
"Apa katamu baru saja?" tanya Andrew memastikan pendengarannya.
Perawat junior itu hendak mengulangi kata-katanya, tetapi tangan perawat senior menahannya ketika dia melihat pandangan mata Briant yang mengusirnya.
"Maaf tuan, kami permisi dulu." pamit pelayan senior sambil menarik tangan juniornya. Perawat junior mengikuti seniornya dengan kebingungan. Ini kabar baik, kenapa seniornya takut untuk mengatakannya.
"Hei, kembali. Jelaskan perkataanmu." teriak Andrew dengam emosi.
"Sudahlah Andrew biarkan mereka pergi." Briant membuka pintu dan mengisyaratkan mereka pergi.
"Panggil dokter Michael sekarang juga, bodoh!" ucap Briant kepada perawat junior ketika melewati dirinya.
"Briant! Kenapa kau membiarkan dia pergi. Aku butuh penjelasan dari perkataannya."
"Tenangkan dirimu Andrew lebih baik mendengarkan langsung dari brother Michael tentang kondisi kakak ipar." Briant memberi alasan yang tidak bisa dibantah oleh Andrew.
Andrew akhirnya diam. Dia kembali duduk di sisi tempat tidur. Memandang wajah cantik namun sayu dihadapannya. Menggenggam tangan itu dan menciumnya dalam sambil memejamkan matanya. Dia tidak tahu bagaimana perasaanya saat ini. Dia tidak ingin menebak apapun. Mata nya terbuka perlahan dan menatap perut Diana yang tampak mulai membesar di hadapannya, tanpa dia sadari satu tangannya sudah berada diatas perut Diana dan mengusapnya perlahan.
Bahkan saat ini dia tidak berani mengucapkan doa dan memohon. Terlalu banyak dosa yang telah dia lakukan dan sudah lama dia berhenti memohon, hingga kehadiran wanita dihadapannya. Karena wanita ini dia kembali memohon dan berharap untuk tidak pernah dipisahkan oleh apa pun.
Itu saja permohonannya tidak lebih. Tidak pernah berharap lebih. Terkadang dia menyadari, dirinya sangat egois. Mengikat gadis muda ini hingga menjadi seorang wanita bersamanya. Membelenggu setiap keinginan wanita muda untuk memiliki keluarga yang nyata dan membuatnya menjadi bagian di kehidupannya tanpa janji.
Perkataan perawat junior itu membuatnya kembali berharap meskipun dia takut untuk berharap. Berkali-kali hidup merengut harapannya.
Pintu dibuka, membuyarkan lamunannya. Pandangan matanya tajam menatap kepada dokter Michael menuntut jawaban.
Dokter Michael berdehem dan kemudian berjalan kehadapan Andrew.
Andrew tidak sabar menatapnya.
Briant berjalan dan berdiri dibelakang Andrew.
"Katakan!"
"Ehem!" dokter Michael kembali berdehem mengatatur pita suaranya.
"Katakan sekarang juga!" Andrew sudah tidak sabar mendengar deheman dr. Michael.
"Dia hamil Andrew. Diana sekarang sudah mengandung selama sebelas minggu." ucap dokter Michael dengan hati-hati.
"Benarkah?" mata Andrew berbinar.
Dia masih tidak percaya dengan kabar bahagia yang diucapkan dr. Michael. Dokter tersebut mengangguk.
"Jadi sebulan lalu ketika kau memeriksa dirinya dan mengambil sampel darahnya, kau sudah tahu?" tanya Andrew dengan berang sambil berdirim
"Tenangkan dirimu Andrew, duduklah." Briant menyentuh pundak Andrew dari belakang kemudian mengambil air mineral dan memberikannya pada Andrew.
Andrew meminumnya, kemudian menoleh kepada Briant.
"Kau juga tahu?" Briant mengangguk.
"Apa maksud kalian menyembunyikan hal ini dariku?" tanya Andrew dengan berang. Dia tidak mengerti kenapa hal itu harus mereka tutupi.
"Aku yang memintanya Andrew. Maafkan aku." ucap Briant.
Andrew memandang tajam pada Briant dengan kesal.
