
Hari ini Andrew bersiap kembali ke Miami. Dia dengan ditemani dua orang pengawalnya, membawa Conrad dan Francesca. Beruntung sekali proses pembuatan pasport dan visa Francesca sudah selesai dengan cepat, berkat bantuan dinas sosial.
Fancesca menangis dalam gendongan Andrew. Dia sedikit kesulitan menenangkan gadis kecil itu. Francesca menangis sambil berteriak memanggil Lena. Di dalam pesawat pribadi pun dia masih menangis dan agak ketakutan, apalagi ketika mendengar deru mesin benda yang tampak asing bagi nya.
Di dalam pesawat Andrew menyerahkan Francesca kedalam pengawasan pramugari. Pramugari membawa Francesca dan Conrad ke ruangan belakang. Dia memberikan sejumlah mainan dan alat menggambar. Akhirnya perhatian gadis itu terpecah.
Sebelum pesawat sempat lepas landas Andrew mendapatkan telphone dari Raja.
"Tuan, saya mendapatkan kabar dari pihak rumah sakit jika nyonya Caroline meninggal."
Andrew menarik nafas. Dosakah jika dia harus merasa lega? Satu beban sudah terangkat. Andrew menatap Conrad dan Francesca. Conrad masih memiliki dirinya, sedangkan gadis kecil malang itu benar-benar sudah yatim piatu.
"Baiklah. Beri kabar pada Lena dan persiapkan pemakamannya sesegera mungkin. Hari ini juga! Aku tidak ingin menunggu dan menunda keberangkatanku ke Miami. Aku juga akan menayakan pada anak-anak apakah mereka mau datang pada penguburan ibunya. " Ujar Andrew.
Andrew mengabarkan hal itu pada Conrad. Awalnya Conrad menolak untuk hadir di upacara penguburan ibu nya. Tapi Andrew memberikan pengertian jika tindakan yang benar adalah memberikan penghormatan terakhir.
Akhirnya mereka keluar dari pesawat. Dan mendatangi penguburan Caroline. Francesca kecil hanya menatap kosong pada peti mati ibunya. Dia tidak memahami sepenuhnya apa yang terjadi.
Sedangkan Conrad hanya menatap sedih. Dalam hatinya. Dia ingin semuanya baik-baik saja.
Dia ingin Caroline sembuh dan bertemu dengan pria baik yang akan merawatnya. Hati Conrad dipenuhi kebaikan karena kasih yang melimpah, yang dia dapatkan sedari kecil dari Diana.
Francesca tidak beranjak dari gendongan Andrew. Dia diam dan menabur bunga dari dekapan Andrew. Dia merasa aman berada di dekat Andrew. Sosok ayah yang tidak pernah iya ingat, iya dapatkan di sana. Perasaan dilindungi.
Saat ini, yang dia tahu, dia akan bertemu dengan seorang ibu yang dijanjikan oleh Conrad.
Francesca sudah tertidur ketika Andree membawanya kembali ke bandara. Dia tidak lagi menangis dan menjerit. Pangkuan pria itu terasa hangat dan tatapan kasih sayang dari Conrad, membuatnya merasa memiliki seorang pelindung.
Setelah tiga belas jam perjalanan dengan pesawat dan satu setengah jam dari bandara menuju ke Mansion. Akhirnya mereka tiba saat malam hari.
*
Diana sudah menanti mereka seharian. Dia sudah menyiapkan kamar untuk Francesca. Kamar yang dia dekorasi layaknya kamar seorang putri. Di dominasi warna merah muda.
Bersama dengan Aaron, Diana sudah menghabiskan waktu untuk berbelanja persiapan dan segala keperluan Francesca. Tidak ada yang terlewatkan. Pakaian tidur hingga bermain. Hiasan rambut berbagai jenis. Tas, boneka, mainan lainnya bahkan sisir dengan gaggang yang indah. Sandal dan sepatu telah siap masing-masing dua pasang.
Aaron yang pe asaran sempat menanyakan pada Diana, kenapa membeli semua itu.
"Ini semua melah muda. Mommy mau pakai pita ini? Sepatu ini juga kekecilan buat mommy. Apa ada yang mau ulang tahun?" tanya Conrad dengan polos.
"Bukan sayang, hahahaha kau menggemaskan."
Diana berjongkok di hadapan putra nya. Menatap dengan gemas.
