Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
RAHASIA


__ADS_3

Lorong VVIP tempat Lia dirawat untuk sesaat diramaikan dengan datang nya beberapa pria berjas yang bertubuh tegap dan sangat menarik juga seorang wanita cantik, meskipun mengenakan pakaian kerja, blus yang dia kenakan cukup ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang aduhai.


Keberadaan mereka adalah hal yang mendapatkan izin khusus. Para perawat pria dan wanita perhatiannya tertuju pada orang-orang yang nampak sebagai para executive. Diam-diam para perawat muda menebar senyum berusaha mencari perhatian.


Pria berjas dan wanita cantik itu sedang mengerumuni seorang pria ber sweater merah muda dengan hoodie berhiaskan telinga kelinci.


"Tuan Jason, kenapa anda berpakaian seperti ini?" tanya wanita cantik yang merupakan sekretaris Jason dengan heran.


"Kenapa? Apakah aku tidak kelihatan tampan dengan pakaian ini?" sahut Jason cuek.


"Tentu saja anda selalu tampan dengan pakaian apapun tuan." ucapan wanita itu membuatnya terkekeh.


"Hanya saja..." sekretaris wanita itu terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.


"Lanjutkan." perintah Jason tanpa menghentikan kegiatannya mengamati berkas-berkas dihadapannya.


"Hehehe, anda tampak lebih muda sepuluh tahun. Seperti grade 12."


"Hahahaha... bilang saja kekanakan."


Jason masih sibuk membaca berkas-berkas yang harus ditandatangani. Wajah tampannya tampak lebih mempesona ketika dia bersikap serius.


"Kenapa anda disini tuan? Sampai kita harus meeting singkat disini juga." ucap sekretaris wanita itu lagi dengan berani.


"Kantor terasa sepi tanpa anda." ucap sekretaris itu lebih berani.


Jason hanya diam, mencurahkan konsentrasi pada berkas-berkas ditangannya. Dia harus cepat menyelesaikan semuanya sebelum Lia terbangun. Gadis bawel itu akan banyak bertanya apabila melihat dia dengan bawahannya disini. Beruntung sekali saat mereka tiba, Lia sudah tertidur.


"Tuan, bagaimana video call conferrences dengan pihak negara Asean? Meeting itu dijadwalkan besuk pukul delapan pagi. Sebaiknya jangan diwakilkan lagi tuan. Kita perlu memberikan kesan baik bagi petinggi negara tersebut." seorang executive setengah baya tampak memberikan saran karena beberapa hari ini Jason tidak muncul di kantor.


Jason terdiam sesaat kemudian dia menoleh kebelakang dimana dia bisa melihat Lia yang masih tertidur dari balik jendela putih besar. Gadis itu tampaknya tidak menyadari kehadiran para execuitve. Dia masih terlelap setelah menegak obat.


"Kau persiapkan segala sesuatunya dan emailkan kepadaku draft besar inti rapat tersebut. Kau pelajari juga berjaga-jaga jika aku tidak dapat hadir." Jason terkekeh.


"Tapi ini penting tuan." desak salah satu executive lainnya.


"Kau pikir aku bodoh? Mereka yang lebih memerlukan kita, bukan kita yang perlu mereka." sahut Jason dengan kesal membuat semuanya terdiam dan mereka melirik pada sekretaris wanita yang juga terdiam seraya memohon untuk mencairkan suasana.


"Bolehkan saya bertanya sesuatu tuan Jason yang tampan dan baik hati?" tanya sekretaris wanita itu dengan berhati-hati. Dia tahu harus masuk dengan kalimat yang tepat untuk melunakan hati Jason yang selalu berubah-ubah.


"Katakan."


"Apakah wanita itu calon ibu negara?"


Jason terbahak mendengar pertanyaan wanita itu yang mana membuat para execuitve lainnya tersenyum bingung.


"Menurutmu apa dia cukup cantik untuk menjadi ibu negara?"

__ADS_1


"Kalau cantik, saya rasa saya yang lebih cantik." ucap wanita itu jujur.


"Hahhahaha." Jason terkekeh mendengar jawaban wanita itu.


"Tuan, apakah saya perlu membawakan pakaian ganti?"


Jason berhenti dari kegiatannya sesaat. Dia seperti menimbang sesuatu. Kemudian dia melanjutkan kembali membaca berkas-berkas seraya berkata, "tidak perlu."


"Tapi tuan kenapa anda sampai rela seperti ini?" tanya wanita itu dengan pandangan menyelidik kearah Jason yang tampak aneh, berpakaian tidsk sebagaimana mestinya, lebih banyak tertawa, bahkan memanggil menandatangani berkas di ruang tunggu rumah sakit.


