Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
63.Rachel dan Eva


__ADS_3

Rachel


"Kau yakin dengan yang kau katakan!" nada kalimat Rachel lebih kepada suatu bentakan daripada pertanyaan. Sambil berdiri anggun di depan jendela ruang kerjanya Rachel berbicara di telphone dengan seseorang yang tampaknya sedang memberikan informasi penting.


"Benar nyonya, hal ini tiba-tiba saja tidak seperti biasanya." sahut suara seseorang diseberang sana.


"Okey. Jadi wanita breng#ek itu sudah berangkat?" tanya Rachel kembali.


"Iya nyonya baru saja. Dengan Papito dan seorang pengawal." jawab suara diseberang itu kembali.


"Heh! Sudah terang-terangan dia sekarang memberi pengawal kepada wanita itu!" suara Rachel mencemooh.


"Tuan Andrew yang memerintahkan."


"Hahahaha ternyata dia begitu takut dengan diriku hingga harus menyediakan pengawal. Okey kabarin lebih lanjut apabila ada hal yang mencurigakan." Perintah Rachel kepada seseorang diseberang sana.


"Baik nyonya. Nyonya jangan lupa dengan janji anda."


"Tentu saja." kata Rachel dengan tidak perduli sambil segera mematikan telphone nya.


"Lunaaaaaaa!!" Rachel memanggil seseorang.


"Iya nyonya." Seorang pelayan wanita setengah baya datang tergopoh-gopoh.


"Siapkan mobil aku akan keluar."


"Sekarang nyonya?"


"Tentu saja sekarang, bo#oh!" bentak Rachel kepada wanita itu.


"Baik nyonya." wanita itu segera keluar dari ruangan.


"Baiklah Diana, kita lihat bagaimana kau akan membenci Andrew setelah mengetahui kebenarannya. Hahaha Andrew tunggu pembalasanku." Rachel tertawa dengan penuh dendam. Dia segera menyambar tas dan mengganti sepatunya kemudian pergi dengan mobil yang telah disiapkan.


"Bawa aku ke Condominium Millenium sekarang." perintah Rachel kepada supirnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju Condominium. Jarak rumah Rachel ke condominium hanya empat puluh lima menit sedangkan jarak antara mansion Andrew menuju condominium adalah Satu jam dua puluh lima menit. Masih cukup banyak waktu bagi Rachel untuk menemui Diana.


Sesampainya di Condominium dengan anggun dsn lemah lembut Rachel bertanya pada reseptionist no condominium Andrew tetapi mereka menolak karena sesuai peraturan tamu harus menghubungi pemiliknya sendiri. Ini bukan pertamakalinya Rachel ditolak. Dia sudah sering datang untuk melabrak tetapi sia-sia saja. Akhirnya dia beralih siasat.

__ADS_1


"Aoakah nona Diana sudah datang hari ini?" tanyanya dengan sopan menekan keangkuhannya.


"Belum nyonya. Sudah lama mereka tidak pernah datang." sahut reseptionist dengan sopan.


"Baiklah aku akan menunggu karena hari ini dia akan datang. Kami ada janji." ucapnya dan kemudian menuju sofa di lobby.


Dengan tidak sabar Rachel menggoyangkan kakinya, mengetuk-ngetukan jari telunjuk ke sandaran sofa. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Sh#it lama sekali dia.


"Dasar Diana sialan kenapa dia lama sekali." gerutu Rachel dengan jengkel.


"Kau menyebut Diana bukan?" sapa seorang wanita yang baru saja lewat dan mendengar suara Rachel.


"Kau siapa." Rachel melirik malas.


"Perkenalkan aku Eva." tangan Eva terlulur dan mengambang diudara dan hanya dibalas dengan lirikan oleh Rachel. Eva menarik tangannya dan tersenyum masam.


"Apakah kau mencari Diana, wanitanya Andrew yang tampan itu?" tanya Eva dengan wajah penuh rasa ingin tahu.


"Kau mengenalnya?" tanya Rachel tanpa menghilangkan wajah angkuhnya.


"Iya. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali." jawab Eva dengan hati-hati sambil menyelidiki perubahan wajah Rachel. Dia sedang menimbang apakah Rachel adalah kawan atau lawan.


"Apakah anda sahabatnya?" tanya Eva menyelidik.


"Aku juga tidak menyukai wanita itu. Wanita yang sok suci." Ujar Eva dengan sebal. Rachel memandang Eva dengan kening berkerut dan menyipitkan matanya.


"Iya dia bertingkah seolah-oleh Andrew hanya tergila-gila padanya dan dia sok keibuan dengan anak kecil itu. Padahal aku tahu itu pasto hanya tipu muslihatnya saja." Eva menghentikan perkataannya sesaat dan menunggu reaksi dari Rachel. Dia lihat Rachel masih tampak ingin mendengarkan ceritanya lebih lanjut.


