Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Dylan dan Rachel


__ADS_3

"Diana? Apakah kau merindukanku?" Suara yang tiba-tiba menyapanya membuat Diana terkejut. Langsung saja langkah kakinya terhenti. Satu tangan memegang perut dan tangan lainnya mencengkeram tangan Dylan dengan kuat.


"Ah.. jadi sekarang kalian bersama?" tanyanya lagi sambil menyungging senyuman.


"Kenapa kau bisa tahu aku disini?" tanya Dylan tidak suka.


"Aku mengikuti jejakmu." ujar orang itu dengan nada menyepelekan.


"Kau... kau menghilang sekian lama kenapa tiba-tiba ada disini? Kalian bersengkongkol?" tanya Diana dengan bergetar melihat kedua orang dihadapannya. Saat ini kekuatirannya nyata. Dia dapat merasakan situasi yang berbahaya.


"Tidak Diana. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Tolong dengarkan penjelasanku." ucap Dylan dengan terburu-buru dan kuatir. berusaha menyakinkan sambil menyentuh bahu Diana.


Diana menepiskan tangan Dylan yang menyentuh bahunya dan yang dia genggam sebelumnya.


"Apa yang aku pikirkan Dylan? Menurutmu apa yang aku rasakan saat ini?" suara Diana meninggi. Nafasnya tersenggal-senggal. Saat ini kepalanya sudah sedikit pening dan tubuhnya mulai lemas. Sedangkan emosinya sudah meningkat. Beruntung sekali dia tidak memiliki riwayat penyakit darah tinggi yang akan menjadi sangat berbahaya bagi ibu hamil.


Dylan tercekat. Dia memandang Diana dengan memohon sambil menggelengkan kepalanya. Dari sorot matanya dan expressi wajah dapat terlihat dia hendak berkata bahwa apapun yang Diana pikirkan adalah salah. Tapi lidahnya tercekat untuk menyampaikan maksud hati.


Kemudian dia beralih memandang kearah orang tersebut.


"Kenapa kau berada disini. Menjauhlah. Aku sudah berjanji akan membawanya pergi. Jangan kau sakiti dia." Ucap Dylan dengan berapi-api.


"Benarkah, lalu kemana kalian akan pergi sekarang?" tanyanya lagi.


"Aku harus membawa dia pergi ke klinik, karena dia akan melahirkan."


"Hahahaha dasar pria bodoh! Itu sebabnya aku tidak bisa mempercayaimu."


"Apa maksudmu Rachel?" tanya Dylan pada orang dihadapannya yang tak lain adalah Rachel.


"Mau melahirkan? Lihat dia baik-baik saja. Usia kandungannya bahkan belum ada sembilan bulan." tuding Rachel dengan sinis.


Dylan menatap Diana tidak mengerti. Dia tidak menyangka jika Diana akan membodohinya. Expressi yang ditampakannya begitu nyata.


"Tidak. Aku tidak berbohong. Perutku sakit Dylan. Tolong bawa aku pergi dari sini. Jauhkan aku dari dia." ucap Diana dengan memelas mendapati dirinya terdesak.


Dylan seperti orang bodoh, dia kebingungan menatap Diana.


"Lihat, dia pandai berakting bukan. Pesona seperti itulah yang dia gunakan untuk mengendalikan Andrew." ucap Rachel dengan suara lirih tapi begitu menekan.


"Tidak Dylan. Lihat, rasakan kandunganku. Bayiku tidak bergerak. Aku mohon bawa aku ke rumah sakit. Bayiku tidak bergerak. Tolong." Diana terisak khawatir ketika dia tidak dapat merasakan gerakan di perutnya. Air mata sudah menetes di pipinya.


"Baby sayang.. bangun nak. Bangun, ayo tendang mommy. Bergeraklah sayang." Diana terus mengajak bayi dalam kandungannya berbicara. Saat ini dia benar-benar panik bukan sekedar akal-akalan seperti sebelumnya ketika didalam kamar motel. Perutnya terasa kram sementara kakinya menjadi lemas.

__ADS_1


Melihat bagaimana Diana panik, Dylan segera menenangkan wanita itu.


"Aku akan membawamu segera ke rumah sakit terdekat. Tenanglah." Dylan menggandeng tangan Diana untuk pergi. Baru saja mereka berjalan dua langkah Rachel menghadang.


"Berikan dia padaku Dylan!"


"Tidak! Aku sendiri yang akan membawanya ke rumah sakit."


"Berikan padaku sekarang juga, aku yang akan menangani wanita ini."


"Tidak!"


"Aku mohon Rachel biarkan aku pergi dengan Dylan. Ow!" Diana mengerang kesakitan ketika perutnya menegang. Rasa stress yang dia rasakan saat ini langsung berpengaruh pada kondisi kehamilannya.


"Tidak usah acting. Kemarikan dia Dylan sebelum aku menyeretnya dengan kasar." Rachel mengulurkan tangannya.


