
"Sudah kau tegur mereka?" Tanya Diana pada Andrew yang baru saja masuk ke dalam kamar. Kata mereka yang diucapkan Diana tentu saja mengacu pada kedua kurcaci kecil, Aaron dan Francisca.
Bagi Diana tindakan iseng kedua anak itu saat ini sudah keterlaluan. Bagaimana jika cat air itu tidak bisa hilang dari wajah Matilda. Itu cat air untuk kertas bukan untuk wajah. Apalagi jika sudah mengering. Diana tak habis pikir bagaimana bisa kedua kurcaci itu berbuat seperti itu. Matilda yang malang.
"Heeh, sudah tidak perlu dipikirkan yang penting kau istirahat saja." Jawab Andrew.
Bagi Andrew perbuatan Aaron dan Francesca itu sangat lucu, kreatif dan menggemaskan. Dia tidak ingin menyalahkan dan menegur mereka. Toh mereka masih anak-anak. Dan siapa suruh Matilda tertidur begitu pulas hingga tidak menyadari, jika wajahnya berubah menjadi kanvas.
"Bener ya sudah kau tegur." Diana masih tetap membahas hal yang sama.
"Iya. Sudah. Aku bilang, jangan diulanginya. Nanti bibi Matilda sedih." Ujar Andrew.
"Kau harus bilang sama mereka itu hal yang tidak benar, bagaimana kalau catnya tidak dapat di hilangkan, bagaimana kalau Matilda alergi, bagaimana kalau sampai Matilda marah dan minta berhenti, aduhhh aku tidak bisa membayangkan menjaga anak-anak tanpa Matilda. Memikirkannya saja aku capek. Gemas rasanya melihat mereka. Kau harusnya menghukum mereka, jika perlu rampas semua cat air nya." Ujar Diana berapi-api.
Andrew terperangah mendengar ocehan Diana yang panjang lebar. Dalam sehari saja dia bisa berubah total. Moodnya lagi terombang-ambing. Diana yang tidak pernah menghukum anak-anaknya, kecuali menasehati dengam lembut.
Dan sekarang, dia tiba-tiba memiliki emosi yang meledak-ledak. Bukan hanya itu, melemparkan semua masalah pada Andrew. Menjadikan Andrew tokoh antagonis.
Andrew mendekati Diana dan memijat lembut kening wanita itu. Dia berusaha menenangkan emosi wanita yang sangat di cintainya. Diana tampak menikmati pijatan lembut Andrew di keningnya.
"Sudah jangan marah-marah. Nanti tambah lesu dan pusing. Jangan hiraukan anak-anak. Maria dan Matilda menjaga dan mendidik mereka sesuai aturan dari mu." Ucap Andrew lembut.
"Ini gara-gara dirimu. Terlalu aktif." Gumam Diana dengan manja.
"Hehe... Bagaimana tidak aktif jika kau luar biasa sayaang." Puji Andrew dengan suara lembut.
"Kau saja yang genit. Lihat apa yang terjadi pada diriku akibat benih yang kau semburkan terlalu banyak." Gerutu Diana manja.
"Aku akan menjadi daddy yang hebat. Dan semua akan mengagumiku sebagai pria yang luar biasa. Hahaha hahaha." Andrew tertawa dengan angkuh dan bahagia.
"Ih.. sombong sekali. Aku lah yang hebat karena mengandung dan melahirkan mereka." Sahut Diana tak mau kalah.
"Tentu saja aku tidak akan menjadi hebat tanpa istri yang luar biasa seperti dirimu." Puji Andrew dengan bersungguh-sungguh.
"Ah, kau membuatku melayang." Gumam Diana mendengarkan ucapan Andrew. Dan wanita itu akhirnya tertidur dengan senyuman.
Andrew mencium kening istrinya dan kemudian mencium perut Diana. Andrew lalu beranjak menuju tas tangan Hermes milik Diana. Dia membuka dan mengeluarkan sebuah foto. Dipandanginya foto hitam dengan tiga bulatan kecil itu.
Andrew mengusap foto itu dan tersenyum penuh arti. Dia mencium foto tersebut sebanyak tiga kali. Andrew begitu bahagia. Dia ingin meloncat-loncat dengan gembira dan berteriak bahagia.
