Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Menyewa Flat


__ADS_3

Ruby berjalan kaki menuju halte bus terdekat. Setiap pagi dia menjalankan rutinitas berangkat kuliah dengan bus umum. Ruby tidak tahu, jika saat ini mobil Conrad sudah berada di kejauhan dan melihat Ruby memasuki bus.


Kemarin ketika mengantarkan Ruby, pemuda itu segera memarkirkan mobilnya di belokan jalan, dan mengintip Ruby. Ketika dia melihat Ruby berbalik arah, Conrad diam-diam mengikutinya. Dan dia melihat Ruby memasuki sebuah flat sangat sangat sederhana. Conrad tersentuh hatinya.


Dia sekarang memahami alasan Ruby tampak gugup dan malu saat mereka makan bersama di cafe. Conrad mencoba mengerti alasan Ruby menutupi tempat tinggalnya dari mereka semua. Mungkin Ruby tidak percaya diri dan menjadi malu.


Kali ini, Conrad mengganti mobil nya dengan mobil yang lebih sederhana lagi. Conrad ingin Ruby merasa aman dan nyaman di dekat dirinya. Bahkan Conrad bertekat suatu saat nanti, akan meminta ijin pada Andrew untuk menyewa sebuah flat sederhana di area beberapa blok dari flat Ruby.


Conrad mulai menjalankan mobil nya mengikuti bus yang ditumpangi Ruby menuju ke kampus. Dia mendahului bus Ruby ketika mereka sudah hampir sampai di kampus. Dengan cepat Conrad memarkir mobilnya.


"Loh, mobil BMW mu mana? kok pakai Ford jaman nenek moyang?" tanya Dion salah satu teman akrab Conrad sejak Sekolah Menengah.


"Hehe... ada. Ingin santao saja dengan mobil ini. Biar tidak menyolok." ujar Conrad.


"Cieee... masa menarik perhatian cewek dengan mobil kuno begini. Mana ada yang mau denganmu." ujar Dion dengan terkekeh.


"Hehehhe bisa jadi ada." ujar Conrad penuh rahasia.


"Yehhhh bisa aja kamu. Jaman sekarang mana ada cewek gak matre. Apalagi di kampus ini. Gak Matre gak makan gak hidup kata mereka." Dion meledek jalan pikiran Conrad yang aneh bagi nya.


Conrad mengangkat bahunya. Dia yakin jika Ruby bukan seperti yang dikatakan oleh Dion. Ruby yang manis, tampak seperti wanita baik-baik yang rapuh.


Conrad memperhatikan Ruby yang berjalan di depannya. Dia tidak mendengarkan celoteh Dion yang bercerita malam Valentine dengan kekasihnya. Saat ini melihat cara berjalan Ruby yang tampak anggun dan tenang saja, membuat Conrad ingin sekali berjalan di sampingnya.


*


Selesai dengan mata kuliah hari ini, kebetulan Conrad bertemu dengan Ruby di halaman kampus. Tampaknya gadis itu hendak langsung pulang. Karena arah yang di tuju berbeda dengan perpustakaan.


"Hai Ruby." Sapa Conrad ramah.


"Hai Conrad." Ruby tersenyum manis.


"Kau tidak ke perpustakaan?" tanya Conrad.


Ruby menggeleng.


"Tidak aku harus segera pulang saat ini." sahut Ruby.


"Kalau begitu, ayo aku antar. Aku juga mau langsung pulang." ujar Conrad bersemangat.


"Tapi..." Ruby ragu.


"Tenang saja... tidak akan aku culik kok." ujar Conrad sambil tertawa kecil. Ruby ikut tertawa.


"Baiklah kalau begitu." sahut Ruby.


"Tunggu di sini ya. Aku akan mengambil mobil bututku." Conrad berlari menuju parkiran dengan hari yang berbunga-bunga. Dia merasa bahagia bisa berduaan dengan Ruby tanpa ada Jasmine maupun Robert.


"Hai Ruby. Ayo masuk." Conrad menyapa Ruby yang berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


Betapa tidak, dia menyangka jika Conrad akan mengantarnya dengan mobil yang saka seperti sebelumnya. Tetapi ternyata, malah mobil Ford tua. Dengan heran Ruby memasuki mobil Conrad.


"Mobil mu ganti?" tanya Ruby.

__ADS_1


"Ah... tidak. ini memang mobilku." jawab Conrad.


"Tapi yang kemarin itu berbeda?" Tanya Ruby dengan heran.


"Oh bukan! Itu mobil salah satu customer ayah. Ayah memintaku membawanya sebagai uji coba saja, apakah sudah bagus, setelah mesinnya diperbaiki ayah." jawab Conrad.


"Ah..." Ruby menggumam.


