Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
ibu seperti ibu mu


__ADS_3

Caroline hendak keluar dari kamar itu, ketika dia mendengar samar-samar isak tangisan. Caroline kembali dan mencari asal suara itu. Kemudian matanya tertuju pada lemari yang terkunci rapat. Tangan Caroline terulur hendak menyentuh gagang pintu lemari itu.


Tetapi suara itu menghilang. Caroline memastikan pendengaranya lagi. Kemudian dia mencoba untuk membuka pintu lemari itu. Terkunci. Caroline merasa aneh. Kemudian dia menarik dengan kasar gagang pintu lemari.


Caroline terus menarik dengan kasar pintu lemari itu. Hingga suara brak. Brak. Brak. Terdengar dengan nyaring berulang-ulang. Francesca yang berada di dalamnya menjadi ketakutan. Dia menangis dengan tangan yang menutupi mulutnya.


Tempat persembunyian teraman yang dia miliki sekarang hampir ketahuan. Suara Francesca tercekat. Air mara gadis kecil itu berhamburan membasahi boneka yang dia peluk erat. Dalam ketakutannya dia teringat sosok ibu yang diceritakan Conrad. Dia ingin memiliki ibu yang seperti itu. Ibu yang menyayangi dan selalu memeluknya.


Tapi saat ini, wanita yang bermata merah dan mengamuk itu adalah ibu nya. Ibu yang bagaikan singa kelaparan, tega menyakiti anak kandungnya. Francesca menangis terisak. Dan Caroline mendengar isak tangis yang tertahan disana. Caroline semakin mendobrak dengan keras, hingga pintu itu hampir terkuak.


Francesca yang melihat bayangan Caroline, berteriak tertahan. Dia menjerit ketakutan. Caroline menyeringai penuh kemenangan.


Caroline semakin garang menarik gagang pintu itu. Dan akhirnya pintu itu terbuka.


Caroline menarik Francesca dengan kasar.


"Ampun mommy. Ampun," teriaknya histeris.


"Berani-beraninya kau bersembunyi dari ku. Anak nakal." Caroline melemparkan Francesca ke atas kasur. Tubuh kecil kurus itu terpelanting hampir membentur dinding. Tangan Caroline terayun hendak menampar Francesca.


"JANGAN! Jangan pukul dia." Teriak Conrad.


Conrad memutuskan keluar dari kamarnya ketika mendengar teriakan pilu Francesca. Dia tidak tahan mendengar teriakan pilu Francesca. Dan apa yang dia lihat saat ini, terlalu mengerikan bagi seorang anak kecil. Conrad tidak menyangka, wanita yang melahirkannya bisa tampak mengerikan seperti itu.


"Diam disana kau! Ini urusanku dengan dia!" Bentak Caroline.


Caroline yang berada di bawah pengaruh alkohol, sudah tidak bisa lagi menyembunyikan warna aslinya di hadapan Conrad. Caroline menarik rambut Frabcesca, menghempaskannya dan mencengkeram bahu gadis kecil itu diatas kasur, dia bersiap menampar bocah kecil itu.


Conrad yang melihat hal itu segera meloncat kearah Caroline. Dia mendorong punggung Caroline hingga wanita itu jatuh disisi tempat tidur. Caroline mengerang. Keningnya terbentur lantai.


Caroline yang marah tidak menghiraukan rasa sakit, dia bangun dan menerjang Conrad. Sekarang ia berganti mencengkeram bahu bocah itu. Caroline menampar Conrad.


"Sudah aku bilang jangan ikut campur urusanku!" Plak! Plak!


Conrad berteriak menahan sakit. Seumur hidup dia tidak pernah merasakan sakitnya di pukul. Bahkan Rachel pun tidak pernah menampar dirinya. Meskipun Rachel tidak pernah menyayangi dirinya, tetapi wanita itu juga tidaj pernah main tangan.


Francesca yang ketakutan, tidak tega melihat Conrad. Dia bergerak cepat mendekati ibunya dan menarik rambut Caroline agar wanita itu melepaskan Conrad. Di jambaknya rambut Caroline kuat-kuat.


"Jangan mommyyyy!!!" Teriak Francesca.

__ADS_1


Dan kedua tangan kecil itu menarik rambut Caroline dengan sangat kuat, saat itu lah, rambut Caroline terlepas. Francesca jatuh terduduk dan memandang ketakutan rambut palsu Caroline di tangannya. Dia tidak mengerti kenapa rambut Caroline bisa terlepas.


Caroline yang menyadari rambut palsunya lepas menjadi histeris. Dia berteriak sambil memegang kepalanya. Rambut asli Caroline ternyata sangat pendek, hampir gundul menyerupai pria.


"Berikan rambutku. Berikannnn. ANAK nakallll aku akan membuat kalian jeraaaaaaa!!!!"


Caroline merampas rambut palsunya dari tangan Francesca. Dia dengan panik memasang secara acak rambut itu di atas kepalanya.


Saat Caroline sedang panik dengan rambut palsunya, Conrad segera berlari ke arah Francesca yang termangu ketakutan. Dia menarik tangan gadis kecil itu dan berlari keluar kamar.


"Hei jangan pergi kalian." Teriak Caroline yang baru saja selesai membenahi rambut palsunya dan masih miring.


Caroline keluar dan mencari mereka di sepanjang lorong. Membuka setiao kamar dan lemari di lantai atas. Tetapi dia tidak dapat menemukan kedua anak itu.


