Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
51. Status


__ADS_3

"Kau sekarang menjadi pengasuh anak?" tanya Grisella yang datang menghampiri tiba - tiba ketika Diana menemani Conrad bermain di taman playgroud.


"Hei Ella apa kabar?" sapa Diana tanpa mengindahkan perkataan Grisella sebelumnya.


"Aku baik - baik saja. Beberapa hari tidak bertemu kamu sudah menemukan pekerjaan baru." Kata Grisella sambil tertawa. Dia kebetulan saja melihat Diana di area playground.


"Ha.ha.ha.ha.ha.ha. Kau pandai bercanda Ella."


"Aku serius. Anak siapa itu bocah?" Tanya Grisella dengan mimik yang serius.


"Anak angkatnya Andrew." Diana setengah berbisik.


"Apa katamu?!" Grisella tidak yakin dengan pendengarannya.


"Iya seperti itulah kau tidak salah mendengar."


"Ha.ha.ha. Kau memang luar biasa. Sudah mengasuh yang tua sekarang mengasuh yang kecil. Apa kau tidak terbeban?"


"Tidak." Diana menggelengkan kepalanya dengan yakin.


"Aku menyanyangi mereka berdua." Sambung Diana dengan sungguh - sungguh.


"Lalu bagaimana dengan dirimu?"


"Aku yakin mereka juga menyayangiku."


"Maksudku, kau masih sangat muda untuk melakukan semua ini." Kata Grisella sambil menggelengkan kepalanya.


Diana memandang Grisella dengan tidak mengerti arah ucapannya.


"Kau masih muda dan melepaskan masa mudamu untuk tinggal dengan seorang pria yang bahkan sudah mengapdosi anak."


Diana termenung dengan perkataan Grisella. Saat ini dia berusia dua puluh empat tahun setengah. Bukanlah usia yang muda untuk membina sebuah keluarga. Sebentar! Keluarga?


"Oke maksudku begini. Di negara ini banyak mereka yang tinggal bersama tanpa status pernikahan. Tapi aku rasa berbeda dengan negara asalmu." Grisella diam sesaat dan memperhatikan Diana. Setelah yakin Diana masih bisa menerima perkataan jujurnya dia melanjutkan kembali, "bahkan mereka yang masih muda dan tinggal bersama di negara ini tidak ada yang satu paket seperti dirimu."


"Mungkin aku beruntung?" sahut Diana lirih.


Grisella menghela nafas panjang merasa kesal dengan sikap polos teman disampingnya.


"Kau terlalu baik hati sayang dan bagiku kau bodoh."


"Maksudmu?"


"Kekasihmu itu adalah pria yang luar biasa kaya. Apa kau menyadari itu?"


"Iya aku rasa." Diana teringat dengan segala kemewahan yang diberikan Andrew kepadanya juga dengan uang bulanan yang selalu mengalir rutin di rekeningnya.


"Tapi apa yang kau dapatkan tidak ada sepersepuluh dari apa yang dia miliki." Grisella mencoba menjelaskan tetapi Diana memandang Grisella tidak mengerti.


"Lihat dimana kau tinggal sekarang. Condominium ini meskipun mewah tetap tidak ada artinya dibandingkan rumah yang bisa dia berikan untukmu."


"Benarkah?"


"Tanya pada bocah kecil itu, dimana dia tinggal sebelum bersamamu."


" Kalau kau mau jadi kekasih jadilah kekasih yang cerdik, kalau kau ingin status, tuntut hak mu. Tetapi kalau kau hanya mau menjadi pengasuh nikmatilah keadaanmu saat ini."

__ADS_1


Perkataan Grisella yang terus terang sangat menohok hatinya. Status! Itu yang hendak ditekankan. Saat ini apa status dirinya dihadapan Andrew dan Conrad. Sedangkan bagi dirinya mereka adalah keluarga kecilnya. Tapi bagaimana dia dapat begitu yakin bila kedua pria ini akan berpikiran yang sama?


"Pikirkan baik - baik perkataanku. Jangan sia - siakan dirimu dengan sesuatu yang tidak pasti." Grisella menepuk pundak Diana lembut dan saat yang bersamaan Conrad sudah menghampiri mereka.


"Conrad perkenalkan ini teman unty namanya unty Grisella."


"Hai unty, namaku Conrad, sekarang aku tinggal disini."


"Hai Conrad, senang bertemu denganmu, kamu suka tinggal disini?" tanya Grisella ramah.


"Iya unty suka sekali." Jawabnya dengan penuh semangat dan mata berbinar.


"Suka mana dengan rumah Conrad dulu?"


"Suka disini unty. Biarpun disama rumahnya besar tapi Conrad kesepian." Jawab bocah itu dengan polos.


"Oh ya rumah disana besar sekali?"


"Besar sekali unty."