"Aaron mau gak punya kakak lagi, perempuan?"
"Mau ma, berapa? Dua?" Aaron menganggukan kepalanya dan mengacungkan kedua jarinya.
"Eh... satu saja yaaa. Kau akan memiliki seorang kakak perempuan yang cantik, namanya Francesca. Dia akan tinggal bersama kita. Dan Aarron bisa memanggilnya kakak Frances." Ujar Diana menjelaskan.
"Bealti Alon punya temen main balu kan mom? " Ujar bocah yang masih belum bisa melafalkan R dengan benar.
"Iyaaa. Benar sekali. Nanti Aaron harus menemani kakak Frances ya. Dia tentunya akan merasa asing awalnya. Aaron harus baik denga kakak Frances ya."
Aaron mengangguk.
"Alon juga baik dan sayang sama kakak Conlad. Alon ndak nakal. Alon pintel. " Ujar bocah itu dengan mimik yang serius.
Diana tertawa mendengar perkataan Aaron dan juga wajah serius si kecil yang menggemaskan. Di angkatnya Aaron dalam gendongan nya.
"Mommy sayang sekali sama Aaron. Muahhh. " Diana mengecup pipi putranya dengan gemas.
"Alon juga sayang sama mommy. Muahhh. " Aaron mengalungkan tangan kecilnya ke leher Diana dan mencium kedua pipi mommy nya.
__ADS_1
"Mommy, belalti Alon sekalang punya dua kakak?"
"Iya benar."
"Lalu kapan Alon akan di panggil kakak? Alon mau punya adik. Dua. Kakak Dua. Adik dua." celoteh nya dengan bersemangat.
"Eh.. kalau adik nanti dulu ya sabar, prosesnya lama." ujar Diana sambil menjetik hidung Aaton dengan kasih sayang.
"Kok bisa lama? Nanti Alon langsung bisa punya kakak balu. Kenapa adiknya lama?" tanyanya tak mengerti. Bola mata kecilnya membulat menatap Diana.
"Ih.. Aaron makin pintar yaaa. Kalau mau adik nanti bilang daddy ya. Biar daddy carikan yang cakep buat Aaron." Diana tertawa kecil.
Aaron mengangguk.
"Jadi Alon minta sama daddy ya?"
Diana meringis dan terpaksa mengangguk. Bisa gawat jika Aaron benaran meminta pada Andrew. Diana bisa membayangkan hari-harinya yang bakal terkapar di tempat tidur. Dia menyesal sekarang sudah terlanjur mengatakan pada Aaron untuk meminta adik pada Andrew.
*
Saat ini Aaron sudah terlelap. Mata kecil nya tak sanggup lagi terbuka menanti kedatangan Ayah dan ke dua kakak nya. Sejauh mana dia bertahan, akhirnya mata itu tertutup juga dengan mulut terbuka dan air liur nya yang menetes.
Diana membaringkan Aaron di tempat tidurnya. Musik lullaby terdengar lembut menambah lelap Aaron. Sambil tersenyum hangat Diana menyelimuti Aaron.
Beberapa Jam kemudian yang dinantikan sudah tiba.
Diana tersenyum lebar menyambut kedatangan Andrew dan kedua anak yang sudah dia nantikan. Francesca terjaga dari pelukan Andrew. Sedangkan Conrad langsung berlari dan memeluk Diana.
Diana memeluk dan mengusap kepala Conrad dengan penuh kasih sayang. Dia menciumi rambut anak laki-laki yang tingginya hampir sama dengan dirinya. Bisa dirasakan betapa dia merindukan anak ini. Diana bersyukur Conrad telah kembali kepelukannya.
"Maafkann Conrad mommy. Conrad sayang sama mommy. " Ujar Conrad dalam pelukan ibu nya.
"Mommy juga sayang padamu. Kau selamanya adalah anakku. " Ujar Diana dengan penuh kasih sayang.
Conrad melepaskan pelukannya. Dia menoleh kearah Francesca dan tersenyum.
"Frances, perkenalkan ini mommy ku. Mommy Diana." Ujar Conrad memperkenalkan.
Frances termangu menatap Diana.
"Hai Frances, namaku mommy Diana. Senang sekali mommy bertemu dengan Frances." Ujar Diana sambil mengulurkan tangannya.
