
Suasana dalam ruangan ber ac itu tampak tegang. Lima orang berjas hitam dan lima orang berjas abu-abu gelap tampak berwajah tegang. Kedua kubq11u saling berdebat dengan sengit. Saling mengancam tanpa ada kesepakatan.
Perceraian mungkin mudah dikatakan. Tapi ikatan amat susah dilepaskan. Apalagi bila salah satu pihak bersikeukeh untuk mempertahankan. Pernikahan bisnis tanpa surat perjanjian pra nikah. Dan disana terlibat intrik, kekuasaan dan kekayaan. Memutuskan ikatan tersebut seperti melepaskan ikatan benang kusut. Selalu ada jejak yang tak bisa dihilangkan.
"Nyonya Rachel bersikeras menolak perceraian. Dia mengajukan rujuk." ucap salah satu pengacara.
"Tuan Andrew menolak untuk rujuk. Kalian tahu bukan percuma memperpanjang urusan ini." balas pengacara Andrew yang mengenakan jas abu-abu gelap.
"Tidak ada salahnya bukan, kalau kita memberi kesempatan pada mereka untuk rujuk." jawab pengacara pihak Rachel yang mengenakan jas hitam. Rachel telah menjanjikan jutaan dolar apabila mereka berhasil membuatnya rujuk.
"Untuk apa dilanjutkan jika salah satu pihak tidak menginginkan."
"Harus nya klien anda bersyukur, nyonya Rachel tidak menuntut perselingkuhan yang di lakukan klien anda."
"Perselingkuhan? Bukannya klien anda juga melakukan hal yang sama?"
"Itu fitnah. Lihat klien anda tidak ber moral dia bahkan sudah serumah dengan wanita itu."
"Kita disini bukan membicarakan moral, kalau hendak menggali moral, klien anda jauh tidak bermoral sebagai seorang wanita."
"Apa maksud kalian?"
"Kalian sudah melihat bukti yang kami berikan. Dan salah satu video tidak bermoral itu sudah klien kami kirim langsung kepada klien anda."
"Video apa? Semua mengenai perceraian harusnya diberikan melalui kami."
"Karena kalien kami, tuan Andrew masih menghargai martabat klien anda. Tapi karena klien anda sengaja mengulur waktu maka kami akan menunjukan pada anda." ujar kepala pengacara pihak Andrew sambil mengeluarkan sebuah flash disk dan memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memasangkan ke laptop.
Video diputar. Para pengacara berbaju hitam terbelalak.
"Ini?" suara kepala pengacara tercekat.
"Benar itu klien anda."
"Dia bersama..."
"Benar seperti yang anda lihat."
Dalam video tersebut tampak Rachel sedang bersetubuh dengan seorang pria lain yang bukan Andrew.
"Tapi dia tampak terpaksa, tersiksa." protes salah satu pengacara berbaju hitam.
"Apapun itu. Mereka melakukannya bukan hanya sekali."
__ADS_1
"Kalian sengaja merekamnya?"
"Rumah itu adalah milik klien kami. Tentu saja itu hak klien kami memasang kamera. Dan itu kebodohan mereka melakukan di tempat itu." Cemooh pengacara pihak Andrew.
"Video itu baru permulaan. Ada video lain yang lebih luar biasa dan apabila disebarkan akan menghancurkan keluarga besar klien anda, tuntas." sambung kepala pengacara Andrew.
"Sekarang kesabaran klien kami sudah habis. Dalam waktu sepuluh hari klien anda harus menandatangani surah percerian. Jika tidak jangan salahkan kami bila video itu tersebar." Ancam pengacara Andrew.
"Dan satu lagi, kami memiliki saksi mata yang untuk kejahatan klien anda yang bermaksud mencelakakan nyonya Diana. Saksi itu ada dalam perlindungan kami."
Pengacara Rachel tampak diam, mereka terdesak. Jika mereka mengajukan mengenai perselingkuhan Andrew, bahkan Rachel juga melakukan hal yang lebih hina.
Apalagi adanya bukti kejahatan lainnya.
Usaha mereka untuk mengulur waktu perceraian tampaknya memenuhi jalan buntu.
Kini pengacara-pengacara itu hampir tidak mendapatkan keuntungan lebih. Mereka sengaja membantu Rachel untuk mengulur waktu, agar Andrew bersedia memberi bagian harta gono gini yang lebih besar, setelah itu mereka akan mendesak Rachel untuk menadatangani surat perceraian. Harta gono gini seorang bilyoner yang tak terbilang tentunya akan memberikan keuntungan pula bagi para pengacara. Belum lagi bayaran dari Rachel yang besar.
Sekarang, bukannya bagian yang besar yang akan mereka dapatkan bahkan bonus pun akan lenyap. Mereka kalah telak. Setidaknya dengan mempercepat proses akan lebih baik.
