Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Dua kurcaci


__ADS_3

Tul. Tul. Tul.


Aaron menyentuh kulit Francesca yang terpanggang matahari dengan telunjuk jari nya. Francesca menarik tubuhnya dari sentuhan Aaron.


"Masih sakit?"


Aaron bertanya dengan penuh perhatian. Dia melihat bagaimana kulit Francesca yang putih pucat berubah menjadi merah dan sedikit terkelupas. Terlalu lama berjemur membuat kulit Francesca menjadi kering dan perih.


Francesca mengangguk sambil meringis.


"Makana ndak usah jemul-jemul. Malah kaya babi." Tutur Aaron bagai seorang guru.


"Flances mau cantik kaya mommy." Keluh Frances sambil memandangi kulitnya yang memerah dengan kecewa.


"Ckck ckck bial kulitnya kaya mommy, lambut juga ndak sama." Aaron menarik-narik rambut Francesca.


"Biarin dah. Kalau Frances gak bisa kaya mommy. Nanti besar Frances mau cari suami kaya daddy." Ujar Frances dengan tersenyum lebar.


"Yeaaaa mana mau. Daddy itu sukanya kaya mommy. Ini Alon kan kaya daddy, nanti besal mau cali pelempuan kaya mommy."


Protes Aaron dengan bangga.


"Aaron ndak kaya daddy. Lihat daddy cakep. Aaron jelek." Ejek Fransica. Dia mencibir kan bibirnya.


"Aaron cakep! Ndak jelek!"


"Aaron jelek. Nangisan lagi!"


"Flances kaya babiiiiii," teriak Aaron marah dengan mata berkaca-kaca.


"Aaron nangisaaaan." Balas Francesca ta kalah nyaring.


"Ayo sudah, masa sama saudara sendiri saling mengejek dan bertengkar. Ayo rukun. Nah gitu dong harus kompak. Harus saling mendukung." Nanny Matilda yabg baru saja datang dengan membawa minuman jus jeruk menengahi mereka berdua.


Dia tersenyum ketika kedua bocah kecil itu sudah mulai diam dan memandang tanpa amarah. Memang seorang anak cepat sekali bertengkar dan cepat sekali memaafkan.


Nanny Matilda memberikan jus jeruk dalam botol pada Aaron, dan yang di dalam gelas pada Francesca. Mereka berdua kemudian saling diam menikmati jus jeruk.


Mata Aaron tampak bergerak-gerak. Dia menyedot jus dalam botol sambil terus berpikir. Melihat hal itu nanny Matilda agak was-was. Bersiap dengan ide nakal dan kekacauan yang akan terjadi.


Setelah menghabiskan sebotol jus. Aaron menatap Francesca dan berbisik.


"Alon bisa membuat Flances kaya mommy." Ucapanya dengan serius.


"Benarkah?" Mata Frances berbinar.


Aaron mengangguk.


"Cara nya bagaimana?" Franceca tampak serius ingin tahu.


Aaron menunjukan sesuatu. Francesca tampak sangat senang. Dia mengangguk. Aaron kemudian meletakan jari telunjuk nya di bibir agar Francesca diam dan menyimpan rahasia mereka.


"Bibi Matilda. Tolong cuci ini, terus buatkan donat ya. Bibi halus bantu cheft Paul di dapul."


Aaron menyerahkan tas miliknya dan milik Francesca.


"Loh, ini kan masih bersih. Baru kemarin bibi cuci." Matilda menatap tas tersebut dengan heran.


"Bau. Ya kan Flances dah kotol dan bau." Aaron mencari dukungan.


"Iya. Wanginya Frances tidak suka." Dukungan tiba untuk Aaron.


"Baiklah. Tapi biar cheft paul saja yang buat donat ya. Bibi menemani kalian." Tawar menawar terjadi.


"Bibi Matilda yaaaa sekalang malas yaaaa. Alon bilang mommy yaaaa, bibi Matilda malas, maunya duduk dan bobok saja."


Ancam Aaron sambil berkacak pinggang.


"Iyaaa. Nanti Frances kasih tau daddy. Bibi Matilda suka ngantuk sambil upil-upil." Francesca ikut mengancam.


"Aduhhh jangan begitu ah... Iya dah bibi buay donat. Nanti kalian ndak boleh bertengkar ya. Sekarang Aaron dan Frances mau bermain apa, biar bibi siapkan dulu." Matilda tampaknya benar-benar kena skak matt ketika Aaron dan Francesca bersatu. Dia tentu saja akan sangat malu bila tuan Andrew tahu kebiasaanya mengupil.


