
Tampaknya setelah kejadian ngompol, Aaron masih ingat dengan kemauannya untuk pergi ke rumah sakit. Dan ketika keinginannya dilarang oleh butler Jhon, Aaron membuat ulah. Dia membuat keributan, sehingga membuat para pelayan dan pengawal bingung.
"Pokoknya Aaron mau ke rumah sakit. Mau lihat mommy dan adik bayi." Aaron menangis sambil meloncat-loncat.
"Tapi, daddy dan mommy sudah berpesan jika kita semua harus dirumah menunggu kabar." Ujar butler Jhon.
"Aaron mau sekaranggggg! Pokoknya sekarang! Kali ini dia menangis sambil merebahkan dirinya di lantai dan menghentak-hentakan kakinya.
"Aaron anak baik, yukkk dengerin apa kata butler Jhon. Kita tunggu kabar dari daddy."
Matilda berusaha menenangkan.
"Gak mauuu. Gak mauuuu... huaaaa. Huaaa." Aaron bersiteguh dengan pendiriannya.
"Jangan menangis sambil berteriak-teriak nanti suaranya habis." Ujar Matilda sambil berusaha menggendong Aaron. Aaron menepis tangan Matilda.
"Biarin habis. Ini gara-gara butler Jhon!" Rengek Aaron dengan kesal.
"Lohhh... menangis seperti itu nanti tidak tampan lagi. Bubar dah Aaron Fans Clubnya." bujuk Matilda.
Aaron diam sesaat dan berpikir.
"Orang tampan itu biarpun menangis tetap tampan. Kalau cheft Paul yang menangis, baru jelekkk." ujar nya lantang.
Cheft Paul yang baru saja lewat, bingung kenapa dia dibilang jelek. Koki gendut itu bergegeas ke dapur dan mencuci wajahnya. Dalam benaknya pasti ada tepung atau saus yang menempel di wajahnya. Cheft Paul merasa malu jika Matilda sampai melihatnya.
Saat itu, Conrad yang baru datang dari sekolah, mendengar keributan di ruang tengah. Dia segera masuk dan mendapati Aaron yang merengek. Melihat Aaron menangis sambil merebahkan diri di lantai dan berputar-putar dan mulut kecil bocah itu tak berhenti merancau kata-kata yang tak bisa dimengerti oleh Conrad.
Matillda tampak terus berusaha menenangkan Aaron. Sementara Francesca semakin takut melihat Aaron mengamuk, gadis kecil itu berlindung dalam gendongan Maria. Aksi protes Aaron menjadi tontonan beberapa pelayan.
"Ada apa?" Tanyanya pada butler Jhon.
"Aaron memaksa mau ke rumah sakit." Jawab butler Jhon yang sudah tampak lelah menenangkan Aaron.
__ADS_1
Conrad kemudian menghampiri adiknya yang masih mengamuk.
"Aaronn..." panggil Conrad lirih.
Aaron langsung berhenti dari merajuk dan berlari memeluk Conrad. Saat ini di dalam Mansion dia merasa hanya memiliki Conrad sebagai panutan.
Bocah itu berharap jika Conrad agar berdiri di pihak nya.
"Kakakkkk... hiksss... gara-gara Frances ketiduran dan ngompol, Aaron sampai terlambat mau ke mommy. Tadi mestinya berangkat waktu butler Jhon istirahat, biar gak bawel." Bocah kecil itu mengadu pada kakak nya, sambil tetap menyalahkan orang lain.
Conrad tersenyum. Anak laki-laki yang baru masuk masa remaja, tampak lebih dewasa saat ini. Dia menggandeng tangan Aaron ke arah sofa dan mendudukan Aaron di sisinya. Mereka duduk bersebelahan di sofa.
"Mommy sekarang sedang menjalani operasi. Kita sebaiknya di rumah saja dan berdoa ya. Kalau semua ke rumah sakit, jadi ramai dong, nanti dokternya bingung tidak bisa mengoperasi mommy. "
Aaron memperhatikan ucapan Conrad dengan seksama.
"Operasi itu apa?" Tanyanya sambil menghapus sisa air mata di pipinya.
"Operasi itu tindakan medis yang dilakukan oleh dokter. Dia membantu mommy mengeluarkan adik. Nah, adiknya kan ada tiga, jadi memerlukan waktu yang lebih lama. Dokter dan tenaga ahli memerlukan waktu dan konsentrasi." Conrad kembali menjelaskan tentang operasi.
