Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Hadiah


__ADS_3

Pagi ini kedua insan yang di mabuk cinta dan kerinduan, masih terlelap di peraduan. Mereka bahkan melewatkan reservasi makan malam di hotel tersebut dan hanya memesan makan melalui layanan kamar.


Andrew tak hentinya mendekap Diana dan seakan tidak pernah puas membelai setiap inchi bagian tubuh wanita itu. Hanya dengan satu costum yang Andrew beli, sudah mampi membuat Diana kewalahan. Belum lagi ke empat costum lainnya.


Seandainya wanita itu tidak menjaga vitalitas tubuhnya dengan Yoga, bisa dipastikan dia tidak akan bisa berjalan dan sekujur tubuhnya akan remuk. Tapi ada satu hal yang tidak dapat diselematkan dan harus kembali di rasakannya.


"Arghh... perih sekali," Diana meringis ketika buang air kecil dan membasuhnya.


Dengan gontai, Diana kembali masuk ke dalam kamar, dia hanya menutupi tubuhnya mengenakan kimono tanpa busana didalam. Wanita itu merebahkan dirinya perlahan di sisi Andrew.


Pria itu yang merasakan pergerakan tubuh istrinya, segera melingkarkan tangan memeluk tubuh mungil Diana. Diana diam tak bergerak. Dia takut membangkitkan naga perkasa yang tak hentinya menyemburkan api ke dalam tubuhnya.


Diana baru saja menyadari jika pinggulnya sedikit terasa pegal, setelah berjalan tadi. Tentu saja dia merasa pegal meskipun tidak parah, bagaimana tidak sedari siang mereka Check in di dalam Penthouse hingga sore hari dihabiskan dengan bercinta.


Sempat dirinya tertidur selama dua jam, ketika Andrew kembali beraksi hingga subuh dan hanya sempat berisitirahat untuk makan malam pukul 10.00 pm. Ini lah akibat dari mengasingkan diri dari anak-anak.


Hingga pagi ini Diana terbangun dengan Andrew yang sudah menatapnya lembut.


"Pagi cintaku." Lembut suara Andrew terdengar di telinganya.


"Hemm..." Diana menggumam manja, enggan membuka mulut.


"Cup," Andrew mengecup bibir nya.


Diana mendorong tubuh Andrew.


"Mau kemana kau?" Andrew menahan tangan Diana.


"Mau gosok gigi, semalam gara-gara naga mu terlalu bersemangat, sampai terlewat," ujar Diana.


"Masa sih? Bukannya sayangku juga mendesah menggoda?" Andrew tersenyum menggoda.


"Udah ah, ayo gosok gigi."


"Ayo."


Andrew berdiri kemudian mengangkat tubuh Diana. Wanita itu menjerit tertahan dengan perlakuan suaminya yang tiba-tiba. Andrew tertawa geli, melihat raut wajah Diana.


"Sudah enam tahun kita bersama, begini saja masih malu-malu." Goda Andrew sambil menurunkan istrinya di depan wastafel.


Diana tidak menjawab. Dia hanya mengerucutkan bibir nya sambil mengoleskan pasta gigi untuk dirinya dan untuk Andrew. Sementara Andrew sudah mengisi bath up dengan air hangat.


Setelah mereka menyikat gigi. Kembali Andrew mengangkat tubuh Diana dan membawanya masuk ke dalam bath up.


Andrew mengosok punggung istri mungilnya dengan lembut.


"Aku baru sadar, aku tidak pernah membawamu bulan madu,"


"Hemm, " Diana menggumam.


"Kenapa kau tidak pernah memintanya?"


"Setiap hari bersamamu adalah bulan madu," jawab Diana sambil tersenyum geli. Tidak menyangka jika dirinya bisa mengucapkan kalimat gombal tersebut.


"Sudah pintar merayu ya dirimu," ujar Andrew terkekeh.


"Belajar dari guru terbaik, auw" sahut Diana sambil menjerit geli, ketika Andrew mencubit dadanya perlahan.


"Bagaimana kalau kita langsung pergi hari ini untuk bulan madu?" Ajak Andrew.


"Aku tidak tega meninggalkan anak-anak terlalu lama dan sudah berjanji pada Daddy juga Conrad hari ini aku akan membawamu pulang." Tolak Diana.


"Jangan khawatirkan hal itu. Aku akan mengurusnya." Andrew memaksa sambil memeluk Diana dan mulai meraba bagian sensitif istrinya.

__ADS_1


"Sudah... jangan lagi dulu." Diana menarik tangan Andrew dari bagian sensitifnya.


"Kenapa?"


"Perih," ujar Diana malu-malu.


"Hahahhaha... punyaku yang srmakin besar atau punyamu yang semakin sempit." Andrew tertawa menggoda.


"Ihhh... suka ya lihat istrinya sakit!" Dengan gemas Diana mencubit paha dalam Andrew.


"Auw! Awas ya cubitanmu, bisa membangkitkan naga ku." Geram Andrew menggoda.


"Sudah ah, aku laparrr. Kau membuatku bekerja keras semalaman." Gerutu Diana sambil bangun dari bath up.


"Tunggu sayang, aku ikut." Ujar Andrew dengan manja.


"Diam disana. Aku akan membilas tubuhku sendirian."


Diana tidak mau Andrew ikut mengguyur tubuh di shower bersamaan. Bukannya segera mandi, tapi pria itu akan menahannya lebih lama di sana. Seringkali hal itu terjadi. Tetapi yang tidak Diana sadari, justru dengan memandang dirinya dari kejauhan, membuat Andrew menggeram menahan hasrat. Pemandangan itu justru lebih indah.