"Mewalnai aja pake cat ail." Pinta Aaron dengan cepat yang di sertai dengan anggukan Francesca tanda setuju.


"Baik bibi siapkan ya. Nanti main nya jangan nakal okey."


Matilda segera menyiapkan semua yang di butuhkan. Dia memasangkan celemek dari plastik kepada frances dan Aaron, agar noda dari cat air tidak mengenai baju mereka.


"Jangan bertengkar loh ya. Aaron gak boleh ganggu kakak Frances ya. Francesca harus jaga adik ya. Bibi mau rajin bikin donat dulu. Kalau perlu sesuatu panggil bibi ya."


Matilda sesungguhnya ragu meninggalkan mereka. Tetapi ancaman mereka cukup menakutkan bagi Matilda. Bisa-bisa kedua anak itu ngambek dan tidak mau bermain dengan dirinya. Sedangkan pekerjaan menjaga mereka adalah yang paling dia sukai.


"Iya. iya. Udah sana cepat-cepat. Wushhhh." Aaron dan Francesca kompak mengibas-ngibaskan kedua tangan mereka.


Dengan sedih Matilda meninggalkan mereka berdua. Melihat kedua anak itu mengibaskan tangannya, Matilda merasa mereka tidak menginginkan dirinya.

__ADS_1


Dengan mata berlinang, Matilda turun dan menyerahkan tas kepada juru cuci dan meminta mereka merendam tas tersebut dengan pewangi. Haarus wewangian beraroma permen.


Matilda kemudian menemui cheft Paul. Kepala koki di mansion Andrew.


"Aaron dan Franceca minta dibuatkan donat." ujar nya dengan lesu.


Matilda duduk di atas kursi di dekat meja dapur.


"Okey, tidak masalah. Dua jam lagi sudah siap. Kenapa kau masih disini. Kembali lah dua jam lagi." Cheft Paul menatap Matilda dengan heran.


"Kedua kurcaci imut itu menyuruhku membantumu. Mereka mengatai aku malas hanya duduk dan tidur saja. Bahkan Mereka mengancam akan mengadukan ku pada tuan dan nyonya. Padahal aku kan gak malas. Aku kan selalu menemani mereka. Aku selalu disibukan dengan energi mereka."


Matilda bercerita dengan wajah memelas. Cheft Paul tersenyum. Melihat tubuh Matilda yang bertambah bulat tentu saja Cheft Paul setuju dengan perkataan Aaron dan Francesca.


"Baiklah, bantu aku. Ambil tepung terigu satu kilo di sana. Hei! Stop memasukan makanan dalam mulutmu!" Tegur cheft Paul yang melihat Matilda mencomot beberapa cookies


"Iya. Iya. Aku cuma test rasa, enak gak buat Aaron dan Frances," ujar nya sambil berlalu mengambil tepung.


Semenrara Matilda di sibukan dengan membuat donat. Aaron di sibukan dengan berkarya pada Francesca.


"Jangan belgelak telus, nanti ndak lata." celoteh Aaron yang kesal karena Frances terus bergerak.


"Iyaaa, tapi jangan menetes nanti kena bajuku." protes Francesca.


"Kan sudah dikasih celemek." ujar Aaron dengan gemas.


"Yang bagus loh ya. Biar Frances cantik kaya mommy."


"Iya jangan celewet. Alon kelja kelas ini." Aaron tampak bergerak aktif dan berkarya pada Francesca.


"Loh.. udah habis. Masih kulang ini." Kata Aaron dengan kecewa, melihat hasil karya nya yang belum sempurna.


"Yaaaa. Gimana dong Aaron. Nanti gak sama kaya mommy loh." Rengek Francesca kecewa.


"Tuntu dulu. Alon tau. Kakak Conlad punya banyak di kamalnya. Alon pelnah lihat. Bental Alon cali dulu ya. Flances diam di sini saja. Bial nanti ndak ada yang lihat. Buat kejutan. Kunci pintu ya. Kalau bukan Alon jangan di buka." pesan Aaron panjang lebar sebelum keluar dari kamar.


Frances mengangguk. Dia segera menutup pintu kamar. Kemudian Francesca menuju pada cermin dan mematut dirinya. Dia tampaknya puas dengan hasil karya Aaron padanya.


Aaron di dalam kamar Conrad tampak mengacak-acak laci meja belajar Conrad. Beruntung saja, Conrad sedang keluar les menggambar dan Diana dalam perjalanan menjemput Conrad. Hari ini Diana sengaja ikut Papito menjemput anak sulungnya.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Aaron segera mengendap-endap turun dari lantai dua. Tangan kecilnya tampak penuh dengan hasil mengobrak-abrik kamar Conrad.


