
Diana mengikuti tuan besar masuk kedalam ruang kerjanya.
"Tuan, maafkan saya mengajak anda untik berbicara berdua." ucap Diana setibanya didalam ruangan.
Arthur sudah duduk di kursi kebesarannya sementara Diana masih berdiri dihadapannya bagaikan terdakwa.
"Saya mohon, berbaikanlah dengan anak anda. Anda tidak perlu bersikap ramah terhadap saya. Tapi setidaknya buka hati untuk Andrew, bayi ini dan Conrad." Diana menghela nafas sesaat dan menelan ludah membasahi kerongkongannya yang kering. Dia menyesal tidak meminum air di luar tadi terlebih dahulu sebelum masuk keruang kerja ini.
"Conrad meskipun dia bukan anak kandung Andrew, tapi mereka salinh menyayangi satu sama lain. Akan lebih membahagiakan apabila anda hadir di tengah mereka." ucap Diana lagi.
Kali ini dia merasa lelah berdiri seperti itu. usia kandunagnya sudah enam bulan dan perut sudah membesar meskipun usia nya masih muda, tetapi ini kehamilan pertamanya yang dia lalui dengan berbagai masalah yang menguras energinya.
Diana berjalan kearah sofa dan duduk. Dia tidak lagi bersopan santun dan menunggu Arthur mempersilahkannya.
"Andrew membenciku. Dia tidak akan ingin aku berada didalam gambaran yang kau bicarakan." jawab tuan besar dengan hampa.
Lagi-lagi Diana menelan ludah. dia berdehem beberapa kali karena tenggorokannya yang mulai teraa kering.
Tuan besa menyadari hal itu. Dia mengangkat telphone dan berkata pada orang disebrang sana. "Bawakan minuman untuk wanita ini."
Diana tersenyum lebar mendengar perintah Arthur pada orang diseberang sana. Tuan besar ternyata masih mempunyai hati nurani. Tuan besar memperhatikan dirinya. Hal itu membuatnya bahagia. Harapan masih ada untuk menyatukan mereka.
"Anda salah tuan. Andrew merindukan anda juga. Sikap dingin dan ego nya hanyalah perisai. Dibalik itu hatinya sangat lembut. Seperti sebuah kepiting." Diana tertawa kecil.
Arthur diam. Andrew adalah gambaran dirinya yang angkuh. Dia membiarkan Andrew menjadi dirinya dan itu sebabnya bertahun-tahun lamanya sikap angkuh membuat mereka terlalu gengsi untuk berbaikan. Harus ada penengah diatara mereka. Keputusannya untuk mengunjungi Diana saat itu ternyata membuahkan hasil yang baik. Wanita ini sanggup membawa anaknya melangkakkan kakinya kembali kerumah ini.
Seorang pelayan mengetuk pintu dan dan masuk membawakan Diana beberapa macam minuman.
"Maaf nona, saya tidak tahubapa yang anda suka jadi saya membawakannya semua. Ujarnya sambil meletakan segelas air putih, jus semangka, orange juice, jus apokat, sepiring buah-buahan dan sekotak kue kering."
"Kau memanjakanku. Aku suka semuanya." ujar Diana dengan berseri-seri.
"Apapun untuk anda nona. Tolong sering-seringlah membawa tuan muda kemari. Kami semua merindukannya." ucap pelayan itu dengan bersungguh-sungguh.
"Tentu saja." jawab Diana dengan tersenyum hangat.
__ADS_1
Pelayan tersebut tersenyum senang sambil menyuguhkan segelas teh hijau untuk tuan besar.
"Kau bahkan menduakanku." ujar tuan besar kesal kepada pelayan wanita setengah baya itu.
Pelayan wanita itu hanya tersenyum dengan perkataan Arthur kemudian berpamitan meninggalkan mereka.
"Tuan, saya tidak akan sungkan. Cucu anda sudah haus." ujar Diana dengan tersenyum lebar sambil mengusap perutnya. Dia mulai menegak setengah segelas air putih dan melanjutkannya dengan jus alpukat kemudian mulai mengunyah biscutis.
"Tuan, bisakah saya melihat ini." Diana mengambil sebuah album foto yang tergeletak di meja. Dia membuka album itu dan terpukau melihay foto masa kecilnya. Apalagi ketika foto bayi Andrew sedang tertawa memamerkan barisan gusi yang belum ditumbuhi gigi.
Diana memekik keras karena sangat senang melihat foto itu. Dan tuan besar tertawa melihat tingkah wanita itu.
Pintu ruang kerja dibuka seseorang dengan kasar. Disana tampak Andrew berwajah tegang dan menatap mereka tajam sambil memegang gagang pintu.