"Dimana kalian! Ayo keluar kemari! Kalian harus aku hukum! Kemari anak-anak nakalllllll!!!!" Caroline kemudian menengok ke lantai bawah dan dia melihat Lena membawa kedua anak itu pergi ke arah belakang.


Caroline segera berlari mengejar. Dia berjalan dengan agak limbung karena mabuk. Caroline menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Dan saat itu dia tergelincir. Wanita itu jatuh bergulingan di tangga dengan keras dan tergeletak di lantai bawah.


Darah mengalir dari kepala Caroline. Wanita itu pingsan. Lena yang mendekap anak- anak, menoleh ke arah Caroline. Dia menyaksikan wanita itu tergeletak di lantai.


Conrad masih mendekap Francesca. Dia pun melihat darah yang mengalir dari kening Caroline. Dan Conrad ketakutan. Tangannya menutupi telinga Francesca dalam dekapanya.


Lena dengan segera membawa kedua anak itu ke dapur. Dia kemudian menelphone ambulans. Setelah menghubungi ambulans dia kembali mendekap kedua anak kecil itu.


Lena mengambil dua gelas air putih dan memberikan kepada mereka.


"Bibi, bisa tolong ambilkan tas ku diatas?" Pinta Conrad dengan memelas.


Lena menatap Conrad bingung. Karena jika hendak kelantai atas, maka dia harus melewati tubuh Caroline. Dan itu cukup mengerikan melihat wanita itu terkapar dengan bersimbah darah.


"Tolong, aku harus menghubungi daddy." Pinta Conrad lagi.


Lena akhirnya menyanggupi dia naik ke lantai atas dengan perlahan. Dengan ngeri dia melintasi tubuh Caroline. Mata itu terpejam seolah tidur. Lena tidak tahu, apakah wanita itu masih hidup ataukah sudah mati.


"Kakak," panggil Francesca.


"Iya," jawab Conrad.


"Aku ingin punya mommy seperti mommy mu. Mommy yang menyayangiku. Mommy yang memelukku," kata Francesca dengan terisak.

__ADS_1


"Iya aku tahu." Ujar Conrad dengan menepuk punggung gadis yang berusia lima tahun itu.


"Apakah Frances bisa memiliki mommy seperti itu?" Ucap nya lagi dengan sendu.


"Aku akan membawa mu kepadanya," janji Conrad.


"Aku mau punya mommy yang baik, kakak. hikss..."


Lena turun dari lantai atas. Dan saat itu terdengar bunyi ambulans datang. Lena segera memberikan tas kepada Conrad dan bergegas menuju ke depan, untuk membukakan pintu. Ternyata mandor yang biasa menjaga tertidur dengan pulas. Bahkan tidak menyadari kedatangan ambulans.


Saat mobil memasuki pagar, mandor itu terjaga dan memandang juru rawat dengan kebibgungan. Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Para Juru rawat itu segera memeriksa keadaan Caroline. Mereka membuat pertolongan pertama.


Conrad saat itu sudah mengeluarkan handphone dan menghubungi Andrew.


"Haloo Conrad. Haloo kau dimana nak?" Jawab Andrew segera.


"Daddy. Daddy. Maafkan Conrad. Tolong jemput Conrad. Ada banyak darah disini." Conrad akhirnya menangis ketika dia mendengar suara Andrew.


Dia menumpahkan rasa takut dan leganya bersamaan saat Andrew menjawab telphone nya dengan khawatir. Conrad tahu sekarang, rumah ternyaman, keluarga terbaik yang sudah dia miliki tidak dapat tergantikan


"Tenangkan dirimu. Daddy akan menjemputmu segera." Ujar Andrew.


"Aku di Tuscany daddy."


"Ya aku tahu nak. Apakah Caroline bersamamu?"


"Dia.... dia mabuk dan jatuh dari tangga. Daddy, aku mau pulanggg! Aku tidak mau disini. Semua mengerikan disini. Cepatlah kemari." Isak pilu Conrad.


Seberapapun dia mencoba bersikap dewasa dihadapan Francesca. Tetapi pada akhirnya, Conrad hanyalah seorang bocah. Dia masih memerlukan orang tuanya.


Andrew yang merasa cemas mendengar tangisan Conrad. Meminta supir untuk mempercepat laju kendaraan. Pesawat pribadi Andrew sudah tiba di Tuscany sekitar dua jam yang lalu.


Awalnya Andrew berniat untuk menghampir Caroline esok hari. Namun, dia mengurungkan niatnya, karena hari sudah larut malam. Tetapi ternyata naluri seorang ayah juga bisa bekerja.


Andrew yang merasa gelisah, akhirnya memutuskan untuk berangkat malam ini juga di kediaman Caroline. Saat di pertengahan jalan, Conrad menelphone.


Andrew merasa lega, karena akhirnya Conrad mau menghubunginya. Sepanjang perjalanan dia berusaha menenangkan Conrad dengan tidak memutuskan sambungan telphone.


Andrew tiba bersamaan dengan ambulans yang pergi membawa Caroline. Dia segera masuk kedalam rumah dan mendapati anaknya sedang berpelukan dengan seorang bocah kecil. Melihat kedatangan Andrew, Conrad langsung berlari kepelukan ayahnya.

__ADS_1


"Daddyyyyyy!!!"


...💗💗💗💗💗...


__ADS_2