Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
45. Apakah kau menyukai anak kecil ?


__ADS_3

Sesampainya di Condominium Diana merapikan belanjaannya sendiri, dia menolak Papito yang menawarkan untuk membantu. Papito akhirnya turun dan menuju tempat istirahat khusus sopir di basement. Hari masih siang sementara Diana menyibukan diri untuk membuat puding buah sebanyak dua loyang dan segera menyimpannya dalam kulkas ketika puding sudah mulai dingin.


Makan malam hari ini adalah capjay dan ayam goreng saos mentega. Semoga Andrew menyukainya karena bosan bagi Diana untuk terus menikmati makanan ala barat. Menu variasi kali ini lebih dia kuasai.


Semua bahan telah disiapkan, tinggal sentuhan terakhir saat Andrew tiba agar semua masih hangat ketika makan malam. Untung saja dia tadi ingat untuk membeli magicjar ukuran kecil dan beras.


Sambil menunggu puding dingin dan mengeras, Diana menghidupkan televisi dan mengganti ganti channel hingga berhenti di acara Empire. Kisah nya sangat menarik, mengenai kehidupan keluarga pemusik dengan segala konfliknya mempertahankan perusahaan keluarga.


Jam menunjukkan pukul 15.00. Diana memutuskan untuk mengunjungi Grisella, meskipun agak ragu dia memberanikan diri memecet bel pintu. Keingginannya untuk menjalin suatu pertemanan. Karena tentunya Diana merasa kesepian sendiri di kota besar ini. Tak lama pintu terbuka.


"Hallo." sapa Diana.


"Oh hai, Diana bukan?" sapa Grisella ramah.


"Aku membawakan puding untukmu." Diana menyodorkan puding ke arah Gricella.


"Terimakasih. Ayo masuk." Ajak Grisella .


Diana memasuki condominium milik Grisella dan merasa kagum dengan dekorasi dalam ruangan yang simpel tapi menarik dan menunjukan sisi feminim.


"Kediamanmu tampak indah sekali dan nyaman." kata Diana dengan jujur.


"Tentu saja. Aku mendesign nya sendiri." Sahut Grisella dengan ramah sambil mengambil pisau dan piring kecil.


"Aku langsung potong ya kita bisa makan bersama." kata Grisella sambil memberi Diana sepotong puding.


"Nikmat sekali. Kau membuatnya sendiri?" tanya Grisella .


"Iya. Kau tinggal sendiri Ella?"


"Iya. Aku sendiri disini. Kau berkunjunglah setiap saat bila senggang."


Mereka asyik berbincang - bincang saling bercerita tentang diri mereka sendiri. Begitu mudah mereka menjadi akrab dan cocok satu sama lain. Diana merasa senang setidaknya sekarang dia memiliki teman di kehidupan baru nya.


"Kau jaga pria mu dengan baik. Banyak wanita yang mengincarnya. Aku yakin." kata Grisella kepada Diana.

__ADS_1


"Lalu apakah kau juga mengincarnya?" tanya Diana dengan nada bercanda.


"Kau beruntung dia bukan tipeku. Aku lebih suka yang sedikit berandal. Hahhaha...hahahha.. Jika tidak, mungkin aku akan menjadi pesaing beratmu."


Kata Grisella dengan percaya diri .


"Ooo.. i'm so lucky." Kata Diana dan mereka tertawa terbahak bersama.


Percakapan berlangsung dengan cukup seru hingga waktu sudah menunjukan pukul lima sore Diana berpamitan kembali ke kediamannya.


Dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum Andrew datang. Setelah mandi dia memeriksa handphone dan disana Andrew mengirimkan pesan lewat wa, "aku akan segera pulang sebentar lagi."


"Can't wait to see you." balas Diana dengan ikon love.


Segera dia mempersiapkan diri agar tampak segar bertemu dengan keķasih hati.


Bunyi kunci pintu electrik terbuka, Diana segera menyambut Andrew layaknya seorang istri menyambut kedatangan suami dengan pelukan dan ciuman hangat, sayang sekali gadis kecil ini tampaknya belum sepenuhnya mengerti akan arti status dan kebanggaan wanita timur.


"Kau wangi sekali." Andrew masih memeluk Diana. Mereka masih berdiri di balik pintu berpelukan.


"Tentu saja, aku baru saja mandi." Jawab Diana santai setelah berhasil melepaskan diri dari ciuman Andrew.


