
Ini adalah hari pertama Conrad menempati flat nya. Dia hanya mengisi lemari kecil dengan beberapa pakaian. Conrad hanya membawa dua pasang sepatu kets dari rak sepatu nya di mansion yang berjumlah puluhan dan satu sandal rumahan. Buku-buku mata kuliah nya sudah dia bawa semua dengan satu tas punggung yang paling tua.
Perlengkapan lainnyan telah di sediakan oleh Diana. Wanita itu telah memerintahkan dua orang pelayan untuk membersihkan flat kecil Conrad. Dia juga menyediakan peralatan makanan, bahan-bahan makanan dan lain sebagai nya. Untuk sofa dan tempat tidur sudah ada. Namun Diana membawakan sprei dan bed cover baru untuk Conrad. Diana merasa bangga pada Conrad yang mau belajar hidup sederhana.
Bahkan Conrad belajar mengoperasikan mesin cuci. Bagaimana memakai microwave dan menghidupkan kompor. Dan bagaimana menggunakan Vakum Cleaner. Hal yang tidak pernah dia lakukan ketika hidup di mansion. Kini, Conrad belajar bagaimana hidup mandiri, seorang diri.
Pemuda itu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang keras. Awalnya dia kesulitan untuk tidur, Conrad memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, untuk menyesuaikan diri. Tentu saja tempat tidur di flat sederhana berbeda dengan Mansion mewah.Saat ini anak seorang konglomerat merasakan hidup sebagai rakyat jelata.
Setelah beristirahat selama satu jam. Conrad bangun dan segera mandi. Hari sabtu ini adalah hari pertamanya akan bekerja paruh waktu di coffee shop yang sama dengan Ruby. Conrad berharap agar bisa bertemu dengan Ruby.
Pemuda itu menuruni flat tanpa lift dan berjalan menunu coffee shop. Saat Conrad masuk, semua pegawai coffee shop menatapnya, mereka mengira jika Conrad adalah salah satu pelayan disana. Tetapi ketika Conrad menunjukan name tag dan menanyakan ruang berganti seragam, mereka justru lebih senang sekali.
"Gilaaa! Tampan sekali. Bisa semakin semangat aku bekerja."
"Ih dasar lu, Fera ganjen."
"Duh... kamu juga suka kan Milagross?"
Kedua gadis muda itu tertawa bersama.
"Jack bakal ada saingan nich." ujar Fera.
"Biarin. Kita perlu banyak Pemuda, agar setiap gadis mendapatkan jatah." sahut Fera.
"Tumben otak loe cerdas. "
Kedua gadis itu asyik cekikikan.
" Hei, Ruby sini!"
"Ada apa?" tanya Ruby yang baru saja selesai mengganti seragam, mendekati mereka.
"Kita punya anak baru. Cakeppp banget." ujar Milagross bersemangat.
"Oh ya?" Ruby tampak tidak tertarik.
"Beneran. Baru masuk di ruang ganti. Bakal segar hari-hari kita sekarang." Fera mengelap meja sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
Tak lama Conrad keluar dengan seragam bersama Manager coffee shop.
"Anak-anak perkenalkan ini Conrad. Dia akan berkerja paruh waktu disini." ujar Managers wanita.
"Hai Conraddd.. Aku Fera. Dia Milagross dan itu Ruby." Fera memperkenalkan diri pada mereka semua.
Conrad tersenyum menyapa mereka semua. Terutama ke arah Ruby yang kaget.
"Kalian bantu Conrad ya, tunjukan hal-hal yang harus dia kerjakan." ujar Managers lagi sebelum meninggalkan mereka semua.
"Hai Ruby." Conrad menghampiri gadis yang dia incar.
"Kau bekerja disini juga?" tanya Ruby heran.
Conrad mengangguk.
"Tapi kenapa?"
"Untuk menambah biaya hidup." Sahut Conrad sambil tersenyum kecil.
"Tapi, bukannya hidup mu tampak sudah berkecukupan?" tanya Ruby heran.
"Siapa bilang. Aku kuliah juga karena beasiswa. Sebelumnya aku bekerja sebagai sopir keluarga kaya. Tapi, sekarang waktu kulaih ku tidak dapat menyesuaikan dengan keperluan mereka. Jadi aku perlu pekerjaan baru." Conrad menjelaskan pada Ruby.
Ruby mengangguk. Dia kemudian kembali bekerja, mengelap sendok dan garpu yang biasa digunakan untuk cake. Sementara Fera memanggil Conrad dan mengajarkan menu yang ada di sana juga bagaimana cara kerja di tempat itu.
Ruby memandang Conrad sesekali. Dia mengira jika Conrad adalah pemuda kaya seperti hal nya Robert dan Jasmine. Tapi ternyata Conrad tidak berbeda jauh dengan dirinya. Mungkin kesan pertamanya kepada Conrad itu salah, karena saat itu Conrad terbiasa bekerja di keluarga kaya.
Ruby sebenarnya menyukai Conrad. Pemuda itu tampan meskipun kadang membawa mobil butut. Dia menyenangkan dan seringkali terasa melindungi dirinya. Dan kehadiran Conrad di tempat dia bekerja ini juga merupakan kejutan.
