
Episode ini Author persembahkan untuk para ibu yang sudah berjuang keras mengandung dan melahirkan.
Kalian Hebat!
Juga mungkin bisa mewakili jeritan hati para ibu yang tidak dapat mengasuh anak yang dia kandung dan lahirkan ataupun bagi mereka yang harus meninghal setelah memperjuangkan kelahiran bayinya.
Kalian semua Hebat!
Tidak setiap wanita memiliki kasih seorang ibu.
Tetapi bagi mereka yang memiliki nya, sayangi dan kasihi lah kasih tulus ibu mu.
ππππππππππππππππ
Setiap tarikan nafas adalah doa dan ucapan syukur atas segala anugerah yang telah diberikan Pencipta. Kesempatan untuk hidup dan merasakan segala rahmatnya.
Ya Hidup itu adalah Anugerah, jangan sia-siakan. Setiap langkah yang kita ambil adalah tanggung jawab yang harus kita pertangung jawab kan kelak.
Dan saat ini bola mata wanita cantik itu mulai bergerak-gerak, dia tengah berjuang untuk kembali ke alam sadar.
Di alam bawah sadarnya dia dapat merasakan dan mendengar doa dan harapan mereka yang mengasihinya.
Saat ini suara tangisan bayi yang ditenangkan oleh Lia menggugah diamnya. Dia mulai berdiri di alam sadar mencari asal suara itu.
Suara Lia yang sedang bersenandung dan berbicara dengan riang. Suara uapan kantuk dan lenguhan bayi itu terdengar sangat jelas, dia mencari-cari asal suara dan berusaha untuk kembali menemukan pintu kesadaran.
Saat itu ketika sentuhan lembut yang dia nantikan menempel lembut di bibirnya, ya... dia merasakan kelembutan dan wangi aroma bayi yang memabukan.
Anakku.... jeritnya dalam ruang hampa.
Anakku... aku mau kembali...
Biarkan aku bertemu dengan anakku ya Tuhan...
Ijinkan aku untuk hidup dan bertanggung
jawab terhadap kehidupan kecil yang sudah
KAU ijinkan bersemi di dalam ku...
Tuhannnn.... ijinkan aku untuk kembali.
Ampuni aku ya Tuhan...
Dan tolong ijinkan aku untuk membesarkan
anakku, pleasee....
Jeritnya pilu selama beberapa hari di ruang kehampaan. Disana dia hanya dapat mendengar dan merasakan tetapi tidak dapat melihat.
Kerinduan itu menyesakan dada.
Kabut itu terlalu tebal. Berkali-kali dia mencari terang untuk kembali namun sia-sia.
Dia berlari dalam kehampaan mencari sosok yang dia cintai.
Saat ini, ketika Lia meletakan baby Aaron di dada Diana, gerakan lembut bayi itu mengalirkan getaran kedalam jiwa dan Roh Diana, menyatu di alam bawah sadarnya.
Anakku, aku merasakanmu...
Kemarilah... aku ingin menyentuh dan
memeluk mu. Aku ingin menciummu.
Eeèe...aa... suara baby Aaron yang bergerak mencari pu#ing susu ibunya terdengar bagai alunan nada indah mengalirkan melodi ketelinga alam bawah sadar Diana.
Dan saat bayi itu mulai menyesap pa#udaranya, getaran lembut itu mengalir menyatu ke alam bawah sadar nya.
Anakku... anakku... aku mau memelukmu,
aku ingin menimang dan menciumimu.
Tepat saat itu Lia mulai meletakan tangan kakaknya di punggung Aaron seakan memeluknya.
"Kakak, jaga anak mu jangan sampai jatuh." ucap Lia perlahan.
Dalam alam bawah sadarnya Diana memandangi tangannya. Dia dapat merasakan sentuhan itu. Dia merasakan kelembutan kulit bayi nya.
__ADS_1
Getaran ditangan dan isapan di dada membuat dirinya semakin berjuang keras untuk keluar dari labirin berkabut itu.
Dia berlari dan mengitari labirin tanpa ujung itu. Dia berputar dalam kabut yang menghalangi pandangannya.
Tunjukan jalan padaku....
Aarooonnnnn .....
Jeritnya pilu diruang kehampaan.
Tiba-tiba dia mendengar suara seseorang memanggil namanya. Suara pria yang begitu dia rindukan.
Dia menghentikan langkahnya ketika merasakan kehangatan di bibir. Kecupan kasih sayang dari seseorang yang dia cintai, kecupan dari seseorang yang mengubah dunia nya.
Andrew....
Aku merindukanmu...
Aku merindukan anak-anakku...
Aku merindukan adikku...
Tolong aku Andrew....
bawa aku keluar dari tempat ini....
Aku kesepian disini...
Hanya suara dan sentuhan kalian yang
menemaniku...
Tapi aku tidak dapat melihat dan memeluk
kalian.
Panggil namaku.... panggill....
