
"Daddyyyy!!!! Buka pintuuuuu!!!! Daddyyyy open the dollll." Teriak Aaron sambil mengetuk pintu kamar ayah dan ibu nya dengan keras.
Diana dan Andrew barus saja menyelesaikan urusan mereka di kamar mandi. Andrew baru saja selesai membantu istrinya mengenakan pakaian. Dan dia merasa terganggu dengan teriakan Aaron.
"Biar aku saja yang buka pintu." Kata Andrew.
Kali ini pria itu merasa bersalah sudah terlalu memaksa kehendak kepada istrinya. Wanita itu yang biasanya memiliki kekuatan untuk melayaninya, setidaknya sampai dengan lima ronde. Tapi kali ini hanya tiga ronde dan dia nyaris pingsan.
Melihat wajahnya yang pucat dan saat Diana mengeluh badannya sakit semua, Andrew mengalah. Mengurungkan segala niatan dirinya. Dia dengan lembut memandikan Diana dan memijat setiap bagian tubuh yang di rasakan sakit.
"Iya sebentar Aaron." Balas Andrew dari dalam kamar. Dia baru saja membaringkan Diana di kasur.
"Ada apa sayang?" Tanya Andrew pada anak-anaknya yang tanpa permisi sudah menyelonong masuk.
Aaron dengan gaya sok pintarnya, Francesca dengan gaya seperti seorang princess dan Conrad dengan gaya sok cool. Tampak si kecil Aaron memimpin barisan. Dan Andrew memandang mereka dengan heran
"Ada apa ini?" Tanya Diana dengan lemah.
"Mommy dan daddy kenapa cali adiknya dalam kamal?" Tuding Aaron langsung.
"Heh?" Diana dan Andrew mengumam bersamaan.
"Kata bibi Matilda, daddy dan mommy mengulung diri dalam kamal lagi mau cali adik. Ini Alon bawa semua nya mau bantu cali adik." Celotehnya panjang lebar.
"Sudah Conrad kasih tahu. Adik itu urusannya orang tua, gak percaya dia. Kan tuh Aaron, mommy dan daddy sampai bingung." Conrad merasa kesal karena dipaksa adik-adiknya masuk ke kamar orang tua mereka.
"Sudah ayo sini peluk mommy saja. Adik biar nanti urusan daddy ya." Ujar Diana dengan lembut.
Serentak saja ketiga anakkya berebut memeluk Diana dan meninggalkan Andrew begitu saja mematung.
"Mommy sakit?" Tanya Francesca dengan penuh perhatian.
"Mommy cuma merasa lelah dan tidak enak badan." Ujar Diana lesu.
"Badan mommy hangat." Ujar Francesca lagi.
"Mana lihat-lihat." Aaron dan Conrad berbutan menyentuh dahi Diana.
"Sudah ah, tadi mommy baru berendam air panas. Mungkin itu sebabnya badan mommy hangat." Diana menjelaskan pada ketiga anaknya.
"Kau yakin baik-baik saja?" Tanya Andrew sambil menyentuh dahi Diana.
"Aku hanya lelah saja." Jawab Diana.
"Tapi badanmu terasa hangat. Aku akan menghubungi Michael." Andrew bergegas mengambil smartphone nya dan menghubungi dokter keluarga yang sekaligus sepupu jauhnya.
"Tidak perlu Andrew.. aku hanya kelelahan. Tidur sebentar, besuk juga tidak apa-apa." Desah Diana lesu.
"Justru karena kau bilang tidak apa-apa, maka aku bertambah khawatir." Ujar Andrew. Dia benar-benar merasa bersalah hari ini. Dia merasa jika dirinya lah pemicu rasa sakit Diana.
Andrew tidak menghiraukan penolakan Diana, dia sudah memerintahkan pada dr.Michael untuk datang saat ini juga. Tidak perduli sedang melakukan apa, dr Michael harus meluncur.
"Conrad mau minta cheft paul untuk buatkan bubur buat mommy."
"Tunggu. Bilang cheft Paul, mommy mau bubur ayam dengan kuah soto. Hemm... kaya nya lezat." Gumam Diana sambil menelan air liur.
"Memang cheft Paul bisa buat soto? Biasanya kan mommy yang buat?" Tanya Aaron dengan heran.
"Pasti bisa." Tegas Diana.
"Okey mommy." Conrad meluncur dengan segera menuju ke dapur.
"Alon disini saja temani mommy. Sini mommy Alon pijitin. Ayo kak Flances pijitin mommy." Ujar Aaron.
