
Tanpa meminta persetujuan Andrew, Diana menghabiskan waktu siangnya untuk mendalami beberapa macam bahasa asing, mengikuti kursus kecantikan dan penampilan diri. Bukan hal yang mudah untuk menjalani semua. Siang hari setelah menjemput Conrad, dia membawa anak itu ke tempat les khusus anak - anak sedangkan dirinya akan menghabiskan waktu dengan belajar.
Ada satu hal yang dia tidak sadari. Gedung tempat dia mengikuti kursus bahasa adalah gedung yang sama dengan Dylan bekerja hanya beda lantai.
Beberapa kali Dylan mendapati dirinya sedang berjalan masuk keruangan setelah mengantarkan Conrad. Beberapa kali Dylan hendak menyapa tapi diurungkan niatnya melihat keseriusan didalam.
Hingga hari ini, setelah Dylan mencari informasi tentang jadwal Diana, pria itu menanti di dekat ruang kursus lebih awal.
"Diana? Hai... apa khabar ?" sapa Dylan pada Diana yang tampak terkejut melihat dirinya.
"Hai Dylan. Aku baik - baik saja. Kamu kursus juga?"
"Ah iya. iya. Aku berencana mengambil bahasa Spanish."
"Ow kebetulan. Aku juga kursus ditempat ini siang hari mendalami bahasa Spanish."
"Bagus sekali. Sekarang kita bisa belajar bersama."
"Iya. Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Pekerjaanku flexible, tidak mengikat pada waktu."
"Apakah kau bekerja di gedung ini?"
"Benar."
"Ow. Okey. Okey. Kamu sudah mendaftar kursus?"
"Belum."
"Ayo masuk." Ajak Diana. Dylan segera beranjak kedepan dan membuka pintu ruangan. Disana mereka disambut oleh Customer Services dan Dylan melakukan pendaftaran. Kemudian mereka memasuki ruangan dengan banyak peralatan audio. Komputer didepan dan headphone.
Diana memilih salah satu dari komputer memasang headphone dan mulai serius mengikuti pelajaran melalui audio.
Dylan mengambil tempat di samping Diana. Memasang speaker. Tapi pandangannya tidak terarah pada layar disana melainkan pada gadis disampingnya. Mengamati gadis yang mulai tampak lebih matang dan makin cantik. Sosok yang lebih percaya diri dan tampak lebih anggun.
Perasaan yang dulu tumbuh dan sempat menjadi bonsai karena gadis itu lebih memilih untuk hidup bersama Ceo. Meskipun berat Dylan berusaha menjalani hidup dan menyompan memori tentang Diana rapat - rapat. Dia tidak pernah berhenti mencari informasi tentang gadis ini. Melalui Maya dan Monna tentunya. Karena Diana bukan tipe yang suka memamerkan kehidupannya melalui Facebook maupun lnstagram.
Dan kali ini getaran itu muncul kembali. Pertemuan yang tak terduga tempohari di restaurant hotel Four Seassons perlahan mulai terpupuk kembali. Bayang - bayang wajah gadis ini semakin terukir di hari - hari nya. Dan kesempatan itu datang kembali saat dia menemukan keberadaan gadis ini di gedung yang sama dengan tempatnya bekerja.
"Hai Dylan." Diana melambaikan tangan ketika didapatinya Dylan termenung memandang ke arahnya. Dylan tersenyum. Memukau.
"Eh iya ada apa Diana." tanya Dylan.
"Oh tidak aku pikir kau melamun."
__ADS_1
"Ah tidak. Aku sedang mencoba menghafalkan." Dylan memilih alasan.
"Okey. Sebentar lagi aku akan selesai. Aku harus menjemput Conrad."
"Iya. Aku juga hampir selesai." Sahut Dylan. Halaman di layar komputer Dylan tidak berpindah. Alasan klise karena sebenarnya Dylan tidak perlu belajar bahasa Spanish sedikit pun. Dia sudah menguasai bahasa itu dengan lancar. Tapi Baginya menghabiskan waktu satu setengah jam dengan hanya memandang wajah gadis yang begitu dia rindukan adalah hal yang tidak dapat diukur dengan uang.
"Apakah kita bisa pergi ke cafe setalah ini?" tanya Dylan dengan perlahan setelah mereka selesai kursus dan mulai meninggalkan ruangan.
"Maaf Dylan. Tidak untuk saat ini. Aku akan membawa conrad langsung pulang. Terlalu melelahkan hari ini untuk dia." Tolak Diana.
"Baiklah. Bagaimana dengan makan siang sebelum kursus?"
"hmm... Baiklah begitu aku ada senggang akan aku kabari ya." Penolakan halus lagi. Tapi setidaknya masih ada kesempatan pikir Dylan.
"Baiklah." Sahut Dylan.
"Aku pergi dulu ya. Conrad sudah menunggu." Diana berpamitan dan mulai menuju ke ruangan Conrad.
"Untyyyy... ayo pulangg. Conrad sudah mengantuk." Celotehnya dengan tangan kecil yang menggandeng tangan Diana.
"Ayo sayang."
Mereka melangkah menuju lobby dimana Papito mulai menunggu. Ini lah hal yang Diana suka dari Andrew. Status sosial nya yang tinggi tidak membuat dia mengekang Diana. Diana masih memliki kebebasan beraktifitas dengan hanya di dampingi Papito supir kepercayaan sekaligus asisten pribadi khusus dirinya.