Sesampainya di depan kamar bermain. Aaron mengetuk pintu kamar.


"Ini Alon datang." ujarnya.


Aaron tersenyum penuh kemenangan sambil menunjukan apa yang dia peroleh dari kamar Conrad.


"Aaron hebat. Nanti Frances bantu biar Aaron kaya daddy ya." kata Francesca dengan gembira.


"Benelan ya. Tapi ini kayanya ndak cukup," ujar Aaron menunjuk pada benda yang dia bawa dari kamar Conrad.


"Bisa pakai ini kan?" Francesca tersenyum dengan bangga.


"Wahhhh tumben Flances pintel sekali."


Ucapan yang menohok jika didengar oleh orang yang sudah dewasa. Tetapi bagi bocah lima tahun seperti Francesca hal itu merupakan pujian luar biasa. Dia merasa bangga dengan pujian dari Aaron yang sangat jarang memberi apresiasi kepada siapapun.


"Ayo sekalang kita kelja kelas sebelum mommy datang. Pasti mommy nanti senang."


Aaron dengan sigap mulai melanjutkan hasil karya nya yang tertunda. Dia benar-benar bersikap layaknya seorang seniman kelas dunia. Dan Francesca sekarang sudah bisa duduk dengan tenang. Dia tersenyum-senyum sendiri membayangkan Diana akan tersenyum senang melihat penampilan dirinya.


"Ini sudah bagus. Tinggal di keringkan." ujar Aaron sambil berjalan memandang hasil karyanya.


"Di kamar Frances ada hair dryer. "


"Oke Alon ambil. Kunci pintu yaaa." Dengan gesit Aaron kembali menaiki tangga ke lantai atas. Beberapa pelayan yang melihatnya, bertanya dengan heran melihat aktifitas Aaron yang tampak aneh.


"Alon sibuk ya, jangan ganggu, ndak pelu tahu. Ini ploject besal.," ujar nya sok tau sambil membawa hair dryer.


Pelayan saling bertatapan. Tadi Aaron masuk kamar Conrad dan keluar dengan menggenggam sesuatu, sekarang tangan nya membawa hair dryer mini dari kamar Francesca.


Dan Aaron menuruni tangga dengan karpet tebal itu begitu gesit. Karena penasaran pelayan tersebut mengikuti. Sampai di depan pintu kamar bermain, Aaron mengetuk pintu kamar dan Frances membuka nya. Dengan cepat pula Aaron masuk.


Karena khawatir, pelayan tersebut mencari pengasuh. Dan mereka bertemu nanny Maria. Tampaknya wanita itu baru selesai merapikan gudang mainan.


Mendengar laporan pelayan, nanny Maria yang sedang menuju dapur untuk minum, memandang heran.


"Bukanya mereka bermain bersama Matilda?"


"Matilda sedang di dapur membuat donat." lapor pelayan.


Dengan cepat Maria masuk ke dapur dan melihat Matilda sedang sibuk menghiasi donat.


"Kenapa kamu ada disini? kenapa meninggalkan Aron dan Francesca sendiri?" tanya nanny Maria dengan heran.

__ADS_1


"Iya, mereka tidak apa-apa kok. Arron dan Francesca menyuruhku membantu si Paul membuat donat untuk mereka. Lihat bagus gak hiasannya?" tanya Matilda dengan menyeringai lebar.


"Kok bisa sih, kamu tinggalkan dua kurcaci aktif itu begitu saja?" Maria masih mengomel.


"Matilda dibilang malas dan akan di laporkan ke nyonya dan tuan jika tidak membantuku," Cheft Paul membela Matilda yang bingung karena teguran dari Maria.


"Aaron dan Frances berjanji tidak nakal kok. Dan akan memanggilku jika perlu sesuatu." Matilda membela diri.


"Ayo cepat kita lihat mereka. Bisa gawat jika terjadi sesuatu." Nanny Maria segera keluar diikuti oleh Matilda yang buru-buru mencuci tangannya tanpa sempat menanggalkan celemek.


Di depan pintu kamar bermain. Matilda mengetuk.


"Aaron dan Francesca buka pintu dong, Donat sudah siap."


Tidak ada jawaban. Terdengar suara mesin berdengung. Pasti hair dryer.


"Aaron... Francescaaa... Ayo buka pintunya." Kali ini nanny Maria yang memanggil.


