Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
70. Hukuman kedua : Duren


__ADS_3

Malam ini sudah hampir lima kali Andrew keluar masuk kamar mandi. Pengalaman pertamanya menikmati tempe penyet extra pedas begitu membakar. Membakar lidah, bibir, perut bahkan duburnya.


Baru saja dia hendak membaringkan tubuhnya di kasur dan memeluk Diana, kembali ia merasakan gejolak di perut. Buru-buru Andrew berlari menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudia dia keluar lagi dengan wajah lelah. Saat ini dia benar-benar trauma dengan yang namanya tempe penyet. Rasa pedas sambal yang awalnya hanya bersarang di mulut sekarang bersarang di *****. Menyiksa. Hukuman pertama ini tampak ringan tapi menyiksa.


Diana awalnya menahan tawa dan kemudian terbahak dibalik selimut melihat bagaimana wajah Andrew keluar masuk kamar mandi. Tetapi setelah beberapa kali, dia merasa kasihan. Tampak pria gagah itu takluk dengan sambal. Ketika ketujuh kalinya Andrew masuk kedalam kamar mandi, dia beranjak turun kedapur dan membuat teh hangat chrysanteum juga obat untuk Andrew. Pelayan yang hendak membantu ditolaknya, rasa bersalah muncul melihat Andrew yang tersiksa.


Ketika Diana kembali ke kamar, dia melihat Andrew duduk di sofa sambil meringis menahan sakit di perutnya. Dia menuangkan teh tersebut di gelas dan memberikan teh juga obat pada Andrew.


"Terimakasih sayang." ucapan Andrew tidak dihiraukannya. Tampaknya perang dingin masih berlangsung. Andrew segera meminum obat dan teh tersebut. Rasa hangat teh membuat gejolak di perutnya lebih tenang. Sesaat dia diam di sofa sambil memejamkan mata dan tersenyum.


Dia memperhatikanku. Kekasihku memaafkan aku. Ah, hukuman ini terasa kecil.


Setelah merasa nyaman Andrew kembali menuju tempat tidur, membaringkan tubuhnya dan hendak memeluk Diana yang memunggunginya.


"Jangan sentuh aku!" tangan Andrew mengambang diudara.


"Baiklah. Maafkan aku." Andrew mengurungkan niat untuk memeluk.


"Terimakasih sudah memberiku teh dan obat. Kau memang perhatian." Andrew berusaha memecahkan suasana.


"Kau membuatku tidak bisa tidur dengan kegiatanmu itu." suara Diana masih terengar ketus.


"Maafkan aku." Andrew bersungguh-sungguh. Diana hanya diam.


Andrew mendekatkan wajahnya hendak mencium kening Diana dan mengucapkan selamat malam, tetapi Diana lebih dulu menghentikannya, " jangan mendekat dan jangan mencium diriku!"


Lagi- lagi badan Andrew mengambang diudara. Dia kemudian membaringkan tubuhnya disamping dan hanya memandang punggung wanita yang dia cintai dengan berharap. Berada sangat dekat tapi tak bisa menyentuh. Hanya hembusan nafasnya yang berhasil membelai leher Diana. Dan tampaknya dia merasakannya.


Diana duduk kemudian menoleh kearah Andrew yang segera disambut dengan senyum ceria dan mata yang berbinar.


"Tempat tidur ini luas, bergeserlah jangan membuatku sesak!"


"Baiklah." Sinar mata meredup dan senyum ceria menghilang, Andrew bergeser.


Diana mengambil dua buah bantal yang besar kemudian meletakan ditengah diantara mereka.


"Ini bantal pembatas. Ingat jangan coba-coba melewati batas!" perintah Diana.


Andrew terbelalak. Dia diam dan hanya mengangguk. Kejadian sama terulang kembali saat awal dia mengejar gadis kecil yang sekarang sudah berubah menjadi wanita dewasa.


Diana membaringkan dirinya dan kembali memunggungi Andrew. Andrew hanya bisa menarik nafas. Dia membaringkan badannya dan memeluk bantal pembatas.


"Jangan menyentuh bantal pembatas dan jangan coba-coba menggeser atau memindahkannya!" Diana memberi peringatan tanpa menoleh kebelakang.


Andrew melepaskan tangannya dari bantal pembatas dan berbaring dengan menatap langit-langit kamar.


Semoga hukuman ini segera berakhir. Aku rindu senyum ceria dan sorot mata lembutnya.


Desah Andrew perlahan.


******************


Diana membalikan tubuhnya ketika mendengar desah nafas Andrew mulai teratur. Di pandanginya pria yang terlelap disampingnya. Masih ada rasa sesal bercampur dengan sayang. Dirinya masih ragu apa yang harus dilakukan, mempertahankan cinta yang telah terbentuk atau melepaskan cinta karena pandangan masyarakat.


Dian mengangkat tangannya dan membelai perlahan rambut Andrew.


Apa yang harus aku lakukan?


Kemudian dia merebahkan tubuhnya dan terlelap dengan air mata yang berlinang.


*****************


Mereka melalui makan pagi tanpa banyak bicara. Sementara Andrew masih memutuskan untuk bekerja di rumah. Kondisi perutnya sudah membaik. Meskipun trauma akan sambal masih membekas.


Andrew menghabiskan waktunya dengan bekerja sementara Diana menghabiskan waktu dengan merawat tanamaman hias.

__ADS_1


Memotong daun-daun yang menguning, mengganti tanah humus dan memberinya siraman air. Dia melakukan semua seorang diri. Dia masih ingin menyendiri.


