Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Rencana


__ADS_3

Tuscany


Setelah memanjakan Francesca dan Conrad dengan makan pagi, Raja membawa kedua anak tersebut kembali ke Penthouse. Andrew tampak segar dan sudah menanti mereka.


"Conrad, ajaklah Frances untuk bermain dulu. Daddy hendak berbicara hal penting dengan uncle Raja." Ujar Andrew pada putranya.


"Baik dad." Conrad kemudian membawa Francesca untuk menonton serial kartun diruang keluarga.


Setelah kedua anak itu pergi, Andrew mulai berbicara pada Raja.


"Pergilah ke rumah Caroline dan temui pengasuh itu. Cari tahu, apa sebenarnya yang terjadi. Mengenai Francesca, cari tahu juga anak siapa sebenarnya dia. Dan apakah anak ini memiliki passport." Andrew berhenti sejenak kemudian dia melanjutkan lagi.


"Pergilah juga ke rumah sakit tempat Caroline di rawat. Lihar bagaimana keadaan dirinya. Laporkan segera pada ku."


"Baik tuan. "


Raja kemudian meninggalkan Penthouse.


Andrew menghampiri kedua anak tersebut.


"Hai Francesca, bagaimana keadaanmu? Aku adalah daddy nya Conrad." Andrew memperkenalkan diri.


Sejak semalam ketika Francesca mengikuti mereka, dia tidak sempat menyapa gadis kecil itu. Dan gadis itu hanya diam memandang Andrew tanpa bersuara. Dia baru mengenal Andrew dan belum pernah akrab dengan pria dewasa manapun. Andrew memahami hal itu.


"Baiklah, sekarang bagaimana, apakah kalian mau tetap menonton televisi, atau turun bermain di bawah? " Tanya Andrew.


"Bermainnnn," Sahut Conrad dengan bersemangat.


"Daddy, sekalian kita renang yukk. Frances kau pernah renang? "


Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Jangan takut ada daddy yang menjaga, " Ujar Conrad membanggakan ayahnya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita turun dan beli baju renang dulu."


Andrew menggandeng kedua anak itu keluar dari kamar. Francesca tampaknya masih takut masuk ke dalam lift. Benda kubus berjalan itu, agak mengerikan bagi gadis kecil yang tidak pernah mengenal dunia luar itu.


Andrew akhirnya memutuskan menggendong anak kecil kurus, yang beratnya hanya berkisar empat belas kilo itu. Seringan kapas bagi Andrew, ber anding terbalik dengan Aaron yang bekum genap empat tahun dengan bobot Dua puluh kilo. Ah, Andrew merindukan anaknya yang gemuk dan lucu itu.


Francesca yang baru saja pertama kali masuk ke dalam sebuah toko, matanya tak berhenti memancarkan kekaguman. Meski begitu dia masih sangay ragu untuk menyentuh benda-benda yang dia sukai disana. Frabcesca hanya berdiri diam dengan mata yang beredar.


Andrew yang merasa kasihan, membelikan beberapa pakaian, sepatu, ikat rambut dan boneka baru untuk Francesca. Beberapa mainan juga tas tangan untuk anak-anak. Andrew membiarkan gadis itu memilih boneka yang dia inginkan


Dan Francesca memilih boneka teddy bear berwarna merah muda dengan bulu yang sangat halus. Boneka lamanya sudah menghitam dan kumal. Setelah selesai berbelanja, Andrew meminta pengurus hotel untuk mengirimkan semua yang dia beli ke penthouse, sementara dirinya membawa anak- anak ke area bermain.


Semua begitu aneh bagi Francesca. Area bermain, area berenang. Dia tidak pernah mengetahui semua itu. Dan untuk pertama kalinya, Francesca merasakan mandi bola. Dia yang awalnya merasa takut dan ragu akhirnya terbiasa.


Conrad tampak bisa mencairkan ketegangan yang dirasakan oleh Francesca. Gadis kecil itu mulai bisa tertawa. Andrew merekam semua dan mengirimkan pada Diana.


"Lihatlah anak itu." Andrew mengarahkan kamera smartphone nya ke arah Xonrad dan Frances yang sedang bermain.