Franacesca menatap tangan Diana yang terulur. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi dia suka dengan senyuman dan tatapan hangat wanita di hadapannya.
"Boleh mommy memeluk Francesca? " Tanya Diana dengan perlahan.
Hari ini dia baru bertemu dengan gadis kecil itu. Diana melakukan perkenalan dengan perlahan. Dia tidak ingin buru- buru dan membuat gadis itu takut.
Diluar dugaan, Francesca menerima uluran tangan Diana. Dia berpindah dari gendongan Andrew kedalam pelukan Diana. Gadis itu melingkarkan tangannya di bahu Diana. Dia menyandarkan kepala mungilnya di bahu Diana. Matanya terpejam. Francesca ingin merasakan setiap kehangatan tubuh wanita itu, setiap kelembutan belaian tangannya dan juga aroma harum tubuh wanita yang menamakan dirinya Mommy Diana.
Andrew menatap istrinya. Dan dia semakin jatuh cinta pada wanita itu. Dia dengan segala kesederhanaan dan ketulusan hati, tidak pernah terpengaruh dan tidak pernah berubah oleh kekayaan yang menyelimuti nya.
Diana mengusap lembut punggung Frances dan membawa masuk anak itu ke dalam rumah. Frances menegakkan kepalanya dan memandang seisi rumah. Rumah yang bagus, tertata rapi dan menyenangkan.
"Nah, rumah ini sekarang tempat Frances tinggal ya. Kami di sini adalah keluarga Frances. Ada adik Aaron juga, tapi dia sekarang masih tidur. Besuk pagi mommy akan perkenalkan Fra cesca dengan Aaron dan semua penghuni rumah ya." ujar Diana dengan lembut.
Gadis kecil itu menatap Diana seksama. Berusaha mengerti dan memahami perkataan wanita yang menggendongnya saat ini. Dia sekarang mengerti perkataan Conrad yang mengatakan, wanita yang suka memeluk.
Francesca kembali menyandarkan dirinya di dada Diana. Dia merasa nyaman di bahu wanita itu. Dia mulai menyukai suara dan harum tubuh mommy Diana.
"Nah ini kamar Francesca. Di tengah adalah kamar Aaron dan di sebelahnya kamar kakak Conrad. Kamar mommy dan daddy ada diujung sana." Diana membawa Francesca kedalam kamar nya.
Gadis itu melihat sekeliling kamar. Dia merasa kagum dengan semua isi kamar yang sangat luar biasa indah. Tempat tidur yang tampak lembut dan hangat. Lemari penuh dengan boneka dan permainan lain. Meja rias seukuran dirinya dan pakaian yang sudah tertata rapi di dalam lemari.
__ADS_1
Tanpa sadar gadis kecil ini bergumam, "wow."
"Frances suka?" tanya Diana.
Bocah itu mengangguk. Diana menurunkan Frances dari gendongannya dan membiarkan gadis itu berjalan mengitari kamarnya. Wajah Francesca tampak berseri-seri. Ini baru pertama kalinya dia melihat sรจmua keindahan itu.
"Ini semua buat Frances?" tanyanya ragu.
"Iya sayang. Semua buat mu. Semua ini milikmu." ujar Diana dengan lembut.
Mata gadis kecil itu membulat lebar, sangat cantik. Kemudian dia berlari dan memeluk kaki Diana. Dia membenamkan wajahnya di sana.
"Terimakasih mommy." ujar nya dengan bahagia.
Andrew dan Conrad melihat hal itu dengan gembira. Akhirnya senyuman menghiasi wajah kurus gadis kecil itu. Beberapa hari ini, Andrew bahkan tidak pernah mendapatkan senyuman gembira itu.
Andrew meletakan tangannya di bahu Diana. Jangan ditanya lagi bagaimana Andrew amat bersyukur memiliki Istri yang begitu memiliki kasih sebedar itu. Istri yang menjadi pilar kehangatan di rumah ini.
"Aku akan melihat Aaron. Jangan lama-lama, kau juga harus melihat keadaanku." bisik Andrew manja di telinga Diana.
Diana menoleh dan tersenyum pada suaminya. Bisikan itu saja sudah bisa mengirimkan signal yang menggetarkan tubuh Diana. Melihat senyuman itu, Andrew mengecup kening Diana.
