
"Bagaimana? Apakah kau menemukan hal-hal yang diluar kebiasaan?" tanya Diana pada nanny Maria.
"Tidak ada nyonya. Conrad seperti biasanya pergi ke sekolah dengan normal. Dan waktu pulang saya menjemput juga mengantarnya ke gedung les, seperti biasanya." Jawab Nanny Maria.
"Ah.. baiklah. Mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi, pastikan dia benar-benar belajar. Ujian kenaikan kelas semakin dekat." Ujar Diana dengan khawatir.
Semenjak hari dimana Conrad marah-marah dengan Diana. Anak itu kembali lebih pendiam akan tetapi dia sepertinya semakin giat belajar. Diana tidak ingin mengganggu konsentrasi Conrad.
Berkali-kali dia menghampiri dan mengajak bicara, Conrad menatapnya dengan dingin.
Hingga suatu malam, si kecil Aaron yang baru berusia tiga setengah tahun, masuk kamar Conrad tanpa mengetuknya.
Bocah kecil itu merindukan Conrad dan ingin bermain dengan kakak nya.
"Kakakkkk... Alon kangennn. Ayo main mobil-mobilan."
"Gak mau!" Sahut Conrad singkat.
"Ayo main keleta api aja." Aaron tidak menyerah untuk merayu.
"Gak mau." bentak Conrad.
"Ayo main kejal-kejalan aja dah."
Aaron kecil memandang Conrad penuh harap. Masih berupaya untuk bernegosiasi. Wajah mungil dan lugunya menyimpan kerinduan. Dia memegang lengan Conrad, berharap sang kakak akan berdiri dan memeluknya.
Aaron kecil rindu duduk di pangkuan Conrad. Dia rindu belajar menulis, menggambar atau bahkan mendengarkan celoteh Conrad. Dia rindu melihat sang kakak tertawa dan mencium pipinya. Bermain bersama, berkejar-kejaran, berenang, menyusun balok dan juga merakit lego.
"Sudah dibilang gak mau! Keluar sana. Aku mau belajar!"
"Alon mau main. Alon kangen. Ayo main." Kali ini Aaron menarik lengan Conrad.
Conrad marah, dia menghempaskan tangannya hingga si kecil Aaron terpelanting dan dahinya membentur meja. Balita itu menangis dengan keras. Keningnya memar. Bengkak kebiruan.
Nanny yang menjaga Aaron menjadi terkejut dan segera memeluk Aaron. Dia menatap Conrad dengan heran, karena sikap kasar yang diperbuat Conrad. Jarak usia mereka hampir delapan tahun, seharusnya Conrad tidak berbuat seperti itu pada adiknya.
Conrad yang melihat hasil perrbuatannya, ada
rasa bersalah dalam hatinya. Dia melihat bagaimana Aaron menangis dengan keras. Pasti sakit. Conrad mendekati Aaron dan mengusap kening adiknya.
"Sakit... sakit...kakak sakittt...." ujar Aaron mengadu.
Saat itu kebetulan Andrew lewat dan mendengar tangisan Aaron di kamar.
"Ada apa. Kenapa Aaron menangis?"
Andrew menghampiri Aaron yang berada dalam pelukan pengasuhnya.
Andrew mengambil Aaron dari gendongan pengasuh.
Conrad yang masih membelai Aaron, menarik kembali tangannya. Dia memandang Andrew dengan khawatir. Conrad tidak ingin Andrew marah kepadanya. Dia sangat menyayangi ayahnya.
"Apa yang terjadi kenapa kepala Aaron benjol?" Tanya Andrew lagi.
"Hu.huhu...huhu... sakit daddy... huhu..."
Aaron mengadu.
__ADS_1
"Nanny! Apa yang terjadi, kenapa bisa seperti ini?" Tanya Andrew kepada pengasuh.
Pengasuh itu diam. Dia tidak tahu harus berbicara apa. Berbicara jujur mungkin akan menyakiti Conrad. Menyembunyikannya akan menambah amarah Andrew.
Diana yang mendengar keributan segera menghampiri. Dia melihat Andrew menggendong Aaron yang menangis. Conrad dan nanny yang menunduk ketakutan.
"Ada apa?" tanyanya heran.
"Mommy, sakittt..." Aaron langsung beralih dari gendongan Andrew ke dalam pelukan ibu nya.
"Bawa Aaron pergi, aku harus berbicara dengan Conrad." Perintah Andrew pada Diana.
"Baiklah. Andrew, tolong jangan terlalu keras." Ujar Diana.
Conrad yang mendengar nya hanya mencibir. Dia seakan berpikir jika apa yang dikatakan Diana hanyalah pura-pura.
Andrew melihat pandangan itu.
Setelah Diana keluar. Andrew memperintahkan pada Conrand untuk duduk.
"Duduklah. Daddy rasa kita harus bicara seperti seorang pria."
Andrew menarik kursi dihadapan Conrad.
Dia memandangi anak yang sudah diadobsi sedari bayi itu.
"Daddy lihat tadi cara Conrad memandang mommy. Kenapa kau memandangnya seperti itu?" tanya Andrew perlahan.
Conrad diam menundukan wajahnya.
"Angkat wajahmu dan katakan pada daddy. Kenapa kau memandang mommy seperti itu dan kenapa Aaron kepalanya benjol?"