Masih terdengar bunyi hair dryer. Kedua pelayan saling bertatapan. Terdengar suara cekikikan di dalam kamar.


"Ayooo buka pintu nya dong," Matilda mengetuk.


"Tuntu sebental lagi. Tinggal sedikit." teriak Aaron dari dalam kamar.


Lima menit menunggu. Mereka mengetuk pintu lagi. Tapi terlambat.


"Apa yang kalian lalukan disini?"


Suara yang mereka takuti terdengar dengan jelas. Kedua pengasuh menoleh kebelakang dan melihat Andrew dan Diana sudah berdiri dan menatap mereka heran.


"Mana Aaron dan Francesca?" tanya Diana.


Kedua pelayan saling bertataoan dengan gugup. Matilda bungkam seribu bahasa dan menunjuk kearah pintu kamar.


Diana segera mengetuk pintu kamar dengan penasaran.


"Aaron.... Frances sedang apa di kamar?"


"Mommy yaaa?" teriak Francesca dengan semangat.


"Iya nak, buka pintunya yukk, ini mommy bawa banyak snack." Bujuk Diana


"Tuntu sebental mommy, punya Aalon masih belon selesai." teriak Aaron dari dalam.


Diana menatap kedua pengasuh anak-anaknya, Matilda dan Maria bergantiaan. Dia memerlukan jawaban, bagaimana kedua bocah kecil itu bisa berada di dalam kamar yang terkunci.


Matilda dan Maria menunduk takut. Apalagi ada sosok besar tuan Andrew disisi Diana. Tuan Andrew menatap mereka dengan sorotan mata yang tajam. Mereka gelisah tidak biasanya tuan pulang lebih awal.


Akhirnya Matilda dengan terbata-bata, menjelaskan bagaimana dirinya bisa meninggalkan kedua anak itu sendiri. Tentu saja Diana dan Andrew jengkel karena bisa-bisanya mereka dikerjai anak kecil.


Sementara Diana masih membujuk kedua bocah itu untuk membuka pintu, terdengar teriakan keras dari lantai atas, kamar Conrad.


"Apa yang terjadi?" gumam Diana heran.


Andrew dengan segera melesat secepat kilat menaiki tangga hingga sampai di kamar Conrad.


"Ada apa Conrad? Ya Tuhan!" Andrew yang baru saja masuk, termangu melihat keadaan kamar Conrad yang berantakan. Isi laci meja belajar Conrad sudah berantakan. Bukan cuma satu laci. Tapi semua laci dan alat tulis yang tertata rapi di dalam tabung kecil, sudah berserakan, tanpa nya jatuh tanpa sengaja.


"Daddy, cat air Conrad hilang semua yang warna hitam." Lapor Conrad dengan sedih dan kesal.


"Aaron!" Andrew segera turun ke lantai bawah diikuti Conrad.


"Ada apa?" tanya Diana heran.


"Kamar Conrad berantakan mommy, Cat air ku yang warna hitam dan coklat hilang semua." lapor Conrad pada ibunya.


Andrew dan Diana bertatapan.


Dengan keras Andrew dan Diana mengetuk pintu kamar bermain.


"Ayo buka sekarang juga. Daddy mau masuk!" ujar Andrew mengeluarkan suara bariton besarnya.


"Iyaaà. Alon dan Flances dah selesai."


Klik. Pintu terbuka dengan lebar. Dua kurcaci kecil itu muncul di balik pintu dengan senyum lebar penuh kebanggaan.


Mereka berpose dengan gembira.


"Flances sudah kaya Mommu kan?" ucap Francesca dengan senang.


"Aalon kaya daddy kan?" Aaron berpose dengan meletakan ibu jari dan jari telunjuk di dagunya.


Sementara Andrew, Diana, Conrad, Kedua pengasuh dan semua pelayan menatap kedua kurcaci itu dengan amat sangat terkejut. Mereka tidak bisa berkata apapun melihat keadaan Aaron dan Francesca. Sementara Matilda menggumam dalam hati, "Mati Aku."


Saat ini yang tampak di depan mata adalah, rambut pirang Francesca juga alisnya sudah menghitam tidak karuan dengan cat air. Sedangkan pipi dan dagu Aaron diwarnai dengan spidol warna hitam membentuk janggut.

__ADS_1


Mereka tampak kacau.


"Donat enak sudah siap!" Cheft Paul tersenyum lebar dengan berjalan membawa nampan, full donat berhiasan lucu. Di depan pintu kamar bermain dia heran melihat semua orang diam mematung. Cheft Paul melongok dan berteriak, "Oh my God Alien."


__ADS_2