"Agar aku harum ketika kau datang sayang." jawab Diana dengan asal, karena dia tidak tahu jawaban lainnya.


"Lepaskan jas mu aku akan menyiapkan makan malam." Diana melepaskan pelukan Andrew dan membawa tas kerja ke meja di area ruang tamu.


Andrew menurut sementara dia melepaskan dasi dan jas, Diana menyiapkan makan malam. Bau harum masakan begitu menggoda dan Andrew menghampiri Diana yang tengah memasak sambil memeluknya dari belakang dan bertanya, "Apa yang kau masak baunya harum sekali."


"Lebih harum mana masakanku atau diriku?" goda Diana.


"Aroma Masakanmu menggoda perutku dan Harum tubuhmu menggoda keperkasaanku." Jawab Andrew sambil menekankan mahkotanya yang mengeras d ke pantat gadis yang berada dalam pelukannya.


"Berhenti menggodaku." jawab Diana malu- malu.


"Kau yang selalu menggodaku." Balas Andrew dengan lebih menekankan mahkotanya.

__ADS_1


"Katakan apa yang kau masak?" Andrew masih penasaran.


"Capjay dan ayam saos mentega."


"Hmm.. baunya harum. Cepatlah aku sudah lapar." Andrew masih saja memeluk pinggang Diana dari belakang dan sesekali menggoda gadis itu dengan ciuman ringan di leher maupun rambutnya.


"Bagaimana aku bisa memasak dengan cepat kalau kau menggodaku terus." Diana pura - pura marah.


"Karena kau begitu menggairahkan." Sahut Andrew masih dengan pelukannya. Karena jengkel dengan sikap manja Andrew. Dia matikan kompor dan berbalik pada pria yang menempel terus seperti perangko. Dikalungkan tangannya di leher Andrew dan memberi kecupan dalam di bibir tipis sang lelaki, kemudian dia tarik tangan Andrew perlahan kearah meja makan yang menyatu dengan dapur.


"Duduklah yang manis. Makanan segera siap tuan manja." Andrew kali ini menurut.


Makanan dihidangkan di meja, hanya dua menu sederhana untuk dua orang yang mereka makan dengan lahap sambil sesekali bercanda dan menyuapi.


"Sudah Andrew, berhenti menyuapi aku sudah kenyang." kata Diana sambil mengusap perutnya.


"Aku suka melihat kau makan seperti anak-anak." goda Andrew.


"Kau menyukai anak kecil?" tanya Diana perlahan.


"Entahlah. Aku tidak terlalu mengerti mereka."


"Ooo." Diana terdiam dalam lamunannya dia teringat akan Conrad.


"Kau menyukai anak-anak?" tanya Andrew ketika melihat Diana termenung. Diana hanya mengangguk menjawab pertanyaan Andrew. Melihat sikap Diana, digenggamnya tangan gadis itu dan menciumnya lembut dan dalam, "Maafkan aku, aku tidak bisa memberimu yang satu ini."


Mata mereka saling berpandangan. Tangan saling menggenggam. Diam sesaat dalam emosi jiwa masing-masing.


"Andrew, pernahkan kau memeriksa dirimu sebelumnya?" Diana memberanikan diri untuk menanyakan hal yang selama ini mengganjal dihatinya. Andrew terdiam mendengar pertanyaan Diana.


"Maafkan aku jika menyinggungmu, tapi jujur aku ingin tahu." Kata Diana setengah menyesal dengan pertanyaannya ketika dia lihat Andrew hanya diam.


Seharusnya jawaban sudah pasti, selama ini mereka berhubungan tanpa pengaman dan milyaran sel-sel Andrew sudah menyembur di dalam dirinya. Kenyataannya dirinya masih saja sama tanpa ada kehamilan.


"Bisakah kau lupakan hal itu." Pinta Andrew lirih.

__ADS_1


Diana mengangguk. Diana berdiri dari kursi berjalan mengitari meja dan berdiri dihadapan Andrew.


"Tentu saja." jawabnya lirik sambil memeluk pria dihadapannya. Andrew membenamkan diri dalam pelukan kekasihnya. Meskipun bibir Diana mengatakan tentu saja tapi dia tidak yakin bahwa gadis ini akan benar-benar bahagia tanpa kehadiran seorang anak. Diam-diam dia merencanakan sesuatu.


__ADS_2