__ADS_1
"Hai kau baru disini ya?" sapa seorang pelanggan.
"Hallo. Iya aku baru bekerja." ujar Conrad ramah.
"Bisakah kita melakukan selfie, pleaseee."
"Hmmm... sebentar aku harus tanya dulu pada senior apakah diizinkan."
"Sudahlahhh.. ayooo ini permintaan pelanggan."
Gadis itu menari Conrad Untuk mendekat padanya dan mereka melakukan selfie.
Setelah itu, si gadis mengupload foro tersebut ke media sosialnya dengan caption New Hot Guy at Corner Coffee Shop. Dalam hitungan menit, foto itu mendapatkan banyak like. Dan dalam kurang dari satu jam, Coffee shope mulai ramai dengan pelanggan wanita.
Tentu saja Manager menjadi senang dengan hal itu. Dia membiarkan mereka mengambil foto selfie dengan Conrad. Dan memberikan tugas membersihkan meja untuk pemuda itu.
Para pelanggan bergiliran mengajak Conrad berbicara. Tentunya lebih banyak pada gadis-gadis muda tang tinggal disekitaran sana. Conrad tak menyangka hari pertama nya bekerja akan seperti ini. Dia ingin lebih dekat dengan Ruby, tetapi yang terjadi dia malah harus berbicara dengan banyak tamu.
Untuk itu lah, Conrad meminta pada Managers untuk menjadikan dirinya cashier saja. Dengan bekerja di belakang mesin hitung, dia tetap bisa berinteraksi dengan pelanggan, tetapi setidaknya lebih singkat.
Saat malam tiba, Cofee shop tutup pukul Sembilan tiga puluh malam. Mereka bersama-sama mengobrol sambil membersihkan ruangan. Ini pertama kalinya Conrad memegang alat pel. Dan Ruby yang melihatnya hampir tertawa karena pemuda itu bahkan tidak tahu bagaimana menggunakan alat tersebut.
"Sini aku ajarin."
"Ah... maaf. Ini pertamakalinya." ujar Conrad malu.
"Lalu siapa yang membersihkan tempat tinggalmu?" tanya Ruby menggoda.
"Heheheh... untuk itu.. kadang aku memanggil pekerja harian." ujar Conrad kikuk.
"Pemborosan itu. Begini caranya. Masukan alat pelnya ke air yang sudah diisi pemberih lantai. Lalu pindahkan ke sini. Lihat alat sederhana ini otomatis akan memeras kain pel. Setelah itu tinggal digosokan di lantai." Ruby memperagakan gerakan mengepel.
"Kau tampak ahli." ujar Conrad memperhatikan gerakan Ruby.
"Separuh hidupku melakukan ini. Aku harus bekerja terus, meskipun aku lelah dan bosan." gumam Ruby lirih.
"Ah lupakan perkataanku. Semangat!!!" Ruby beralih ke meja lainnya dan mulai membersihkan satu persatu meja.
Setelah mereka selesai. Mereka berempat meninggalkan coffee shop. Ruby dan Conrad berjalan ke arah yang sama. Sedangkan Fera dan Milagross menuju arah berlawanan.
"Jadi kau sudah lama bekerja di tempat itu?" tanya Conrad pada Ruby.
"Iya. Hampir satu tahun. Sebelumnya ketika masih sekolah menengah aku magang di mini market . Di sana hampir tiga tahun aku bekerja sambil belajar. Keluarga ku tidak mudah, Conrad. Meskipun aku lelah dan bosan. Aku harus bekerja untuk kebutuhanku."
Conrad memandang Ruby dan tersentuh. Saat Ruby bekerja dan sekolah, dia hanya belajar dan bermain. Disaat dirinya makan dengan nikmat dan mendapat perlindungan penuh. Gadis ini harus mengais rejeki untuk kebutuhannya.
"Tapi lihatlah, pengalaman hidupmu menjadikan dirimu gadis yang luar biasa, bukan?" ujar Conrad lembut.
"Hehehe... Bukankankah dirimu juga sama?"
Mereka saat ini duduk di depan Cirkle K. Conrad membeli dua kaleng soda. Satu untuknya dan satu untuk Ruby. Conrad juga membeli dua potong sandwich. Dia masih merasa lapar meskipun sudah makan malam di tempat bekerja.
"Aku tidak lapar." ujar Ruby menolak sandwich.
"Jadi kau tinggal disekitar sini?"
Conrad menunjuk gedung flat di belakang Cirkle K.
"Ah, kalau aku disebelah sana." Ruby menunjuk pada gedung dua blok dari tempat mereka duduk.
"Kau tinggal sendiri?"
"Tidak. Ada ayah, ibu, kakak dan seorang adik. Dan kau?"
"Aku tinggal sendiri. Sebelumnya aku tinggal dengan boss di mansion."
"Orang tua mu?"
__ADS_1
"Mereka tinggal di pinggiran kota dengam kelima adikku." jawab Conrad sambil mengunyah sandwich nya.
