Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Aku mau pulang


__ADS_3

Andrew membawa Diana pulang kembali ke mansion, sesampainya di mansion dia membopong gadis itu kekamar mereka di lantai atas. Butler Jhon yang melihat keadaan Diana menjadi ikutan panik. Dia segera menghubungi dokter keluarga yang biasa merawat Andrew. Dibalik pilar rumah, seorang pelayan bersembunyi dan menyeringai melihat tuannya datang membawa nyonya muda dalam keadaan pingsan.


Di dalam kamar Andrew membaringkan Diana. Hati Andrew begitu sedih melihat keadaan kekasih hatinya. Sejak di perjalanan dari Condominium menuju Mansion Andrew tak henti-henti nya memeluk dan membelai wajah Diana. Berkali-kali pula dia mengutuk Rachel. Kebenciannya pada Rachel mencapai level puncak. Saat ini tanpa memperdulikan tangannya yang terluka kembali Andrew menghantam tembok meluapkan emosi yang sempat dia tahan selama beberapa saat.


Butler masuk tanpa mengetuk pintu ketika mendengar Andrew menghamtam tembok.


"Jangan lakukan itu tuan Andrew. Jangan menyakiti dirimu."


"Aku benci wanita itu Jhon! Lihat apa yang dia lakukan pada Diana. Aku seharusnya segera menuntaskan masalahku dengannya." suara Andrew tersengar geram. Matanya memerah karena air mata yang menumpuk sedangkan wajahnya merah padam, menghitam karena amarah yang berkobar.


"Tenangkan dirimu tuan. Semua akan selesai pada waktunya. Semua akan baik-baik saja." Butler mengambil kotak p3k dan segera mengobati luka ditangan Andrew.


"Tapi dia sekarang membenciku, Jhon. Apa yang harus aku lakukan?" keluh Andrew sambil memandang Diana yang terbaring lemah.


"Nyonya muda memiliki hati yang penuh dengan cinta. Beri dia waktu tuan, saya rasa dia akan mengerti dan memaafkan anda." Butler Jhon memberi semangat pada Andrew.


"Benarkah?" tanya Andrew ragu. Butler Jhon mengangguk dengan mantap.


"Apakah saya perlu memanggil pelayan wanita untuk membersihkan diri nyonya?" tanya butler Jhon.


Andrew menoleh pada Diana yang masih mengenakan gaun yang sama dari pagi dan wajahnya yang sembab.


"Biar aku yang melakukannya. Tolong siapkan air panas."


Dengan sigap butler jhon menyiapkan sebuah tempat air yang terbuat dari perak. Mengisinya dengan air hangat dan meletakan di meja di samping tempat tidur.


"Saya akan menyiapkan minuman hangat dan menanti kedatangan dokter Michael." kata butler Jhon sambil menyerahkan handuk kecil kepada Andrew.


Andrew tidak menjawab, dia mengusapkan handuk hangat tersebut di wajah Diana, melepas pakaian wanita tersebut, mengusap seluruh tubuhnya dengan air hangat dan menyeka dengan handuk hingga menggantinya dengan gaun tidur. Bahkan Andrew yang membenci menyentuh maupun mencium bau minyak gosok, rela menuangkan dan mengoleskan ke tubuh Diana agar tubuh gadis itu menjadi hangat dan segera pulih.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud menyembunyikannnya, tetapi semakin mengenalmu membuatku semakin takut kehilangan dirimu." lirih suara Andrew disamping Diana. Dia bahkan tidak menghiraukan keadaan dirinya yang kacau.


*******


Tak lama kemudian dokter keluarga datang. Dokter yang merupakan salah satu sepupu jauh Andrew dari pihak ibunya masih terlihat tampan diusia empat puluh tujuh tahun. Dokter Michael kemudian sedera memeriksa Diana, sesaat dia mengernyitkan keningnya.


"Aku akan mengambil sampel darahnya." ujar dokter tersebut.

