Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
101. Dasar Kucing Liar!!!


__ADS_3

Mobil Jason berhenti. Pria itu menoleh dan melihat Lia masih terpaku dalam lamunannya. Jason kemudian mengeluarkan smartphonenya dan mengirim beberapa pesan kemudian mematikan dan menyimpannya kembali.


Dari sudut matanya dia dapat melihat bila gadis itu masih saja terdiam dan hanyut dalam lamunan tanpa menyadari kalau mobil sudah berhenti sedari tadi.


Dalam pikiran Lia terlintas sejumlah peristiwa yang terjadi selama dia di negara paman Sam ini. Semua kejadian itu berpusat pada penderitaan sang kakak. Otaknya berputar bagaimana cara agar dapat membuat kakaknya bahagia dengan pria yang dia cintai dan membentuk sebuah keluarga dengan bayi yang dia kandung. Hal yang rumit apalagi berhadapan dengan Rachel yang kejam.


Jason menoleh memperhatikan wajah gadis itu yang masih bersandar dengan pandqngan ke depan. Ia memajukan badannya melewati tubuh Lia. Gerakan itu spontan menyadarkan dan membuat Lia terkejut hingga dengansepontan pula ia mendorong Jason hingga tubuh Jason dengan keras membentur dashbord mobil.


"Pria mesum apa yang hendak kau lakukan?"


ucap Lia yang terkejut dengan kesal.


"Aow! Dasar kucing liar." Jason meringis kesakitan merasakn tubuhnya yabg membentur dashbord. Ketika dia hendak mengangkat punggungnya, gerakan itu malah membuat Lia terkejut dan memukuli punggung Jason.


"Apa yang mau kau lakukan. Mencari kesempatan ya pria mesum!" Plak.plak.plak.


Pukulan di punggung Jason membuat nya justru jatuh di pangkuan Lia. Dan tentu saja Lia tidak tinggal diam, dia menghentakan kakinya ke atas hendak menyingkirkan dada Jason yang jatuh ke punggungnya.


Hingga tubuh Jason terpelanting ke atas mengenai dagu Lia. Dan itu membuat Lia gusar dan mendorong Jason dengan kasar kembali ke posisi semula di tempat Jason.


Wajah Jason merah padam menahan marag dengan jengkel dia memukul mukul klakson mobilnya hingga suara ribut klakson terdengar membela malam. Pengawal dan pelayan yang ada disekitar rumah Jason tampak mengawasi dari jauh dan tidak ada satupun yang berani mendekat tanpa perintah.


"Kau kucing liar! Apa maumu hah?! Kau harus belajar tatakrama!" kata Jason dengan keras dan wajah yang memerah karena marah.


Lia terkejut melihat wajah marah Jason. "Kenapa kau yang marah? Harusnya aku yang marah." masih tidak mau meminta maaf dan heran dengan wajah marah Jason Lia berusaha menutupi ketakutannya dengan membentak balik Jason.


"Kau! Apa yang sudah kau lakukan padaku. Kau pikir aku bola hingga seenaknya kau hantam kesana kemari!" bentak Jason dengan kasar.


"Karena kau mau berbuat mesum kan?" ucap Lia dengan tidak mau kalah.


"Arkhhh!!!!" Jason meremas rambutnya frustasi. Gadis satu ini benar-benar mampu mendrible perasaannya. Menaik turunkan emosi Jason.


Lia memandang Jason dengan heran dalam hatinya dia berpikir ada apa lagi dengan pria ini.


"Aku mau membuka seatbelt mu tau!"


"Kau bisa mengatakannya padaku bukan, kalau sudah sampai."


"Sudah dari tadiiiii. Tapi kau hanyut dalam lamunanmu!" Jason dengan kesal akhirnya keluar dari mobil dan membanting nya dengan keras.


Lia terkejut mendengar bunyi pintu yang dibanting. Dia melihat sekitarnya dan menyadari kalau rumah ini bukan mansion Andrew melainkan mansion Jason. Dan dengan kesal, Lia memencet klakson mobil dengan keras berulang-ulang menghentikan langkah Jason.


Jason menoleh dan memandang kesal pada Lia yang membuat keributan.


"Hey kau! Ini bukan mansion brother Andrew." Teriak Lia dari jendela.


Jason tidak perduli dia membalikan badannya dan kembali berjalan menuju rumah.


Lagi-lagi Lia memencet bel di mobil itu tetapi Jason tetap tidak memperdulikan.