Dia ingin semua orang tahu, bahkan jika perlu membuat iklan di surat kabar akan kehebatan dan keperkasaan dirinya. Jika Diana tidak melarangnya dia akan membuat headline pertama di surat kabar dan telivisi, seorang pria yang bisa memiliki tiga orang anak kembar dengan normal. Bukan dengan isiminasi atau bayi tabung.
Catat! Normal! Berkat semburan-semburan luar biasa yang dia lakukan. Berkat keperkasaan dirinya. Hahahha semua orang akan mengakui betapa berintungnya Diana memiliki dirinya. Pria perkasa yang ternyata cukup tokcer dan tidak mandul.
Andrew yang lagi bahagia dan pongah, keluar dari kamar dan memerintahkan butler Jhon untuk mengumpulkan semua pelayan dan pengawal di ruang pertemuan.
__ADS_1
Dia sudah tidak sabar mengumumkan hal ini kepada mereka semua.
Semua pelayan dan pengawal berkumpul di aula ruang makan. Mereka merasa heran dengan apa yang akan dikatakan oleh tuan Andrew. Tidak biasanya dia mengumpulkan seisi rumah menjadi satu. Hanya saja nyonya Diana dan anak-anak tidak ada disana.
"Kalian lihat apa yang ada ditanganku?" Tanya Andrew dengan sombong.
Semua memandang pada benda seperti kertas foto yang dipegang oleh tangan Andrew. Mereka yang berada di kejahuan tentu saja sampai melotot berusaha melihat kertas yang kecil itu.
"Cih! Tidak ada yang bisa menjawab?" Andrew berdecak kesal.
"Apakah itu foto USG?" Tanya Matilda dengan ragu.
Andrew menoleh ke arah asal suara. Dia menahan tawa melihat sisa-sisa cat air di wajah Matilda. Tampaknya Matilda sudah berusaha keras menggosok bersih cat aor dari wajahnya. Dan wanita itu tampaknya cukup berhasil.
Matilda menunduk malu, ketika Andrew menatap dirinya dengan begitu tajam. Dia masih ingat bagaimana tuan Andrew menegurnya begitu keras tadi, akibat dirinya kembali tertidur siang sebelum anak-anak tidur.
"Benar Matilda ini foto USG. Kalian semua dengarkan. Istriku saat ini sedang hamil. Dan aku akan menjadi ayah untuk bayi kembar tiga." Ucap Andrew dengan sombong.
Suara karyawan tampak bersorak, mereka bertepuk tangan dan mengucapkan selamat pada dirinya. Mereka sangat takjub dengan kehamilan kembar tiga yang dialami oleh nyonya mereka.
"Karena itu. Aku harap kalian semua menjaga istriku dengan lebih hati-hati. Jangan tersinggung jika mood nya tidak stabil. Karena aku saja sudah merasakannya. Bantu dan rawat dia sebaik mungkin. Jika anakku semua nya lahir dengan selamat dan sehat, dan itu harus. Aku akan memberikan kalian bonus dua kali gaji." Ucap Andrew dengan gembira dan sombong.
Semua pelayan dan pengawal semakin bersorak gembira. Mereka sangat senang dengan kehamilan nyonya muda terlebih lagi dengan iming-iming bonus yang di sampaikan oleh tuan Andrew.
"Baiklah itu saja yang mau aku sampaikan. Kalian semua bisa bubar."
"Berikan libur satu hari untuk Matilda dan uang dua ratus dolar. Dia memerlukan itu untuk membenahi wajahnya." Ujar Andrew dengan tertawa geli mengingat kebodohan Matilda.
"Baik tuan. Akan saya atur segera." Ujar butler Jhon.
"Ah, selamat tuan akan kehebatan anda menghasilkan bayi kembar tiga, anda memang luar biasa. Tuan besar pasti akan senang sekali mendengarnya." Kata butler Jhon dengan sungguh-sungguh.
"Tentu saja aku hebat. Aku akan mengabari daddy nanti. Hahahaha... hahahha...hahahha." Andrew tertawa bangga sepanjang jalan menuju kekamarnya.
Didalam kamar dia melihat jika Diana masih tidur. Andrew kemudian mengambil handphone dan menghubungi Briant. Dia tentu saja akan mengabarkan berita ini dengan kesombogannya pada Briant. Grisella saat ini sudah hamil empat bulan dan cuma satu saja benihnya. Tentu saja skak matt!