Conrad menatap pada Maria dan Matilda. Kini dia perlu bantuan orang dewasa untuk menjawab pertanyaan Aaron. Karena sesungguhnya dia pun tidak mengerti bagaimana proses mengeluarkan bayi.
"Karena melahirkan itu taruhannya nyawa. Jika tidak ada orang yang ahli untuk menolong mommy, jadi sangat berbahaya. Itu sebabnya kita harus meminta bantuan ahli. Apalagi ada tiga adik di perut mommy." Kali ini Maria menjelaskan.
"Tapi, mommy tidak akan apa-apa kan? Mommy akan sehat dan pulang lagi kan, setelah melahirkan?" Francesca menatap Maria, penjelasan Maria membuatnya takut.
"Tentu saja. Itu sebabnya benar kata kakak Conrad, lebih baik kita di rumah saja dan berdoa untuk mommy." Ujar butler Jhon.
Butler Jhon merasa lega, Aaron berhasil ditahklukan oleh Conrad. Dia sudah merasa pusing sejak tadi, hingga meminta seorang pelayan mengambilkan obat sakit kepala untuknya.
"Ayo kita berdoa kalau begitu." Ujar Aaron dengan bersemangat.
Semua orang di ruang tengah akhirnya mengheningkan cipta, berdoa untuk Diana dan proses kelahiran ketiga adik bayi. Kuasa Tuhan itu nyata, berkat doa dari mereka semua dengan sepenuh hati, hati-Nya terjamah.
__ADS_1
Telinga-Nya yang tajah mendengarkan doa mereka yang penuh ketulusan, sehingga tangan-Nya terulur untuk menjamah dan memberi kesempatan pada baby Adelaide untuk hidup. Saat semua mulut mengucapkan Amin, saat itulah Adelaide menangis.
"Kakak, apa bisa kita telphone daddy?" tanya Aaron yang masih berharap.
"Kakak chatt daddy dulu ya. Nanti kalau proses nya sudah selesai, daddy pasti punya kesempatan untuk membaca dan memberi khabar pada kita. "
Aaron mengangguk dan memperhatikan gerakan Conrad. Bocah yang baru saja belajar membaca dan menulis itu, tampak sedikit kesusahan mengikuti ketikan cepat Conrad.
"Nah, sudah dikirim. Kakak mau mandi dulu ya. Habis ini kita makan bersama sambil menunggu jawaban dari daddy. Bagaimana, setuju?"
"Setuju!!!!" teriak Aaron dan Frrancesca bersamaan.
Hari itu mereka lalui dengan tenang. Setelah makan malam, tepat pukul Tujuh malam, Andrew mengirimkan foto Diana yang masih terkulai lemah. Dia juga mengirimkan foto bayi-bayinyang baru lahir. Hanya saja foto baby Anna, dia kirimkan dua kali. Karena Andrew tidak ingin anaknya bingung dan bertanya, apabila melihat kondisi baby Adelaide.
Andrew juga mengirimkan pesan agar mereka tetap di rumah saja dan beraktifitas seperti biasa. Dia melarang Aaron dan yang lainnya untuk pergi ke rumah sakit. Aaron akhirnya patuh setelah lega melihat foto ketiga adiknya dan bisa melakukan video call dengan kedua orang tuanya.
"Aaron mau lihat foto Aaron waktu masih bayi. Cakep seperti adik baby apa gak. Tolong ya bibi Matilda." pinta nya pada Matilda.
Matilda segera mengambil album foto dari ruang keluarga. Beruntung sekali, Diana sudah mempersiapkan kemungkinan itu. Sehingga disaat mereka penasaran, foto bayi Conrad, Aaron dan Francesca sudah ada.
Ketiga anak itu mulai membuka album foto bayi mereka masing-masing dan menertawakan kelucuan diri mereka sendiri.
"Hahahaha, lihat... semua lihat. Aaron masih bayi saja sudah cakep ya. Makanya sampai sekarang selalu cakep. Coba lihat Francesca dari bayi jelek, sekarang jugaa yaaa... biasa saja." ujar nya dengan angkuh.
"Aaron yang jelek. Nangisan!" protes Francesca kesal.
...💖💖💖💖💖💖...
Haiiii....
Seassons Tiga akan segera Author buat kok. Jangan khawatirrr.
Seassons tiga nanti meloncat jauh yaaa, tidak akan selaras dengan Kisah Lia dan Jason di Novel 48 Month Agreement.
__ADS_1
Jangan di un favorite dulu yaaaa..