"Papito kita langsung pulang ya." Kata Diana.
" Oh ya?" Diana mengecek ponselnya melihat apakah Andrew ada memberitahunya sesuatu. Ternyata nihil. Tidak ada pesan maupun telphone dari Andrew.
"Mau kemana kita Papito?" tanya Diana sementara Conrad sudah tertidur dipangkuannya.
"Nona akan lihat sendiri nanti." Jawab Papito singkat sambil tersenyum kecil.
Meskipun Papito selalu bersamanya setiap hari dan merupakan asisten pribadi sekaligus pengawalnya, tetap saja segala sesuatu harus dilaporkan pada Andrew. Karena Andrew lah majikan tertinggi.
Diana mendengus kesal dan menyandarkan kepala pada sandaran kursi mobil.
Mobil melewati jembatan besar yang meninggalkan pusat kota dan mulai memasuki kawasan mewah. Pohon pohon besar disepanjang kanan dan kiri jalan jalanan besar dengan bebeberapa pertokoan mewah. Bangunan bangunan besar dan mewah yang sangat elegant. Mobil yang lalu lalang bukanlah mobil biasa. Semua adalah mobil mewah, sebagian besar dari mereka menggunakan mobil dengan kap terbuka..
Semakin masuk kedalam tampak rumah - rumah mewah yang luar biasa besar lagi megah. Setiap rumah memiliki gerbang tersendiri dengan beberapa sekurity yang menjaga. Tampaknya rumah yang terkecil berukuran kurang lebih 2000m2.
Diana mengamati kawasan tersebut, tampaknya ini adalah kawasan rumah mewah. Bukan sekedar mewah, rumah - rumah ini tampak seperti istana pribadi.
"Tempat apa ini Papito?" tanya Diana tidak tahan menyembunyikan rasa penasaran.
"Ini adalah kawasan perumahan elite nona. Disebelah kanan anda adalah kediaman milik Angelina jolie dan Brad Pitt." Papito menjelaskan.
__ADS_1
Mata Diana terbelalak. Pasangan artis Hollywood yang terkenal dan sangat luar biasa mencintai anak - anak hingga mengadopsi mereka dari beberapa belahan dunia memiliki satu rumah di kawasan ini.
"Diujung sana adalah milik Kim Kardashian." Papito menujuk pada artis utama Pussycat doll yang sangat terkenal." Penjelasan Papito membuat Diana hanya dapat mengangguk - angguk.
"Ada beberapa politikus juga memiliki rumah di area ini, Yang diujung sana adalah milik George Clooney."
"Apa?! Bachelor tampan itu juga memiliki rumah diarea ini?" tanya Diana dengan brsemangat.
"Nona, jangan sampai tuan Andrew melihat anda seperti ini." sahut Papito sambil menahan senyuman.
"Eh. kelihatan kampungan ya Papito?" tanya Diana malu.
"Bukan nona. Saya khawatir tuan akan cemburu." jawab Papito.
"Ah Papito ada - ada saja. Mana mungkin juga Georges Clooney mau dengan saya."
Papito memandang Diana dari kaca spion tengah sambil menggelengkan kepala. Gadis ini ternyata masih lugu. Tuan Andrew yang bersamanya saat ini bahkan memiliki kekayaan yang lebih diatas artis - artis tersebut dan dia tidak menyadari seberapa banyak fortune disampingnya. Bahkan bila dia minta, apa saja akan diberikan tuan Andrew kepadanya.
Mobil mewah yang dikendarai Papito memasuki kawasan rumah dengan pagar hitam tinggi . Berhenti sejenak seraya meletakan sejenis kartu masuk pada mesin didepan pagar. Kemudian pagar terbuka otomatis sementara dua orang security berada disamping pagar.
"Papito, rumah siapa ini?" tanya Diana heran.
Conrad yang berada disampingnya mulai bangun sambil menggosok matanya dia bertanya, "Dimanakah ini unty?"
Diana hanya diam sambil memeluk bocah kecil itu dan pandangan matanya masih mengamati taman luas dibalik pintu gerbang yang baru saja dibuka.
"Papito mau apa kita disini?" tanya Diana semakin penasaran dengan sikap diam Papito.
Sementara itu ada sekitar dua belas pelayan dengan pakaian serba hitam sudah berbaris rapi di depan rumah seakan menyambut orang penting. Papito berhenti tepat didepan mereka. Dan salah seorang yang tampaknya adalah kepala pelayan maju kedepan membuka pintu mobil disisi Diana duduk.
"Selamat siang Nyonya." Pelayan itu memberi hormat dan mempersilahkan Diana keluar.
Diana memandang kepala Pelayan tersebut dan Papito bergantian.
"Turunlah nona, tuan sudah menunggu anda." Kata Papito yang memahami sikap canggung Diana yang tampak masih tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.
\*
Hallo teman - teman pembaca. Terimakasih setia membaca ceritaku. Jangan lupa bantu like, comment, Share dan Vote bila berkenan.
Kisah hidup Diana dengan Ceo masih penuh hal - hal baru. Semoga kalian semua makin bersemangat yaaa.
__ADS_1
Salam.