Briant adalah tipe orang yang selalu mempertimbangkan setiap keputusannya. Dan apapun alasannya Andrew saat ini tidak ingin tahu. Dia menatap wanita yang sangat dia cintai. Mengusap lembut perut Diana dan menggengam erat tangannya.
__ADS_1
Cinta itu semakin membuatnya melayang dengan kenyataan yang didengar.
"Keluar kalian semua!" usir Andrew. Saat ini dia hanya ingin berduaan dengan kekasih hatinya.
Briant dan dr.Michael keluar. Di depan pintu dokter Michael menoleh kepada Briant.
"Tampaknya kekuatiranmu berlebihan." ucap dr. Michael.
"Aku tahu." Briant menarik nafas lega.
Sebuah pesan wa masuk. Setelah membacanya, Briant buru-buru berpamitan dan meninggalkan dr. Michael.
*************
Kesadaran Diana mulai pulih. Sesaat kepalanya masih pusing. Suara seseorang memanggilnya terdengar samar-samar begitu lembut.
"Diana sayang... sayang... kau sudah sadar."
Tampak Andrew dihadapannya menggenggam erat tangan dan membelai kepalanya lembut. Berkali-kali Andrew mengecup tangannya.
"Andrew, aku haus." ucap Diana dengan serak.
"Ah tentu saja." Andrew segera memejet tombol disamping tempat tidur dan membuat ranjang itu naik perlahan sampai diposisi Diana setengah duduk. Kemudian dia mengambil segelas air dan membantu wanita itu meminumnya perlahan.
Setelah itu Andrew kembali duduk diranjang dan menatap Diana, tersenyum hangat kemudian mengecup keningnya lembut dan lama. Memandang lagi pada Diana dan merapikan rambut gadis itu. Andrew membelai wajah Diana kemudian mengecup bibirnya perlahan.
"Andrew, mana Conrad?" tanya Diana disela-sela kecupan bibir Andrew.
Andrew menghentikan aksinya dan membelai wanita dihadapannya.
"Dia sudah pulang bersama dengan nanny."
"Andrew, Rachel tadi..." wanita itu mulai terisak mengingat kejadian sebelumnya.
"Sstt... aku tahu. Maafkan aku yang membuatmu menderita." Andrew menghentikan perkataan Diana.
"Maafkan aku mempermalukanmu. Disana banyak paparazi dan orang yang menyaksikan." Mata Diana kembali berlinang air mata.
"Tidak apa-apa sayang. Biar seisi dunia tahu kau adalah milikku."
"Tapi, mereka tentu menganggap aku..."
"Ssstttt sudah hentikan pikiranmu. Kau hanya boleh fokus pada keluarga kita pada bayi kita." ucap Andrew dengan lembut sambil kembali mengecup bibir Diana dan kembali ********** lembut.
Sejenak Diana hanyut dalam ciuman Andrew. Kemudian terngiang kembali perkataan Andrew, dia mendorong tubuh Andrew dan memandangnya heran.
"Tunggu apa maksudmu bayi kita? Conrad bukan bayi lagi Andrew."
Andrew tersenyum hangat dan menatap Diana teduh membuatnya menjadi malu dan menundukan kepala.
"Terimakasih sayang. Kau benar-benar anugerah dalam hidupku." ucap Andrew hangat.
"Andrew apa maksudmu?" tanya Diana tidak mengerti.
Andrew tidak menjawab dia kemudian menurunkan selimut yang menutupi sebagian tubuh Diana dan mengangkat baju daster pasien hingga bagian bawah sebatas perut terbuka dihadapannya kemudian ia mengusap perut Diana dengan lembut.
"Andrew, hentikan. Apa yang kau lakukan. Andrew sudah geli. Malu kalau ada yang masuk." Diana menggelinjang geli ketika Andrew mengusap perutnya dan memberi kecupan-kecupan kecil yang lembut.
"Tenanglah tidak ada yang akan berani masuk sebelum aku ijinkan."
__ADS_1
"Oke tapi hentikan. Aku geli. Hahahaha." Diana tertawa geli.
"Baby, dengar mommy geli. Nanti lagi ya daddy menyapamu." ucap Andrew pada perut Diana.
