
"Ayo cepat tinggalkan tempat ini." Andrew menarik tanganku dengan kasar.
"Aow sebentar. " Aku setengah berlari mengikuti langkah Andrew yang panjang. Di tangan ku masih memegang keranjang pakaian yang hendak aku coba.
"Andrew sebentar, pakaian ini." Aku mengangkat tas kantong pakaian yang kupegang kehaadapan Andrew. Andrew mengambil kantong itu kemudian melemparkannya pada Briant. Briant dengan sigap sudah menangkap kantong tersebut.
"Lakukan pembayaran." Perintah Andrew.
"Jangan kuatir. Pergilah." Sahut Briant.
"Tapi aku belum mencoba dan memilihnya." Kataku dengan heran melihat tingkah Andrew yang tiba-tiba berubah menjadi aneh.
"Tidak usah dicoba. Kau bisa memberikan pada teman-temanmu mana yang kau tidak suka." Andrew menarik tanganku dan melangkah lebih cepat menuju mobil yang entah sejak kapan sudah berada didepan boutiqe. Mobil yang dikendarai Papito segera melesat membawa kami pergi.
"Andrew bagaimana dengan Conrad!" Aku teringat akan Conrad yang masih berada ditoko mainan bersama dengan Nanny Maria. Aku menoleh kebelakang dan saat itu aku melihat wanita cantik tampak hendak mengejar kami namun tertahan oleh beberapa pria berjas hitam dan bertubuh kekar.
"Jangan kuatir, Briant pasti sudah membawanya pulang." Sahut Andrew seraya menarik tubuhku menghadap dirinya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Andrew setelah menoleh sekilas kebelakang.
"Entahlah, apakah wanita itu memanggil kita?" Tanyaku tidak yakin.
"Lupakan aku tidak mengenal dia." Sahut Andrew dengan cepat. Aku terdiam menerima jawabannya. Perhatianku beralih kearah pergelangan tanganku yang memerah akibat cengraman tangan Andrew.
"Sakit? Maafkan aku." Andrew meraih tanganku, dia mengusap pergelangan tanganku dengan hati-hati kemudian meniupnya lembut dan mencium pergelangan tanganku. Aku tersentuh.
"Kenapa kau tiba-tiba saja begitu tergesa-gesa?" tanyaku tak mengerti.
Andrew tidak menghiraukan pertanyaanku dia tetap diam dan masih mengamati pergelangan tangaku.
"Sudahlah tanganku sudah tidak apa-apa." Aku menarik tanganku dari sentuhan Andrew yang mulai terasa berlebihan.
Andrew membiarkanku dan kemudian duduk bersandar sambil memejamkan matanya. Membuatku pun ikut diam dan tidak melanjutkan pertanyaanku.
Mobil yang di kendarai Papito membawa kami menuju ke rumah. Pintu gerbang segera dibuka, bahkan sebelum Papito membunyikan bel tampaknya penjaga pun sudah mengetahui kedatangan kami dari kejauhan.
Andrew turun dengan menari pergelangan tanganku dan segera masuk kedalam rumah dengan disambut oleh butler Jhon yang tampak kebingungan melihat sikap Andrew yang tampak tegang. Andrew menarikku memasuki kamar. Dalam kamar dia menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur dan memejamkan mata.
Perlahan kulepaskan sepatuku dan meletakannya ke sudut kamar, kemudian kuhampiri dirinya yang masih berbaring diatas tempat tidur. Aku lepaskan sepatu dan kaos kakinya kemudian meletakan disudut kamar. Kembali aku kembali menghampiri dirinya dan duduk disisi tubuh Andrew sambil mulai memijit keningnya yang berkerut. Beruntung saja aku pernah mengikuti kursus memijat. Setidaknya saat ini Andrew tampak mulai relaks.
Di buka matanya dan menengadahkan kepala memandangku yang masih menggerakan jari jemari memberikan sentuhan lembut di pelipisnya. Andrew menggeser posisi kepala dan meletakan di pangkuanku kemudian dia membenamkan wajahnya di perutku dan memelukku.
"Apa yang terjadi, ceritakan bebanmu mungkin aku dapat membantu." Ucapku lirih. Entah mengapa aku merasa ada yang tidak beres dengan semua ini. Sikap Andrew yang berubah tiba-tiba.
Dia terdiam. Aku pun tidak melanjutkan perkataanku dan kembali memijat lembut kepala dan pundaknya. Setidaknya hal ini yang dapat aku lakukan untuk memberinya ketenangan.
"Aku akan memanggil guru bahasa terbaik untukmu dan kau bisa meneruskan kursusmu dirumah." Itu adalah kalimat pertama yang Andrew ucapkan sejak masuk kedalam kamar.
