Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Gigi Hitam


__ADS_3

Selesai beraktifitas di salon. Kedua pengasuh tampak senang sekali mengibas-ngibas kan rambut pendek mereka, yang baru saja creambath dan sudah di blow dengan rapi.


Francesca dengan senang memandangi rambut nya yang sudah di potong sebahu. Pegawai salon pun sudah membuat dua kunciran lucu di sebelalah kanan dan kiri rambut Francesca.


Sementar Aaron melipat tangannya dan menekuk wajahnya. Kepalanya pun sedikit di turunkan hingga menutupi leher bagian depan, sambil memandangi Francesca dan menelitinya di setiap sudut.


Diana dengan sigap mengambil smartphone nya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan moment lucu ini. Ingatan bisa luntur, tapi rekaman akan abadi jika tidak terhapus.


"Kenapa Aaron sayang kok mukanya ditekuk. Kakak Frances cantik kan?" Tanya Diana.


"Hemmm... iya cantik. Cantik. Tapi, lambutnya kok gak kembalan sama Alonnn. Lambutnya kok kaya mommy."


Aaron tampaknya masih protes.


"Kan kakak cewek sayang, cewek kalau rambutnya seperti Aaron, nanti gak bisa pakai pita, di jepit dan kurang feminim."


"Hemmm... iya. Iya. Cantik.. cantik."


Aaron mengangguk-anggukan kepala nya.


"Aaron kan rambutnya sudah kembaran dengan kak Conrad. Mommy dengan kak Francesca." Ujar Diana lagi dengan geli.


"Iya ini. Sama kan," ujar Conrad sambil menunjukan rambutnya.


"Ini cowok. Keren kan rambut segini. Gak ribet. Cewek itu ribet Aaron, rambut panjang, sisiran tiap saat, pakai pita, bando... hiii ribet." Conrad yang baru saja datang langsung nimbrung.


"Holeeee kak Conlad datang. Ayooo makan ice cleammm. Alon mau stlawbely dan cokelat."


Aaron berloncat kegirangan. Bocah ini memang sangat suka sekali meloncat-loncat untuk mengekspresikan perasaannya.


"Ayo, kita beli camilan juga ya." Diana menggandeng tangan Francesca. Sementara Conrad sekarang sedang bergandengan tangan juga.


Sesampai nya di sebuah cafe, Diana mengajak anak-anaknya masuk.


"Alon mau Aplle pie ini dengan dua ice cleam." tunjuk Aaron.


"Ice cream rasa apa tuan kecil?" Tanya pelayan cafe.


"Ice cleam stlawbely sama coklat." Sahutnya dengan cepat.


"Aplle pie kurang enak loh di makan dengan ice cream coklat," ujar Diana.


"Ya udah kalau begitu, Alon ganti saja dengan banan boat. Tiga ice. Ice cleam coklat satu stlawbelly dua." Aaron pindah haluan.


"Yakin, gak jadi Aple pie?"


"Buat mommy saja aplle pie nya."


"Eh, kok gitu."


"Nanti alon yang makan semua apple nya, ya." Ujar nya dengan bangga seakan sedang berdemawan.


"Hahhaha. Iya dah, biar mommy makan pie nyaa." Diana tertawa geli.


"Frances mau ini." Francesca menunjuk pada brownies cokelat.


"Sama ice cream Vanila yaa." Diana menawarkan ice cream.

__ADS_1


Francesca mengangguk.


"Kalau Conrad mau apa?"


"Conrad gak mau cake. Conrad mau turkery sandwich saja. Lapar habis belajar keras."


Conrad menunjukan pada sejenis sandwich yang terbuat dari gandum. Kulit luarnya mirip dengan roti prata yang tidak digoreng, diisi dengan irisan daging turkey tipis-tipis, campuran selada dan keju dengan mayonaise.


Kedua pelayan tentu juga mendapatkan jatah mereka masing-masing. Mereka menikmati waktu menikmati camilan dengan ceria.


"Aaron makan jangan belepotan, malu."


Francesca mengulurkan tisyu kepada adiknya.


"Alon kan masih kecil. Itu lihat, gigi kakak hitam-hitam. Hiii selemm," Aaron menunjuk kearah gigi Francesca.


"Gigi Frances ndak hitammm. Iii Aalonnnn." Frances merengek.


"Hitammm.. ya kan mommy, hitammm."


Diana menoleh melihat pada Francesca.


"Coba tunjukan gigi mu, francesca."


Francesca memperlihatkan jejeran gigi nya.


"Ah, ini ada brownies yang menempel. Sini mommy bersihkan." Diana menggosokan tisyu pada gigi Francesca yang memiliki noda hitam jejak dari brownies yang menyangkut.


"Udah bersihkann. Gak hitam kan."


Francesca memamerkan gigi nya pada Aaron. Sayang sekali bocah itu sudah tidak menaruh perhatian lagi pada gigi kakaknya. Sekarang dia turun dari kursi dan menunjuk-nunjuk pada balon yang dibawa seorang anak.