Agar aku menemukan jalan pulang.
Ampuni dosa-dosaku.
Sudahilah hukamanku.
Aku mohonnnn pada-Mu.
Andrew...
Aku tidak akan menyerah lagi...
Maafkan aku yang menyerah sebelumnya
hingga aku tersesat.
Air mata dan doa yang dia teriakan di alam bawah sadarnya mengalir di tubuh nyatanya.
Memberikan harapan bagi mereka yang selalu setia menanti.
Andrew berteriak dengan penuh harapan melihat air mata yang menetes di pipi Diana.
"Sayang... ayo... berjuanglah. Kau bisa merasakan kami bukan?"
Berjuang? Iya aku harus berjuang.
Andrewww panggil namaku.
Aku akan mencari asal suaramu.
Harapan yang menyatu dari kedua insan yang saling mencinta. Panjatan jutaan doa dari setiap orang yang yang berlutut dan mengasihinya mulai bertabur harum di mezbah sang pencipta.
Doa dan harapan yang tulus itu telah mengetarkan hati sang Pencipta. Doa itu telah membuka jalan bagi sang Pencipta untuk mengulurkan tangan-Nya.
Dengan kasih dan rahmat-Nya
Sang Pencipta telah meneteskan air suci kehidupan yang mengantarkan Roh Diana kembali kepada terang.
Dalam satu kali hembusan dari Sang Pencipta tubuh, jiwa dan raganya mulai menyatu. Dia kembali.
__ADS_1
Saat itu matanya mulai mengerjap. Awalnya semua tampak kabur. Pusing melanda ketika seberkas cahaya masuk perlahan di kornea matanya. Sakit menyengat.
Diana terdiam sejenak.
Perlu waktu beberapa saat hingga dia bisa memandang dengan jelas.
Ah... rumah ini....
Trimakasih Tuhan...
Trimakasih atas kesempatan yang kau berikan
padaku untuk hidup.
Dengan perlahan Diana menggerakan matanya mencari sosok yang dia rindukan. Otot-otot tubuhnya masih terasa berat dan kaku. Bahkan menoleh pun dia tidak sanggup.
Hingga beberapa saat kemudian karena keinginan yang kuat dia mulai dapat sedikit menggerakan tubuhnya.
Kepalanya mulai bisa dia gerakan. Diana menoleh mencari asal hembusan nafas lembut disisinya. Dan disana dia melihat pemandangan yang indah.
Pemandangan yang dia rindukan dan telah memberi kekuatan kepadanya untuk kembali.
"Andrew... " desahnya lembut. Suaranya masih tercekat di kerongkongan.
Diana berusaha mengumpulkan air liur untuk membasahi kerongkongannya yang kering.
"Andrew..." kembali dia memanggil kekasih hatinya yanh sedang tertidur di sofa denhan baby Aaron dalam pelukan.
Pria itu bermimpi dan dia tersenyum dalam mimpinya.
Ah... ini dia pemandangan indah yang amat sangat dia rindukan.
Mata Andrew terbuka. Mata hazel itu tampak begitu indah dan mempesona.
Mata indah itu tampak memandang anaknya dengan penuh cinta dia menggumamkan sesuatu.
Ah... betapa aku merindukan mereka. Aku ingin
memeluk dan mencium mereka.
"Andrew...." desahnya lagi dengan segenap kekuatan.
Berhasil. Pria itu tersadar bahwa suara yang didengarnya bukanlah igauan semata, bukan mimpi dan bukan khayalan.
Dia berdiri dari sofanya dan membawa baby Aaron mendekat ke arah tempat tidur.
Mata cantik itu terbuka dan menatapnya penuh kerinduan.
Andrew membelalakan matanya dan mengerjapkan beberapa kali seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Sayang... Diana... kau... kau sudah sadar?" ujar Andrew ta percaya.
Diana tersenyum tipis. Perlu kekuatan untuk berbicara dan menggerakan otot-otot di tubuhnya.
"Puji Tuhan.... Terimakasih Tuhan... kekasihku sudah sadar."
Andrew meletakan baby Aaron disisi Diana dan dia mulai membelai wajah Diana dan menciumi wajah itu.
Sesaat Andrew tidak ingin bergerak. Dia masih ingin memandang mata indah yang sangat dia rindukan itu. Mata mereka bertatapan penuh cinta dan kerinduan. Keinginannya untuk menjadi orang pertama yang melihat Diana sadar terkabul.
Mereka terus diam dan berpandangan mencurahkan segenap kerinduan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Hingga rengekan dari Aaron menyadarkannya.
Andrew memencet bel memanggil dokter.
Sambil menunggu dokter datang dia mendekatkan Aaron di wajah Diana.
"Lihat ini anak kita sayang... kami merindukanmu. Aku mencintaimu."
πππππππππππππππ
Biar tambah baper ini visual Andrew dan baby Aaron.
__ADS_1