Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Berkunjung ke panti Asuhan


__ADS_3

Tiga minggu sebelum jadwal operasi ceasar, Diana kembali membawa anak-anaknya untuk berkunjung ke panti asuhan. Kali ini dia membawa lebih banyak makanan dan juga bahan makanan untul mereka. Beberapa pengawal dan pelayan, tampak sibuk untuk menurunkan barang-barang.


"Terimakasih nyonya, sudah mau datang kembali ke tempat ini."


Seorang pria setengah baya dan istrinya yang merupakan pengurus panti asuhan kecil tersebut, merasa senang sekali dengan kehadiran Diana dan anak-anaknya. Kehadiran mereka tentu saja disambut dengan sukacita oleh semua penghuni panti asuhan.


"Tentu saja, aku menyempatkan datang ke tempat ini sebelum waktu melahirkan. Lihatlah perut buncitku ini." Diana menunjukan perutnya yang tampak sangat besar.


"Ah, nyonya kami sangat berterimakasih anda sudah bersusah payah mengunjungi anak-anak disini." Ujar istri pengurus panti asuhan tersebut.


Semenjak kedatangan mereka pertama kali saat Aaron berulang tahun, Diana sudah menjadi donatur tetap di panti asuhan kecil yang nyaris terbengkalai itu. Pemilik panti asuhan adalah tuan dan nyonya Ron, yang tidak bisa memiliki anak.


Sepasang suami istri ini, kemudian mengadopsi anak-anak yang terlantar, anak-anak jalanan dan anak-anak yang terbuang. Sebagaian dari mereka masih memiliki orang tua yang tidak pernah perduli. Sebagian lagi adalah anak-anak yatim piatu yang dikirimkan oleh sanak keluarga, yang tidak mau mengasuh.


Berkat bantuan Diana, panti asuham itu sudah terdaftar di dinas sosial secara resmi. Dan lahan kosong di belakang rumah kecil itu sudah di beli dan dibangun menjadi rumah yang lebih besar dan nyaman.


Panti asuhan itu sekarang lebih terawat. Meskipun demikian, tetap tampak sifat kekeluargaan disana. Setiap saat mereka selalu mengawali hari dengan doa dan makan bersama, begitu juga mengakhiri malam hari nya.


Tempat tidur yang mereka miliki sekarang bukan lagi spon keras dan tergelar dilantai ubin, tetapi tempat tidur bersusun yang nyaman. Ruangan besar yang diisi hanya sepuluh anak tidak lebih.


Wajah-wajah mereka tampak ceria dan berisi. Tidak lagi kurus kering seperti dahulu. Makanan dan pendidikan sudah terjamin, begitu juga dengan pakaian dan kesehatan.


Andrew menjanjikan lapangan pekerjaan bagi mereka yang sudah beranjak dewasa dan tidak berniat melanjutkan kuliah. Diantara mereka ada yang sudah berusia tujuh belas tahun. Dan anak itu sudah berada di panti asuhan semenjak dia berusia tujuh tahun. Sebagian kecil diantara mereka adalah anak-anak imigran yang terbuang.


Seperti hal nya Velina, bayi cantik ini sekarang sudah bisa berjalan. Dan dia memandang ke arah Diana dengan mata nya yang bulat berbinar indah. Diana membuka kedua tangannya, agar Velina mau menghampiri dirinya.

__ADS_1


"Ma... mama...ma...mama..." ucap Velina sambil berjalan dengan tertatih ke arah Diana.


Air mata menetes di wajah cantik, wanita yang memiliki belas kasih berlebihan itu. Dia memeluk Velina dengan penuh kasih sayang dan cinta. Menghujani gadis kecil itu dengan ciuman hangat.


Velina membenamkan dirinya dalam kehangatan tubuh Diana. Tak hentinya dia mengucapkan kata mama, memanggil Diana. Membuat jiwa keibuan wanita yang sedang mengandung bayi kembar tiga ini, tergugah.


"Hanya kepada anda dia memanggil, mama." Ujar Madam Ron.


"Mungkin saja, ibu kandung nya berwajah mirip dengan anda, nyonya." Ujar Ron.


