
"Dylan?" Diana dan Lia menyebut nama itu bersamaan dengan heran.
"Kakak, apakah itu Dylan yang sempat datang ke Indonesia?" tanya Lia dengan polos.
Saat itu juga Diana bisa merasakan hawa dingin di belakang punggungnya dan sebuah tangan kekar yang mencengkeram bahu nya. Wajah tegangnya memberi isyarat kepada Lia. Sedangkan wajah tegang Andrew merasa tidak suka mendengar perkataan Lia tetapi masih menunggu penjelasan.
Lia menyadari kesalahannya.
"Dylan dulu datang bersama Maya kok ke Indonesia. Mungkin dia pasangan Maya." ucap Lia lagi berusaha mencairkan suasana.
Lagi-lagi Lia salah bicara. Mendengar nama Maya, Andrew mendengus kesal. Masih teringat ketika dia salah memeluk Maya.
"Untuk apa dia kemari mencari mu?" tanya Andrew dengan kesal.
"Aku tidak tahu sayang." Diana berusaha menjawab dengan tenang. Andrew jarang sekali cemburu karena dirinya selalu bisa menjaga sikap. Tetapi masih teringat saat dulu bagaimana Andrew menyetubuhi dirinya bagaikan ******* ketika terpancing cemburu.
"Kalau kau tidak ingin aku menemuinya, maka aku tidak akan menemuinya." sambung Diana dengan tenang sambil membelai wajah Andrew.
"Bagus!"
"Aku saja." suara Lia memecahkan ketegangan. Andrew menatap Lia tajam.
"Biar aku saya yang menemuinya. Aku penasaran kenapa dia kemari. Please ya brother." Lia mengatupkan kedua tangan didadanya dan tersenyum manis.
Andrew mendengus kesal dan mulai mengenakan bathrobenya.
"Lakukan sesukamu." jawab Andrew dingin dan kembali bersandar di bangku seraya menarik Diana dalam pelukannya sebagai pertanda tidak akan membiarkan wanita itu pergi dari sisinya.
Lia segera keluar menuju ruang tamu. Disana dia melihat Dylan bersama seorang wanita.
"Kak Dylan. Apa kabar?" tanya Lia ramah.
"Lia, kamu ada disini?" tanya Dylan dengan terkejut.
"Iya kakak. Kenapa kakak ada disini?"
"Aku harus menemui kakakmu, dimana Diana?"
"Dia sedang beristirahat."
"Tapi aku perlu berbicara dengan dia."
"Katakan padaku, aku akan menyampaikan padanya."
"Tolong Lia, aku perlu menemuinya. Ini antara hidup dan mati." kata Dylan dengan frustasi sambil melirik ke arah Eva.
"Apa maksud kakak hidup dan mati?" Lia semakin heran dengab prilaku Dylan yang berbeda saat tiga tahun yang lalu dia bertemu.
Dylan menghela nafas. Mengatur emosinya.
"Kau tidak akan membiarkan kakakmu keluar menemuiku bukan? Apa tuan Andrew yang melarangnya? Bagaimana bisa kau biarkan kakakmu tinggal dengan pria brengsek itu?" ucap Dylan dengan nada yang mulai emosi.
"Ada apa denganmu kakak, kenapan kau berbicara kasar seperti itu kepada brother Andrew?" Lia mulai tidak suka dengan sikap kasar Dylan.
__ADS_1
"Kau tahu aku mencintai kakakmu sedari dulu. Kau tau seberapa lama aku menanti dia. Sekarang aku tidak akan melepaskan dia lagi karena ada hal yang mengikat diantara kita."
"Maksud kakak?" Lia semakin tidak mengerti dengan arah bicara Dylan yang berantakan.
"Lia, anak dalam kandungan kakakmu adalah anakku. Anakku! Bayiku!" Perkataan Dylan mengejutkan Lia. Bukan saja Lia, tetapi Diana dan Andrew yang memutuskan untuk melihat keributan yang terjadi menjadi amat sangat terkejut.
"Bicara apa kamu Dylan!" bentak Diana dengan marah.
"Diana, kau akhirnya mau menemuiku. Ayo kita tinggalkan tempat ini." ucap Dylan dengam wajah berseri ketika melihat Diana dihadapannya.
"Tidak Dylan!" jawab Diana dengan tegas.
"Kenapa kau memisahkan aku dengan anak kita? Bayi itu bayiku Diana."
Diana tercekat mendengar perkataan yang diulang oleh Dylan. Dia menggigil marah dengan mencengkeram tangan Andrew. Sementara wajah Andrew memandang pria itu dengan murka.
PLAK! PLAK!
Lia menampar wajah Dylan dengan keras.
"Kau pikir kakakku wanita murahan, ha?!"
ucap Lia dengan marah.
"Itu anakku. Ayo kita pergi dari sini Diana, kenapa kau bersikeras memilih pria yang hanya akan menyakitimu?!" Dylan histeris.
"Tutup mulutmu pria brengsek!" Kali ini Andrew tidak bisa menahan diri lagi.
Dia menghantam wajah Dylan kemudian perut pria itu hingga tersungkur beberapa meter kebelakang.
