
Alunan musik dari ketiga pemusik tersebut mengalun begitu indah. Membuat setiap mereka yang lewat, berhenti untuk mengabadikan moment tersebut. Mengunduhnya ke akun media sosial. Setiap telinga yang mendengar tak hentinya membuat mereka ikut berdendang.
Dua orang pemuda tampan dan seorang remaja cantik, bermain musik dengan cantik, meskipun tanpa latihan terlebih dahulu. Ruby yang kembali duduk dihadapan mereka, terbuai kagum. Dia menatap Conrad dan Robert secara bergantian. Dua pemuda tampan yang sama-sama mengagumkan. Dua pemuda yang sama - sama menarik.
Kedekatannya dengan Conrad membuat hatinya lebih condong pada pemuda itu. Conrad yang perhatian dan selalu ada disisinya. Sedangkan Robert Pertemuan mereka hanya sebatas karena Jasmine.
Sementara Ruby duduk tenang memperhatikan Conrad, Adel yang ada disisinya menatap Ruby. Dia bisa melihat arah pandang dari Ruby yang seringkali bersitatap dengan Conrad. Adel yang lebih dewasa daripada saudara nya yang lain mengerti arti tatapan itu.
"Kak Ruby mengenal kak Conrad akrab ya?" tanya Adel.
"Ya begitulah. Aku adik kelas nya dan kita kerja paruh waktu ditempat yang sama." sahut Ruby dengan lembut dan menatap Adel.
"Ah... Begitu."
"Siapa namamu?"
"Aku Adelaide, kakak."
"Adel tidak ikut menari dengan yang lain?" tanya Ruby yang melihat adik-adik Conrad yang lainnya asyik menari, mengikuti irama musik ceria.
Adel menggelengkan kepala nya.
"Adel tidak boleh terlalu lelah."
"Adel sakit?" tanya Ruby prihatin.
"Iya."
"Sakit apa?"
"Adel punya jantung lemah sedari lahir kakak."
"Ah... Maafkan kakak." Ruby menatap Adel dengan kasihan. Tanpa sadar Ruby menitikan air mata. Dia merasa kasilhan dengan keadaan Adel. Gadis yang masih kecil itu tidak dapat bermain dengan bebas. Tentu sangat berat beban hidupnya. Dia jauh lebih beruntung daripada Adel.
"Jangan menangis kakak. Aku sudah terbiasa kok dengan keadaanku ini." ujar Adel sambil memberikan tisyu kepada Ruby.
"Terimakasih Adel."
Sementara itu, Anna menarik tangan Archie untuk menemaninya menari. Mereka tertawa dengan riang dan berputar-putar. Gerakan mereka akhirnya mengundang beberapa orang untuk ikut berdansa. Jalanan menjadi ramai, pedagang disekitarnya menjadi semakin ramai dengan pengunjung.
Sementara Velina yang tertawa kecil sambil bertepuk tangan, tidak mengetahui jika Aaron sedari tadi mencuri pandang dan mengambil fotonya diam-diam. Cahaya matahari senja yang menerpa Velina, menjadikan gadis itu sangat cantik. Belum pernah Aaron seseorang yang menganggap dirinya super perfect, tiba-tiba harus mengakui dalam diam kesempurnaan orang lain.
Anna melambaikan tangan kepada Jasmine, mengajak gadis itu untuk berdansa. Jasmine dengan tertawa kecil menolaknya. Jasmine berulangkali menahan diri untuk tidak melirik ke arah Conrad. Tetapi akhirnya gagal, karena Anna dan Archie pada akhirnya menari disudut yang mana Jasmine otomatis harus memandang pria itu.
Pria yang semakin tampan diterpa cahaya matahari sore. Senyum yang ceria dan mata yang berbinar. Tetapi sayang, senyuman dan tatapan itu bukan untuk nya. Pandangan matanya tidak pernah bertemu dengan Conrad. Jasmine harus menelan kekecewaan.
Diana sebagai seorang ibu, dia tentu saja memperhatikan anak-anaknya. Dia melihat Aaron yang selalu mencuri pandang. Bahkan Aaron pun tidak sadar ketika Diana berdiri dibelakangnya. Diana melihat Aaron pura-pura bermain handohone, padahal kamera handphone sudah terbuka untuk menatap dan mengabadikan Velina.
Akankah Cinta monyet itu bertumbuh menjadi cinta sejati, Diana masih tidak tahu. Mereka masih terlalu muda.