__ADS_1


"Apakah itu perlu, separah itukah?" tanya Andrew panik.


"Tidak. Hanya untuk berjaga-jaga saja sekaligus memastikan kondisinya." sahut dokter tersebut dengan cepat. Sekilah Andrew melihat kegugupan di mata dokter tersebut tapi dia tepiskan pikiran untuk bertanya lebih lanjut ketika dokter Michael mengatakan, "Tidak ada tanda-tanda buruk terjadi padanya. Diana dalam kondisi sehat, dia hanya tertidur. Tampaknya dia syok berat, Andrew."


Ahh.. Andrew mendesah lega.


"Biarkan dia beristirahat. Kau pun perlu beristirahat. Basuh dirimu dan berbaringlah di sisinya." saran dokter Michael.


"Baiklah." jawab Andrew dengan sendu.


Dokter tersebut memandang Andrew dengan iba. Dia sudah mengenal Andrew sedari kecil dan Andrew menganggap dirinya sebagai kakak. Dia tahu bagaimana kehidupan Andrew sedari kecil. Dalam sekeluarga besarnya hanya Briant dan dokter Michael sepupu terdekatnya.


"Kau tahu, gadis ini mencintaimu? Dia bukan seperti wanita lain yang sekedar menginginkan hartamu. Tapi dia mendampingi, merawat dan memberimu keluarga." dokter Michael terdiam sejenak memperhatikan Andrew. Kemudian dia melanjutkan lagi.


"Aku mendengar dia seringkali berhadapan dengan wanita-wanita yang pernah dekat denganmu. Tapi dia tetap berjuang dan memperlakukanmu dengan baik." Andrew masih diam mendengarkan kata-kata dokter Michael. Dia mengakui betapa besar perjuangan Diana disisinya.


"Bahkan dia merelakan masa muda dan kebahagiaannya. Dia bisa saja memilih orang lain, menikah, memiliki anak kandung dan bahagia. Tapi, bahkan kehidupan di condominium saja dia sudah bahagia."


"Sekarang apa yang akan kau lakukan untuk memberinya kebahagiaan? Akankah kau melepaskan jika dia meminta?" Andrew tersentak. Pertanyaan dokter Michael terlalu menyakitkan untuk di dengar oleh Andrew.


"Aku juga mencintainya kau tahu itu! Aku meninggalkan semua kegilaanku karena dia! Aku memberikan dia segalanya! Dia adalah cahaya hidupku. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan dia? Bagaimana mungkin..." suara Andrew yang awalnya dipenuhi emosi berlanjut melemah dan frustasi.


"Pergi! Tinggalkan aku sendiri! Aku tidak mau mendengar kata-katamu!" Andrew menjadi geram. Dia membentak dokter Michael sementara kedua tangannya mengepal.


Dokter Michael menarik nafas panjang dan menepuk pundak Andrew kemudian meninggalkannya sendiri.


Dia menuruni tangga kemudian mencari Briant. Briant tampaknya sedang duduk di ruang kerja lantai bawah.


"Briant, ada sesuatu hal yang penting yang harus aku katakan tentang keadaan Diana."


Pintu ditutup dan Briant tampak tegang mendengarkan kalimat yang dikatakan dokter Michael.


"Kau yakin?" tanya Briant masih dengan tegang.


"Aku harus memastikannya dengan sampel darah ini." Dia menujukan box pendigin berisi sampel darah Diana.


"Lakukan, dan berikan hasilnya padaku." perintah Briant.

__ADS_1


*********


Di kamar setelah Andrew duduk termenung cukup lama. Dia akhirnya menuruti saran dokter Michael untuk membasuh dirinya dan berbaring disisi Diana. Wanita ini masih tertidur dan belum juga sadar semenjak sore hari dia jatuh dalam pelukan Andrew.


Setelah mandi, Andrew berbaring di sisi Diana. Dia bahkan menolak makanan yang diantarkan oleh butler Jhon dan hanya meminum teh hangat. Conrad yang seharian mencari mereka tampaknya sudah tertidur dengan pengasuhnya.