Aaron merengek meminta balon.


"Aaron. Nanti kita beli saja yang belum di tiup. Nanti di mobil biar tidak penuh sesak. Okey?"


Aaron mengangguk patuh.


Keluar dari cafe mereka masuk ke toko mainan


"Sini mommy... Alon mau hot whell balu." Aaron menarik tangan Diana menuju area mobil hot wheels.


"Sini mommy, Frances mau boneka ini." Frances menarik Diana ke area mainan anak perempuan.


"Mommy sama Aalon!"


"Mommy sama Frances!"


Kedua anak itu tidak mau mengalah saling menarik tangan Diana. Satu ke arah kiri yang satu ke arah kiri. Diana dibuat bingung dengan tingkah mereka.


"Stop. Stop. Tangan mommy sakit. Sekarang mommy tunggu disini ya. Aaron cari mainan dengan nanny Maria, Francesca dengan nanny Matilda, okey. Beli seperlunya. Tidak boleh sama dengan yang sudah kalian punya."


Diana berkata tegas. Beruntung sekali dia memiliki pengasuh yang siap membantunya. Tidak bisa dibayangkan oleh Diana, ibu-ibu hebat yang mengasuh anak-anaknya seorang diri.


Kedua bocah tersebut tiba-tiba menekuk wajah nya dan memandang Diana dengan mata berkaca-kaca. Mereka mengira jika ibunya sedang marah. Diana langsung menyesal, mungkin nada suara nya terlalu keras.


"Kalian jangan menangis ya. Mommy gak marah. Mommy cuma capek, mau duduk sebentar. Boleh kan?" ujar Diana dengan suara melembut.

__ADS_1


Aaron dan Francesca mengangguk. Mereka menyeka air mata yang hampir menetes.


"Ayo sana, pilih mainan yang paling kalian suka. Satu saja ya. Ingat di rumah banyak mainan."


"Baik mommy!"


Dengan kompak Aaron dan Francesca berseru kemudian sibuk memilih mainan. Tampaknya memilih hanya satu mainan begitu sulit bagi mereka. Jika boleh, tentu mereka akan minta memindahkan isi toko ke rumah.


"Mommy," panggil Conrad dengan suara lembut.


"Ya sayang, kamu tidak ingin memilih sesuatu?"


Diana memandang Aaron yang ikut duduk di samping nya dengan heran.


Conrad menggeleng.


"Nanti saja. Conrad mau minta beli buku baru saja."


"Baiklah. Tunggu adik-adikmu selesai ya."


Conrad mengangguk.


"Mommy,"


"Ya..."


"Tidak punya adik lagi, ga apa-apa kok. Conrad kasihan sama mommy, capek."


Conrad memandang Diana dengan penuh perhatian.


"Ah sayang... Jangan khawatir untuk hal itu. Ketika adik-adikmu sudah tumbuh lebih besar seperti dirimu, mommy tidak akan merasakan moment diperebutkan seperti ini lagi. Dan lihatlah mommy, ada dua pengasuh dan puluhan pelayan dirumah. Daddy sudah bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan kita. Jadi jangan khawatir mengenai hal itu. Mommy sangat senang dan menikmati setiap moment bersama kalian."


Diana menjelaskan dengan perlahan kepada Conrad. Memang dirinya sangat beruntung. Satu anak satu pengasuh. Belum lagi pelayan dan pengawal. Jika mengingat bagaimana bibi nya dulu merawat tiga orang anak tanpa pengasuh, Diana merasa beliau sangat luar biasa.


"Momm," panggil Conrad lagi.


"Ya.."


"I Love You mommy."


Conrad memeluk Diana dengan hangat.


"Ah... I Love You sayang." Diana membalas pelukan anak tertuanya itu.


Kemesraan mereka buyar, ketika kedua anak kecil tersebut datang dengan sekeranjang mainan.


"Mommy Alon mau semua nya yaaaa, pleaseee." Ada hampir Lima puluh hot wheel di sana.


"Frances mau ini saja ya mommy, cuma dua." Francesca menunjukan pada sebuah Boneka kuda poni dan LoL.


"Pleaseeee..." ujar kedua bocah itu memelas.


"Baiklah. Kakak Frances boleh dapat dua mainan tersebut. Untuk Aaron, kita lihat berapa total harga dua mainan kakak, maka Aaron akan mendapatkan hot wheel seharga punya kakak, Okey?"


Aaron mengangguk. Akhirnya Aaron hharus bahagia dengan dua luluh hotwheel.


Mereka berinringan menuju toko buku. Giliran Conrad membeli sesuatu untuk dirinya. Sementara Aaron yang mengantuk sudah tidur di gendongan Diana. Sedangkan Francesca tidur di stroler.

__ADS_1


Perjalanan pulang ke Mansion menjadi sangat sepi. Kedua kurcaci kecil sudah terlelap. Wajah polos dan lucu saat mereka terlelap mengingatkan Diana pada kartun jepang Shincan. sangat lucu.


... 💗💗💗💗💗...


__ADS_2