"Tapi Andrew aku masih memiliki beberapa kali pertemuan lagi dengan lembaga kursus sebelumnya." Bagiku sayang sekali membuang uang dengan percuma sedangkan aku sudah membayar full kursus sebelumnya.
"Biarkan saja. Kau tetap dapat belajar didalam rumah."
"Tapi," aku hendak membantahnya namun terdiam dengan nada tinggi Andrew.
__ADS_1
"Turuti perkataanku!" Bentak Andrew.
"Setiap kau hendak meninggalkan rumah beritahu butler Jhon dan aku akan menyiapkan pengawal untukmu." Ucapan Andrew membuatku semakin heran dan tidak nyaman.
"Pengawal?" Aku heran kenapa tiba-tiba aku harus memakai pengawal. Aku hanyalah wanita biasa bukan seorang bintang apalagi putri raja.
"Iya. Mereka akan menjagamu dan menjauhkan dirimu dari segala sesuatu yang mengancam."
"Tapi, apakah itu perlu?" tanyaku heran.
"Selama ini aku baik-baik saja tanpa pengawal." sambungku semakin heran.
"Kau akan lebih memerlukannya saat ini. Sebelumnya aku hanya membiarkan Papito yang mengawalmu. Tapi tidak mulai sekarang." perkataan Andrew masih belum dapat aku mengerti sepenuhnya. Kata-kata pengawal saja sudah membuatku panik. Bukannya aku hendak menyembuyikan sesuatu dari dirinya, tapi melakukan setiap kegiatan dengan diawasi orang lain seakan-akan kebebasanku direngut.
Andrew berbalik menatapku tajam, "Kau mencintaiku?" tanyanya dengan serius.
Aku balik menatapnya dan tersenyum geli, "kau tahu bukan bagaimana perasaanku."
"Katakan dari bibirmu, kalau kau mencintaiku." ujar Andrew setengah memaksa.
"Ada apa dengan dirimu, kau pernah bertanya sebelumnya dan kau tau jawabannya." jujur saja aku terkadang masih merasa malu mengatakannya, karena bagiku mencintai bukan hanya hal yang diucapkan tapi sesuatu yang harus dibuktikan.
Andrew mendorong tubuhku agak keras hingga berbaring ditempat tidur dan dengan cepat dia sudah berada diatasku. Kedua tangannya mengunci lenganku sedangkan lutut kakinya mengunci pahaku. Dia pandangi wajahku tajam takpak tidak sabar lagi.
"Iya Andrew aku mencintaimu." Aku buru-buru mengucapkan kalimat itu dan lagi, "aku mencintaimu." pipiku terasa hangat, pasti saat ini sedang bersemu merah. Kuangakat tangan kananku dan mulai membelai wajahnya. Andrew memejamkan mata tampak menikmatinya.
"Apakah kau akan meninggalkanku apabila aku melakukan kesalahan?" tanyanya.
Keningku berkerut, apa lagi ini kenapa hari ini dia tiba-tiba menjadi melankolis. Andrew yang gagah dan penuh percaya diri. Dia yang selalu memerintah dan mengambil kendali tiba-tiba seperti anak kecil yang takut kehilangan permen.
"Katakan apakah kau akan meninggalkanku apabila kau mengetahui sisi lain diriku?" tanyanya lagi dengan menatapku tajam. Pandangan matanya menyiratkan kalau dia tidak bercanda. Aku tidak tahu apa yang terjadi tetapi saat ini dia menunggu jawabanku.
"Apakah kau berselingkuh?" akhirnya aku melontarkan pertanyaan yang selama ini mengganggu pikiranku. Tampak Andrew tersentak kaget.
"Kau pikir aku berselingkuh darimu?" tanya nya kepadaku.
"Entahlah, terkadang aku takut memikirkannya." jawabku dengan sendu.
"Ingatlah Diana. Aku mencintaimu dan tidak pernah menduakanmu. Tidak akan pernah!" ujar Andrew dengan tegas membuatku bernafas lega.
"Aku mencintaimu dan akan selalu disisimu apapun yang terjadi. Asal..." aku terdiam sesaat.
"Asal apa?" tanya Andrew tidak sabar.
"Asal kau tetap mencintaiku. Kalau kau sudah bosan dan membuangku, aku tidak punya alasan untuk tetap bertahan."
"Itu tidak akan terjadi. Ingat kata-katamu! Kau harus tetap disisiku apapun yang terjadi dan selalu mencintaiku." kata-katanya menegaskan kalimatku.
Aku menganggukan kepalaku sambil menatapnya lembut dan kembali membelai wajahnya.