Aaron adalah Aaron. Jika dia membutuhkan bantuan Francesca dia akan memanggil kakak. Jika tidak... hemmmm lupakan sudah urusan embel-embel kakak.
Bagi Dia, Francesca yang bertubuh sama seperti dirinya, berarti seumuran.
Keempat tangan kecil itu berlomba memberi pijatan di kaki Diana. Andrew yang melihatnya tertawa.
"Lalu siapa yang mau pijitin daddy?" Ujar Andrew manja.
"Yehhhh daddy kan ga sakit." Sahut Aaron lantang.
"Daddy sakit kok. Coba lihat. Nih kan hangattt." Andrew pura-pura sakit sambil bersandar di tempat tidur dengam lemah.
"Mana Frances lihat." Francesca memegang kening Andrew.
__ADS_1
"Tidak panas kok. Daddy sudah tua tidak boleh manja ya." Tegur Francesca.
"Kan daddyyyy. Kalau suka bohong nanti rambutnya cepat putih." Kata Aron dengan gaya sok pintarnya.
"Loh, Aaron sudah bisa bilang huruf R?" Tanya Diana dengan gembira.
Semua mata menatap Aaron dengan heran. Aaron jadi bingung dibuatnya.
"Coba bilang rambut." Pinta Diana.
"Rambut. Rambut. Lambut. Rambut. Betul ya mommy?" Tanya Aaron tidak percaya diri.
"Iya betul." Sahut Diana.
"Ulangi lagi." Pinta Andrew.
"Aaron hebat." Ujar Fransisca.
Aaron tersipu sambil tersenyum lebar.
"Rambut. Rambut. Rambut. Rambut. Rambut. Horeeee Aaron bisaaa." Pekik Aaron dengan gembira sambil berloncat-loncat diatas tempat tidur diiringi tepuk tangan Diana, Andrew dan Francesca.
"Ada apa sih kok pada ribut." Tanya Conrad yang baru saja dari dapur.
"Bubur nya lagi di buatin mommy. Beruntunh saja cheft Paul punya persediaan bumbu soto. Jadi gak bakal lama." Sambung Conrad lagi.
"Terimakasih ya sayang." Ujar Diana.
"Kakak...kakak... dengar. Rambut. Rambut. Rambut. Rambut. " Aaron terus mengulang-ulang kata Rambut.
"Apaan sih? Rambut Aaron kenapa? Mau di potong atau rambur Aaron kutuan?" Tanya Conrad dengan gemas.
"Haaa. Kakak Conrad! Dengerin omongan Aaron. Rambut! Aaron! Daddy Andrew. Rapi! Rajin! RRRRRRRRRR." Teriak Aaron dengan lantang.
"Iya terus kenapa?" Tanya Conrad lagi dengan tertawa geli.
"Huaaaaa... kak Conraddd... huaaaaa..." Aaron menangis merajuk sambil menghentakan kaki nya.
"Conrad sudah jangan ganggu adikmu." Tegur Diana.
"Kak Conrad ini gimana sih. Aaron sudah bisa bilang huruf R." Jelas Francesca.
"Apanya yang biasa. Ini luar biasa lagi. Sudah Aaron jangan menangis. Yang penting mommy, daddy dan Frances mengerti." Hibur Francesca sambil mengusap-usap kepala Aaron.
"Ayo hibur adikmu." Perintah Andrew oada Conrad.
"Iyaaa. Aaron dah jangan ngambek. Tadi kakak cuma bercanda saja kok. Aaron hebat sekali bisa bilang huruf R." Ujar Conrad memberi semangat pada Aaron yang lagi ngambek.
"Benal ya?" Jawab Aaron.
"Loh itu. Benar bukan Benal. Yeaaa masih cadel juga." Celetuk Conrad.
"Tidak cadellll. Rrrrrrrr Rambut. Rambut. Rambut. Benal kan."
"Benar. Bukan benal." Sanggah Conrad lagi.
"Tauk ah, malas bicala sama kakak Conrad." Gerutu Aaron kesal yang disambut tawa semuanya.
Tak lama kemudian seorang pelayam mengantar dokter Michael ke dalam kamar utama.
"Hallo semua nya, siapa yang sakit?" Tanya Dokter Michael dengam ceria.
"Mommy!" Jawab ketiga bocah itu serentak.
"Oooo. Si ratu perkasa, kenapa tiba-tiba sakit?" Celetuk dr. Michael.
"Aku hanya kelelahan dokter." Sahut Diana.
"Kelelahan, memangnya habis ngapain?" Tanya dokter Michael sambil melirik Andrew.
