Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Antarkan aku pulang


__ADS_3

Diana terbangun dengan kepala yang amat sangat pusing. Pandangannya masih berputar dan dia mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha mengetahui keberadaannya. Samar-samar dia teringat kembali kejadian di toilet mall.


Dengan susah payah, Diana bangun dan duduk dari tidurnya. Dia mengedarkan pandangannya. Ruangan yang dia tempati saat ini adalah sebuah kamar. Kamar yang cukup bersih dan tertutup. Gorden menutupi jendela-jendela kayu.


Setelah pusing yang dia rasakan menghilang, Diana berjalan menuju pintu. Dia berusaha membuka pintu yang terkunci, tapi gagal. Dari sela-sela jendela kayu yang tertutup rapat dia mencoba mengintip kearah luar.


Diluar ruangan tempat dia berada saat ini adalah halaman luas tandus. Tampaknya seperti parkiran. Saat itu juga Diana menyadari kalau dia berada disebuah motel yang sepi.


Dia berjalan mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan, mencari alat komunikasi yang dapat dia gunakan untuk menghubungi Andrew. Ada telphone disana. Diana segera melangkah dengan cepay dan hati berdebar, dia angkat telphone itu, mati tidak ada dering. Berulang-ulang dia mencoba tapi gagal.


Dia menelusuri panjangnya kabel telphone itu jikalau telepas dari sambungan. Dan ternyata masih utuh sampai dengan saluran, tetapi telphone ini rusak. Kabelbyang terpasang tampaknya cuma hiasan semata.


Diana kembali kearah jendela mengintip keluar, masih sepi. Dari sela-sela jendela dia berusaha berteriak, "halooo apakah ada orang disana?"


Tidak ada jawaban. Beberapa kali dia mencoba berteriak hingga terdengar sebuah langkah kaki mendekat.


Diana kebingungan, antar senang dan takut. Takut kalau yang mendekat itu adalah orang yang membawanya kemari dengan paksa. Dengan segera Diana mengambil vas bunga yang ada disana dan berdiri di balik pintu, dia bersiap.


Saat ini dia tidak perduli, siapapun yang masuk kedalam ruangan akan dia hantam dengan vas itu. Siapapun.


***************


Sementara itu Andrew sudah kembali ke Mansion dan dia sedang berada di rumah keamanan. Disana seorang ahli komputer sedang bereaksi mencari keberadaan mobil yang membawa Diana pergi.


Meskipun pihak dari keamanan mall sudah melaporkan ke kepolisian, tapi Andrew tidak dapat begitu saja mempercayakan keselamatan Diana kepada mereka.


Rumah keamanan ini dia bentuk baru beberapa tahun, semenjak kecurigaannya pada sabotase akan karamnya kapal pesiar milik keluarganya sepuluh tahun yang lalu.


Di lantai dasar ruangan ini, tampak layar berukuran besar sedang beroperasi mencari plat nomor tersebut yang ternyata merupakan mobil sewaan.


Andrew bahkan belum mengisi perutnya semenjak Diana menghilang. Pikirannya kalut memikirkan keberadaan wanita itu.


Gps yang dipasang di handphone Diana saat ini sedang mati sehingga sukar untuk melacak keberadaannya.


Sementara Lia yang pulang dengan Briant menangis terisak. Dia bukan saja merasa bersalah tapi rasa takut akan keselamatan kakaknya lebih dari segalanya.


"Sudah, jangan menangis lagi. Semua pihak sudah berusaha sebaik mungkin." Briant berusaha menenangkan Lia.


"Seharusnya aku menemani kakak." Isak tangis Lia mulai mereda.


"Kau tidak tahu apa yang akan terjadi."


"Tapi, aku seharusnya memperhatikan keberadaannya. Dia sedang hamil besar. Aku adik yang bodoh!" Lia memukul kepalanya berulangkali.


Briant memegang tangan Lia menghentikan tindakannya dan menarik gadis itu kedalam pelukannya. Dibenamkannya kepala Lia dalam pelukan. Saat ini aliran air mata Lia sudah membasahi kemeja yang dia kenakan tembus kedalam kulit dadanya.


Briant mengusap kepala Lia dengan penuh kasih. Dia berusaha menenangkan Lia dari kegundahannya. Dan saat itu di depan pintu ruangan Grisella sedang menyaksikan pemandangan dihadapannya dengan perasaan yang sukar dia deskripsikan.


