
Aku kembali pada habitatku sebagai seorang yang biasa seorang bartender pekerja yang mengais dolar untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Pekerjaan yang menyenangkan tapi tidaklah mudah. Pekerjaan yang berat dan kehidupan yang monoton dan terkadang membuat kita menjadi stress. Dan itu kembali bagaimana kita menerima dan berusaha mencintai pekerjaan kita.
Menjadi seorang bartender pun bukan berarti kita harus menjual minuman sampai mereka mabuk agar mendapatkan pemasukan banyak, tapi tetap saja ada batasan - batasan yang harus di patuhi. Misalnya tidak menjual minuman beralkohol pada anak dibawah umur ataupun mereka yang sudah mulai bertingkah.
Keluhan para pelanggan pun harus kita terima dengan senyuman. Pelanggan adalah nomor satu. Seperti saat ini. Aku tidak tahu apa salahku ketika wanita ini berteriak marah padaku, wanita yang sepertinya begitu membenciku dan entah kenapa aku merasa pernah bertemu dengannya disuatu tempat.
" Kamu gila, minuman macam apa ini ?! " wanita tersebut meludah dihadapanku dan hampir mengenai wajahku.
" Maaf nyonya, saya akan menggantinya dengan yang baru. " Aku berusaha sabar dan mengambil minuman yang dia letakan dimeja bar. Aku racik lagi sesuai pesanan dengan lebih berhati - hati.
" Kamu memang tidak becus bekerja, cih !" Dia melemparkan minuman tersebut membasahi pakaianku. Aku merasa syok. Seburuk - buruknya tamu yang pernah berkunjung , tidak satupun dari mereka yang pernah bersikap kasar seperti wanita ini.
" Biar saya yang menggantinya Nyonya . " Kali ini Maya maju karena prihatin dengan keadaanku.
" Panggil aku N.O.N.A bukan nyonya !" dengan cemberut waniya itu berbivara sambil melirikku tajam setajam silet.
" Iya Nona. " Maya tersenyum ramah. Kemudian brjalan kearahku yang masih berusaha mengeringkan pakaian dengan tisyu.
" Sana pergi ganti baju mu, biar aku yang mengurus bitc**s ini. " Maya berbisik padaku dan aku akhirnya pergi meninggalkan maya dan wanita yang sudah bersikap kasar tersebut.
" Ini baru betul. Temenmu gak becus bekerja. Apa saja yang dia bisa selain merayu pria hahahahaha ?" Suara wanita itu menggelegar ditelingaku. Meskipun kaki ku sudah melangkah meninggalkan bar, tapi masih bisa aku dengar jelas kata - katanya, berarti dia sengaja berteriak agar aku mendengarnya dengan jelas. Aku tidak mengerti mengapa dia tampak begitu membenciku.
Menuruni lift aku kembali ke cabinku yang sempit, berbeda sekali dengan kamar mewah di Condominium Andrew. Aku basuh diriku dengan air dingin dan mencuci seragamku.
Kucoba menahan tangis dan menghela nafas panjang, sambil bernyanyi kecil aku mencoba menghilangkan perasaan buruk dan ingatan akan kejadian tadi.
Setelah selesai, aku kembali naik ke area kerjaku, Dengan diam - diam aku mengintip memastikan kalau wanita tersebut telah pergi. Agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.
**********
Sepeninggal Diana yang hendak mengganti pakaiannya. Wanita itu duduk sambil menghisap Pinacolada buatan Maya.
" Kau tahu aku benci sekali melihat wajah dan sikap temanmu tadi. Wajah sok manis sok suci !" wanita itu mulai berbicara menunjukan ketidak sukaannya pada Diana.
" Hati - hati kalian, model seperti dia itu penggoda pria. Perebut kekasih orang. " Kembali dia berbicara dengan sorotan mata penuh rasa kesal.
__ADS_1
" Hei kau ! Kau sudah punya pacar ? " tunjuk wanita itu kepada Ramona .
" Saya sudah bersuami nona. " Jawab Ramona.
" Nah itu ... itu.. hati - hati dia bisa merayu suamimu untuk uang. hahahahhahaha !!!" tawanya terasa hambar.
Ramona hanya diam bingung dengan sikap wanita tersebut, bagaimana bisa merebut , suaminya saja ada dirumah tidak bekerja di kapal.
" Tapi mungkin tidak juga, kalian bartender berapa sih punya gaji. Suami mu pasti bukan selera dia. " Sambung wanita itu tadi.
" Selera wanita seperti dia ya bos - bos kaya. Tamu - tamu konglomerat kan ?" Wanita itu mendesah kesal.