"Seorang pria harus berani bertanggung jawab dalam setiap sikap dan perbuatannya. Kau seorang pria bukan?" Ujar Andrew lagi memancing reaksi Conrad.
"Iya."
"Kalau begitu jawab pertanyaan daddy."
"Aaron terbentur meja."
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena mengganggu Conrad yang belajar, Conrad tidak sengaja mendorongnya daddy." Ujarnya dengan rasa bersalah.
"Baiklah. Tapi ingat. Jangan melakukan hal itu lagi pada adik mu. Dia hanya ingin bermain. Jika terganggu Conrad bisa meminta nanny untuk membawanya pergi."
Conrad mengangguk.
"Kau seorang kakak. Harus menjaga dan menyayangi adikmu." Nasihat Andrew lagi.
"Daddy... "
Lirih suara Conrad.
"Apakah daddy.... sayang dengan Conrad?"
Andrew menatapnya heran.
__ADS_1
"Pertanyaan apa itu? Tentu saja daddy sayang dengan Conrad dan Aaron."
"Daddy lebih sayang mana Conrad dan Aaron?"
"Tidak boleh bertanya seperti itu. Kalian keduanya anak daddy. Kasih sayang daddy dan mommy sama rata untuk kalian."
"Tidak! Mommy tidak sayang sama Conrad. Mommy cuma pura-pura sayang sama Conrad!" Teriak Conrad histeris.
Andrew terkejut. Dia tidak menyangka kalimat itu akan muncul dari mulut Conrad. Conrad adalah anak yang sangat manaja dan bergantung pada Diana. Bagaimana mungkin anak itu tiba-tiba berubah seperti ini.
"Kenapa Conrad bisa berbicara seperti itu. Apa yang ada dipikiranmu?"
"Karena mommy bukan ibu kandungku. Dia tidak melahirkanku. Dia membenciku. Dia tidak suka aku berada didekatnya." Kata Conrad dengan marah.
"Hei! Siapa yang mengatakan kebohongan itu padamu?"
Conrad diam.
"Apakah Conrad lupa, siapa yang menemani dirimu ketika sakit, belajar dan selalu bangga dengan setiap keberhasilanmu. Bahkan setiap kali kau gagal, siapa yang menyemangatimu? Dia yang selalu memeluk dan menyanyangimu. Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?" Ujar Andrew dengan berapi-api.
Conrad terkejut mendengar amarah Andrew. Dia tidak pernah mendapatkan amarah itu sebelumnya.
"Iyaaaa mommy melakukan hal itu, agar tampak baik dihadapan daddy. Mommy cuma ingin cari perhatian daddy. Dan mommy cuma ingin Conrad jadi pengawalnya Aaron. Conraddd... harus sayang Aaron, harus jaga Aaron... harus bantu Aaron." Dengus bocah itu kesal.
"Itu karena kau kakaknya. Itu adalah tugas dan tanggung jawab seorang kakak." Andrew menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka perdebatan dengan seorang bocah bisa begitu menguras tenaga.
Andrew sudah berjanji pada Diana tidak ada kekerasan terhadap anak-anak. Tidak ada pukulan yang bisa membuat mereka takut dan mungkin bertambah keras.
"Kau tahu bukan dalam lubuk hati mu, jika mommy sayang padamu. Singkirkan semua pikiran buruk itu. Dan ingatlah semua ketulusannya padamu. Pada kita semua. Jangan biarkan pikiran buruk meracuni mu."
Andrew menepuk pundak Conrad. Kemudian ia memeluk anak laki-laki itu dan mencium keningnya.
"Coba berpikirklah dengan tenang. Dan yakinkan dirimu, jika kami menyayangimu."
Pesan Andrew sebelum meninggalkan Conrad sendiri di kamarnya.
Andrew kembali melihat Aaron. Balita itu tampak sudah tenang dalam pelukan Diana sambil meminum susu di botol. Diana memandang Andrew penuh tanda tanya. Andrew hanya menggelengkan kepala dengan sedih.
Dia menghampiri Aaron, dan mengusap kening anaknya yang membengkak. Aaron adalah anak kandungnya, sedangkan Conrad adalah anak yang dia adopsi sedari bayi. Jika dibenturkan pada kenyataan maka Andrew harus berpihak pada Aaron. Tetapi ketika naluri kasih sayang itu muncul, mereka berdua adalah anaknya. Dan dia harus adil.
"Aku akan berusaha mencari tahu, kenapa dia begitu membenci kami." ujar Diana lirih.
Andrew memeluk mereka berdua dengan hangat. Sementara Conrad melewatkan moment tersebut dengan meringkuk di kamarnya dengan tangisan.
Suara itu terus bergema di telinganya, "kau bukan anak kandungnya. Wanita itu tidak pernah menyayangimu. Kau hanya alat untuk meraih cinta daddy. Ooo sungguh malang nasibmu Conrad. Ibu kandungmu pasti lebih menyayangi dan menjagamu."
...💗💗💗💗💗...
Hallo semuaaaa....
Periode Vote sudah ditutup yaaaa.
Kita alihkan Vote nya untuk Jason dan Lia ya
dalam novel 48 months agreement.
Trimakasih dukungannya.
__ADS_1
Semangatttt