Ekor mata Briant yang melihat keberadaan Grisella membuatnya menatap wanita itu yang terpaku di depan pintu. Dia datang ke mansion karena berjanji akan menginap bersama, tetapi sesampainya di Mansion, salah satu pengawal mengatakan kalau Diana menghilang, dengan panik Grisella masuk ingin bertanya kebenarannya kepada seseorang di dalam rumah dan disinilah dia menyaksikan orang yang dia cintai memeluk wanita lain.


"Brother Briant, apakah kakak ku akan baik-baik saja?" tanya Lia dalam pelukan.


"Dia akan baik- baik saja. Kakak ipar adalah orang yang kuat dan cerdas." ucapan Briant sedikit melegakan hati Lia.


"Masuk dan beristirahatlah, aku akan menemui Andrew."


"Brother Andrew pasti sangat membenciku."


"Dia tidak membencimu, pikirannya sedang kalut. Kau sebaiknya sedikit menjaga jarak dari nya untuk sementara waktu." Briant khawatir apabila emosi Andrew meledak akan melukai perasaan Lia. Tidak sepenuhnya gadis ini bersalah. Diana juga harus dipersalahkan akan tindakannya yang gegabah pergi sendiri.


"Baiklah, aku akan masuk dan melihat Conrad. Terimakasih brother." Lia menjinjit dan mencium pipi Briant, kemudian dia masuk ke dalam tanpa menyadari kehadiran Grisella.


Sepeninggal Lia, Briant menghampiri Grisella wanita yang pernah mengisi relung hatinya dan memberi warna di kehidupannya.


"Aku mendengar kalau Diana menghilang, benarkah?" tanya Grisella buru-buru sebelum Briant semakin mendekat.


Detak jantung nya masih berdebar cepat melihat dan menerima tatapan mata Briant yang tajam.

__ADS_1


"Benar. Dan saat ini kami sedang berusaha mencarinya."


"Semoga dia baik-baik saja. Adakah yang bisa aku bantu?" tanya Grisella dengan tulus.


Briant sejenak termenung memandang Grisella.


"Bisakah kau tinggal disini sementara waktu dan menjaga Lia juga Conrad?"


Permintaan Briant adalah hal yang biasa sesungguhnya. Tetapi, bukan bagi Grisella. Masih ada sisi hati yang tidak bisa merelakan Briant dekat dengan wanita lain, meskipun itu adalah Lia adik kandung sahabatnya. Tetapi, Grisella akhirnya memilih untuk menganggukan kepalanya.


"Trimakasih Grisella." Ujar Briant lembut seraya menyentuh pipi wanita itu. Kehabgatan yang diberikan telapak tangan Briant menembus relung hatinya.


Grisella memejamkan matanya sesaat hingga dia membuka lagi dengan cepat ketika sebuah kecupan mendarat dikeningnya dengan singkat.


Dia terpaku. Briant mengecup kening Grisella sesaat sebelum pergi meninggalkan wanita itu sendiri terpaku menata gejolak dalam dirinya.


***************


Diana masih mengambil ancang-ancang siap untuk menggantamkan vas itu. Tapo ternyata langkah kaki itu melewati kamar yang dia tempati.


Dengan bergegas dia pergi ke arah jendela dan berteriak.


"Tolong saya.. hallo siapapun disana tolong keluarkan saya dari sini."


Lagi- lagi tidak ada yang menjawab. Dirinya sudah lelah dan merasa lapar. Sedangkan matahari perlahan sudah mulai menenggelamkan diri.


Akhirnya dia terduduk di kursi dekqt dengan jendela. Beruntung sekali ada air mineral disana, dengan rakus dia menegak minuman itu hingga habis. Saat itu dia tidak menyadari kalau pintu kamar sudah twrbuka dan seseorang sudah berdiri dihadapannya.


Diana tersentak dan langasung berteriak, "apa yang kau lakukan padaku? Kenapa kau membawaku kemari?" tanya nya dengan gusar.


"Tenanglah. Aku tidak bermaksud melukaimu."


"Kenapa kau membawaku dengan paksa dan mengancam akan menyakiti Conrad?"


"Aku terpaksa melakukannya demi keselamatanmu."


"Heh, tapi pada akhirnya aku berhasil membawamu pergi didepan batang hidung mereka bukan?" pria itu terkekeh. Dia meletakan bungkusan ditangannya keatas meja disamping Diana.


"Itu semua karena kebodohanku mempercayaimu."


"Itu daya tarikmu sugar, kebaikan dan kelembutan hatimu."


"Dylan! Antar aku pulang!" ujar Diana dengan menekan suaranya pada pria dihadapannya.