Dylan yang juga panik dengan keadaan Diana yang mulai berkeringat, dia segera maju menyembunyikan wanita itu dibalik punggungnya dan menghalangi Rachel untuk mendekat.


"Menjauhlah. Aku akan membawa Diana pergi jauh. Dia tidak akan ada diantara kalian berdua lagi."


"Dylan. Telphone Andrew. To...long..hu..bungi dia." hosh...hosh.. Diana berbicara dengan terbata-bata sambil menahan kontraksi diperutnya.


Dylan ragu sejenak. Menghubungi Andrew berarti mengakui kalau dia yang membawa Diana kabur. Dia masih ingat bagaimana perlakuan Andrew di mansion waktu itu. Jadi dengan bertekad untuk menjadi seorang pahlawan, Dylan tidak menghiraukan permintaan Diana.


"Minggir kau Rachel!" teriak Dylan dengan suara yang menggelegar.


"Habisi dia dan bawa wanita itu pergi." ucap Rachel lantang kepada orang yang berada dibelakang Diana.


Entah dari mana datangnya, saat itu sudah ada dua orang pria bertubuh besar dengan menggunakan kaos berwarna hitam berdiri di belakang Diana.


"Dylan tolonggggg!!! Lepaskan akuuuu. Lepaskannn!" Diana menjadi histeris ketika salah satu dari orang tersebut sudah menarik lengannya dengan kasar. Dylan yang berada didepan Diana terkejut, dia segera memegang tangan wanita itu dan berusaha menahannya.


Yang terjadi selanjuynya adalah salah satu orang yang berpakaian hitam itu segera maju dan memukul perut, rahang juga dada Dylan. Dylan tersungkur ditanah dengan darah yang menetes dari mulutnya tanpa dapat membalas pukulan dari pria bertubuh besar itu.


"Dylannn! Tidak. Lepaskan aku." Diana berontak dari pengawal yang menariknya pergi.


Sedangkan Dylan yang tersungkur hanya dapat mengerang kesakitan dan tidak dapat berbuat apa-apa melihat Diana dibawa pergi.


Setelah mereka pergi dan keributan mereda barulah orang-orang yang menginap di motel berani keluar dari kamar mereka dan menghampiri Dylan yang sudah babak belur. Pengurus motel dan pegawainya sebelumnya hanya bersembunyi ketakutan, karena Rachel membawa beberapa pengawal bersamanya.


Saat ini, mereka segera mengangkat Dylan dan dimasukan ke dalam truck untuk diantarkan ke klinik terdekat.


Di dalam mobil SUV Berwarna hitam, Diana masih memohon sambil bercucuran air mata dan menahan kram di perutnya.

__ADS_1


"Lepaskan aku Rachel, aku mohon kasihani bayiku. Tolong bawa aku ke rumah sakit."


Rachel menoleh dan menatapnya dingin.


"Kau pikir aku perduli? Bagus kalau bayimu mati." tawa Rahel membahana memenuhi mobil menyisakan Diana yang menggigil menahan sakit dan takut.


"Tolong.... Kalian.. kalian pasti memiliki istri atau ibu bukan?" tanya Diana penuh harap kepada kedua orang pengawal bertubuh besar yang mengapitnya.


Kedua orang itu seperti robot yang hanya diam saja dan bergerak sesuai perintah pemilik remotenya. Wajah mereka tampak dingin.


"Rachel,..." belum sempat Diana berkata-kata lagi untuk memohon, wanita itu sudah menoleh kepadanya dengan tatapan dingin.


"Bius dia kalau masih saja banyak bicara." perintah Rachel kepada dua orang pengawal itu.


"Tidak. Tidak. Jangan bius aku. Aku akan diam." ucap Diana dengan ketakutan. Dia menyadari sangat berbahaya obat bius itu dampaknya pada bayi dalam kandungannya.


Saat ini Diana hanya dapat berdoa dan berharap mujijat akan datang.


Tuhan, ampuni dosaku.


Aku mohon selamatkan aku dan bayiku dari tangan wanita ini.


Aku mohon biarkan Andrew menemukanku.


Tolong Tuhan...


Aku mohon selamatkan aku dan bayiku.


Bila mungkin jamah Rachel dan para pengawal ini agar berbelas kasihan padaku.


Ampuni dosaku ya Tuhan dan bebaskan aku dari mereka. Selamatkan semua orang yang aku kasihi.


Bayiku... ya Tuhan, tolong selamatkan anakku. Aku rela menjadi penggantinya asal anakku selamat.


******************


Hallo Guysss... jangan lupa like dan Vote yaaa..


Biar Author makin semangat berkarya.


Oh yaa, Seassons satu akan segera berakhir.


Jadi yang semangat yaaa like dan vote nya jugaa.

__ADS_1


Terimakasih banyakkkk.


I love you


__ADS_2