Seorang pelayan datang membawa es jeruk mandarin.


"Nyonya ini saya bawakan es jeruk. Saya letakan disini ya."


"Terimaksih."


"Bisa saya bantu nyonya?" Diana menoleh melihat kearah pelayan itu. Pelayan yang sama yang membawa bubur ke kamarnya. sorot mata yang aneh pelayan ditujukan oleh pelayan itu. Diana tidak menyukainya.


"Panggil butler Jhon dan bawa kemari durian yang aku beli tempohari."


perintah Diana.


"Baik nyonya." pelayan itu hendak berlalu, ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk lebih dekat dan menghasut Diana, pikirnya.


"Tunggu!"


Pelayan itu berhenti dan menoleh, menunggu perintah selanjutnya.


"Siapa namamu?"


"Sandra."


"Baiklah Sandra, berikan durian itu pada butler Jhon, kau tidak perlu kembali kemari lagi."


Pelayan itu terkejut dengan perkataan Diana. Dia mengangguk dan melangkah pergi dengan hati yang kesal.


Tak lama kemudian.


"Nyonya ini durian anda." butler Jhon datang dengan membawa satu kotak kecil durian.


"Terimakasih. Duduklah butler Jhon."


"Terimakasih nyonya." Pada umumnya, jarang sekali ada pelayan bahkan kepala pelayan sekalipun yang bisa duduk dengan tuan rumah mereka. Tapi, pasangan ini memperlakukan dia dengan penuh rasa hormat. Diana yang dia anggap sebagai satu-satunya pasangan Andrew, telah memikat hatinya jauh sebelum dia bertemu dengannya.


"Iya nyonya. Dia dulu juga bekerja di kediaman nyonya Rachel bersama saya dan Nanny."


"Hem.. kalian mengenalnya sudah lama."


"Tidak terlalu lama nyonya, Sandra baru masuk sekitar enam bulan terkahir sebelum saya dan nanny di perintahkan tuan untuk melayani anda. Dia menghubungi nanny sambil menangis dan mengatakan tidak tahan dengan perlakuan nyonya Rachel sementara dia memerlukan pekerjaan untuk membiayai anak dan ibunya yang sakit-sakitan." Butler Jhon menceritakan tentang Sandra.


"Bagaimana dengan suaminya?"


"Dia tidak pernah bercerita tentang suaminya. Tampaknya suami Sandra sudah meninggal. Kenapa nyonya menanyakannya?" Butler Jhon merasa heran dengan pertanyaan Diana.


"Tidak apa-apa. Lupakan." Diana memandang durian di tangannya. Entah kenapa keinginan untuk memakan durian itu tiba-tiba saja hilang. Sekaan ada penolakan dalam dirinya.


"Butler Jhon, kau suka durian?"


"Tidak nona. Baunya terlalu menyengat." Jawab butler Jhon dengan cepat. Tepat saat Butler Jhon selesai berbicara Andrew datang ke kebun hendak menyapanya.


Diana menyeringai. Sebuah ide gila untuk mengerjai Andrew.


"Andrew kemarilah." Suara Diana bagaikan aliran air ditelinga Andrew, menyejukan. Dia segera menghampirinya dengan senyum lebar.


"Pagi sayang." Andrew hendak mengecup kening Diana tetapi wanita itu menghindarinya.


"Duduklah." Butler Jhon segera berdiri dan berjalan menjauh ketika Andrew duduk disamping Diana.


"Makanlah." Diana menyodorkan satu kotak durian yang sudah terbuka tutupnya.


Sontak Andrew memundurkan kepala dan mengernyitkan keningnya.


"Aku tidak suka."

__ADS_1


"Ayolah kau harus mencobanya."


"Kau tahu aku tidak suka."


"Yang aku tahu kau tidak pernah mencobanya."


"Tapi..."


"Baiklah kalau kau tidak mau mencobanya, pergilah." ujar Diana sambil memalingkan wajahnya dengan muka masam.


Andrew menghela nafas, lebih baik mencoba daripada harus disuguhi wajah masam berhari-hari.


"Baiklah." Andrew dengan terpaksa mengambil buah yang baunya menyengat tersebut. Dia makan dengan sedikit menahan nafas. Rasa manis dan legit daging durian Thailand itu mulai dapat dia terima, meskipun masih terasa aneh dilidahnya.


Satu butir habis, masih dengan memandang Diana berharap untuk dihentikan, dia mengambil butir kedua dan mulai memakannya.


Butir kedua habis. Butir ke tiga habis. Tinggal dua butir lagi.


"Apakah aku harus menghabiskannya?" tanya Andrew dengan memelas.


"Aku memintamu untuk mencobanya, bukan menghabiskan. Ternyata kau menikmatinya." kata Diana sambil berlalu.


Andrew hanya dapat menganga (#melongo) dan memandang sebal pada 3 butir biji buah durian. Dia bersendawa.


S#it! baunya masih menyengat.


Sementara butler Jhon di kejauhan hanya dapat menahan senyuman.


Siapa yang menyangka pria gagah, seorang pengusaha yang disegani telah hilang logika ketika berhadapan dengan seorang wanita sederhana.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Halloo readerss...


Hallo sobat pembaca...


Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.


Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.


Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.


Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.


Terimakasih.


Salam sayang 😘


ayo tuangkan ide unik kalian di comentar, bagaimana menghukum atau mengerjai Andrew ?


Terimakasih. Semangat


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hallo sobat pembaca...


Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.


Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.


Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.


Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.


Terimakasih.

__ADS_1


Salam sayang 😘


__ADS_2