"Baby? Apakah aku...?" Diana mengerjap kan matanya dan ragu melanjutkan kalimatnya.
"Iya sayang, terimakasih sudah mengandung anak ku." ujar Andrew dengan tatapan yang menghipnotis.
"Andrew benarkah? Aku hamil? Kau tidak menggodaku?" tanya Diana dengan suara serak tidak percaya.
"Iya sayang. Sebelas minggu."
"Sebelas minggu? Hampir tiga bulan dan aku tidak menyadarinya." Diana memekik tertahan sambil mengusap perutnya.
"Maafkan mommy sayang, mommy terlambat menyadari kehadiranmu." ujar Diana sendu sambik mengusap perutnya.
"Maafkan daddy juga ya yang sudah membuat mommy menjadi sedih. Tapi mommy nakal, suka menolak daddy."
"Andrew!" Diana memukul bahu Andrew perlahan. Andrew kembali memejet tombol di sisi ranjang membuat posisi tertidur.
"Benar, aku mengadu pada bayi kita. Mommy selalu menggoda daddy tapi meninggalkannya ditengah-tengah. Sekarang daddy akan menuntut mommy." ucap Andrew menggoda kemudian dia beranjak naik keatas ranjang dan mulai mencium lembut bibir Diana.
Tangannya mulai bergerak meremas dada yang semakin membusung berukuran 36a. Mungkin beberapa bulan lagi akan bertambah besar.
Diana mendesah. Sekian lama mereka tidak berhubungan. Sekian lama dia menolak sentuhan Andrew karena rasa bersalah.
Saat ini mereka bergumul dengan mesra dibawah selimut putih, pakaian Andrew telah bertebaran dimana-mana.
"Andrew pelan-pelan, ada baby." ucap Diana perlahan disela-sela desahannya ketika Andrew mulai menyatukan tubuh mereka.
"Iya. Heh..!" Andrew melenguh tertahan merasakan bagian kewanitaan yang menghimpitnya kencang. Rasa yang sudah lama dia rindukan membuat dia menjadi hampir buas jika Diana tidak mengingatkan.
Ranjang berguncang perlahan. Desahan keluar dari kedua insan yang sedang bergumul dan berpagutan menyalurkan setiap perasaan dan cinta mereka.
"Andrew aku lelah." ucap Diana disela-sela nafasnya yang memburu sementara Andrew masih mengguncang perlahan.
"Sedikit lagi sayang." Andrew kembali melakukan aktivitas nya hingga pipi Diana kembali memerah, dia kembali melenguh dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Saat itu Andrew tahu dia sudah membawa Diana kembali kedalam permainan. Kembali dengan sabar dia memberikan kejutan-kejutan kecil yang membuat wanita dalam pelukannya mengelinjang hebat menyerap semua kenikmatan yang dia berikan.
Andrew merasakan jepitan di **** ********** semakin terasa menghimpit ketika Diana kembali mencapai puncak kenikmatan kesekian kalinya, setelah tubuh Wanita dalam dekapannya terkulai lemas, dia mencabut dan mengeluarkan cairannya diluar. Entah sudah berapa banyak cairan yang keluar dan berhamburan di tempat tidur.
Andrew mengatur nafasnya kemudian berdiri. mengambil tisyu dan membersihkan sisa cairan di tubuh Diana. Selanjutnya dia menuju kamar mandi kemudian mengambil handuk basah dan handuk kering untuk membersihkan tubuh Diana secara lembut. Membantu wanita itu mengenakan gaun tidur dan dengan infus yang masih terpasang, dia mengangkat Diana menuju ke kasur tambahan disisi lain.
Diana terkulai lemas dan tertidur dengan senyuman. Sementara Andrew memanggil perawat rumah sakit untuk membersihkan ranjang pasien.
Tentu saja perawat-perawat tersebut membersihkan dengan segera sambil tersenyum dalam hati. Pandangan mata mereka berbicara. Disana mereka melihat bagaimana Andrew memeluk dan menjaga Diana dengan penuh cinta.
ππππππππππππππππππ
Hallo sobat pembaca...
Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.
Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.
Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.
Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.
__ADS_1
Terimakasih. π