Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
S3. Kagum


__ADS_3

Di sekolah dasar.


"Ciecieeew... saudara kembar lagi asyik diskusi apa ya, seru banget." Monik dan de gang menghampiri Anna dan Archie yang lagi mengobrol.


Anna dan Archie hanya melirik kearah mereka, tanpa menghiraukan keberadaan Monik. Anna dan Archie asyik mempertimbangkan apa yang akan mereka beli untuk Adelaide, agar saudara mereka ini senang.


"Hei. Cantik-cantik dan tampan kok budeg." Ujar Melan, salah satu anggota group MoNik.


"Terimakasih sudah mengakui kami tampan dan cantik." sahut Archie tanpa expressi.


Heh? Monik, Melan dan Mesya, terngaga mendengar jawaban Archie. Bukankah nada sindiran nya sudah cukup sinis. Tetapi kenapa Archie malah berterimakasih. Dan wajah tampan itu selalu tanpa expressi.


"Siapa yang bilang dia cantik. Lebih cantik juga Monik." Sàhut Mesya jengkel.


Bisa besar kepala Anna kalau dibilang cantik, pikir Mesya yang selalu membuntuti Monik. Apalagi gadis itu disukai banyak teman-teman pria. Anna yang cantik dan lincah. Anna yang selalu pandai bergaul dengan teman-teman pria daripada wanita.


"Sudah jangan ribut ah! Kalian berisik tau! Iya Monik memang paling cantik. Melan cantik nomor dua dan Mesya nomor tiga. Puas dah, tiga besar tercantik di sekolah di ambil kalian semua." Sahut Anna dengan kesal.


"Ayo Archie, pindah ke kelas mu saja, di kelasku banyak nyamuk berdengung." Anna menarik tangan Archie.


Mereka berlalu dengan tenang tanpa memperdulikan ketiga M yang lagi berdebat.


"Kok bisa sih kamu cantik nomor dua, kan body aku lebih oke." Ujar Mesya jengkel.


"Biar aku lebih gemuk, tapi aku imut." Sahut Melan dengan percaya diri.


"Mata mu kan sipit, lihat mata bonekaku." Mesya membelalakan mata nya yang bulat dengan bola mata berwarna biru.


"Tapi aku punya lesung pipit yang diimpikan setiap orang. Kamu kan gak punya." Jawab Melan.


"Tapi..." Mesya masih tidak terima.


"Sudah kalian tidak usah berisik. Bagaimanapun, aku tetap lebih cantik dari kalian berdua." Ujar Monik, sambil memainkan rambutnya yang ikal.


Melan dan Mesya terdiam. Mereka harus mematuhi perkataan Monika karena itu pesan orang tua, berteman dengan akrab dengan Monik dan selalu memantuhinya. Ayah Monika merupakan Pemilik perusahaan Furniture yang besar dan orang tua Melan juga Mesya bekerja disana.


Kedua anak tersebut mengikuti langkah Monika. Meski Melan dan Monik masih saling melirik tidak terima, tetapi mereka memilih diam. Jika mereka tetap ribut, tentu saja itu akan membuat Monika marah.


Tak lama bel tanda pelajaran di mulai berbunyi. Anna kembali di kelasnya dan duduk paling depan. Anna dengan tekun berusaha memperhatikan pelajaran yang diberikan oleh guru. Dia tidak ingin menyusahkan Adelaide lagi dengan pertanyaan tentang pelajaran, apalagi tugas pr.


Setelah dua jam, bel tanda akhir pelajaran berdering. Semua anak sudah membereskan buku mereka masing-masing. Anak-anak mulai keluar kelas dengan teratur.


"Dahhh Anna, sampai bertemu besuk lagi." Sapa beberapa teman pria.


"Anna, besuk olah raga kita bertanding bola lagi ya." Ajak Mathew seorang teman pria nya yang cukup akrab dengan Anna.


"Cewek kok diajak bertanding bola, kita bertanding baseball saja ya Anna," ajak Shawn.


"Bola saja lebih seru." Mathew bersikeukuh.


"Baseball!"


"Udah ah jangan berisik! Aku besuk yang tentukan. Kalian ikutin aja apa perintahku. Oke?!" Tegas Anna pada kedua teman akrabnya.


"Baiklahhh Anna." Sahut mereka serempak dengan patuh.