"Antar aku pulanggg!!!! Kenapa kau menculikku lagi!!!" teriak Lia dengan kesal tanpa sadar jika beberapa pengawal dan pelayan yabg bersembunyi dikegelapan tersenyum mendengar perkataan Lia.


"Ahhh.. harusnya aku tidak melamun tadi." Lia dengan kesal sambil memukul dashbord dihadapannya. Kemudian dia menoleh ke stir mobil, mencari kunci kontak. Dalam pikirannya apa bedanya mengendarai Lamborghini ini dengan mobil Ayla miliknya di Indonersia.


Tapi sayang, kunci mobil sudah dibawa turun oleh Jason yang menyeringai lebar melihat usaha Lia dari balik jendela rumahnya.

__ADS_1


Dengan kesal Lia turun dari mobil dan mengejar Jason masuk kedalam rumah. Dia tidak menemukan jason ketika membuka pintu rumah, malah seorang pelayan wanita yang menyambutnya.


"Malam nona Lia, mari ikuti saya." ucap pelayan tersebut dengan ramah. Lia mengikuti pelayan tersebut dengan penuh tanda tanya. Pelayan tersebut membawa Lia keruang makan. Dimana Jason sudah duduk siap untuk makan.


Aroma makanan yang harum dan lezat mengalahkan emosi Lia yang hendak meledak. Perutnya sudah berontak minta diisi dan dia baru menyadari ketika melirik jam ditangannya kalau hari sudah menunjukan jam sembilan malam. Pikirnya tidak ada salahnya makan dulu sebelum pulang.


Lia segera menuju ke westafel dan mencuci tangannya. Westafel indah transparant dengan hiasan kerang, bintang laut, mutiara dan bunga anggrek didalamnya.


"Mari nona silahkan." pelayan wanita itu mempersilahkan Lia duduk dihadapan Jason. Kemudian mereka mulai menuangkan sup di mangkok kecil dihadapan Lia.


Setelah mengucapkan doa, Lia mulai menyendok sup dan menyesapnya.


Matanya terbelalak, "wah enak sekali." ucapnya dengan polos.


"Baru pertama kali?" tanya Jason menyindir.


"Avocado kan ini?" Jason mengangguk.


"Setauku avocado itu dijus dengan es, gula dan coklat. Ternyata dibuat sup enak juga."


katanya dengan polos sambil menikmati sup tersebut sampai habis.


Kemudian pelayan mengangkat suo tersebut dan meletakan sepiring kecil apetizer. Potongan ikan tuna dengan beberapa salad. Lia menikmatinya pikirnya dalam hati andai saja ada potongan cae dan kecap asin tentu lebih sedap.


Pelayan mengambil piring kosong itu dan meletakan makanan utama. Ikan kod dengan mashed pottato. Seorang pelayan menuangkan anggur putih. Lia menikmati makanan itu dan sesekali menyesap anggur putih. Tampaknya dia lebih handal daripada Diana dalam mengatasi alkohol.


Hidangan utama selesai. Pelayan membersihkan meja sebelum meletakan sepotong apple strudel. Aroma manis dan harumumnya membuat Lia tersenyum lebar.


"Tea atau coffee nona?" tanya pelayan tersebut.


Lia menikmati apple strudle dengan taburan gula halus dan cinamon sambil memejamkan mata. Jason melihatnya dengan tersenyum. Dia hendak mengolok gadis dihadapannya tapi urung. Dia hendak menunggu wanita tersebut menghabiskan kue tersebut sebelum menggodanya lagi.


Teh hijau datang untuk Lia dan Jason. Ternyata pria itu sudah memberi isyarat kepada pelayan untuk memberikan minuman yang sama.


Lia menikmati makanan dengan senang dan dia melirik pada apple strudle yang masih tersisa sebagian di piring Jason. Sayang sekali pikirnya. Tapi dia terlalu gengsi untuk meminta sisa makanan di piring Jason.


"Apakah kau akan mengantarkanku pulang sekarang?" tanya Lia dengan nada lembut.


Bisa juga gadis ini bicara dengan manis dan sopan.


"Tidak. Aku lelah." sahut Jason dengan santai.


"Tapi kakakku pasti mencemaskanku." ucap Lia dengan memasang wajah imut dan mengerjap-ngerjapkan matanya.


Jason memalingkan wajahnya.


"Tidak! Aku masih sakit."


"Sakit apa?" Lia merasa heran karena sedari tadi Jason makan dengan lahap tidak seperti orang sakit.


"Lihat ini. Belum lagi yang disini. Disini dan disini." Jason menunjukan tangan yang di perban, menunjuk pada punggung, belaoang kepala dan dada nya. Semua akibat ulah Lia.