Dylan tampak tidak menghiraukan perkataan Diana. Dia mengeluarkan isi bungkusan itu dan mulai menatanya diatas meja.


"Makanlah terlebih dahulu."


"Aku tidak mau!"


"Bayi kita perlu makan juga."


"Ini bukan bayimu!"


"Okey.okey. Itu bayi mu." Dylan tersenyum lembut.


"Makanlah untuk bayimu dan supaya kau mempunyai kekuatan untuk kabur dariku."


dengan lembut Dylan menyodorkan nasi dan ayam kungpao kehadapan Diana.


Meskipun dongkol, dia menyadari makanan itu penting untuk bayi dan dirinya sendiri. Akhirnya dengan lahap Diana memakan habis makanan dihadapannya.


"Sekarang antarkan aku pulang." ucap Diana


setelah menghabiskan makanannya.


"Tidak untuk saat ini."

__ADS_1


"Tapi kenapa?"


"Terlalu berbahaya."


"Kau justru yang meletakan aku dalam bahaya."


"Percayalah aku menginginkan yang terbaik untukmu. Aku tidak akan menyakitimu. Bahkan bila kau menyetujui aku akan membawamu pergi jauh. Jauh dari semua permasalahan dan hidup bahagia. Canada negara yang indah."


"Kau sudah Gila!"


"Mungkin! Aku gila karena mencintaimu."


"Itu bukan cinta Dylan, kau hanya terobsesi padaku."


"Aku cinta padamu!"


"Tidak! Kau tidak akan membuatku sedih jika memang kau mencintaiku."


"Aku ingin menjaga dan melindungimu. Bersamaku kau akan lebih tenang. Aku akan berusaha keras mencukupi semua yang kau perlukan. Aku akan membahagiakanmu."


Dylan tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya, dia bersikeras jika hanya bersamanya Diana bahagia.


"Itu kebahagianku menurut cara berpikir mu yang sepihak. Tapi kau tidak pernah bertanya apa yang aku mau, apa yang aku inginkan." ucap Diana dengan sendu.


Dylan terpaku diam. Selama ini dia yakin apa yang dilakukannya adalah benar. Semenjak dia mengetahui bahwa Rachel sering menyakiti Diana, Dylan merasa bersalah karena dia tidak pernah benar-benar berjuang untuk mendapatkan wanita dihadapannya.


"Dylan aku mohon, arghh!!!" Diana menjerit tertahan sambil memegang perutnya.


"Ada apa, apa yang terjadi?" tanya Dylan dengan panik.


"Bawa aku ke rumah sakit, Dylan. Perutku sakit."


"Tidak. Tidak. Kau tidurlah disini , aku akan memanggil seorang perawat kemari."


"Dylan, aku rasa aku akan melahirkan. Hosh!hosh!" Nafas Diana tersenggal-senggal.


"Tapi kandunganmu masih tujuh bulan bukan?"


"Tidak. Kandunganku sudah sembilan bulan dan aku dijadwalkan untuk operasi ceacar, karena posisi bayiku." ucap Diana dengan tersenggal-senggal dalam hati dia berharap Dylan mempercayainya.


"Kau.. tidak akan membiarkanku kesakitan dan mati, kan? Hosh...hosh.."


Dylan panik. Dia melihat bagaimana Diana menahan rasa sakit yang tampaknya sangat luar biasa.


"Aku akan membawamu ke klinik. Biarkan aku memapahmu." Diana membiarkan Dylan memeluk pinggangnya dan membawa dirinya keluar. Dalam hatinya yang penting adalah keluar dari tempat ini dan bertemu seseorang yang akan membantunya menghubungi Andrew.


Dylan membuka pintu dan membawanya keluar, saat itu langkah mereka terhenti karena adanya sosok yang menghadang.


"Diana? Apakah kau merindukanku?"


😱😁😱😁😱😁😱😁😱😁😱😁😱😁😱😁


Dylan : "Protes thor!"


Author : "Protes apa lagi?"


Dylan : "Kurang lama berduan dengan Diana nya."


Diana : "Idih, mau nya. Aku ogah ah lama-lama deket sama kamu."


Dylan : "Loh, emangnya kenapa, aku kan gak kalah cakep dengan Andrew."


Diana : "Iya, tapi kebiasaanmu makan bawang bombay itu yang aku gak suka."


Dylan : "ha.. ha...( menghembuskan nafas dari mulutnya) kemudian pingsan.


Author : "Dibilangin jangan makan bawang bombay kalau lagi sama cewek gak percaya."

__ADS_1


__ADS_2