"Conrad berhenti disana saja." Ruby menunjuk pada sebuah pertokoan yang masih beberapa blok dari tempat biasanya dia turun.


"Disini? Kenapa?"


"Aku ada urusan. Trimakasih ya." Ruby turun sambil melambaikan tangannya.


Conrad menjalankan mobilnya perlahan dan melalui kaca spion dia melihat Ruby memasuki sebuah Coffee shop. Karena penasaran, Conrad memarkirkan mobilnya dan menuju Coffee shop tersebut.


Conrad mengintip melalu kaca yang membatasaro coffee shop tersebut. Dia tidak melihat ada Ruby diantara para pelanggan. Conrad merasa heran. Fia yakin jika Ruby memasuki coffee shop tersebut. Tidak mungkin penglihatannya salah. Conrad kemudian berjalan ke toko pakaian disebelah coffee shop dan dia tidak menemukan Rubby.


Conrad kembali ke coffee shop tersebut dan dia terkejut ketika melihat seorang pelayan disana adalah Ruby. Pantas saja, ada saat-saat dimana Ruby tampak terburu-buru pulang dan tidak mau berkumpul dengan mereka. Ruby ternyata bekerja sambilan di Coffee shop dan dia tidak ingin adq yang mengetahui.


Conrad mengurungkan niatannya untuk masuk ke dalam Coffee shope. Awalnya dia ingin masuk dan mencari Ruby disana. Tetapi setelah melihat Ruby bekerja, conrad mengurungkan niatannya. Dia ingin menjaga perasaan Ruby.


Pemuda tampan itu, kemudian mengendarai mobilnya ke pusat kota Miami. Selama dalam perjalanan menuju pusat kota, conrad menimbang-numbang rencana dalam hatinya. Dia ingin menemui Andrew dan berbicara sebagai lelaki.


Sesampainya di kantor. Conrad yang sudah dikenali oleh pekerja disana, dapat dengan mudah mengakses lift pribadi ayahnya. Dia harus menunggu sesaat, karena Andrew sedang rapat.


"Kau bisa menunggu di dalam. Rapat Tuan Andrew akan segera selesai dalam tiga puluh menit." ujar Meita. Salah satu staff sekretaris Andrew.


"Baiklah. Akan aku tunggu didalam."


"Tidak perlu. Aku hanya ingin bertemu dengannya saja. Terimakasih." sahut Conrad ramah.


Pemuda itu menyandarkan punggung di sofa dengan nyaman. Empat puluh menit kemudian, Andrew sudah kembali.


"Ada apa kau kemari, apa sudah mau belajar bisnis?" tanya Andrew dengan serius.


Conrad menggeleng.


"Kau tahu dad, aku tidak berbakat di bidang bisnis. Aaron tampak lebih menyukainya. Dia lebih mirip dengan dirimu, dad." jawab Conrad sambil tergelak.


"Hahahha semua orang mengatakan itu. Mini me. Lalu apa yang kau mau saat ini." tanya Andrew langsung.


"Apakah harus ada alasan, untuk datang menemuimu, dad?"


"Kau tidak mungkin kan, datang kemaro hanya untuk menumpang minum Coffee." ujar Andrew sambil tertawa.


Tentu saja Andrew mengenal Conrad, pemuda yang selalu serius dengan tujuannya. Dia tidak akan datang ke kantor jika hanya sekedar bermain. Di rumah pun mereka bisa melakukannya.


"Dad, kau memang jelly. " Conrad tertawa lebar.


"Katakan tujuanmu."


"Dad, aku ingin menyewa sebuah flat kecil." ujar Conrad.

__ADS_1


"Heh?! Tapi kenapa?" tanya Andrew heran.


Bukannya semua fasilitas dia sudah sediakan. Kenapa harus memilih Flat, bukan apartemen atau Penthouse.


"Aku menyukai seorang gadis. Dia sederhana. Dan dia tampak tidak nyaman berada di kalangan orang berada." cerita Conrad dengan perlahan.


"Ah.. anakku sudah besar rupanya. Sudah mulai menyukai seorang gadis. Ceritakan pada ayah mengenai gadis itu." Andrew segera pindah duduk di dekar Conrad.


"Namanya Ruby. Dia adalah mahasiswi kedokteran semester kedua. Gadis itu menerima beasiswa. Pasti dia gadis yang cerdas bukan?"


Andrew masih diam mendengarkan kelanjutan cerita dari Conrad. Conrad kemudian menceritakan bagaimana awal pertemuan tidak sengajanya dengan Ruby. Bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama di perpustakaan. Bagimana sikap malu dan tertutupnya Ruby.


"Jadi kau menukar mobil mu dan memilih menyewa sebuah flat untuk mendekati gadis itu?" tanya Andrew.


"Iya ayah."