Andrew tampak puas dan sudah bisa santai, dia merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Terasa berat dan menghimpit dadaku, tapi aku biarkan karena hal ini tampaknya yang dia perlukan.
Aku belai rambut belakang dan pundaknya serta aku kecup perlahan rambut disisi. "Andrew, aku susah bernafas." ucapku lirih. Andrew segera menggeser tubuhnya kesamping dan memeluk diriku. Membenamkan tubuhku dalam pelukannya yang hangat.
__ADS_1
Aku tidak tahu apa yang terjadi, kesalahan besar apa yang telah dia lakukan. Kejadian tadi di boutiqe apakah salah satu hal yang dia sembunyikan. Setelah menunggunya terlelap, perlahan aku melepaskan diri dari pelukan dan mulai keluar kamar.
Aku menengok ke kamar Conrad di seberang ruang keluarga di lantai dua. Tampaknya Conrad sudah tidur siang ditemani nanny. Wanita pengasuh itu menganggukan kepalanya dan tersenyum padaku.
Segera aku turun ke lantai bawah dan mencari butler Jhon. "Butler Jhon apakah Briant ada disini?"
Butler Jhon tersenyum ramah padaku, " iya nyonya dia berada di rumah keamanan." Aku segera mencari Briant yang berada di samping bangunan utama. Butler Jhon berusaha mencegahku tapi tidak aku menghiraukannya. Rumah keamanan itu hampir tidak pernah aku kunjungi. Menurut butler Jhon rumah itu merupakan kantor sekaligus kediaman dari sekurity. Dan saat ini aku baru saja mengetahui kalau rumah itu bukan saja tempat kerja dan kediaman sekurity melainkan beberapa bodyguard juga. Hal itu tampak ketika beberapa orang pria dengan otot-otot besarnya berada disekitarannya.
"Briant," panggilku.
"Kakak ipar. Apa yang kau lakukan disini?" Briant tampak terkejut melihatku.
"Barang-barang kakak ipar sudah aku berikan pada butler Jhon. Mari kembali ke rumah utama sebelum Andrew mengetahui kakak ipar ada sini" Kata Briant lagi.
"Sudah tidak apa-apa, aku tidak ingin dia mendengarku. Apa yang terjadi tadi, kenapa Andrew tampak aneh?" tanyaku penasaran.
"Sebaiknya kakak ipar bertanya pada Andrew." ujar Briant.
"Dia tidak mengatakan apa-apa. Apakah hal itu penting atau berbahaya? Apakah ada yang mengancam keselamatan dirinya?" tanyaku dengan kuatir melihat sikap tertutup mereka.
"Tidak ada yang perlu ada kuatirkan kakak ipar."
"Huh! kau sama saja dengan Andrew." aku mendengus kesal.
"Maafkan aku kakak ipar."
"Berhenti memanggilku kakak ipar. Kau membuatku tidak nyaman. Aku bahkan belum menikah dengan dirinya."
"Apakah itu penting?" tanya Briant sambil mengerutkan keningnya.
"Maksudmu?" aku belum dapat mengerti arah pertanyaannya.
"Pernikahan. Tanpa pernikahan pun semua orang, teman atau musuh tau kalau kakak ipar adalah wanita yang dicintai oleh Andrew." ujar Briant.
"Semua orang tahu?" tanyaku heran. Karena aku bahkan tidak pernah menghadiri pertemuan sosialita bersama Andrew.
"Semua teman dan lawan sudah tau siapa anda, kakak ipar. Oleh sebab itu Andrew meletakan pengawal disekitar anda."
"Apakah kami dalam bahaya?" tanyaku tidak mengerti.
"Tidak kakak." Jawab Briant dengan tegas membuatku bernafas lega. Aku akhirnya beranjak meninggalkan rumah karena percuma juga berada lama ditempat ini, Briant akan tetap tutup mulut dengan apa yang terjadi. Didepan pintu keluar aku berbalik menatap Briant.
"Pernikahan itu penting. Kalau tidak penting kenapa juga Agama dan Negara repot-repot memiliki hukum yang tertulis." Ucapku dengan tegas sebelum meninggalkan ruangan dan membiarkan Briant mencerna perkataanku.
*lalu apa yang aku lakukan saat ini, hidup dengan pria tanpa ikatan pernikahan yang aku anggap penting.
Β
ππππππππππ*
Β
Hai readers, apa kabar kalian?
__ADS_1
Mohon dukungannya ya terhadap karyaku, bantu like tiap chapter bisa ditambah koment terlebih lagi vote bila berkenan.
Terimakasih banyakkk yaaaa.