Andrew dan Conrad kemudian keluar dari kamar Francesca. Conrad segera masuk kedalam kamar nya dan bersiap untuk tidur. Dia merasa lega dan nyaman berada kembali di kamarnya. Keluarga ini memang keluarga yang paling indah bagi Conrad.
Sedangkan Andrew masuk ke dalam kamar Aaron. Dia menatap penuh kasih sayang Anaknya yang masih kecil. Anak yang lahur dari wanita yang paling berharga dalam hidupnya. Betapa dia menyukuri anugerah ini.
Andrew mengecup kening dan pipi Aaron. Bocah itu sempat bergerak perlahan, merasa geli dengan jambang ayahnya. Andrew tersenyum melihat raut wajah lucu Aaron yangg pulas. dia membenahi selimut Aaron sebelum keluar.
Andrew menghampiri Diana dan melihat dia sedang membantu Francesca mengganti pakaian tidur. Kemudian Frances masuk ke dalam selimut dan tetap memegang tangan Diana, seakan takut untuk di tinggalkan.
Diana menoleh pada Andrew dan menatap suaminya penuh harap. Andrew tau apa yang diminta oleh Diana. Wanita itu berharap jika Andrew mengizinkan dirinya tidur menemani Francesca. Dan Andrew tidak bisa menerima hal itu. Dia ingin egoise kali ini.
"Tidak. Nanny akan menamani dia."
"Tapi, sudah malam. Kasihan, nanny pasti sudah tidur." ujar Diana merajuk.
Andrew tidak lagi berargumen. Dia memencet bel yang langsung terhubung dengan ruang pelayan. Selalu ada pelayan yang berjaga malam di mansion itu. Melihat panghilan dari salah satu kamar anak. Pelayan pun tahu jika Nanny yang di perlukan.
Tak lama Nanny datang.
"Francesca, ini nanny Maria. Dia yang selama ini merawat Kakak Conrad dari bayi hingga besar. Nanny sekarang ada disini untuk menemani mu ya. Jangan takut sayang, ingat kamar kakak Conrad ada disebelah dan kamar mommy ada diujung. Okey?" Diana mengecup kening Francesca.
"Sekarang tidurlah."
Andrew dan Diana kemudian keluar dan menutup kamar Frnacesca yang ditemani nanny Maria.
Di luar kamar, Andrew sudah tidak sabar lagi. Tiga hari tidak melihat dan mengirum aroma tubuh istrinya apalagi tidak menyentuh kulit halus itu, membuatnya tidak dapat menahan diri lagi.
Dengan rakus dia menangkup wajah istrinya, menyandarkan di diniding depan kamar Francesca dan mencium bibir itu dengan rakus. Dia mengabsen setiap jengkal mulut istri tercinta nya. Tangan Andrew sudah gatal. Satu tangannya mulai bergerak, meraba dan meremas dada kenyal istrinya. Lembut, menggoda dan sangat di rindukannya.
Ciuman kerinduan itu semakin lama semakin membangkitkan gairah. Gairah yang sudah memuncak dan siap meledak. Ketika tiba-tiba pintu kamar Francesca terbuka. Menghentikan kegiatan mereka.
Nanny Maria keluar dari kamar Francesca dan berdiri dengan kepala tertunduk. Malu dan takut. Dihadapannya Andrew masih menempel erat pada Diana dan tangan Andrew masih mencengkeram dada istrinya. Nafas kedua orang itu sudah terengah-engah dan dia bisa melihat sepintas bibir Diana membengkak.
"Maafkan saya. Nona Frances menginginkan susu hangat." ujar Nanny Maria dengan kikuk.
Andrew tidak menjawab, Dia dengan segera menarik tangan Diana pergi dari hadapan nanny. Dengan setengah berlari Diana mengikuti langkah suaminya.
Nanny Maria langsung bernafas lega. Bahunya yang tegang langsung lunglai. Dia lega karena tidak mendapatkann semprotan marah dari tuan Andrew, mengganggu mereka yang sedang bermesraan.
Adegan panas itu berupang kali melintas di pikiran nanny Maria. Dia berjalan sambil menggelengkan kepalanya. Memang dia tahu kedua pasangan itu selalu mesra dan berhasil melalui setiap masalah bersama. Tetapi menonton kemesraan mereka secara langsung, live. Ini baru pertama kalinya.
Nanny Maria menepuk-nepuk dadanya.
__ADS_1
...๐๐๐๐๐๐๐๐...