"Tapi aku tahu, itu cuma akal-akalannya saja yang sok mencari perhatian. Dia sok ramah dengan tersenyum kepada semua orang. Aku yakin sepeninggal Andrew dia pasti berkencan dengan pria lain." ucap Eva dengan berapi-api.


"Kau melihat dia berkencam dengan pria lain?" tanya Rachel menyelidik.


"Aku melihat dia beberapa kali berbicara dengan pria yang sama di gedung Tekhnologi." cerita Eva.


"Kau yakin? Apakah kau memiliki foto mereka?" tanya Rachel dengan penasaran.


"Iya aku memilikinya. Aku berencana menunjukan pada Andrew, tapi sudah lama aku tidak bertemu dengan dia. Mungkin condominiun mereka tidak ditinggali lagi." Seringai kemenangan muncul di wajah Rachel yang sedari tadi ditekuk dan menyepelekan Eva.


"Tunjukan padaku." kata Rachel. Eva tampak ragu-ragu karena sedari tadi Rachel tidak terlalu menunjukan posisinya sebagai kawan atau lawan.

__ADS_1


"Jangan kuatir aku juga membenci wanita itu. Aku bisa menunjukan pada Andrew foto yang mau ambil agar mata piciknya bisa terbuka." ucapan Rachel memberikan kepastian pada Eva kalau mereka ada pada kubu yang sama.


"Baiklah." Eva mengeluarkan smartphonenya membuka kunci dan mulai mencari foto yang dia maksud. Kemudian dia menunjukan pada Rachel.


"Pria itu tampan bukan. Aku heran kenapa para pria tampan itu bisa menyukai gadis seperti dia. Aku rasa aku jauh lebih baik dari dia." Kata Eva dengan sinis.


Rachel melirik Eva namun tidak menimpali perkataan Eva


T**entu saja gadis Asia itu lebih cantik dan fresh darimu. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau juga hendak merebut Andrew ku. Dasar wanita pengacau.


"Kirimkan foto itu kepadaku. Aku tahu bagaimana mengurusnya." ujar Rachel memerintah.


"Baiklah berapa nomornu." Rachel menyebutkan no ponselnya sehingga Eva dapat mengirimkan foto-foto Diana dan seorang pria.


"Jangan lupa katakan pada Andrew kalau aku yang menemukan afair mereka." ujar Eva dengan bersemangat. Rachel hanya tersenyum tipis kearah Eva.


kalau saja kau tidak memberiku infor.asi yang berharga ini, aku akan mengusirmu. Sudah muak aku melihat wajah penjilatmu. Kau tidak sekelas denganku.


ujar Rachel dalam hati.


W**anita ini angkuh sekali. Dia tampaknya wanita yang sangat kaya. Wanita sosialita. Entah apa hubungan dia dengan Andrew sehingga dia pun begitu membenci Diana. Hmmm tidak ada cincin pernikahan di jarinya, itu artinya dia belum menikah. Apakah dia juga mengincar Andrew, berarti dia adalah sainganku. Biarlah yang penting aku bisa memanfaatkan dia dengan menjadi orang dekatnya, status sosialnya pasti akan memberiku banyak keuntungan dimasa depan.


Ujar Eva dalam hatinya sambil sesekali melirik Rachel yang masih saja mengamati foto yang baru dia kirim di smart phone.


"Apakah kau menantikan mereka?" tanya Eva kembali.


Rachel hanya mendengus kasar seraya menganggukan kepalanya sedikit.


"Apakah kau yakin dia akan muncul hari ini?" tanya Eva lagi dengan penasaran.


"Tentu saja."


"Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Eva dengan penasaran.


"Aku punya informan yang handal." jawab Rachel sambil melirik kearah Eva seakan-akan mengecilkannya.


"Oh baiklah aku percaya padamu." kata Eva.


kau pikir aku perduli apakah kau pecaya atau tidak.

__ADS_1


Rachel memutar bola matanya karena merasa kesal. Kesal menunggu incarannya yang tak juga muncul dan sebal dengan wanita yang sok merasa menjadi orang penting.


Suara porter yang menyambut seseorang, "selamat siang nona Diana, apa kabar?" membuyarkan keheningan diantara Eva dan Rachel. Sontak Rachel berdiri dan menoleh kearah pintu lobby. Dia melihat wanita yang dia tunggu sudah tiba dengan seorang pengawal dan juga supir sia#an itu yang berjalan dibelakangnya. Dia menahan kegeraman ketika melihat Diana melewatinya begitu saja.


__ADS_2