Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
49.Wanita Gila


__ADS_3

Rachel tersenyum buas diatas Andrew. Setelah melepas gaun tidur transparant nya dia mulai naik diatas tubuh Andrew, perlahan melepaskan kancing - kancing kemeja dan seperti singa kelaparan dia segera menerkam dada Andrew, mencium dan meraba aktif. Andrew makin ter#ngs#ng dan tangannya pun mulai aktif mengusap dan membelai tubuh wanita yang liar diatasnya. Rachel dengan pesonanya duduk diatas Andrew tepat di mahkota dan menggesekan tubuhnya disana sedangkan Andrew yang sudah mulai merasa panas disekujur tubuhnya dengan nafas memburu mulai aktif melepas kaitan bra, menyentuh dan m*r*mas dada yang terbusung dihadapannya.


Rachel mendesis menikmati sentuhan tangan itu dan dia menundukan badannya hingga dada nya menyentuh bibir lelaki dibawahnya. Rachel tersenyum j#l#ng memandang Andrew yang mulai menikmati dada nya.


 


*Akhirnya kau jatuh lagi dalam pelukanku. Akan aku pastikan kali ini kau tidak bisa lepas dariku*.


 


Rachel tersenyum tipis sambil melirik kearah ponsel yang sudah dia sediakan di meja kecil samping tempat tidur. Rencananya adalah ketika Andrew tidur dia akan mengambil foto- foto telanjang mereka sebagai senjata untuk menjauhkan Diana. Agar wanita itu bisa melihat kemesraan yang masih terjalin diantara dia dan Andrew.


Hawa panas semakin mendorong Andrew untuk bersikap aktif, dia mulai membalikan posisi dan berada diatas Rachel. Saat dia berada di posisi atas dan memandang kebawah, sebagian sisi dirinya merasa ada yang berbeda dengan wanita dalam pelukannya. Dia memandang sambil mengerjapkan mata dan menggelengkan kepala.


"Ayo sayang cium aku," Rachel mendesis manja.


Andrew hendak mencium bibir Rachel tapi dia urungkan niatannya, ada yang berbeda dari bibir itu.


Ciuman akhirnya beralih keleher dan bahu, sementara itu bunyi handphone berbunyi dan bergetar bersamaan di saku celana Andrew yang masih belum terbuka.


Rachel berusaha menggapai saku celana Andrew dan mematikan handphone tersebut tapi tidak berhasil. Akhirnya Andrew duduk dan mengambil handphone di saku celana bermaksud untuk mematikannya ketika dilihat nama yang menghubungi nya disana. Diana .


Dia terdiam dalam kebingungan. Handphone masih berbunyi dan nama itu tampak memanggil nya berulang - ulang, dan dengan pandangan yang masih sedikit kabur dia menoleh kearah tubuh wanita yang tergeletak setengah telanjang di sisinya. Menoleh kearah handphone dan wanita tersebut bergantian.


"Sayang matikan ponselmu, aku sudah tidak sabar."


Tanpa sadar Andrew memencet tombol hijau dan tersambung dengan Diana.


"Hallo...Andrew ? Hallo sayang, kau disana ?" Suara itu mengejutkan Andrew. Segera dia tersadar dan mematikan handphone, memandang Rachel penuh amarah dan turun dari tempat tidur bergegas menuju kamar mandi.


Di kamar mandi dia lepas semua pakaian dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Air mengucur deras membasahi kepala dan sekujur tubuhnya. Rasa pusing sedikit berkurang. Rasa bersalah semakin bertambah.


"Maafkan aku. Maafkan aku." Berulang - ulang Andrew mengatakan kalimat itu sambil sesekali memukul kening dan dadanya.


Pintu kamar mandi di ketuk perlahan.


"Sayang, apa yang kau lakukan? Sayang ayo cepat aku sudah tidak sabar. " Rachel diam sesaat mencoba mendengarkan suara dibalik pintu. Kemudian dia mengetuk semakin keras, "Sayang ayo cepat keluar biarkan aku mencumbumu. Sayangggg."

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi, hanya suara air yang mengucur deras. Rachel marah.


"Andrewww! Keluar Andrew! Jangan kau berani - berani meninggalkanku seperti ini! Anderew!" Rachel kalap dan mulai menggedor pintu semakin keras.