"Ah.. Enam anak. Keluarga yang ramai ya." Ruby tersenyum kecut. Dia saja yang hanya tiga bersaudara harus berbagi segalanya dan kesusahan. Bertengkar dan berebut. Apalagi jika menyangkut uang. Arghhh... Ruby sudah lelah dengan hal tersebut. Apa gunanya cantik jika miskin dan hidup menderita.
Ruby menyukai Conrad. Tapi mendengar kehidupaan Conrad yang enam bersaudara membuatnya bingung. Enam bersaudara berati enam mulut yang harus diberi makan, belum lagi dua orang tua. Delapan tunjangan kesehatan, enam biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari.
"Apakah kau dekat dengan adik-adikmu?" tanya Ruby lagi.
"Tentu saja. Mereka semua adik-adik yang hebat."
"Apakah mereka masih sekolah?"
Conrad mengangguk.
"Terkadang, mereka juga bekerja menjadi pengamen jalanan di Riverview Street. Kau tahu bukan di sana banyak sekali wisatawan." ujar Conrad dengan bangga.
"Iya.. iya." sahut Ruby santai sambil mengangguk-angguk.
"Hari sudah malam. Ayo aku antar pulang." Conrad sudah menghabiskan satu sandwich ayamnya. Dan dia membawa pulang satu sandwich lagi pulang. Persiapan jika lapar di tengah malam.
Conrad mengantar Ruby hingga depan gedung flat. Setelah Ruby masuk kedalam gedung tersebut, Conrad kembali ke kediamannya. Dan saat Conrad pergi, Ruby kembali keluar. Dia melihat punggung Conrad yang berbelok arah.
"Siapa orang itu?" suara seorang pria mendekat.
"Teman."
"Kau berselingkuh dariku?"
"Sudahlah Joseph. Aku muak dengan kecemburun mu yang berlebihan." ujar Ruby kasar.
"Kau sudah berubah Ruby, sejak memasuki sekolah anak-anak kaya itu."
"Berubah bagaimana?"
"Kau sudah mulai menjauh. Kau pasti terpengaruh dengan kehidupan anak-anak sombong itu."
"Sudah lah Joseph. Aku masuk ke sekolah itu karena beasiswa. Aku berkerja keras untuk mendapatkan semua itu. Dan aku tidak akan kehilangan beasiswa ku hanya karena kecemburuanmu. Aku ingin hidup lebih baik lagi dari saat ini. Aku tidak akan membuang kesempatan untuk sukses hanya karena dirimu. Aku sudah lelah hidup miskin seperti ini." Ujar Ruby panjang lebar dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku Ruby. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Aku hanya... merasa kau jauh dari ku." ujar Robert dengan menyesal.
"Aku lelah. Pergilah."
"Ruby!" Joseph menahan tangan Ruby yang hendak menginggalkannya.
"Kau tahu bukan, jika dirimu tidak perlu bekerja keras seperti ini. Aku bisa mencukupi kebutuhanmu." ujar Robet dengan sungguh-sungguh.
"Aku tidak perlu itu. Pergilah."
Ruby menghentakan tangan Joseph. Dia masuk menaiki tangga Flat menuju ke rumahnya. Di dalam flat, tampak sangat sepi. Flat tersebut terdiri dari tiga kamar. Ruby sekamar dengan kakaknya.
"Kau baru datang Ruby?" Gumam Rose yang terbangun.
"Hmmm.."
"Apakah kau ingin makan?"
"Tidak. Tidurlah."
"Baiklah."
Rose tidak melanjutkan kuliah. Dia memutuskan untuk bekerja setelah lulus sekolah menengah. Saat ini Rose sudah menjadi seorang supervisor di sebuah mini market. Rose membantu mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Semejak ayahnya stroke. Pria itu tidak lagi menghasikkan uang.
Ruby dengan lesuh menatap langit-langit kamarnya. Bergantung hidup pada Joseph? Ah itu sama saja kehidupannya akan tetap sama saja. Miskin dan menyedihkan. Joseph memiliki usaha Kecil yang menyuplai daging di beberapa mini market dan restaurant. Memang Joseph sedikit berduit. Tetapi tetap saja Pemuda itu tinggal di rumah kecil dengan truck box nya.
Ruby sudah mulai merasa lelah berhubungan dengan Joseph yang posesif dan selalu mengekang dirinya. Setoap saat bertanya apa yang dia lakukan. Ruby lelah harus membuat laporan setiap jam. Itu membosankan.
Pikiran Ruby melayang ke Robert. Dia tidak setampan Conrad. Tetapi tak kalah gagah dan tampaknya lebih kaya. Namun sampai saat ini, Robert tidak melakukan pemdekatan apapun dengan dirinya. Sedangkan Conrad, pemuda tampan bekas supir itu selalu bersikap ramah padanya. Hari ini dia merasa jika Conrad begitu menyenangkan. Ruby resah, jika Conrad menyatakan perasaannya, haruskah dia memutuskan Joseph dan menerima pemuda itu?
__ADS_1
Ruby terlelap dengan banyangan kedua pemuda itu.