Jason diam dia lanjut menyelesaikan menadatangani berkas terakhir dan memberikan kepada sekretarisnya.


"Kalian segera kembalilah. Jangan lupa kirimkan email mengenai pertemuan besuk. Urus segala sesuatu di kantor. Dan kau.." Jason menunjuk pada sekretaris wanitanya.


"RAHASIA." ucapnya sambil terkekeh dan masuk ke dalam kamar Lia lagi sambil duduk berselonjor di samping tempat tidur Lia meninggalkan bawahannya yang melihat kelakuannya dengan penuh tanda tanya


**********


"Jason apa yang terjadi padamu, itu sweater Lia kan?" tanya Diana yang heran melihat Jason mengenakan sweater merah muda tersebut.


"Iya itu kakak, dia ngeselin kan. Itu sweater kesayanganku sekarang sudah terkontaminasi oleh lalat buah." kata Lia dengan cepat mengadu pada Diana sebelum Jason sempat memberi jawaban


"Hey kucing liar. Aku bahkan belum membuat perhitungan padamu karena sudah menodai kemeja mahalku." Jason langsung berkomentar ketika mendengar kata-kata Lia.


"Itu kan salahmu!" sahut Lia cepat.


"Itu karena kau yang menggodaku."


"Aku tidak menggodamu. Aku kan hanya makan."


"Tapi kenapa juga harus makan dihadapanku."


"Kau juga makan dihadapanku tadi, tapi aku tidak tergoda."


"Ya jelas, aku kan makan bubur tanpa rasa."


"Aku cuma makan burger." sahut Jason dengan cepat tanpa mau kalah.


"Kakakkkk..." Lia mengadu dengan kesal sambil memandang kakaknya meminta bantuan.


Diaba hanya tersenyum tidak mengindahkan dan sibuk menata buah juga roti di piring.


"Lagian aku juga terpaksa memakai sweater jelek murahan ini. Lama-lama bisa alergi." ucap Jason sambil menarik-narik baju yang dia kenakan.


"Kalau begitu jangan dipakai. Lepaskan." sahut Lia cepat tanpa berpikir panjang. Suaranya masih lemah tapi energi nya bisa berkobar berhadapan dengan Jason.


"Yakin?"

__ADS_1


"Katanya alergi pakai baju murahan ya lepas sana."


"Oke." dengan perlahan Jason mengangkat baju hendak melepaskan. Di sana Lia melihat otot-otot perut Jason yang terbentuk sempurna membuat dia risih.


"Tunggu!"


Gerakan tangan Jason masih setengah bagian untuk melepas bajunya.


"Tidak usah dilepas, minum obat sana kalau alergi."


"Yakin, tidak takut bajumu terkontaminasi oleh bau tubuhku?"


"Pakai dan ambil saja. Nanti dikira orang aku menyewa ****** lagi kalau kau tidak pakai baju." ucap Lia sambil cemberut dan memalingkan wajahnya.


Jason terkekeh sambil merapikan kembalo sweater yang dia kenakan.


"Kakak! Kenapa diam saja. Bantu adionya dikit kek!" Lia merajuk kesal.


"Lanjutkan saja. Kakak terhibur dengan perdebatan kalian." jawab Diana dengan tersenyum lebar sambil menyodorkan satu kotak roti kepada Jason juga segelas Capucinno.


Jason mengucapkan terimakasih sebelum menegak capucinno tersebut.


"Nah ini namanya kopi." ucap Jason sambil melirik Lia.


Lia yang kesal siap melempar Jason kembali dengan bantal, tapi urung ketika Jason menarik-narik sweater tersebut, seakan berkarta ayo lempar, ini sweatermu loh.


Akhirnya Lia mengurungkan niatannya. Dia tidak ingin sweater kesanyangannya terkena noda kopi.


Jason tersenyum penuh kemenangan sementara Lia merengut kesal.


"Jason, kau tidak perlu menginap lagi malam ini."


"Lalu siapa yang akan bersama bocah tengil ini?"


Lia melotot mendengar kata-kata Jason.


"Jangan khawatir, keadaan Lia sudah membaik, besuk dia sudah boleh pulang Jadi malam ini akan ada seorang pelayan yang tinggal bersamanya."


"Kau yakin pelayan itu bukan salah satu penghianat?"


Diana terdiam.


"Aku rasa tidak, dia adalah keponakan dari kepala pelayanku." jawab Diana yakin.


"Tidak disangka kau khawatir denganku lalat buah." Lia terkekeh dengan lemah.


"Khawatir denganmu? Aku lebih khawatir dengan kakakmu. Dia hamil muda, jangan sampai dia stress memikirkan kucing liar sepertimu."

__ADS_1


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2