
Aaron dan Francesca sedang asyik bermain. Aaron tampak sibuk dengan hot wheel baru nya, sedangkan Francesca mulai menyisir boneka LoL nya yang berambut pirang seperti rambutnya.
"ngong...ngonggg... ngeeeenggggg." Aaron tak hentinya mengeluarkan suara mesin mobil.
Dia tampak sangat gembira dengan semua variasi mobil baru tersebut, yang sedang berjalan dengan aktif diatas jembatan layang ala hot wheel.
"Aaron berisik ah." Francesca protes.
"Alon ndak belisik. Ini mobio nya yang bunyi. lagi balapan. ngongggg.... ngenggggg....ngonggggg."
Aaron menirukan bunyi mobil tersebut.
"Ayo nanny, lihat, itu mobilnya jatuh. Hahahaha." Aaron tertawa terpingkal-pingkal, melihat sebuah mobil yang melayang dan jatuh.
"Mobilnya terbang, ya." nanny Matilda menimpali.
"Iyaaa... mobil telbangggg.. wushhhh." Aaron melayangkan mobilnya di atas kepala Francesca.
"Alon, nanti rambut Frances rusak lagi loh."
Fransesca protes ketika kepalanya digunakan sebagai landasan.
"Sebental saja malah, nanti mukanya kaya nanny, keliput." sahut Aaron dengan asal.
"Ah masa sih muka nanny keriput?" Nanny Matilda meraba wajahnya. Usianya baru di awal lima puluh dan dia tergolong memiliki wajah yang bulat tembem.
"Sudah tenang saja, nanti Alon setelika biar lulus lagi."
"Ih Aron memang nya wajah nanny baju do seterika segala," Nanny Matilda bergidik membayangkan wajahnya di seterika Aaron.
__ADS_1
"Ya udah kalau ndak mau, bial keliput aja."
"Iya biar keriput saja, yang penting Aaron sayang kan sama nanny?" Nanny Matilda mengembangkan senyuman.
"Iya deh Alon sayang bial gak nangis, nanti keliputnya tambah banyak, pusing."
Aaron dengan gaya dewasa memengang kening sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aaron cantik kan boneka ku?"
Franesca memamerkab boneka yang baru saja dia sisiri dengan rapi. Aaron menghampiri dan mengamati. Kemudian dia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Iya cantik. Sedikit."
"Loh kok sedikit?" Protes Francesca dengan melotot.
"Iya, itu boneka nya milip Flances, jadi cantiknya sedikit." sahut Aaron tanpa perasaan.
"Cantik... sedikit tapi."
"Kok sedikit. Frances mau banyakkk." Francesca hampir menangis.
"Aduh pusing, cewek suka menangis." Aron kembali menepuk-nepuk keningnya.
"Habis Aaron bilang Frances dan boneka LoL ini tidak cantik." Sahut Francesca dengan cemberut.
Aaron kemudian berjalan ke arah lemari boneka Francesca, mengambil kursi dan menaiki kursi tersebut. Dengan sedikit menjijit dia mengambil sebuah boneka barbie berambut hitam. Kemudian dengan sikap seorang guru, Jason menghampiri Francesca.
"Lihat ini. Bedaaaa kan sama bonek LoL. Bonek itu rambutnya sama kaya Flances, pipinya gemuk kaya Flances, telus pendek juga kaya Flances. Ya kannn?" Aaron menjelaskan pada Frances yang sibuk mengamato boneka LoL do tangannya.
__ADS_1
"Tapi bonekanya lucu." sahut Francesca.
"Iya lucu. Tapi ndak cantik." Kata Aaron dengan tegas.
"Lihat ini, ini balu cantik kaya mommy." Aaron menunjukan boneka barbie yang baru saja dia ambil dari lemari mainan Francesca.
Francesca mengamati boneka yang di pegang Aaron membandingkan dengan LoL yang dia pegang. Tentu saja berbeda keanggunan dan kecantikannya.
"Lihat lambutnya hitam, oanjang dan halus kaya punya mommy. Kulitnya cleam kaya punya mommy." Aaron kembali berargumentasi.
Francesca mengangguk, menyetujui pendapat Aaron.
"Frances nanti kalau sudah besal mau cantik kaya mommy." Francesca berbicara dengan nada penuh harap.
"Ndak bisaaa... Ndakkk bisaaaa." Protes Aaron.
"Kenapa ndak bisa. Aku mau kaya mommy." protes Francesca.
"Lambut Flances pirang dan kulit Flances melah kaya babi."
"Kulit Flances ndak kaya babiiii."
"Iyaaaa kaya babiiiii..."
"Huaaaaaa.... Flances ndak kaya babiiiii..."
"Aaron yang kaya babiiiii!"
"Ndakkk kulit Alon kaya mommy, gak kaya babi."
__ADS_1
...πππππππ...