Maya dan Ramona hanya diam saja tidak ikut menanggapi perkataan wanita tersebut. Mereka tetap melayani tamu - tamu lainnya yang datang dan pergi karena merasa tidak nyaman melihat wanita yang tampaknya patah hati.
Maya memperhatikan wanita yang sedang berbicara tak karuan dengan kemarahan yang tak dia mengerti. Wanita tersebut cantik, rambut pirang dan mata birunya tampak menonjol di kulitnya yang putih kecoklatan karena berjemur. Mata, hidung, bibir dan tubuh yang sempurna entah asli ataupun buatan. Yang pasti setiap inchi tubuhnya begitu halus bak pualam. Sayang sekali kecantikannya tidak diimbangi dengan tutur kata dan sikap yang baik.
Ramona menghampiri Maya dan berbisik , " Kamu kenal wanita itu ? Apakah dia tamu regular di Kapal ?"
" Aku tidak mengenalnya. Tapi mungkin dia tamu regular." Maya menunjukan kartu berwarna gold kepada Ramona.
Kartu itu adalah kartu identitas para tamu di kapal pesiar, dengan satu kartu multifungsi, dapat digunakan sebagai kunci kamar, metode pembayaran maupun identitas keluar masuk kapal apabila mereka turun berlibur di darat. Kartu wanita tersebut berwarna gold yang berati bukan pertama atau kedua kalinya dia bergabung dengan kapal pesiar dalam group Fantasi.
" Meredith. hmmm .... kaya nya harus buat note kesetiap bar agar mereka berhati - hati dengan wanita ini. " bisik Ramona kepada Maya.
" Nona ini nota anda. " Maya menyodorkan nota yang kemudian ditandatangani nya dan membubuhkan tip disana.
" Ini tip buat kamu $100. Lihat aku wanita baik hati bukan. Catat Namaku Meredith. " Maya setengah melotot melihat tip luar biasa besar yang diberikan wanita tersebut.
" Terimakasih nona. Benar ya ini $100 tip buat saya ?" setengah tidak percaya karena biasanya tamu hanya memberikan tip 0.5 -5. Kecuali hari terakhir liburan mereka akan mendapatkan tip lebih sebesar $ 20-100 yang hanya didapatkan dari tamu - tamu dermawan.
" Iya buat kamu. Aku baik bukan. " Wanita itu menyombongkan diri. Maya hanya mengangguk - angguk dan tersenyum lebar.
Kemudian wanita itu dengan bikininya yang sangat mini, berjalan melenggak diantara pria- pria yang sedang berjemur. Mereka melirik wanita tersebut, ada yang secara langsung menatap ada yang sembunyi - sembunyi karena takut dengan istri mereka.
*******
Setelah melihat wanita tersebut meniggalkan bar . aku berjalan kedalam bar dan kembali bergabung dengan Maya dan Ramona untuk kembali bekerja.
__ADS_1
" Din, wanita yang tadi marah - marah sama kamu, memberi tip yang besar, coba lihat. " Maya menunjukan kertas yang bertuliskan tip sebesar $100.
" Iya cek, banyak sekali ya. Kamu beruntung deh. "
" Aku bagi dua nanti ya sama kamu. "
" Enggak cek.Buat kamu saja.Kamu kan yang melayani dia. " Aku menolak pemberian Maya.
" Tapi kan awalnya kamu yang melayani dia. " Maya masih mendesak.
" Enggak cek. Dia puas dengan pelayananmu itu artinya adalah hak mu. Its your lucky day." Aku tersenyum memberi semangat .
" Beneran yaaa .. gak nyesel yaaa... " Maya melonjak kegirangan.
" Loh aku gak dibagi ? " tanya Ramona.
" Iya nanti aku beliin kamu mie korea di crew bar. " jawab Maya asal.
" Kirain dapat $10-$20 dolar. " sahut Ramona sambil setengah cemberut.
" Mau gak mie korea ?"
" iya... iya... mau... " Kami tergelak bersama - sama. Belum selesai tawaku. Tiba - tiba kau merasakan dingin disekujur tubuhku. Ketika aku menoleh aku kembali melihat wanita itu datang dan sudah menguyur tubuhku dengan satu timba air es dengan butiran es yang masih utuh.
Aku menoleh dan memandang wanita tersebut sambil menahan air mataku.
apa salahku hingga dia bersikap seperti ini padaku.
Wanita itu hanya tersenyum sinis dengan wajah puas melihat keadaanku yang basah kuyup dan meninggalkanku .
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Hi guysss.... ini penampakan dari kamar staff kapal pesiar yaaa... biar makin menginspirasi.
Bantu Vote dan like nya yaaaa..
Thankyouuu
__ADS_1