangkan di dalam mobil. Diana hanya menekuk wajahnya sambil bermain dengan ponsel. Pesan dari Lia adiknya masuk dan menayakan kapan dia akan pulang ke tanah air. Sudah hampir dua tahun dia tidak pernah pulang, padahal sebelumnya setiap tujuh atau delapan bulan sekali Diana pasti akan selesai kontrak dan pulang ke tanah air. Saat ini pasport saja dia tidak memegangnya. Hanya kartu identitas pekerja dan public ressidences.
Diana menarik nafas panjang, "bagaimana mau pulang keluar rumah saja sekarang jadi lebih susah." keluhnya perlahan.
"Ya nona?" tanya Papito yang mengira Diana berbicara dengan dirinya.
"Tidak ada apa-apa Papito." sahutnya malas.
"Baiklah." sahut Papito.
"Papito, bisakah kita ke Chinatown sebentar, aku ingin membeli beberapa makanan di Asian market."
"Tapi nona.." Papito tampak ragu seraya melirik pengawal yang ada disampingnya.
"Sebentar saja. Aku benar-benar rindu masakan tanah airku. Papito tau kan bagaimana rasanya lama tidak makan Nachos, Enchilada, Burritos?" tanya Diana sambil menyebutkan nama-nama makanan khas Mexiko yang digemari Papito.
Papito diam dan menelan ludah sambil menyeringai kecil.
"Nah tau kan kenapa aku perlu ke Asian Market?" tanya Diana balik.
"Iya nona." Jawab Papito.
"Ya nona." Pengawal itu menoleh ke arah belakang.
"Aku tidak perduli kalau kau hendak melapor kepada tuanmu. Asal jangan menyalahkan Papito." ucap Diana dengan tegas. Pengawal itu diam. Dia tampaknya ragu.
"Papito belok kiri ke Asian market. Kalau tidak aku akan kabur setibanya di Condominium dan membuat kalian mendapatkan hukuman berat dari Andrew." Diana mengancam. Pengawal di samping Papito kemudian mengangguk memberi ijin kepada Papito.
Diana mendengus kesal, hari ini perasaannya tidak enak, seharian ini dia merasa kesal dan jengkel.
"Kalian lebih suka diancam ya daripada negosiasi baik-baik." keluh Diana.
Sesampainya di Asian market yang cukup besar mungkin kalau di tanah air seperti Giant. Diana segera turun dan menarik Papito bersamanya. Dia merasa lebih nyaman berjalan dengan sopir setemgah baya itu daripada hanya diikuti oleh Pengawal dengan wajah tidak bersahabat.
"Papito ini namanya tempe. Hahahha ternyata ada juga yang membuat tempe di sini." Diana bersorak kegirangan sudah dua tahun dia tidak menikmati makanan sederhana tanah air. Segera dia membeli beberapa.
tempe penyet i'm comming
__ADS_1
"Papito wah ini ada Thailand Durian. Papito mau?" tanya Diana sambil menunjukan durian monthong yang sudah dibungkus.
"Boleh nona sedikit saja. Saya penasaran untuk mencobanya." ujar Papito malu-malu.
"Kamu akan menyukainya."
Setelah membeli beberapa makanan yang dia inginkan. Ada saos sambal ABC, Indomie goreng dan kuah, sambal botolan, dan beberapa camilan Diana menuju kasir.
Setelah selesai dia mengajak Papito duduk di meja kecil yang disediakan di depan supermaket kecil tersebut. Dia membuka bungkus durian monthong dan mulai menikmatinya bersama Papito, sementara pengawal yang mengikuti mereka mengambil kursi di seberang dan duduk agak jauh sambil sesekali melirik aktitas mereka. Diana melirik sekilas dia melihat pengawal bule itu tampak berusaha menutupi hidungnya. Sifat usilnya muncul.
"Hei kamu, sini!" Panggil Diana dengan pura-pura tidak bersahabat.
Pengawal itu mengamhampiri Diana dengan diam.
"Duduklah!" Tapi pengawal itu tetap diam.
"Kau benar-benar tidak punya telinga ya. Apa perlu aku membelikanmu korek telinga,huh?!" Sindiran Diana bahkan tidak membuatnya bergidik.
"Ini buatmu. Makan sekarang!" Diana menyodorkan sebutir kecil buah durian kepada pengawal bule itu.
"Hei, kenapa kau diam saja. Atau mau aku adukan pada Briant kalau kau sudah berani bersikap kurangajar padaku? Aku rasa Briant sudah cukup tidak perlu aku bercerita pada Andrew yang pasti akan menggorokmu." Ujar Diana dengan galak sambil menahan tawa.
"Baik nyonya." Pengawal itu akhirnya membuka suara. Tampaknya dia benar-benar takut dengan nama Briant. Penggawal itu dengan ragu dan setengah jijik mengambil buah durian dan dengan mengerutkan keningnya dia memasukan satu butir kecil kedalam mulutnya. Dengan mimik wajah yang aneh dia memakan buah durian.
"Enak bukan, ayo dihabiskan, ditelan, jangan dibuang." ujar Diana memprovokasi. Dengan susah payah pengawal itu menelan durian, setelah habis dia menyambar teh kaleng chrysantheum di depan Papito dan menegaknya habis.
"Mau lagi?" tanya Diana sambil menunjukan bungkus kosong durian.
"Tidak nyonya terimakasih." Pengawal itu buru-buru menjauh sambil menahan gejolak di perutnya yang hendak muntah.
Hahahahhaha Diana tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajah pengawal yang setengah mati berusaha menghabiskan buah durian.
"Nona terlalu iseng. Bagaimana nona bisa tahu kalau dia todak suka." Meski seisi Mansion memanggilnya nyonya, Diana melarang Papito untuk melakukannya. Jadi Papito tetap memanggilnya nona.
"Aku melihat raut wajahnya ketika kita menikmati durian. Andrew juga tidak suka. Biar itu hukuman bagi dirinya karena menjengkelkan." ujar Diana sambil melangkah menuju ke mobil yang diparkir khusus didepan supermarket dan membiarkan pengawal itu membawa belanjaannya.
Perjalaanan menuju Condominium, Diana masih menahan tawa mengingat reaksi pengawal didepannya ketika menikmati durian.
Sesampainya di Condominium tampak porter membukakan pintu dan menyapanya.
__ADS_1
Dia melangkah menuju ke arah lift ketika tiba-tiba seseorang berteriak dan mencengkram tangannya dengan kasar.
"Hei *******! Wanita simpanan mau kemana kau!!"