"Ada siapa saja disana?" Belum sempat Conrad menjawab pertanyaan Grisella, suara Andrew memanggil.


"Conrad." Andrew baru saja tiba di lobby Condominium dan segera menuju halama playground.


"Daddyyyyy." Conrad segera berlari menuju pelukan Conrad.


"Itu anakmu yang besar sudah datang." Grisella menyenggol Diana.


"Aku pergi dulu ya Ella."


Diana mengangguk dan menghampiri kedua pria yang sudah menantinya dan meninggalkan Grisella sendiri.


Grisella memandang mereka bertiga yang bergandengan tangan dengan penuh senyuman dan kasih sayang, tampak sekali seperti keluarga kecil yang bahagia, sayangnya kebahagiaan itu harus melalui pengorbanan seorang wanita polos.


"Semoga kamu segera mendapatkan kepastian teman." Bisik Luna sendiri.


Sementara mereka bertiga menuju ke condominium di lantai atas dan masuk kedalam kediaman.


"Ayo Conrad cuci tanganmu dulu." Diana mengajak Conrad masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tangan dan kaki mereka setelah itu Conrad segera menunu ruang tamu dan mulai mengerjakan tugas sekolah.


"Aku akan mempersiapkan makan malam. Kau mandi lah dulu." Kata Diana kepada Andrew.


"Bisakah kau memandikan aku." sahut Andew sambil bermanja - manja.


"Aku sudah mandi."


"Kau bisa mandi lagi kan?"


"Hush! Lepaskan tanganmu ada anak kecil disini."


"Untyyy bisa bantu Conrad menggunting ini?" teriak Conrad dari ruang tamu.


"tuh kan.." kata Diana dengn senyum simpul sambil menunjuk kearah asal suara Conrad.


Andrew meletakan kepalanya di bahu Diana pasrah.


"Tempat ini terlalu kecil untuk kita bertiga." desahnya perlahan.

__ADS_1


"Untyyyy... " Suara Conrad kembali memanggil.


"Iya sayang sebentar." Sahut Diana.


"Sudah sana mandi." Diana mendorong tubuh Andrew menuju kamar mandi dan segera menemui Conrad.


"Sini unty bantu gunting nanti Conrad tempel disini kemudian diwarnai yaa."


"Iya unty terimakasih."


" Oke sudah. Sekarang unty siapkan makan malam dulu ya, nanti unty kemari lagi."


"Baik unty."


Andrew keluar dari kamar mandi utama dan segera memakai tshirt kemudian keluar dari kamar.


"Apa yang kau kerjakan?" tanyanya didekat Conrad.


"Prakarya dad." Jawab Conrad tanpa mengangkat kepalanya.


"Kerjakan dengan bagus ya. Daddy mau lihat Unty dulu."


"Daddy, bolehkah Conrad memanggil unty dengan sebutan mommy?" tanya bocah kecil itu dengan polos dan penuh harap.


Sesaat Andrew tertegun. Dia terpaku ubtuk sesaat. Itu adalah keinginan hatinya tapi banyak hal yang belum terselesaikan. Perceraian dengan Rachel masih menemui jalan buntu. Karena pihak Rachel tetap bersiteguh tidak akan menandatangano perceraian. Saat ini dia memerlukan suatu hal yang bisa digunakan untuk menyudutkan Rachel.


"Sabar ya sayang, belum saatnya." Conrad hanya mengangguk mendengar perkataan Andrew.


Andrew menghampiri Diana yang sedang memasak dan memeluknya dari belakang.


"Hai.. Kau membuatku kaget. Ini panas."


"Baunya harum."


"Kau sudah lapar ?" Andrew mengangguk.


"Juniorku juga sudah lapar sekali." Kata Andrew dengan manja sambil menempelkan juniornya yang kelaparan ke belakang tubuh gadis dalam pelukannya.


"Jangan macam - macam di dapur ada anak kecil." Diana berbalik dan mendorong tubuh Andrew menjauh dari nya.


"Unty masak apa, harum sekali." Conrad tiba - tiba muncul diantara mereka.


Diana mengerlingkan matanya kepada Andrew dan hanya di jawab dengan kepala yang tertunduk lesu.


"Iya ada anak kecil." gumamnya lemah.


"Unty masak Chineese omlet dan Chineese mix vegetable." ( Bahasa keren dari Fu Yung Hai dan Cap Jay, he.he.he.he.he.)


"Conrad sudah lapar?"


" Iya unty."


" Ayo cuci tangan dan duduk makan."


Diana menoleh kepada Andrew, "duduk dan makanlah kau pasti juga sudah lapar." Kemudian Diana berlalu dan menmbawa makanan ke meja.


Andrew tertunduk lemas meandang juniornya. "Kamu sudah lapar ya. Sabar ya... belum waktunya makan."

__ADS_1


__ADS_2