Diana juga melihat bagaimana Jasmine merasa kikuk di depan Conrad dan bagaimana gadis itu menghela nafas berkali-kali. Dia bisa melihat ketika Jasmine menatap Conrad sesekali. Dan Diana tahu, pandangan Conrad hanya tertuju pada Ruby. Mereka saling melemparkan senyuman.
Kedua gadis itu sama-sama unik dengam karakter yang berbeda bagi Diana. Dia tidak dapat memutuskan siapa yang terbaik untuk putranya saat ini. Bahkan dia tidak berani memaksakan pilihannya begitu saja. Hanya saja, Diana berharap siapapun gadis yang menjadi pilihan Conrad dapat membalas cinta putranya dengan sepenuh hati.
"Kak Jasmineeee!!!! Ayooo sini!" teriak Anna. Anna berlari kearah Jasmine dan menarik tangan gadis cantik itu untuk mengikutinya.
__ADS_1
Jasmine yang terpaksa berdiri, harus terhenyak dan menahan tarikan Anna. Kedua lutut nya masih sakit. Tarikan Anna yang tiba-tiba, membuat luka nya mengetat dan terasa perih. Jasmine mencengkeream pinggiran meja.
"Ada Jasmine, kau sakit?" tanya Diana dengam khawatir.
"Tidak apa-apa tante. Hanya kesemutan." ujar Jasmine.
"Ayo kakak!" rengek Anna.
"Ayooo.. pelan-pelan ya." ujar Jasmine sambil berjalan tertatih.
Diana memperhatikan mereka, dia bisa melihat jika Jasmin memang gadis yang menyenangkan. Diana kemudian menatap Ruby, gadis itu pun bisa berbincang akrab dengan Adel.
Jasmine mengikuti gerakan Anna yang memegang kedua tangannya. Kaki mereka terayun dan begitu pula tangan mereka. Tak lama kemudian, Anna kembali menarik tangan Aaron dan Velina.
Mereka berlima kemudian saling bergandengan tangan membentuk lingkaran, menari dan tertawa bersama. Sungguh tampak menyenangkan. Bahkan tindakan mereka mencuri lebih banyak perhatian daripada pemusik.
"Kakak tidak mau ikut menari?" tanya Adel pada Ruby.
"Tidak. Kakak disini saja ya menemani Adel." sahut Ruby penuh perhatian.
Francesca tidak mau ketinggalan dengan kehebohan saudara-saudaranya. Dia mendekati lingkaran yang mereka buat dan masuk ketengah-tengah lingkaran. Frances semakin lincah menggesekan biolanya.
Ketika gesekan biola yang terakhir selesai. Mereka berhenti berputar sambil tertawa dengan gembira. Apalagi Francesca, dia merasa bersyukur saudara-saudara nya begitu mendukung dirinya.
Tangan Anna masih menggandeng Jasmine.
"Kakak Frances kerennn hari inii. Lain kali Anna akan membawa teman-teman Anna untuk menyaksikan performance kak Frances." ujar Anna dengan riang.
"Tentu saja. Lain kali, Anna yang harus menemani kak Frances tampil ya." todong Francesca.
"Ogahh ah, Anna tim sukses saja." Anna mencibir kemudian menarik tangan Jasmine dengan keras. Jasmine yang tidak siap, terhuyung sehingga lututnya membentur hydrant ( pompa air yang biasa digunakan oleh pemadam kebakaran. Di luar negeri, hydrant ini mudah ditemukan di luar negeri, terutama di pusat keramaian atau pertokoan).
"Kak Jasmine, maaf Anna tidak sengaja." ujar Anna merasa bersalah melihat Jasmine meringis.
"Tidak apa-apa, Anna." Bisik Jasmine perlahan.
"Ada apa Jasmine?" tanya Cornad. Pria itu tadi tanpa sengaja melihat Jasmine meringis kesakitan.
"Kakak Jasmine kakinya terbentur hydrant." celoteh Anna.
"Sini aku bantu." Conrad mengulurkan tangannya pada Jasmine.
Jasmine baru saja akan mengulurkan tangannya, ketika Ruby datang diantara mereka. Ruby yang melihat Jasmine membungkuk dan Conrad disisinya, menjadi penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ada apa Conrad?" tanya Ruby dengan tangannya menyentuh bahu Conrad.
Tangan Ruby mengambang di udara hendak menggapai tangan Conrad. Dia menjatuhkan tangannya lagi dan memilih memegang tangan Anna.
"Biar aku dengan Anna saja," tolak Jasmine.