Lia meringis. Dia menyadari kesalahannya.


"Maaf yaa." ucapnya dengan lembut (akting lagi) padahal dalam hati dia berkata, dasar segitu aja sudah merengek.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pinjam ponselmu ya. Biar kakakku tidak khawatir." pinta Lia dengan tersenyum manis.


"Emangnya gue pikiran." Jason pergi meninggalkan Lia.


"Hei tunggu! Ayolah aku seriusss, kasihan kakakku nanti mencari diriku."


"Kan pengawal Andrew tahu, kau masuk kedalam mobilku." ucap Jason tanpa menghentikan langkah kakinya menaiki tangga yang diikuti Lia.


Lia bingung, tapi memang benar sih pengawal tersebut mengetahui jika dia masuk ke mobil Jason dan membawa Dylan pergi. Tapi apa salahnya menghubungi kakaknya lagi. Dasar pria tidak berperasaan.


Jason berhenti di salah satu kamar dan membuka pintu. Dia berhenti didepan pintu kamar tersebut dengan tangan masih memegang handel pintu yang sudah terbuka.


"Mandi sana dulu, bau!"


"Ihhh! Aku kan gak punya baju ganti." ucap Lia dengan kesal. Jason hanya tersenyum dan tidak banyak bicara.


"Ah, aku pernah meninggalkan bajuku disini dulu. Kau masih menyimpannya bukan?" ujar Lia dengan mata bersinar.


"Sudah aku buang. Baju murahan." ucapan Jason membuat binar di mata Lia redup. Dan sebelum sempat Lia protes lebih lanjut, Jason sudah menariknya masuk kedalam kamar kemudian menutup pintu kamar tersebut. Jason dengan tersenyum kecil meninggalkan kamar Lia menuju kamarnya.


Didalam Lia menggerutu.


"Dasar lalat buah mesum tidak berperasaan!" Memangnya enak habis mandi pakai baju kotor lagi? Kau pikir pakai bathrobe saja itu tidak dingin? Lain kali kalau mau menculik itu ngomong dulu dong."


Lia kemudian masuk melihat isi kamar. Dia baru menyadari kalau kamar tersebut lebih besar daripada kamar tamu yang dia tempati sebelumnya. Ada balcony yang menyambung dengan kamar disebelahnya. Lampu dikamar sebelah tampak menyala. Mungkin itu kamar Jason pikirnya dan segera masuk ke dalam kamar kembali.


Lia melihat ke sisi lain dikamar dan dia membuka sebuah pintu yang ternyata merupakan walking closett besar dengan pakaian, aksesoris, tas bahkan sepatu. Dengan wajah berbinar dia masuk dan mulai menyentuh barang-barang disana. Dengan iseng dia melihay ukuran baju, ukuran yang sama persis dengan dirinya. Ukuran celana dalam, bra, gaun dan sepatu. Semua adalah ukuran yang sama.


Tanpa pusing berpikir jauh. Lia melonjak kegirangan dan segera mandi. Dia enggan menggunakan bath up meskipun bath up itu indah. Dia mandi dan menggosok sekujur tubuhnya dibawah shower. Setelah mandi masih dengan menggunakan handuk dia masuk kedalam walking closet kemudian memilih pakaian yang akan dia kenakan.


Puas dengan celana pendek dan bluss. Lia mulai


melirik ke meja rias. Tampak disana skin care merk ternama satu set lengkap. Lia mengambil krim malam dan mengoleskan diwajahnya. Menutup kegiatan itu dengan mengoleskan hand&body di tangan dan kaki.


Masih dengan heran, Lia mengelilingi kamar tersebut mencari jejak pemiliknya. Tapi tidak dapat dia temukan satupun foto maupun apapun yanh dapat menjadi petunjuk.


Sesorang mengetuk pintu kamar, membuat Lia terkejut.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hallo pembacaaaa....


Author sedih nich... viewersnya banyakkk sampai ribuan, tapi sayang kenapa yang like cuma puluhan yaaa.


Pleaseee, baca novel ini gratis lohhh... hehhehe... sumbangi like kalian saja yaaaa.


Yang lupa like scroll ke atas ya dan like tiap episode, pleaseeπŸ™πŸ™πŸ™


Biar makin semangat.


Buat yang nge Vote makasih banyakkkkkk yaaa.


Sebagai ucapan terimakasih, Tiga orang dengan vote terbanyak akan mendapatkan souvenir cantik yaaaa.


Trimakasih

__ADS_1


😍


__ADS_2