Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Gigi


__ADS_3

"Mommyyy, huaaaaa gigi Aaron lepasss." Aaron terkejut melihat gigi depannya sudah tanggal satu.


"Hahahaha. Iya tidak apa-apa sayang." ujar Diana sambil mengambil gigi Aaron yang lepas.


"Mommyyy banyak darahhh. Huaaaa Aaron ngeri." Aaron tampak kebingungan melihat darah yang keluar dari gusinya


"Gak boleh takut. Itu bibi Matilda bawa air. Dikumur-kumur saja nanti terakhir pakai mouthwash."


Aaron menurut. Dengan bantuan bibi Maria, Aaron melakukan seperti saran Diana. Darah sudah berhenti mengalir. Di depan kaca wastafel, Aaron memandangi gusinya yang tampak polos tanpa gigi. Ada sedikit jejak berlubang disana. Dan itu tampak jelek di mata Aaron.


"Aaron besuk ga mau sekolah! " Aaron memalingkan wajahnya sambil melipat kedua tangan.


"Loh kenapa? " Diana menahan tawa melihat expreso lucu dari anaknya.


"Pokoknya gak mau! " Ujar Aaron bersikeras. Dia tentu saja merasa malu, popularitas fans club akan menurun, jika mereka melihat gigi nya tanggal.


"Malu yaaaaa. " Ujar francesca sambil menempelkan jari telunjuk ke hidung.


"Iiiiihhhh, Frances brisik! " Aaron melotot kesal.


"Sudah gak usah bertengkar. Malu dengan baby. Lihat ini perut mommy, baby nomer 1, 2, 3 pada protes. Mereka sampai menendang- nendang perut mommy. Coba rasakan."


Serentak, Aaron dan Francesca menghampiri Diana. Mereka meletakan sepasang tangan kecil nya di perut Diana. Dan kedua bocah itu tersentak ketika mendapati perut Diana seperti berdetak. Sangat ramai di dalam sana. Benarkan bayi-bayi itu protes atau kah mereka juga sedang bergembira?


"Tidak sakit, mommy?" Tanya Aaron prihatin.


Diana mengelengkan kepalanya. Meski bawel, Aaron seringkali menenangkan hatinya dengan sikap lembut dan perhatian. Aaron masih mengusapkan tangan kecil nya ke perut Diana, seakan mengalirkan kehangatan agar ketika adiknya bisa tenang.


"Aaron, setiap anak pasti akan mengalami ganti gigi. Dan Aaron mengalaminya mungkin lebih cepat dari Francesca. Jadi jangan malu ya. Lagian gigi Aaron lepas bukan karena rusak." Nasihat Diana pada putra kecil nya.


"Tapi Aaron malu mommy, semua pasti bilang Aaron ompong. " Gumamnya dengan sedih.


"Tidak apa-apa. Nanti juga akan tiba giliran mereka sendiri. Saat gigi Aaron sudah tumbuh dan semakin tampan, bisa jadi saat itu gigi mereka yang tanggal. Jadi jangan malu ya. " Diana membelai rambut Aaron. Bocah itu meletakan telinganya di perut Diana, seakan hendak mendengarkan apa yang terjadi di dalam sana, atau mungkin hendak mengadu kepada ketiga adiknya tentang kesedihan hatinya.


"Bisa gak Aaron pakai gigi palsu kaya grandpa? " Bocah tampan itu masih mencoba bernegosisasi.


"Gigi palsu cuma dibuat untuk orang tua. Karena begitu gigi mereka lepas, maka tidak akan bisa tumbuh lagi. " Diana menjelaskan.


"Aaron tenang saja. Kan ada Frances, managers Aaron Fans Club. Nanti akan Frances bilang, kalau model gigi Aaron lagi trend." Ujar Frances dengan bangga.


"Bakal banyak yang cabut gigi paksa dong. " Celetuk Conrad yang baru saja lewat. Conrad langsung bergabung dengan ibu dan kedua adiknya di ruang keluarga.


"Kakakkkk... Lihat gigi Aaron lepas. Aaron jadi kaya grandpa." Aaron dengan manja duduk disamping Conrad.


"Kakak dulu juga kaya begitu. Tapi lihat sekarang. Bagus kan? " Conrad memamerkan gigi nya yang terawat bagus.


Aaron memperhatikan gigi Conrad yang sangat indah. Dan saat Conrad sudah menutup mulutnya lagi, senyuman yang tersungging di wajah Conrad, makin menunjukan ketampanannya. Aaron sangat mengagumi Conrad. Baginya Conrad adalah idola nomor dua setelah Andrew.

__ADS_1


Aaron mengangguk-angguk tanda mengerti akan penjelasan Conrad. Hal ini terbukti dengan senyuman dan mata nya yang kembali ceria. Aaron tampaknya sudah tahu keputusan yang harus dia ambil.


"Kakak Francesss! " Teriak Aaron.


Semua menoleh pada Aaron.


Jika bocah ini memanggil kakak pada Frances, berarti dia memiliki maksud khusus.


"Ya?" Tanya Francesca ragu.


"Katakan pada Aaron Fans Club, Jika gigi Aaron yang tanggal, merupakan proses menuju ketampanan. Aaron akan semakin tampan dengan gigi baru nantinya. " Ujar nya dengan bangga.


Semua hanya dapat menatap Aaron dengan bingung. Entah harus kagum dengan kepercayaan diri Aaron atau harus sedih karena dia tampak begitu sombong.