Archie sudah menanti Anna di luar pintu kelas.

__ADS_1


"Hai Archie." Sapa Mathew dan Shawn bersamaan.


"Hai." Sahut Archie datar.


Mereka berempat berjalan keluar. Di halaman sekolah tampak banyak anak-anak yang masih bergerombol dan bergosip. Di kejauhan Anna tampak melihat Aaron menepati janji nya untuk menjemput mereka.


Baru saja Anna melambaikan tangan dengan gembira, tampak Monik and de genk berdiri dengan angkuh dihadapan Aaron.


"Hai kakak tampan. Baru pertama kali kami melihatmu. Boleh kenalan?" Monik mengulurkan tangangannya.


"Namaku Monika. Aku siswi tercantik di sekolah ini." Monik mengebaskan rambutnya dengam sombong.


Aaron menatap Monik.


Ah, jadi anak ini yang sudah menghina Adel dan membuat Anna marah.


Aaron tidak menghiraukan tangan Monik yang terulur. Dia terus melangkah maju menghampir Anna yang berlari riang kepadanya. Anna langsung memeluk Aaron. Sementara Aaron mengusap kepala Anna. Tak lupa dia mengacak rambut Archie yang hendak berjalan melewatinya.


"Ih, aku bukan anak cewek!" Archie menghindari belaian tangan Aaron.


Monika tidak terima melihat Aaron tamoak begitu akrab dengan Anna. Dia merasa iri. Bagaimana mungkin kakak tampan dan keren itu bisa tampak akrab dengan Anna dan menolak berkenalan dengan dirinya.


"Ayooo kita pergi ke Burger King dulu." Ajak Aaron. Aaron sudah meminta izin pada Diana untuk membawa adik-adiknya ke Burger King. Karena mereka tidak bisa memakan junk Food dihadapan Adelaide.


"Ayooo. Kalian mau ikut?" Tanya Anna pada Mathew dan Shawan.


Serentak mereka menyahut, "Mauuu!"


Dengan riang anak-anak sekolah dasar itu mengikuti Aaron. Mereka berjalan kearah sebuah bangunan di dekat gedung sekolah.


Dengan gembira mereka mulai memilih paket ayam goreng juga burger. Aaron membayar semua pesanan, termasuk yang di beli oleh Shawn dan Mathew.


Tampak Monika, Melan dan Meisya masuk juga ke dalam restaurant Burger King. Mereka bertiga memesan burger dengan coca cola. Tentu saja Monika yang selalu membayar untuk ketiga pesanan tersebut. Sementara Melan menantikan pesanan mereka siap. Monika dan Misya berjalan ke arah Aaron.


"Ah, kalian ada disini juga, kebetulan sekali. Aku gabung ya." Ujar Monika dengan percaya diri. Gadis belia itu menarik kursi dan duduk di sisi Aaron.


"Hai.. kakak tampan, masih ingat aku kan?" Ujar Monika dengan tersenyum genit.


"Hemm Manik, kan?" Ujar Aaron.


"Monik kakak. Monika." Monika membetulkan.


"Ah, bagusan Manik atau Menik." Sahut Aaron acuh.


"Benarkah?" Mata Monika berbinar karena Aaron memilihkan nama yang bagus untuk dirinya.


"Iya. Menik juga bagus." Tambah Aaron lagi.


"Eh, Menik... sejak kapan kau suka Burger King?" Tanya Anna yang kesal melihat Monik genit pada Aaron.


"Aku suka kok. Lihat yang aku pesan sama kan dengan kakak tampan." Monik memamerkan burger yang barusaja dibawakan Melan kepadanya.


"Cih! Biasanya selalu bilang, burher king hanya untuk rakyat miskin." Cicit Anna kesal.


"Sudah, bukannya kau ingin dia tidak mengganggumu lagi?!" Bisik Aaron.


"Tapi tetap saja, ngeselin lihat sikap soknya dia." Cicit Anna.

__ADS_1


"Makan jangan bicara!" Omel Archie yang sedari tadi diam saja.


Anna menyenggol kaki Archie dengan kesal. Bukannya bantu belain, malah memarahi dirinya.


"Kak Aaron makasih yaaa sudah ditraktir, sering-sering hehhehe." Ujar Mathew yang sudah menghabiskan satu paket burger.


