
Langit semakin cerah. Udara pagi yang awalnya berkabut, mulai terasa hangat. Kicauan burung, gemercik air canal dan hembusan angin pagi, membuat suasana semakin menyenangkan. Pagi ini sangat bersahabat.
Pagi ini seluruh keluarga Knight berkumpul untuk makan pagi bersama di halaman belakang. Mereka bercanda, saling menggoda dan bercerita dengan penuh kehangatan. Tidak ada lagi beban yang nampak di goresan wajah setiap orang disana.
Andrew menatap keluarganya dengan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan ini perlu waktu yang panjang untuk meraihnya. Dia harus mengalami lika-liku dan perjuangan untuk sampai di titik ini. Apalah arti kekayaan jika tidak bisa mendapatkan senyuman, di setiap wajah orang yang dikasihi.
Tangan Andrew menggenggam tangan Diana dengan mesra, hingga tangan kecil wanita itu tampak tenggelam. Mereka berdua tertawa melihat bagaimana Aaron dan Archie saling menggoda. Sedangkan Conrad pura-pura tidak bisa menjawab tebakan yang diberikan oleh Anna, dan membiarkan dirinya menerima hukuman.
Keenam anak dengan karakter yang berbeda. Conrad yang sudah dewasa, pendiam namun penuh kasih. Pemuda yang beranjak dewasa dengan dua dilema cinta dalam hatinya. Butuh waktu bagi dirinya untuk menemukan cinta sejati.
Francesca, gadis cantik yang belum menyadari jika dia berbeda dari seluruh anggota keluarga lainnya. Dia memiki darah yang berbeda. Hingga saat ini, Francesca belum mengingat kembali kejadian masa lalunya. Seringkali Diana merenung, apa yang akan terjadi jika masa lalu itu menghampiri Francesca.
Aaron, anak dengan kepercayaan diri yang luar biasa. Berani, Populer, Cerdas, pandai berbicara dan mengambil hati orang. Aaron yang tampan dan selalu menjadi pusat perhatian. Aaron yang tampak tidak perduli dengan orang lain, tetapi sesungguhnya selalu menaruh perhatian. Jiwa besarnya sangat lembut.
Archie, anak tertua dari tiga kembar yang dilahirkan Diana. Archie yang tampan namun pendiam. Archie yang perfectionist dan selalu nyaman dalam keheningan. Si kecil yang mandiri. Meskipun dia tidak sejago Aaron dalam hal ketrampilan fisik, tapi Archie luar biasa dalam hal memasak.
Adelaide, dia semenjak dalam kandungan paling lemah. Adelaide yang lembut, cerdas dan penuh dengan kasih sayang. Adelaide yang selalu berjuang agar sehat dan tidak menyusahkan keluarganya. Dia seringkali menyembunyikan dan memendam keinginan untuk bebas seperti saudaranya.
Anna, si bungsu yang cantik. Sejak dalam kandungan dia selalu menjaga Adelaide. Anna selalu tampil ceria dan tangguh itu, seringkali menyembunyikan rasa sedih melihat saudara kembarnya. Anna tidak secantik Adelaide, tetapi dia harus bersyukur dengan fisik sehat yang dia miliki. Itu sebabnya Anna seringkali berjuang dua kali lipat, agar dia bisa mengisi bagian Adelaide yang kosong.
Ke enam anak dengan karakter yang berbeda disatukan dalam keharmonisan. Meskipun mereka seringkali berbeda pendapat dan keinginan, tetapi pada akhirnya keluarga lah yang terutama. Mereka bisa menyelesaikan masalah dengan mengambil jalan tengah yang terbaik.
"Daddy, Grandpa tidak pulang?" celetuk Adelaide tiba-tiba.
"Grandpa sedang asyik berlayar. Dia menikmati wakt7 dengan berkeliling dunia." Jawab Andrew sambil tersenyum.
__ADS_1
"Lalu, kenapa kita tidak menyusul?" Tanyanya lagi dengan mata berbinar.
"Menyusul?"
"Iya. Kita semua naik kapal pesiar. Bukankah daddy bilang, jika kapal pesiar terbaru daddy, bisa berlayar hingga Asia?" Adelaide menatap Andrew dengan penuh harap.
"Iya, tapi..."
"Ayo Dad... Mom.... Masa kita anak pengusaha kapal pesiar, hampir tidak pernah tahu rasanya tinggal dikapal?" Anna yang mendengar percakapan mereka, menjadi bersemangat.
"Hei... Kalian mau kan, kalau kita semua tour ke Asia dengan kapal pesiar?" teriak Anna kepada saudara-saudaranya.
"Benarkah dad?" Aaron yang berada di meja paling ujung menatap Andrew.
Andrew menoleh pada Diana, meminta pertimbangan.
"Kondisi Adel?" tanya Andrew khawatir.
"Kan ada perawat dan kak Conrad." Ujar Adelaide optimis.
"Akan daddy pertimbangkan."
"Naik kapal. Naik kapal. Naik kapal." Serempak keenam anak-anak itu melakukan yel-yel.
Andrew tertawa kecil melihat bagaimana mereka menjadi antusias. Dia tidak memberikan jawaban. Kediaman Andrew membuat keenam anak itu menjadi sangat gemas. Mereka terus mendesak ayahnya untuk dapat menikmati waktu di kapal pesiar bersama-sama.
__ADS_1
"Ayolah dad, Aaron dan Frances kan sudah tidak sekolah lagi. Kami bisa membawa pengajar di kapal pesiar." Bujuk Francesca.
"Kita lihat saja nanti." Andrew tertawa kecil sambil meninggalkan mereka semua.
Sementara anak-anak mulia sibuk memperbincangkan mengenai tour di kapal pesiar, Cheft Paul mendekati Diana.
"Nyonya,"
"Ya?"
"Mengenai kapal pesiar,"
"Kenapa?"
"Saya juga rindu.... "
"Maksudmu?"
"Eh begini... saya ingin juga ikut sekalian bulan madu dengan Matilda dan sekalian bertanggung jawab dengan makanan kalian di kapal," ujar cheft Paul sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hahhaha... Paulll... Di kapal banyak Cheft handal," sahut Diana sambil menepuk pundak Paul.
Wanita itu meninggalkan Paul begitu saja. Cheft gembul itu menekuk bibirnya dengan sedih. Dia benar-benar ingin ikut. Tapi jika tuan rumah menolak, Cheft Paul berencana untuk menangis.
"Hei, sudah tua gak usah ngambek. Nanti tambah jelek, bibi Matilda cari yang lain." Celetuk Aaron menggoda.
__ADS_1
"Tuan muda.... hikkk... ikutttt...."