*


"AaA... Daddy sama mommy kenapa tidak jadi pulang hari ini?" Rengek Conrad di Video Call.


"Daddy ada urusan penting dan mommy juga harus membantu." Jawab Andrew.


"Tapi kata mommy, daddy akan pulang hari ini."


"Di tunda sehari dua hari ya sayang." Andrew memelas pada putranya.


"Hei, bukannya sehari saja," bisik Diana.


Andrew mengerdipkan mata pada istrinya.


"Tapi janji ya dad, jangan lama-lama. Conrad sudah gak sabar melihat oleh-oleh dari daddy."


"Hehehehe kangen banget sama daddy juga sama oleh-olehnya." Ujar bocah berusian sepuluh tahun itu dengan terkekeh.


"Daddy mau bicara dengan Aaron?"


"Jangan, " ujar Diana.


"Kenapa?" tanya Andrew heran.


"Nanti dia menangis mencari ku. Aku bisa ga tega."


"Tidak perlu Conrad. Daddy hanya mau pesan itu saja. Salam buat grandpa, okey. Conrad jaga baby Aaron dan Grandpa ya."


"Okey dad, mom. I love you."


"I love you too." Sahut Andrew dan Diana bersamaan.


Sambungan video call terputus. Andrew menghubungi reseptionist, agar mengirim petugas untuk mereka check out.


*


"Mau kemana kita?" tanya Diana heran, karena arah jalan tampaknya bukan ke bandara.


"Suatu tempat yang pasti kau senangi." Ujar Andrew penuh rahasia.


"Hmm.." Diana merebahkan dirinya di dada Andrew enggan bertanya lebih lanjut.


Mobil mereka memasuki area pelabuhan, Diana bisa melihat burung camar berterbangan. Dia membuka jendela mobil dan menghirup udara segar yang lembab dan berbau asin.

__ADS_1


"Kita akan naik kapal pesiar?" Pekik Diana girang.


"Ah, kalau kapal pesiar kita kan bisa mengajak anak-anak dan daddy. Dan, ah yaa.. Maya masih di kapal apa liburan ya?"


Dengan bersemangat Diana mengeluarkan smartphone nya dan mencari nomor Maya.


Andrew mengambil smartphone Diana dan mematikannya. Dia sedikit sensitive jika mendengar nama Maya. Tampaknya dia belum bisa melupakan saat dirinya yang main nyosor saja memeluk Maya, karena mengira dia sebagai Diana.


"Tidak perlu menghubungi dirinya." Ujar Andrew dengan tegas.


"Memangnya kenapa."


"Kita tidak akan ke kapal pesiar."


"Eh, lalu?"


"Ada sebuah kejutan untuk mu." ujar Andrew dengan nada rahasia.


Mobil sudah sampai di tujuan.


"Sudah sampai tuan. Koper mana yang harus saya turunkan?" tanya Papito saat mereka sampai di tujuan.


"Warna Tosca." Diana menyebutkan koper miliknya. Karena tadi pagi dia sempat menjadikan satu pakaian milik nya dan Andrew.


"Ada beberapa bingkisan. Bawak ke Mansion dan berikan pada Conrad." Pesan Andrew.


"Baik tuan dan nyonya."


Mereka turun. Andrew menggandeng Diana menuju pelabuhan, melewati deks. Diana bisa melihay puluhan Yacht besar dan kecil yang berjajaran rapi di sana. Yacht tersebut berjejeran indah dan nampak mewah. Ada satu buah yacht yang menarik perhariannya karena mirip sekali dengan yacht do porate of Caribean.


"Itu bukan milik kita. Aku tidak akan membawamu menjadi bajak laut." Ujar Andrew yang mengerti jalan pikiran Diana.


"Memangnya kita punya satu diantara semua ini?" tanya Diana dengan polos.


Andrew terkekeh kecil. Bayangkan, Mereka memiliki enam kapal pesiar besar yang bisa memuat lebih dari lima ribu tamu belum lagi pegawainya dalam sekali berangkat. Apalagi cuma yacht kecil seperti ini.


"Kau tidak pernah berubah,"


"Apakah itu buruk?"


"Tidak. Aku menyukainya, hal itu membuatku selalu merasa ingin melindungimu."


"Lihat ini hadiah untuk mu, sayang."


Mereka berhenti di sebuah yacht indah. Dan di tubuh yacht itu bertuliskan namanya, DIANA.


Mata Diana terbelalak, membentuk bulat lebar dan lucu. Dia menutup mulutnya terperangah tidak percaya.


"Ini?" tanya nya tak percaya.


"Iya ini milikmu sayang. Maukan kau mengundangku menghabiskan hari ini di sama?" tanya Andrew dengan mesra seraya menggenggam tangan Diana.


"Tentu saja." Diana meloncat dalam pelukan suaminya dan mengalungkan tangan di leher Andrew.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hallo Semuaaaa....


Jangan lupa Vote yaaa...


Kumpulkan point sebanyak-banyaknya dan Vote HIDUPKU BERSAMA CEO.


Alkumulasikan Jumlah Vote kalian hingga akhir Desember.

__ADS_1


Terbanyak Pertama, Kedua dan Ketiga akan mendapatkan bonus langsung yaaaa.


Terimakasih atas dukungannya.


__ADS_2