"Iya kak. Enak dan kenyangg." Sambung Shawn yang menghabiskan ayam goreng juga burger.


"Ahh... nama kakak tampan, Aaron? Wah keran sekali. Seperti nama dewa perang Yunani yang tampan." Ujar Monika dengan senyuman menyanjung.


Aaron tersebyum balik pada Monika. Dan itu sudah membuat jiwa gadis kecil itu berbunga-bunga.


"Kakak pacar nya Anna?" Tanya Monik tang penasaran sedari tadi dengan berani.


"Yeaaaaahhhh kamu ketinggalan berita ya. Dia itu kakaknya Ann, Archie dan Adelaide yang super tampan, keren dan baik hati." Ujar Shawn memuji membuat cuping hidup Aaron kembang kempis.


"Oh My God!" Monik terkejut sekaligus senang.


"Makanya, bergaul donggg. Jangan cuma pingin jadi pusat perhatian!" Tambah Shawn dengan sinis.


"Ah iya... Anna beruntung sekali kau memiliki kakak yang tampan. Taukah kau Kak Aaron, ku salah satu teman baiknya Anna. Kami setiap hari selalu berbincang dan bergurau. Aku senanggggggg sekaliiiii berteman dengan Anna." Ujar Monik dengan mata berbinar-binar.


"Sejak kapan, bukannya kau selalu menggangguku dan mengejek Monik." Cicit Anna perlahan.


Aaron menepuk bahu Anna.


"Mereka adik kesayanganku. Aku senang jika kau bisa selalu baik dan membantunya." Ujar Aaron dengan senyuman tampannya.


"Tentu saja." Monik menatap Aaron tak berkedip. Dia menggigit perlahan burgernya dan mengunyah, tanpa melepaskan pandangan kagum pada Aaron. Monik tidak sadar jika ada saus barbeque menempel di sepanjang bibir atasnya.


"Ayo Anna dan Archie kita pulang. Waktunya menjemput Francesca, nanti nangis lagi kalau terlambat dijemput."


Begitu dilihatnya makanan Anna dan Archie sudah habis. Aaron segera mengajak kedua adiknya untuk berkemas. Shawan dan Mathew juga ikut berdiri dengan puas, perut sudah kenyang tanpa harus mengeluarkan uang.


"Bye Menik," ujar Aaron sambil mengerdipkan sebelah matanya.


"Byeee kak Aaron," ujar Monik sambil menatap Aaron. Dia memandang punggung Aaron sampai mereka menjauh.


Setelah mereka menjauh, Monik segera menghabiskan dengan lahap burger yang dia pegang.


"Kalau gak suka buat aku saja, " ujar Melan dengan penuh harap.


"Gak usah. Ini makanan kesukaan kak Aaron. Aku juga harus menyukainya." ujar Monik dengan berambisi.


"Monik.. itu.. " dengan takut Mesya hendak mengelap noda saus di bibir Monik.


"Apaan sih?" Monik menepis tangan Mesya.


"Itu... di bibirmu." tunjuk Mesya takut.


"Apaan, ngomong yang jelas." bentak Monik kesal.


Gadis itu kemudian mengeluarkan cermin lipat yang biasa dia bawa. Dan Monik sangat terkjut melihat noda saus yang besar di bibir nya.


"Kenapa kalian baru kasih tahu. Apa tadi semenjak kak Aaron disini, noda ini menempel?" suara Monik melengking tinggi, membuat beberapa orang yang ada di restaurant menoleh kepadanya. Dengan kesal Monik mengelap bibir nya.


"Itu sebabnya aku tidak suka makan di tempat seperti ini. Tidak ada garpu dan pisau. " Monik dengan kesal masih mengomel. Dia kemudian pergi begitu saja meninggalkan burger nya yang masih separuh, kentang goreng dan soda yang masih utuh.

__ADS_1


Dengan sigap Melan menyambar semua makanan yang disisakan Monik. Dia kemudian menyusul Mesya dan Monik yang sudah keluar terlebih dahulu. Melan merasa senang sekali bisa mendapatkan burger milik Melan yang tampak menggiurkan dengan crisy bacon di dalam. Sevab tadi, Monik hanya membelikan dua burger original termurah untuk Melan dan Meisya.


__ADS_2