Andrew memandang Diana disisinya sambil membelai kening gadis itu dan mempermainkan anak rambut yang tergerai.


"Bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu. Kau adalah sumber kebahagiaanku. Tetaplah disisiku, aku akan memberikan segalanya untukmu. Kau harus bahagia dengan diriku disisimu." Andrew terus menggumamkan kalimat itu hingga ia jatuh tertidur dengan tangan yang masih memeluk Diana disisinya.


Ketika hari semakin subuh, tidur Andrew tampak mulai gelisah. Bola matanya bergerak kesana kemari. Alam bawah sadarnya saat ini sedang bekerja. Jiwa membawa rohnya kealam mimpi. Dalam mimpinya dua orang wanita sedang menggenggam tangannya. Rachel menggenggam tangan kirinya sedangkan Diana menggenggam tangan kanannya.


Kedua wanita itu saling menarik dan berusaha memiliki Andrew, sementara dirinya hanya diam dan kebingungan. Dia melihat keduanya berusaha sekuat tenaga mempertahankannya, tapi genggaman tangan Diana perlahan hampir terlepas dan halnitu membuat Andrew histeris.


"Jangan lepaskan! Jangan lepaskan! Genggam aku! Tarik tanganku!" Andrew berteriak dengan lantang sementara tarikan dari Diana yang semakin melemah membuat Rachel tampak lebih mudah mendapatkan dirinya. Tubuhnya untuk sesaat condong ke arah Rachel, sementara sentuhan tangan wanita itu perlahan hampir terlepas. Tunggu! bukan Diana yang melepaskan tangannya, tapi dirinya yang kurang kuat bertahan dan menggenggam tangan wanita itu.


Andrew melihat kabut hitam mengahalangi pandangannya kearah Diana, semakin lama semakin menebal. Saat itu dengan sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Rachel dan melemparkan tubuhnya kedalam kabut hitam yang menyelimuti Diana. Mereka bertiga berputar didalam kabut hitam. Di alam mimpi dia berusaha memeluk Diana dan membuat gadis itu lebih kuat. Saat itu kejadian berbalik. Dalam kabut hitam, kuku-kuku panjang Rachel tampak mencengkeram Diana dan menarik Andrew kuat hingga pelukan Andrew terlepas.


Andrew bangun dari tidurnya dengan nafas yang tersenggal-senggal. Mimpi itu terasa nyata baginya. Dia duduk dan mengusap peluh yang membasahi tubuhnya. Ketika menoleh kesisi samping, dia tersentak karena tidak melihat tubuh Diana berbaring disana. Pandangan matanya mencari dengan gelisah kesetiap sudut ruangan hingga menangkap sosok yang dia cari sedang meringkuk di sudut ruangan duduk disofa dekat jendela sambil memeluk kedua lututj .


Andrew menghampiri Diana dan duduk di depan wanita itu. Tampak pandangan mata wanita itu kosong, seakan tidak menyadari kehadiran Andrew. Ketika tangan Andrew terangkat hendak menyentuhnya, terdengar suaranya lirih berkata, "aku mau pulang... aku mau pulang." isak tangisnya kembali pecah seiring dengan kata-katanya.


😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭


Hikkkkssss sedih yaaa.


Bagaimana rasanya coba kalau pria yang kita cintao tidak dapat kita miliki seutuhnya.


Apalagi semua sudah diserahkan tanpa sisa.


Pelajaran ya adik-adik pembaca yang belum menikah.


Jaga diri kalian baik-baik, pertahankan kehormatan kalian jangan sampai ternoda. Kalau sudah ternoda tidak bisa dihapus pakai bayclin lohhh. Akan menjadi tinta hitam seumur hidup.


kwkwkwkwk Author kok tiba-tiba kaya nenek-nenek ya.


Yang penting jaga diri. Tidak semua kenyataan akan seindah novel.

__ADS_1


Salam


__ADS_2