Dylan tertawa meringis.
"Kau yang pria brengsek tuan Andrew terhormat. Kau hanya menggunakan wanita sebagai pelampiasan nafsumu saja. Kau tidak tahu rasanya sakit karena mencintai seseorang." ucap Dylan sambil menyeka darah disudur bibirnya.
"Apa yang kau tahu tentang diriku! apa yang kau tahu tentang cinta!" ucap Andrew dengan garang.
"Hanya aku yang bisa membahagiakan dia. Hanya aku yang bisa menyelamatkan dia!" ucap Dylan dengan suara lantang.
Andrew hendak memukul Dylan kembali, tetapi tiba-tiba Eva maju menghadang.
"Pria ini benar adalah ayah dari bayi itu. Aku punya bukti kebersamaan mereka." Eva angkat suara. Dia mengeluarkan ponsel nya dan menunjukan foto saat Dylan memegang lengan Diana.
"Eva! Apa masalahmu dengan diriku? Kenapa kau menebarkan fitnah?" nafas Diana mulai tersenggal-senggal menahan emosi.
"Aku tidak menipu, itu adalah kenyataan. Kau memiliki hubungan dengan pria ini." ujar Eva dengan tersenyum licik.
Lia yang tidak terima kakaknya di perlakukan seperti itu segera maju dan menarik rambut panjang Lia dengan kasar. Wanita itu terjengkal kebelakang dengan amarah, sementara rambutnya terlepas dalam genggaman Lia.
"Ternyata rambut indahmu rambut palsu?" Lia tertawa mengejek.
"Berikan rambutku, kau wanita murahan!"
Eva menjadi kalap karena merasa dipermalukan.
__ADS_1
"Ambil ini dan pergilah." Lia melempar rambut palsu itu tepat mengenai wajah Eva yang mana makin membuat Eva kalap. Tapi sebelum dia dapat bertindak jauh, seorang pengawal sudah menangkap tangan Eva.
"Seret mereka keluar dari sini!" Bentak Andrew dengan emosi.
"Anak itu anakku. Kembalikan wanitaku dan anakku!" teriak Dylan sebelum pengawal membungkamnya.
"Kau bukan Dylan orang yang aku kenal. Kau menghinaku Dylan. Aku tidak mau melihatmu lagi." ucap Diana dengan mata berkaca-kaca.
Emosi yang memuncak disaat kehamilannya yang masih muda, membuat dia menjadi semakin lemah. Tubuhnya terhuyung dan untung saja Andrew yang melihatnya segera berlari dan mengangkat tubuh Diana dalam gendongannya. Wanita itu memeluk Andrew dengan ketakutan. Dia takut Andrew terpengaruh dengan ucapan mereka dan meragukan kesetiaannya.
Andrew meninggalkan kekacauan yang terjadi dan membawa Diana ke atas. Sementara butler Jhonn bergegas membuat air madu hangat untuk Diana.
Pengawal Andrew menyeret Dylan dan Eva keluar dari Mansion dengan kasar. Lia mengikuti mereka. Dalam hati dia masih tidak percaya Dylan bisa berubah seperti itu.
Di depan Mansion masih dengan sumpah serapa nya Eva pergi meninggalkan Dylan yang berlumuran darah begitu saja. Dylan sempat menerima beberapa pululan dari pengawal lagi ketika mencoba berlari mengejar Andrew yang mengangkat Diana.
Sekarang tubuh Dylan tergeletak di jalanan bagaikan seorang gelandangan. Lia tidak tega melihatnya. Dia memang marah dengan semua yang dikatakan Dylan, tapi dia tahu pria itu mencintai kakaknya meskipun dengan cara yang salah.
"Nona sebaiknya kita masuk." ajak salah seorang pengawal.
"Tidak bisakah kalian memanggil ambulans atau taxi untuk dia?" tanya Lia berharap.
"Biarkan saja nona, itu akibat sudah mengganggu ketentraman tuan dan nyonya." kata kepala pengawal. Sesungguhnya Dylan beruntung dengan keadaan yang seperti itu. Jika dia berurusan dengan Andrew yang dingin dulu, hukuman paling ringan adalah patah tulang.
"Nona masuklah."
Lia masih ragu. Ketika dia memutuskan untuk masuk kedalam mansion saat itu sebuah Lamborghini warna merah lewat dan berhenti. Pria didalamnya
membuka jendela dan berkata, "kucing liar, kau habis membunuh orang?"
πππππππππππππππππ
Hallo kakak pembaca...
Terimakasih sudah setia membaca. Jangan sungkan mengkritik yaaa.
Oh ya terimakasih atas vote nya ya.
Sebagai ucapan terimakasih untuk periode vote tanggal 21-9-2020 sampai dengan 4-10-2020
Tiga orang dengan vote terbanyak akan mendapatkan bonus souvenir ya dari author.
Ayooo simpan poin kalian untuk periode vote di atas yaaa.
Untuk sementara pemenangnya masih
Yelli Niska
Yun hata
Mee lucky
Ayooo vote sebanyaknyaaa yaaa. Terimakasih atas dukungan kalian.
__ADS_1
Salam