Anna kemudian menggandeng tangan Jasmine ke arah kursi.
"Ada apa dengan Jasmine?" tanya Ruby.
"Kakinya tersandung hydrant."
__ADS_1
"Ooo... kelihatannya sudah tidak apa-apa." ujar Ruby yang melihat Jasmine sudah duduk diantara saudar-saudara Conrad. Dia yakin, jika Jasmine sudah mendapatkan perhatian yang cukup dari mereka.
"Ayo aku bantu mengemas peralatanmu." ujar Ruby pada Conrad.
Di tempat duduk. Diana melihat darah yang menetes di pergelangan kaki Ruby. Dia kemudian langsung mengambil tas perlengkapan dari tangan Matilda.
"Kau terluka Jasmine?"
"Tidak apa-apa tante. Jasmine juga sebentar lagi pulang." tangan Jasmine mencegah Diana yang hendak mengangkat roknya.
"Di obati dulu, baru pulang." Diana kemudian mengangkat rok Jasmine.
Dia terkejut ketika melihat darah merembes keluar dari perban yang menutupi lutut sebelah kanan Jasmine. Kedua lutut itu sudah mengenakan perban. Dengan hati-hati Diana melepaskan perban di lutut Jasmine dan mengobatinya dengan ahli. Bagaimanapun juga Diana sudah sering mengobati lutut anak-anaknya.
"Darimana kau mendapatkan luka ini sebelumnya?" tany Diana heran.
"Aku jatuh karena kecerobohanku, tante." sahut Jasmine sambil meringis menahan perih.
"Luka ini terbuka. Bawa ke klinik ya, agar tidak membekas. Pasti kau jatuh diatas ubin yang kasar." nasihat Diana.
"Trimakasih tante," bisik Jasmine tulus.
Tepat ketika Diana selesai menutup luka Jasmine, Conrad menghampiri mereka. Dengan cepat Jasmine menurunkan rok menutupi luka nya. Hal itu membuat Diana heran.
"Kau baik-baik saja Jasmine?" tanya Conrad.
"Iya."
"Kaki mu sudah tidak apa-apa? Tadi kata Conrad kau menabrak hydrant?" tanya Ruby.
"He eh, sudah baikan." ujar Jasmine sambil tersenyum.
Conrad melirik kearah lantai. Dia melihat ada bekas perban disana, dengan darah yang masih segar.
"Kau yakin, baik-baik saja?" tanya Conrad sekali lagi.
"Iya."
"Baiklah, jika itu kata mu. Aku akan mengantar Ruby pulang dulu. Sampai ketemu di kampus. Mom, aku pergi dulu." Conrad mencium pipi Diana dan berpamitan dengan semua adiknya. Begitu juga Ruby berpamitan dengan semuanya.
Setelah Conrad pergi, Diana menatap Jasmine.
"Katakan kenapa?" tanya Diana.
"Maksud tante?" Jasmine tidak mengerti.
"Kenapa kau menutupinya dari Conrad?"
Jasmine terdiam. Dia tidak tahu kenapa dirinya melakukan hal itu. Seandainya Conrad tahu dirinya terluka, apakah dia akan lebih memilih menolong dirinya? Ingatan Jasmine melayang ke kejadian semalam. Conrad bahkan tidak melihat dirinya yang jatuh. Pandangan dan perhatiannya tertuju hanya pada Ruby. Haruskan dirinya mengadu kesakitan juga hanya untuk mencuri perhatian Conrad? Bagaimana malunya dia jika pada akhirnya Conrad tetap lebih memilih Ruby?
Robert menghampiri Jasmine setelah selesai berbincang dengan Francesca untuk sesaat.
"Kita pulang sekarang?" tanya Robert pada Jasmine. Gadis itu mengangguk. Dia hendak menghindari pertanyaan Diana, tetapi tangan wanita itu masih menahan tangannya.
"Jasmine... Jasmine hanya tidak ingin Conrad memperhatikan diriku karena kasihan." kata-kata itu akhirnya meluncur dari bibir Jasmine. Diana melepaskan tanganya dan membiarkan Jasmine beranjak pulang. Dia menatap kepergian gadis itu yang masih bisa tersenyum ceria sambil melambaikan tangan pada anak-anaknya.
__ADS_1
"Mom, kita makan disini atau dirumah?" tanya Adel membuyarkan lamunanya.
"Ah, ayo kita ke restaurant di Golden Star. Daddy sudah menanti disana." ajak Diana yang disambut dengan seruan girang dari anak-anaknya.