"Habis cari adik." Sahut Aaron dan Francesca serempak.
"Heh? Cari adik?" dokter Michael kebingungan.
"Iyaaa. Aaron minta adik. Tadi daddy dan mommy lagi nyariin di dalam kamar." Celetuk Aaron dengan nyaring.
"Hahhahahaha sudah ketemu?" dokter Michael tertawa geli menimpali perkataan Aaron.
__ADS_1
"Belum." Aaron menggelengkan kepalanya.
"Hahhahhahah, kalau mau adik, musti tunggu sembilan bulan lagi. " ujar dr. Michael setelah memeriksa nadi Diana.
"Kog lama dokter?" Tanya Francesca dengan heran.
"Seorang adik itu perlu proses. Dari telur menjadi sosok adik bayi." dr.Michael menjelaskan.
"Seperti kepompong menjadi kupu-kupu?" Tanya Conrad dengan serius.
"Ya kurang lebih begitulah." Jawab dokter Micahel.
"Jadi sembilan bulan lagi dokter?" Tanya aaron lagi.
"Bisa jadi." Jawab dokter. Micahel.
"Michael, maksudmu apakah...?" Andrew menatap dokter Michael dengan penuh tanda tanya.
"Kan aku dah bilang bisa jadi." Jawabnya penuh teka-teki.
"Kau membuatku penasaran." Ujar Andrew kesal.
"Sabar lah sayang. Dua minggu lalu aku datang bulan kok." Diana berusaha menenangkan suaminya.
"Banyak? Atau hanya bercak?" Tanya dokter Michael lagi.
Diana terdiam sesaat. Dia merenung mengingat banyak nya haids nya.
"Seperti bercak tapi agak banyakan. Apakah artinya?" Diana memandang penuh harap.
"Bisa jadi."
Dokter Michael tertawa penuh misteri.
"Kau tambah tua tambah menyebalkan Michael," ujar Andrew dengan kesal.
Dokter Michael mengeluarkan jarum suntik dan peralatannya untuk mengambil darah Diana. Kemudian dia menyuntikan darah itu kedalam tabung dan menyimpannya kedalam kotak pendingin.
"Bawalah Diana kerumah sakit besuk siang. Jangam datang terlalu pagi. Hasil test belum keluar." Pesan dr. Michael.
"Baiklah. Terimakasih." Ujar Adrew.
"Kali ini, jangan terlalu over. Satu kali saja cukup. Kalau bisa durasi nya juga dikurangi." Tutur dr. Michael sambil mengerdipkan matanya.
"Diamlah!" Gerutu Andrew kesal.
"Bye-bye anak-anak. Jaga mommy yaaa. Jangan buat mommy lelah. Bilang daddy jangan paksa mommy cari adik terus." Gurau dr. Michael dengan tertawa nyaring.
"Okey dokter." Jawab ketiga anak itu kompak.
Andrew kemudian menarik lengan dokter Michael menghentikan pria berusia empat puluh lima tahun itu, berbicara lebih banyak lagi dengan gurauan yang tidak lucu bagi Andrew.
Setelah mereka keluar, cheft Paul datang dengam semangkuk bubur kuah soto. Diana yang melihatnya sangat girang. Dia menyantap dengam bernafsu hanya awalnya saja. setelah empay sendok. Diana meletakan sendok dan menolak mengunyah lagi.
"Kenapa? apa tidak enak?" tanya Andrew penasaran.
Diana menggeleng.
"Aku hanya merasa kenyang." jawabnya.
"Tapi baru sedikit. Satu sendok lagi ya?" pinta Andrew.
"Baiklah satu sendok saja." Diana mengalah dan menerima suapan dari Andrew."
"Satu lagi ya," pinta Andrew.
Diana menggelengkan kepalanya.
"Gak mau. Ini saja rasanya dah mual. Aku mau tidur saja." tolak Diana sambil merebahkan diri.
Andrew kemudian meletakan mangkok bubur di troli dan mengambil segelas lemon madu hangat untuk Diana.
"Minumlah ini selagi masih hangat."
Diana menegakan tubuhnya lagi dan meminum lemon hangat kesukaannya itu. Setelah selesai, Andrew mengajak ketika anak-anak yanh sedari tadi asyik bermain di kamar.
"Ayo, kalian makan malam dulu. Jangan ganggu mommy dulu ya. Biarkan mommy beristirahat."
__ADS_1
"Dah mommy cepat sembuh ya." ucap ketiha bocah itu serempak sambil bergantoan mengecup kening Diana.