"Katakan pada klien anda, tuan Andrew hanya menyisakan rumah itu untuk dirinya. Saham perusahaan juga akan dicabut. Kami sudah menyiapkan draft-draft kesepakatan yang harus ditandatangani."
Pengacara Andrew memberikan sebuah map coklat yang berisi perjanjian perceraian. Semua isi draft tersebut amat tidak menguntungkan pihak Rachel.
"Kami akan membicarakan mengenai hal ini terlebih dahulu dengan klien kami." ucap pengacara berjas hitam tersebut menutup perbincangan hari itu.
********************
"Sialan! Kenapa Sandra tidak bisa dihubungi!" Rachel menggeram marah. Berulangkali dia mencoba menghubungi Sandra tapi selalu gagal. Dua hari sudah Sandra menghilang dari pantauannya. Rachel menggeram karena sekutu yang dia andalkan menghilang. Sekarang dia harus memutar otak lagi bagaimana cara membuat Diana hancur.
Rachel sudah memerintahkan orang suruhan untuk melacak kediaman Sandra tapi sia-sia. Sandra dan keluarganya telah lenyap bagai ditelan bumi. Hal itu tentu saja membuat Rachel geram. Apalagi ketika dia mengetahui kalau Diana baik-baik saja.
Sesaat dia berpikir keras. Kemudian dia teringat sesuatu hal yang membuatnya tersenyum licik. Dia mengambil smartphone dan mulai menghubungi sebuah nomer disana.
"Hallo nyonya Rachel, apa kabar? Aku tidak menyangka kau masih ingat kepadaku. Kau tahu aku baru saja memikirkanmu nyonya, kelihatannya kita berjodoh..."
"Hentikan omong kosongmu!" bentak Rachel dengan jengkel. Kalau saja dia tidak membutuhkan bantuan dari orang tersebut, tidak sudi dia mendengar suaranya.
"Baiklah. Apa yang kau inginkan?" tanya suara diseberang sana.
"Foto-foto yang pernah kau berikan padaku. Tentang wanita itu dengan seorang pria, kau tahu dimana mereka bertemu?"
"Aha, foto Diana dan pria itu? Kenapa kau begitu ingin tahu?" tanya suara itu.
__ADS_1
"Benar. Kau carilah informasi tentang pria itu dan bawa dia kepadaku."
"Apakah itu penting?"
"Kau pikir aku sudi menghubungi orang licik seperti mu jika aku tidak terpaksa." ucap Rachel dengan jengkel.
"Hahahaha. Kau dan Aku sama nyonya." sahut suara tersebut tanpa tersinggung.
"Kau tahu, aku perlu biaya untuk mencari pria itu dan membawanya kepadamu." sambung suara diseberang sana.
"Aku tahu kau akan mengatakan itu, Eva. Jangan khawatir pengenai uang, aku bahkan bisa membelimu." ucap Rachel dengan angkuh pada Eva orang yang sejak tadi dia ajak berbicara melalui telphone.
"Aku percaya kata-katamu nyonya tapi nominal lebih meyakinkan." ucap Eva sambil tertawa renyah.
"Berikan nomer acountmu."
Eva menyebutkan nomer acount nya dan saat itu juga dia melihat jumlah angka yang telah dikirimkan Rachel lima ribu dolar, hanya untuk membawa pria itu kepadanya.
"Kau cukup murah hati nyonya, aku rasa ini cukup sebagai awal."
"Kau bawa pria itu kepadaku, jika dia menuruti perintahku, aku akan memberimu lebih banyak lagi."
"Senang sekali berkenalan dan berbisnis drngan anda nyonya. Hahhahahahah."
Rachel menutup sambungan telphone diantara mereka. Dia menyeringai lebar. Setumpuk strategi sudah mendaftar di benaknya. Banyak rencana yang akan dia laksanakan.
"Kalau aku hancur aku akn menyeretmu, Diana. Kita akan sama-sama merasakan perih Andrew!"
Rachel tertawa garing.
Sebuah telphone masuk. Rachel menerimanya.
"Ya, ada kabar apa?"
"Nyonya, kita harus bertemu. Tuan Andrew menolak rujuk." lapor pengacara tersebut.
"Hahaha bukan hal baru bukan? Kau hanya perlu mengulur waktu saja."
"Tapi ini mendesak nyonya. Mereka mengancam akan menyebarkan sebuah video yang melibatkan anda."
Wajah Rachel berubah tegang. Dia tahu video apa yang dimaksud. Dan dia tahu sisi kelam dan pertarungan akan muncul apabila video itu tersebar. Bukan saja dirinya yang akan terluka, keluarganya juga akan hancur dan bukan tidak mungkin mereka akan mencelakai Andrew.
"Baiklah aku akan bertemu kalian."
__ADS_1