"Apa kau yakin dia menyukaimu?" tanya Andrew.


"Entahlah ayah. Aku ingin dia merasa nyaman dengan diriku. Mungkin dengan berjalannya waktu dia bisa terbuka dan setelah saling mengenal dia akan jatuh cinta padaku." sahut Conrad dengan percaya diri.


"Lalu kau akan tinggal di flat selamanya? Bagaimana jika mommy dan adik-adikmu bertanya?"


"Aku tidak akan tinggal di flat secara permanen, dad."


"Hanya kedok?"


"Begitulah." sahut Conrad sambil menyeringai malu.


"Dia mirip dengan mommy, dad. Rambut hitam panjangnya, kulit putih Asianya, sikap nya yang tenang dan cara berjalannya yang anggun." mata Conrad menerawang jauh.


Andrew menatap Conrad yang sedang terbuai dalam angannya. Anak sulungnya sudah dewasa saat ini. Andrew tidak dapat menghalangi dan melarang keinginannya. Segala sesuatu yang terjadi akan menjadi proses hidup bagi Conrad. Apalagi mengenai cinta. Dia akan tumbuh dewasa setelah mengenal pahit dan manisnya cinta. Tetapi, Andrew berjanji tidak akan membiarkan Conrad jatuh.


"Conrad. Aku tidak akan melarangmu untuk mendekati Ruby. Kau harus mengalami prosesmu untuk mengenal seorang wanita. Mungkin Ruby secara fisik mirip dengan mommy, tetapi tidak semua orang yang tampak mirip berarti memiliki kepribadian yang sama." Andrew menghentikan kalimatnya sesaat dan menatap Conrad yang masih mendengarkan nasihatnya.


"Mirip bukab berarti sama. Kau benar, memang harus mengenal Ruby lebih jauh untuk mengetahui kepribadiannya. Tetapi yang perlu kau tahu, mommy mu, Diana, dia adalah wanita yang apa adanya dan tegas. Dia tidak malu dengan jati dirinya sebagai seroang bartender. Dia polos tetapi tegas. Bahkan daddy awalnya harus menggunakan kekuasaan untuk menjerat mommy. Daddy harap Ruby juga memiliki sifat yang baik." Andrew menatap Conrad dengan tegas.


Sebenarnya Andrew ingin melarang Conrad menyewa sebuah Flat hanya untuk Ruby. Berdasarkan cerita Conrad yang mengatakan jika Ruby tampak malu dengan keadaan rumah dan pekerjaannya, membuat Andrew ragu. Tetapi dia menyadari, bisa saja dirinya terlalu berlebihan. Toh, Conrad juga memerlukan pengalaman hidup..


"Satu yang ayah ingin kau ingat. Jika memang dirimu tidak dapat mengendalikan diri. Jangan lupa pakai Ko#dom. Jangan buat mommy mu pingsan, dengan menghamili wanita yang belum kau nikahi." ujar Andrew tegas.


"Hahhaha tentu saja dad! Tapi, kau tidak menyesal memiliki diriku sebagai anakmu, bukan?" tanya Conrad dengan tegas. Dia masih ingat, nika dirinya lahir dari wanita yang sudah menghianatai Andrew.


"Aku tidak pernah menyesal memiliki dirimu. Ingat itu! Kau anakku! Kau darah dagingku! Aku hanya menyesal, caraku mendapatkan dirimu!" sahut Andrew dengan tegas sambil menatap Conrad.


"Iya dad, ku mengerti. Aku lah yang menyesal, karena mommy Diana bukan ibu yang melahirkanku." sahut Conrad sendu.


"Tapi dia adalah ibu yang membesarkan dan merawatmu dengan penuh cinta. Kau tahu itu bukan?"


Conrad mengangguk.


"Seumur hidup pun, aku tidak dapat membalas kasih nya."


"Dia tidak meminta itu. Hanya ingin kalian tumbuh menjadi anak yang baik, penuh kasih dan bertanggung jawab. Ingatlah hal itu. Jangan biarkan siapapun membuat kau lupa mengenai hal ini." nasihat Andrew pada putra sulungnya.

__ADS_1


Conrad meninggalkan kantor Andrew dengan berbekal nasihat dari ayahnya. Dia dengan bersemangat mencari flat sederhana untuk bisa dia sewa. Hanya selisih satu blok dari flat Ruby. Awalnya Conrad ingin menyewa di gedung yang sama dengan Ruby, tetapi sayang flat disana sudah penuh semua.


Malam harinya, Conrad menuju Coffee shop tempat Ruby bekerja. Dia sengaja melamar menjadi pekerja harian disana. Conrad tidak setengah-setengah untuk mendekati Ruby. Dia melepaskan semua atribut kemewahannya demi Ruby bisa merasa nyaman dengan dirinya.


__ADS_2