"Ah, sayang. Malangnya gadis kecil itu. Dia tidak pernah bermain ditempat seperti itu disana? " Tanya Diana dengan iba.


Memberikan yang terbaik dan yang mereka inginkan, itu yang akan dilakukan oleh setiap wanita berhati ibu. Mengutamakan kebahagiaan dan kepentingan anak diatas kepentingan pribadi. Itu sebabnya Diana merasa heran. Ketika melihat bagaimana mata dan wajah Francesca bersinar sekaligus ragu untuk bermain.


"Jangan kan hal itu, Dia tampaknya jarang sekali memakan ice cream. Coba kau lihat. "


Andrew menunjukan pada Diana, bagaimana Francesca menjilati ice cream dengan perlahan, seolah takut ice cream itu akan cepat habis.


Tentu saja sangat berbeda dengan Conrad apalagi si kecil Aaron, yang bisa menikmati dua scoup ice cream dengan cepat.


"Lalu bagaimana, apa yang bisa kau lakukan dengan anak itu? " Tanya Diana dengan prihatin.


"Aku meminta Raja mencari tahu. Banyak hal yang harus diurus. Ah, ini bisa memakan waktu yang lama. Apakah aku harus diam disini selama itu, sedangkan aku ingin segera pulang dan memelukmu. God, i am so miss you."


"Hush. Kau berada di tempat umum. Jangan bicara hal yang memalukan. " Tegur Diana dengan malu.

__ADS_1


"Biarkan saja, memalukan dimana?Aku toh merindukan istriku." Sahut Andrew dengan manja.


"Aku juga merindukanmu. Bersabarlah sedikit sayang, lihat apa yang bisa kita lakukan untuk anak itu dan keadaan Caroline. Aku harap kau benar-benar melupakan dirinya, meskipun... ah meskipun dia adalah ibu kandung Conrad."


"Hahaha... aku suka melihat dirimu cemburu. Ah... kau begiti menggemaskan ketika cemburu. God, bibirmu itu... " Andrew menggigit bibir bawahnya sementara wajah Diana mulai bersemu merah. Bertahun bersama, rayuan Andrew tetap membuat dirinya berdebar dan tersipu.


"Mana Conrad, biarkan aku berbicara dengannya. " Diana mengalihkan perhatian. Sebelum pria tampan di layar smarthpone nya semakin bertingkah mesum.


"Sebentar. Conrad sini. Mommy mau bicara." Andrew meberikan smartphonebnya kepada Conrad.


"Mommy, maafkan Conrad pergi tanpa berpamitan. Maafkan Conrad , mommy. " Ucap nya langsung pada Diana.


"Iya sayang. Jangan pernah mengulanginya lagi, okey. Mommy menyayangimu, jangan pernah meragukan hal itu."


"Iya mommy. "


Conrad merasa bersyukur bisa memandang senyuman wanita yang sudah menjaganya selama ini. Dia sadar kasih seorang ibu, tidak saja terbatas dari ibu kandung saja. Tetapi oleh wanita yang berhati tulus.


*


Sementara itu Raja yang mendatangi rumah Caroline dan berbicara dengan Lena. Dari Lena dia mengetahui kejadian semalam, serta temperamen buruk Caroline. Raja merekam kesaksian Lena jika saja diperlukan.


Kemudian Raja mendatangi rumah sakit tempat Caroline berada. Disana dia mendapatkan kabar jika Caroline sudah siuman.


Dengan mengaku sebagai kerabat Cariline, Raja berhasil mendapatkan informasi, jka sesungguhnya Caroline baru saja terbebas dari tumor otak. Dan Caroline masih harus menjalani dua kemoterapi terakhir.


Itu menjelaskan bagaimana sikap temperament Caroline yang tiba-tiba tak terkendali. Dan Raja sekarang pajam kenapa wanita itu memakai wig.


Raja melaporkan semua yang dia ketahui kepada Andrew. Dan Andrew sadar, jika tidak akan mudah membawa Frances pergi tanpa ijin dari Caroline.


Untuk itu, Andew berniat mendatangi wanita itu.


Andrew kemudian meninggalkan Conrad dan Franacesca di Penthouse dengan pengawal dan segera menyusul Raja di rumah sakit.

__ADS_1


...💗💗💗💗💗💗...


__ADS_2