"Okey! Siap!" ujar Francesca lantang. Managers tanpa gaji, Itulah Francesca. Cukup di sogok dengan bekal makanan.


"Donat fresh datanggggg." cheft Paul dengan bangga meletakan donat di ruang keluarga.


"Terimakasih paman gembulll. " teriak Aaron dengan senang. Donat adalah makanan kesukaannya. Dengan cepat Aaron mencomot donat berisi nutela kesukaannya.


"Aaron kan belum cuci tangan." Diana memperingatkan.


"Oo iya." masih dengan mulut masih mengunyah, Aaron mengantri untuk mencuci tangannya.


"Baiklah, kalian nikmati waktu nya ya. Jangan bertengkar. Mommy mau beristirahat. Mommy lelah." Diana berpamitan. Dia sangat ingin merebahkan punggungnya yang terasa sangat lelah menopang tiga orang bayi.


"Ini punyaku! " Aaron mengklaim donat yang tinggal satu di meja.


"Aaron kan sudah makan dua. Frances cuma satu. Berarti itu punya Frances!" Teriak Frances tak mau kalah.


"Frances satu saja tidak habis-habis! " Teriak Aaron tak mau kalah.


"Biarin! Pokok ini punya Frances!" Francesca memegang piring yang tersisa satu donat strawberry.


"Frances pelit! "


"Aaron rakus! "


Kedua bocah itu saling adu melotot dengan kesal. Frances masih megang piring berisi satu donat dengan kencang. Semantara Aaron juga masih menggenggam sudut lain piring tersebut. Mereka sudah siap berebut hingga penghabisan.


"Ya udah buat aku saja biar adil. " Conrad langsung mencomot donat yang berada di piring Francesca.


"Kakak!!!! " Protes mereka serempak.


Conrad mengangkat tangannya, merasa tak bersalah.


Aaron dan Francesca berpandangan, mencari kesepakatan, kemudian mereka berdua melirik kotak mainan yang berada disudut ruangan. Alis mereka saling bergerak tanda kompromi.

__ADS_1


Conrad yang melihat gelagat Aneh segera bersiap mengambil langkah menjauh. Tapi terlambat. Aaron dan Francesca dengan gesit mengambil bantal dan menyerbu Conrad.


Mereka sepakat jika Conrad adalah anemy yang harus dihukum. Aaron dan Francesca menyerang Conrad dengan bantal kecil, sementara Conrad menggeunakan bantal besar sebagai perisai.


"Yeeee gak kena... Gak kena... " Conrad mengolok-ngolok kedua adik nya yang hanya bisa menyerang sebatas perut. Conrad terkekeh melihat wajah kesal dan lucu kedua adiknya.


Aarob dan Francesca semakin gigih mendesak Conrad, yang hanya bisa bertahan. Conrad sama sekali tidak membalas adik-adiknya. Ditengah-tengah perjuangan Francesca, Aaron mengambil strategi lain.


"Frances bertahanlah, Aaron akan segera kembali! " Teriak Aaron lantang.


"Mau kemana kau, musuh sangat tangguh! Teriak Francesca dengan lantang.


" Tunggu masih mengisi daya. " Sahut Aaron tak kalah lantang.


"Memang ngecharge hp apa, pakai mengisi daya segala. " Celetuk Conrad.


Kemudian Conrad menyeringai lebar kearah Francesca yang tersudut.


"Hayoooo menyerahlahhhh, " Conrad menggeraka kesepuluh jari nya, bersiap menggelitiki tubuh Francesca.


Francesca beringsut mundur dan membentur pada tembok. Dia memandang tangan Conrad dengan rasa was-was.


"Aarrronnn cepattt!!! Aku terdesakkkk." Teriak Francesca dengan gelisah.


Conrad semakin mendekat dan dia sangat senang sekali, melihat Wajah Francesca yang panik. Sangat lucu.


"Argggg jangan mendekat. Nanti Frances teriak loh yaaaa! " Ancam Francesca.


"Hayooooo... Kitikkk kitikkk... Kitikkk kitikkk.." Contad tambah bersemangat untuk mengerjai Francesca. Saat Aaron sudah mendaratkan tangannya ke pinggang samping Francesca, Aaron datang dengan kekuatan full.


"Bantuan datangggg. Dorrr....Dorrr.... Dorrrr, " Aaron menyerang Conrad dengan senapan air.


"Whoiii... Basahhh basahhh. " Teriak Cinrad sambil berlari menghindari serangan Aaron.


Aaron memberikan satu senapan air kepada Francesca dan mereka berdua saling mengangguk mantap, kemudian menyerang Conrad bersamaan dengan senapan air. Conrad berlari keluar, berputar di taman untuk sesaat, sebelum akhirnya dia terdesak dan melompat ke kolam renang.


"Yeaaa menanggg!!!!! " Teriak Aaron dan Francesca sambil melakukan toss.


"Kakak yang menanggg, huaa segarnyaaaa. " Conrad timbul tenggelam dikolam renang.


Francesca dan Aaron yang melihatnya menjadi tergiur. Akhirnya mereka pun meloncat ke dalam kolam renang. Kedua bocah kecil itu sudah ahli dalam berenang. Meskipun begitu, pengasuh segera memanggil pengawal untuk mengawasi.


Sementara di dalam mansion, dua orang


Pelayan terpaksa mengepel ulang. Lantai basah dimana-mana. Jangan sampai, nyonya rumah berjaan diantara genangan air, sangat berbahaya.


... πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...

__ADS_1


__ADS_2