Didalam, tampak Diana dan Arthur sedang duduk berhadapan dengan sebuah album besar di tangan Diana. Mereka memandang Andrew yang tampak panik bersamaan.
"Kemarilah. Duduk disini." Diana melambaikan tangannya pada Andrew.
Andrew menghampiri Diana dan duduk disisi gadis itu.
"Lihat, auww.. kau tampan sekali ketika masih kecil. Coba lihat yang ini ahhh... baby Andrew." Diana mengelus foto diri Andrew yang masih bayi dan telanjang.
"Bicara apa kamu!" Diana mencubit lengan Andrew dan pipi nya bersemu merah.
Sementara Arthur berdehem.
"Coba lihat ini, ini pertama kalinya kau berjalan bukan?" Andrew melihat foto masa kecil yang ditunjukan oleh Diana.
"Kau tahu, aku mau mendampingi mu dan membesarkan anak-anak kita bersamaan. Aku tidak ingin melepaskan satu moment pun proses mereka tumbuh." ujar Diana dengan lembut sambil mengusap album foto tersebut.
"Tenti saja. Aku juga akan selalu disamping kalian." Diana menyandarkan kepalanya kedalam dada bidang Andrew.
"Kurangi perjalanan bisnismu. Belajar untuk percaya pada bawahanmu. Sebelum kau jadi sepertiku yang menyesal kehilangan banyak moment berharga dalam hidupku." ucap Arthur dengan sendu.
"Kau juga akan selalu menjadi bagian dalam moment kebahagiaan kami, tuan besar." ucap Diana lembut sambil menyentuh lengan ayah Andrew.
__ADS_1
"Bagaimana menurutmu ayah, apakah aku salah memilih?" tanya Andrew dengan tegas.
Tuan besar menatap Andrew. Sudah sekian lama dia tidak mendengar Andrew memanggilnya ayah. Jika saja harga dirinya tidak tinggi dia akan meminta Andrew memanggilnya ayah berkali-kali.
"Andrew... kenapa kau tidak mengundang ayahmu untuk tinggal beberapa hari di mansionmu?" tanya Diana dengan menengadahkan wajahnya ke arah Andrew.
"Mansionmu maksudmu?" tanya Andrew mengulang perkataan Diana.
Diaja tertegun sejenak. Tapi dia tidak memperpanjang keheranannya. Bagi nya itu hanya alasan yang digunakan Andrew karena enggan mengundang sendiri ayahnya.
"Tuan besar, sempatkan waktu dan tinggalah bersama kami. Conrad pasti ingin mengenal anda." ajak Diana dengan bersungguh-sungguh.
Tuan besar hanya mengangguk-angguk dan itu cukup membuat Diana senang.
Ketukan terdengar di pintu.
"Tuan besar makan siang sudah siap. Apakah tuan muda dan nona akan bergabung?" tanya butler Markus penuh harap.
Arthur menoleh kepada Diana seakan meminta mereka untuk tetap tinggal tapi terlalu gengsi untuk mengatakannya lewat mulut.
"Kami akan pulang." jawab Andrew.
"Ah tidak sayang, bisakan kita makan bersama dengan tuan besar kali ini, please..." ujar Diana dengan suara manja yang tidak pernah bisa ditolak Andrew. Wajah dan suaranya yang seperti itu begitu menggemaskan bagi Andrew.
"Terserah apa maumu." Andrew mengalah.
"Mari tuan besar." ajak Diana sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Arthur berdiri. Diluar dugaan Andrew, ayahnya menyambut tangan Diana. Dan wanitanya sudah memeluk lengan ayahnya berjalan menuju ruang makan.
Mereka makan dengan nikmat dan tenang, sambil sesekali Diana bertanya kepada tuan besar. Selesai makan mereka berpamitan untuk pulang. Ketika Diana berpamitan, Arthur mengatakan sesuatu, "Panggil aku daddy."
Perkataan tersebut membuat Diana terharu, dengan menahan tangisan dan tersenyum lebar dia memeluk Arthur sambil berkata, "tentu saja daddy. Terimakasih."
Memiliki ayah adalah kado sederhana yang membuatnya bahagia karena semenjak kecil ayahnya sudah meninggal.
Selesai memeluk dan mencium pipi Arthur, Diana menoleh pada Andrew dengan tatapan memerintah. Andrew tidak dapat menolak, dia terlalu lemah pada wanita satu ini. Akhirnya Andrew melangkah maju dan memeluk ayahanya.
__ADS_1
Pelukan erat diantara kedua nya terjadi. Tanpa kata-kata. Arthur memeluk erat putra satu-satunya yang amat sangat dia rindukan. Kali ini semua gengsi yang menjadi tameng diantara mereka sudah dilucuti habis.
Hanya karena wanita sederhana dengan hati yang luas mempersatukan mereka.