"Briant coba tebak kehebatan apa yang aku lakukan sekarang."
"Kau berhasil mendapatlam Kerjasama dengan pihak pengolahan limba kapal?" Tanya Briant dengam bersemangat.
"Kalau itu belum. Lainnya."
"Hemm... apa kau berhasil berkerja sama dengan perusahaan bir dan melebeli nya dengan nama perusahaan kita?" Tebak Briant dengan antusias, karena kerja sama ini cukup sulit. Pabrik bir mempertahankan trade mark mereka sendiri.
"Salah! Kenapa kau sedungu itu sih menebaknya." Ujar Andrew dengan kesal.
__ADS_1
"Lalu apa Andrew. Jangan buat aku pusing. Sudah tiga hari kau membuatku pening dengan mengambil cuti tiba-tiba." Geram Briant yang sudah malas bermain tebak-tebakan.
"Diana hamil, Briant. Kembar tiga! Triplet. Hahahaha... hahaha... hahhaha." Seru Andre dengan gembira.
"Astaga Andrew! Aku pikir berita heboh apa. Ternyata kehamilan." Sahut Briant agak kesal.
"Hei, kenapa kau tidak terkejut?" Tanya Andrew gusar.
"Istriku juga hamil. Biasa saja kali." Jawab Briant cuek.
"Hei! Istrimu benihnya cuma satu. Kalau istriku isinya tiga. Tiga benih bro. Triplet. Kembar tiga." Tegas Andrew bersemangat.
"Iya kau hebat. Disembur setiap hari tanoa henti, aku jadi heran jika Diana tidak hamil kembar tujuh." Ujar Briant tidak mau kalah.
"Dasar iri kau! Aku perpanjang cuti satu minggu. Mau memanjakan istri yang sedang hamil." Ujar Andrew.
"Hei jangan seenaknya sendiri. Grisella juga hamil dan aku tidak ambil cuti." Protes Briant.
"Itu urusanmu." Sahut Andrew sinis sambil mematikan handphone nya, meninggalkan Briant yang mengomel tiada hentinya di ruang kantor.
"Kau bicara dengan siapa?" tanya Diana yang rupanya terbagun dengan suara ribut Andrew.
"Briant. Aku mengatakan padanya kalau kau hamil dan aku akan cuti selama seminggu." lapor Andrew dengam senyuman bahagia.
"Cuti? Ah, kau jadi bertambah malas ya. ingat tidak ada jatah untukmu selama kau cuti." dengus Diana kesal.
"Loh.. kenapa jadi marah sayang?" tanya Andrew kebingungan.
"Apa kau sudah lupa? Anakmu yang sudah besar saja tiga. Yang masih di perut juga tiga. Bagaimana kau mencukupi kebutuhan mereka jika kau bermalas-malasan saja?" kata Diana dengan emosi.
"Tenang saja sayang. Tabunganku cukup untuk mereka semua." sahut Andrew dengan sabar.
"Cukup.Cukup. Kalau kau tidak menjaga perusahaanmu, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk? Bagaimana nasib anak-anak nantinya, masa depan mereka apa sudah kau pikirkan?" ucap Diana lagi dengan berapi-api.
Andrew menjadi bingung. Dia menjadi serba salah. Andrew menghampiri Diana dan berlutut di sisi tempat tidur, dimana istrinya duduk.
"Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan mengambil cuti. Aku besuk akan bekerja keras untuk anak-anak dan Supaya kau semakin bahagia dan cantik." ujar Andrew merayu.
"Jadi maksudmu aku sekarang tidak cantik? Kau tidak jadi cuti karena aku sudah tidak cantik. Hiksss hikssss... aku hamil jadi jelek begitu? Jadi gendut dan semakin tua? hikksss kau jahat Andrew." ujar Diana dengam terisak-isak.
"Alamak." celetuk Andrew bingung.
"Apa kau bilang? aku emak-emak. Hiikksss hikssss... Kau jahattttt." Diana menagis semakin keras.
Tentu saja Andrew menjadi kaget. Perubahan mood yang tiba-tiba seperti ini semakin membuat nya pusing. Andrew semakin bingung, pakah dia harus mengambil cuti atau masuk kerja saja?
__ADS_1
...πππππππ...