"**#*!" Rachel mengumpat keras. Kemudian memakai jubah tidurnya dan duduk di tempat tidur dengan mendekap tangannya. Pandangannya tajam menatap pintu kamar mandi. Rachel marah!


Siapa pengacau yang tiba - tiba menghubungi Andrew. **#*!


Beberapa saat kemudian Andrew keluar dari kamar mandi dengan memakai celana panjangngnya kembali, berjalan melewati Rachel dan mulai mengenakan kemejanya.


"Andrew sayang, kemarilah." Suara Rachel lembut mencoba merayu lagi dengan harapan sisa - sisa obat masih berpengaruh pada Andrew.


Andrew menoleh dan memandang Rachel dengan tatapan tajam penuh kebencian.


"Wanita Gila! Berani - beraninya kau melakukan itu lagi!" Suara Andrew keras dan kasar.


"Ha..ha... baru kali ini kau lolos dan mengumpatku." desis Rachel dengan sinis.


"Kau wanita gila!"


"Iya aku gila! Gila karenamu!"


Andrew membaringkan dirinya disisi Conrad dan mencium kening bocah ini serta menaikan selimut di tubuh kecil nya. Kalau saja bukan karena rasa kasihan pada bocah ini dan keinginan Diana untuk memiliki anak. Dia tidak akan rela menginjakan kaki nya lagi di rumah ini.


Andrew mengambil ponselnya kembali dan menekan nomor Diana. Pangillan tersambung, "Hallo Andrew."


Andrew terdiam sejenak.


"Kau disana Andrew, apakah kau baik - baik saja?" Suara wanita diseberang sana terlihat panik.


"Aku baik - baik saja. Terimakasih kau sudah menghubungi aku tadi." kata Andrew bersungguh - sungguh.


"Ooo itu. Aku kira kau marah karena aku menghubungimu."


"Kenapa aku harus marah?"


"Hmm.. karena tiba - tiba kau mematikan telphone."

__ADS_1


"Ah itu karena kesalahan."


"Ooo. Okey. Aku sempat takut."


"Takut bagaimana?"


"Entahlah, aku merasa ada hal buruk terjadi padamu. Dan ketika kau matikan telphonemu aku menjadi semakin kuatir." Suara Diana tampak begitu kuatir.


Andrew terdiam. Ternyata gadis kecilku amat sangat peka.


"Terimakasih kau menyelamatkan aku."


"Menyelamatkan bagaimana? Apakah benar ada hal buruk terjadi padamu?" tanya Diana dengan panik.


"Tenanglah tidak ada hal buruk terjadi. Aku baik - baik saja." Andrew meyakinkan Diana.


"Syukurlah kalau begitu. Jam berapa kau akan pulang malam ini?" Andrew terdiam sesaat mendengar kata - kata Diana. Dia berpikir sejenak.


"Aku tidak akan pulang malam ini. Aku ada urusan bersama Briant. Besuk pagi aku akan kembali."


"Baiklah. Jaga dirimu baik - baik ya. Jangan berbuat macam - macam!" Ancam Diana dengan lembut.


"Tentu saja. Aku mencintaimu." Kata Andrew dengan suara bersungguh - sungguh.


"Aku juga mencintaimu." Pembicaraan diantara mereka terhenti.


Andrew meletakan ponsel di lantai. Dia berbaring dengan melipatkan kedua tangannya sebagai sandaran kepala. Banyak hal yang dia rencanakan untuk masa depan. Perceraian dengan Rahel bukanlah hal yang mudah meskipun dari awal pernikahan, mereka sudah pernah menandatangani perjanjian harta terpisah.


Masalah yang ditimbulkan oleh Rachel dan keluarganya bisa mengguncangkan stabilitas perusahaan yang selama ini dia perjuangkan.


Andrew mengambil ponselnya kembali dan menghubungi seseorang.


"Bryant, kumpulkan bukti - bukti yang tidak bisa dibantah Rachel dan keluarganya. Aku harus segera menyelesaikan masalah ini."


"Iya, sudah mulai terkumpul. Tapi kita masih memerlukan satu lagi bukti yang tak terbantahkan." Kata Bryant diseberang sana.


"Baiklah perintahkan orang - orang mu untuk bekrja lebih giat. Aku akan menggandakan bonus mereka."

__ADS_1


"Okey."


Andrew menghela nafas panjang dan mulai memejamkan mata setelah memastikan pintu kamar Conrad terkunci rapat dari dalam.


__ADS_2