Diana menelisik wajah cantik bayi perempuan itu. Tampak sekali wajah khas Asia berpadu dengan barat. Perpaduan yang sama seperti Aaron. Mata nya yang bulat dan berwarna coklat, selaras dengan warna rambutnya.


"Apakah tidak ada yang mencari anak ini?" Tanya Diana pada pasangan Ron.


Mereka menggelengkan kepala.


Dia kembali lagi dengan membawa selimut tebal berbulu warna merah, dengan perpaduan warna hijau tua di sepanjang tepian. Madam Ron menunjukan selimut tersebut, tampak ada sulaman berbentuk naga yang sedang memeluk pedang. Demikian juga dengan kalung tersebut. Kalunng titanium tebal dengan bandul hiasan naga emas yang memeluk pedang berwarna biru


"Lihatlah nona. Sulaman ini ternyata sama dengan tanda di pundak Velina. Awalnya saya mengira itu adalah tanda lahir. Tetapi setelah beberapa bulan merawatnya. Itu adalah tatto. Coba anda lihat." Madam Ron membuka pakaian di pundak Velina.


Disana Diana bisa melihat tanda yang sama dengan sulaman. Di pundak itu adalah tato naga yang menyemburkan api dan sedang memeluk pedang. Hal itu membuat Diana berpikir, bagaimana bisa ada orang tua yang tega menato anaknya yang masih bayi? Apakah mereka tidak tahu dampak nya, bagaimana anak ini bisa mengalami infeksi di usia nya yang masih bayi. Belum lagi rasa sakit dan tangisan bayi rapuh ini.


"Wahhhh kerennnn. Aaron mau tato seperti itu." Celetuk Aaron yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Iya nanti minta kakak Conrad gambarkan buat Aaron ya." Jawab Diana sambil tersenyum.

__ADS_1


Diana hendak menutup pakaian Velina, ketika Aaron menahannya. Kemudian bocah tampan itu mengecup pundak velina dengan lembut.


"Lucu. Aaron gemas." Ujar nya dengan tertawa.


"Kok bukan cium pipi adik? Malah tato nya." Tanya Diana heran.


"Eh iya. Mau dong cium pipi adik cantik. Cup. Cup. Cup." Aaron mengecup pipi kiri dan kanan juga kening Velina. Bayi berumur dua tahun itu tertawa gembira sambil mengayunkan kedua tangannya pada Aaron.


"Mommy, apa adik Aaron nanti secantik Velina?" Tanya bocah itu polos.


"Tentu saja."


"Ah leganya."


"Memang kenapa?" Tanya Diana heran.


"Iya.. kalau tidak secakep Aaron, nanti pusing Aaron jelasin kalau mereka adil Aaron, seperti Frances itu, mereka tidak percaya Frances kakak Aaron. Sampai Aaron marahin baru percaya." Ujar nya dengan bersemangat.


"Tidak perlu marah lah Aaron. Mereka mau tidak percaya, terserah mereka, yang pasti Frances adalah kakak Aaron. Anak mommy." Ujar Diana dengan tenang.


Diana ingin mengikis masa lalu Francesca. Biarkan gadis itu hidup bahagaia seperti dirinya saat ini, tanpa harus mengalami trauma di masa lalu. Apalagi dengan berjalannya waktu, tampaknya Francesca lupa jika dirinya adalah anggota keluarga baru.


"Adik Velina kayanya mau bermain sama Aaron. Aaron mau?" Tanya Diana ketika di lihatnya Velina tertawa sambil memandang Aaron.


"Mau... mau.. ayo adik cantikk sini kakak tampan temani bermain bola." Ujar Aaron dengan gaya cool.

__ADS_1


Velina tertawa sambil bergandrngan tangan dengan Aaron menuju ke taman. Disana tampak Conrad dan Francesca asyik bermain dengan anak-anak lainnya.


Sementara Diana mengambil foto sulaman dan kalung tersebut. Dia ingin menanyakan pada Andrew perihal hal tersebut, dan apakah Andrew setuju untuk kembali mengadobsi seorang anak lagii, Velina.


__ADS_2