
"Conrad.. jangan cepat-cepat larinya. Mommy capek." ucap Diana yang sedang mengikuti Conrad berlarian di sepanjang mall. Conrad tidak memperdylikannya dia tertawa sambil berlarian diijuti oleh nanay dan dua pengawal. Bocah itu tampak gembira karena akhirnya dia bisa keluar rumah selain ke sekolah dan bisa bermain game di publik area.
"Ibu hamil jalan santai saja. Biar Conrad ditemani nanny dan beberapa pengawal. Kakak temani aku shopingg. Ini kan baru pertama kali aku keluar shopping dengan kakak." rajuk Lia dengan manja.
"Baiklah. Apa yang ingin kau beli?" Diana mengiyakan.
"Kakak mau mentraktirku?" mata Lia berpijar gembira. Diana hanya mengangguk mengiyakan sambil mengusap perutnya yang sudah membesar. Usia kandungannya kini sudah tujuh setengah bulan.
"Kakak memang cantik dan baik hati." Lia memeluk lengan Diana seraya mengecup pipi kakaknya.
"Ih, manja kalau ada maunya." Diana mencubit pipi adiknya pelan. Sementara yang dicubit hanya tertawa riang.
Ya, akhirnya setelah empat bulan Andrew mengizinkan mereka untuk keluar dari rumah. Empat bulan tanpa ada kabar dari Rachel. Wanita itu seperti lenyap bagai ditelan bumi.
Hal itu berawal ketika adanya laporan dari petugas patroli pantai. Mereka menemukan mobil Rachel di pinggir pantai yang sepi. Semenjak itu Andrew mengutus bawahannya untuk mencari informasi tentang keberadaan Rachel, tapi mereka tidak dapat menemukan Rachel baik hidup ataupun mati.
Bahkan mereka mencari jasad Rachel di lepas pantai. Ratusan ribu dolar dikeluarkan untuk mencari Rachel dan hasilnya nihil. Tanpa mengendorkan pengawasan, Andrew mengizinkan kesayangannya untuk keluar dari rumah. Andrew masih memerlukan waktu dan bukti sebelum mengajukan permohonan penerbitan surat kematian Rachel. Bahkan pihak keluarga dan orang tua Rachel tidak mengetahui keberadaan Rachel. Mereka semua seperti seorang siena dengan licik menumpahkan semua kesalahan pada Andrew
Brrrttt.. brttt..
Smartphone Lia bergetar. Gadis itu melihat siapa yang memberi pesan. Kemudian dia meletakan smartphone tersebut tanpa membaca apalagi membalasnya.
"Kok tidak dibaca?" tanya Diana heran.
Lia hanya diam
"Dari siapa?" tanya Diana lagi melihat Lia tetap diam.
Lia hanya nyengir memamerkan gigi-gigi putihnya yang rapi.
"Pakai rahasia-rahasian segala ya sekarang." goda Diana.
"Ih.. apaan sih kakak. Itu cuma iklan." ucap Lia menimpali godaan Diana.
"Oh... Oke." sahut Diana tapi tetap melirik Lia dengan sorot mata tidak percaya.
Diana selama ini mengamati bagaimana kedekatan antara Lia dan Briant juga dengan Jason. Tetapi gadis itu selalu menghindar ketika dia bertanya. Meskipun di sisi lain terkadang Diana merasa apabila Briant juga diam-diam masih berhubungan dengan Grisella.
Saat ini Diana berjanji dalam hati dia akan berbicara dengan Briant.
__ADS_1
"Kakak ini bagus ya. Aku mau ini. Emh, ini. Ini juga. Ooo yang ini so cute, aku mau itu juga. Dan ini. Bolehkan hehehe?" Lia memilih beberapa pakaian, tas dan sepatu dengan rakus. Memang begini lah karakter wanita kalau shopping ya, bisa gelap mata.
Dia hanya tersenyum melihat kelakuan Lia. Diana menuju kecashier dan mulai membayar semua belanjaan Lia.
"Kakak, ayo lihat-lihat di bagian keperluan bayi ya." Lia menarik tangan Diana menuju ke toko yang menjual perlengkapan bayi.
"Aku ingin memilih sesuatu untuk keponakanku."
"Okey." Diana bersemangat sekali dengan ide Lia yang satu ini.
Dia masih inget ketika kandungannya menginjak bulan ke empat, Andrew memerintahkan dokter Michael untuk mengirimkan dokter kandungan juga semua peralatan untuk usg di mansion. Bahkan dia hendak membeli semua peralatan tersebut jika dr.Michael menolak. Untung saja Diana mendengar hal itu, tentu saja dia mencegah dan melarang hal yang menurutnya terlalu berlebihan itu. "Mau buat klinik apa?"
"Aku akan ke rumah sakit. Jika tidak, aku tidak mau memeriksakan kandunganku dan kau tidak akan pernah mengetahui jenis kelamin anakmu." ancamnya.
Dan itu berhasil, Andrew menuruti keinginannya. Selanjutnya bagaikan Ratu Elisabeth, puluhan pengawal di perintahkan Andrew untuk menyisir keamanan rumah sakit dan kemudian mengawal mereka hingga di ruangan dokter Kandungan. Terlalu berlebihan bagi Diana, tapi itu salah satu syarat yang diajukan Andrew.
Wajah Andrew berseri-seri ketika mengetahui jenis kelamin anaknya adalah laki-laki. Saat ini dia memiliki Conrad dan anaknya bersama Diana.
Kamar bayi sudah dipersiapkan, kamar bernuansa putih dan biru dengan ornamen lullaby yang lucu. Conrad pun mulai tidak sabar menanti kehadiran adiknya. Setiap pagi dan sore, Conrad tidak pernah lupa mengajak Andrew untuk mengusap lembut perut Diana dan menyapa adiknya.
Bagaikan mengerti sapaan, bayi dalam kandungannya selalu menendang penuh semangat membalas sapaan Andrew dan Conrad tetapi tertidur nyenyak jika Diana yang menyapa.
"Nanti baju baby nya disimpan ya kakak, buat anakku kelak." ucap Lia dengan serius. Pakaian dan peralatan bayi yang dibeli Andrew semuanya merupakan bahan terbaik. Sayang bukan? Berapa lama bayi akan memakai pakaian yang sama. Apalagi bayi yang belum lahir itu memiliki amat sangat banyak persediaan.
"Memangnya kapan kau akan menikah?" tanya Diana menggoda. Lia cemberut.
"Sudah menemukan pilihan hati?" lanjut Diana menggoda.
"Ah kakak. Sudahlah." pipi Lia bersemu merah.
"Kau harus memutuskan satu diantara mereka. Siapa yang lebih memperhatikanmu dan kepada siapa hatimu berlabuh." ucapan Diana membuat Lia merenung. Saat itu mereka sudah duduk di sebuah coffee shop tepat didepan area Conrad bermain. Bocah itu kembali bermain setelah menikmati makan siang meninggalkan Diana dan Lia dalam perbincangan di cafe.
"Nyatanya keduanya bertolak belakang." ucap Lia lirih.
"Maksudmu?"
"Pria yang aku suka begitu dan pria yang memperhatikanku mereka orang yang berbeda. ARGHHH sudah kakak. Aku masih mau bersenang-senang dulu." ucap Lia frustasi sambil meminum caramel frapucino.
Diana tertawa kecil melihat raut wajah adiknya yang menggemaskan. Sebuah pesan masuk di smartphonenya, ketika membaca pesan itu, raut wajah Diana berubah tegang. Sayang sekali Lia tidak melihatnya.
__ADS_1
"Kakak mau ke toilet dulu ya."
"Ayo aku antar. "
"Gak usah. Itu kan dekat." Larang Diana.
"Yakin bisa sendirian?"
Diana mengangguk mantap. Dia membiarkan pengawal mengikutinya sampai depan lorong toilet Dengan perlahan dia berjalan menuju toilet khusus penyandang cacat. Tanpa malu dia masuk kedalam toilet tersebut. Seseorang yang sudah berada didalam segera menutup dan mengunci toilet tersebut yang mana membuat Diana terkejut.
Mereka saling bertatapan tajam. Tubuh Diana sedikit bergidik berhadapan dengan orang tersebut. Dia berukangkali melirik pada pintu dibelakang orang tersebut yang sudah terkunci rapat.
"Sudah lama kita tidak berjumpa. Aha perutmu semakin membesar ternyata, tapi kau memang selalu saja cantik."
"Jangan sakiti Conrad." ucap Diana langsung tanpa menanggapi perkataan orang tersebut. Meskipun ada rasa takut dalam lubuk hatinya, dia memberanikan diri menemui orang yang mengancam akan menculik Conrad lewat pesan wa.
"Tidak akan asal kau menurut padaku." seringai licik di wajah orang itu
"Kenapa kau bisa berada ditempat ini? Bagaimana kau tahu kami berada disini?" tanya Diana kembali.
"Itu sebuah keberuntungan yang berpihak padaku." tawa licik keluar dari mulutnya.
"Apa mau mu?" akhirnya pertanyaan yang paling dinanti keluar dari bibir Diana.
"Mauku? Tentu kau tau apa mauku." ucap pemilik suara itu dengan mata yang terbuka lebar, alis terangkat dan seringaian yang tersungging.
Diana ingin berteriak. Tapi dia takut kalau orang tersebut akan memenuhi ancamananya untuk menyakiti Conrad. Ah, sekarang Diana baru menyadari kesalahannya. Dia seharusnya mengabari Andrew atau memberi tahu Lia akan pesan ancaman tersebut.
"Jangan melakukan tindakan bodoh, adik dan pengawal tahu kalau aku berada ditempat ini." ucap Diana sambil perlahan mengambil smarthphone nya hendak menghubungi Andrew.
"Kau yang jangan bertindak bodoh, cantik!" orang tersebut ternyata mengetahui tindakan Diana, dia segera merebut ponsel Diana yang sudah terhubung dengan Andrew. Ponsel itu terjatuh. Diana sengaja menjatuhkan ponselnya sebelum direbut dan saat ini, tangannya ada dalam kendali orang itu.
"Lepaskan aku. Andrew to..." belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, sebuah cairan obat bius sudah menutupi mulut dan hidungnya. Dalam beberapa detik saja pemberontakannya sia-sia saja.
Dengan susah payah orang tersebut membimbing Diana untuk didudukan di kursi roda. Dia memasangkan rambut pasangan, kacamata hitam dan masker. Tubuh Diana dia tutupi dengan selimut besar.
Dengan langkah percaya diri orang tersebut melangkah mendorong kursi roda melewati pengawal dan melewati Conrad yang sedang duduk bersama Lia. Seyum mengejek tersungging di bibirnya. Kali ini dia menang, wanita yang dia incar ada dalam genggaman tangan. Berlalu dengan santai dihadapan mata mereka tanpa mereka sadari.
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
__ADS_1