Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
USG


__ADS_3

CERITA Andrew dan Diana akan author percepat ya. Jadi hitungan waktunya akan tidak sama dengan kisah cinta Lia.


Jadi, jangan bingung yaaaa.


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’• ...


Hari ini Diana dengan ditemani Andrew berkunjung ke klinik dokter kandungan. Tentu saja dokter kandungan yang merawat Diana adalah seorang wanita. Mana bisa Andrew membiarkan seorang dokter pria, selain dokter Michael menyentuh tubuh istrinya.


Kalau saja dokter Michael bukan lah sepupu Andrew dan sudah berusia tua, Andrew tentu akan memlilih dokter wanita untuk keluarganya.


Mengantri di ruang tunggu dokter? Lupakan saja! Hal itu tidak akan terjadi pada Andrew. Dia sudah memiliki janji khusus dengan dokter Melia untuk memeriksa kandungan Diana. Dokter kandungan yang disarankan oleh dokter Michael, merupalan dokter terbaik di rumah sakit tersebut.


Dokter Melia, wanita berusia empat oukuh lima tahun dan sangat teliti itu, sudah menangani Diana sejak trisemester pertama. Dia sejak awal sudah sangat teliti memperhatikan tumbuh kembang ketiga bayi dalam kandungan wanita cantik berdarah Asia tersebut.


Dokter Melia mengoleskan gel diatas perut Diana. Cairan kental bening itu terasa dingin. Setelah mengoleskan rata diperut, doter Melia mulai meletakan alat usg, untuk memeriksa janin secara 4D. Di layar monitor tampak gambaran dari janin yang ada didalam perut Diana.


Andrew dan Diana menatap kelayar monitor dengan penuh kerinduan. Untung saja hari ini Aaron dan Francesca tidak ikut. Jika mereka ikut, kedua bocah itu tidak akan mau kalah untuk di usg. Dan kemudian dengan bangga, menunjukan pada semua pelayan, isi perut mereka yang tampak bersih di hasil foto usg.


"Tiga bayinya tampak sehat ya. Sekarang saya akan memeriksa satu persatu organ tubuh mereka. Tempohari salah satu orhan si kembar tidak dapat kelihatan karena tertutup saudaranya. Tapi, tampaknya saat ini mereka mau berbagi cukup ruang," ujar dokter Melia dengan sabar.


Usia kandungan Diana saat ini sudah memasuki bulan ke tujuh. Perut wanita itu sangat besar sekali. Berat Diana sudah mencapai sepuluh kilo. Dan khusus untuk kehamilan triplet ini, Andrew menanbahkan lift di Mansion, khusus untuk Diana.


"Tuan dan Nyonya sudah tahu bukan, jika bayi dalam kandungan kalian berasal dari sel telur yang berbeda, bukan dari pembelahan sel telur?" Tanya dokter Melia lagi.


"Iya kami sudah tahu. Anda sudah mengatakannya dari awal kehamilan." Ujar Andrew dengan bangga. Karena itu berarti, semburan dari naga apinya memang dashyat.


"Berarti jangan kaget ya, kalau mereka tidak akan mirip ketika dewasa." Ujar dokter Melia lagi sambil tetap memperhatikan layar monitor dengan cermat.


"Iya. Kalau terlalu mirip, khawatir nanti istri saya tambah bingung membedakan." Gurau Andrew dengan terkekeh.

__ADS_1


"Kau ini." Diana mencubit lengan suaminya gemas.


Dokter Melia tersenyum mendengar kemesraan mereka.


"Ini bisa tuan dan nyonya lihat, denyut jantung dan organ tubuh bayi laki-lakinya sangat bagus. Dan dia berada di posisi tengan dekat dengan jantung ibu nya. Tampaknya bakal menjadi anak yang pintar mengambil hati mommy nya."


"Wah... Aaron bakal ada saingan ini." Celetuk Andrew.


"Nah, yang ini bayi perempuan, dia yang paling lincah disini. Hemmm kelihatan sudah cantik dari struktur wajahnya. Dan dia sangat sehat. "


"Dia pasti sepertimu." Ujar Andrew hangat membelai wajah Diana.


"Bisa jadi perpaduan dari kita berdua." Kata Diana dengan lembut.


"Pasti anak-anak yang hebat. Terimakasih sayang." Ujar Andrew dengam mengecup bibir Diana.


Meskipun tidak mengerti, Andrew dan Diana tetap memperhatikan layar monitor. Tampaknya bayi itu sangat tenang. Andrew dan Diana merasa heran melihat raut wajah serius dari dokter Melia. Tidak ada lagi senyuman dan gurauan apalagi sanjungan.


"Ada apa dokter Melia, apa ada yang tidak beres dengan bayi ketiga?" Tanya Diana cemas.


Sesaat dokter Melia terdiam dan tampak menghitung dan mengukur ulang bayi tersebut. Dokter Melia menghela nafas berat sebelum mengeluarkan kalimat yang membuat mata Diana berkaca-kaca.


"Bayi ketiga ini, memiliki tubuh yang lebih kecil daripada kedua saudaranya. Selain itu...jantungnya tidak berdetak secara normal." Ujar nya dengan lesu.


"Maksud anda?" Andrew tampak menegang. Senyuman hilang di raut wajah ayah tampan itu.


"Denyut jantung bayi ke tiga ini tampak lebih lemah dari normal."


"Maksud anda anak ku memiliki gejala penyakit jantung bawaan?" Tanya Andrew dengan suara meninggi.

__ADS_1


"Maafkan saya. Tampaknya seperti itu." Kata dokter Melia dengan raut wajah sedih.


"Andrew." Diana meremas tangan suaminya dengan keras. Dia tidak sanggup lagi membendung air matanya sambil mengusap bagian perut yang terdapat bayi ketiga itu. Hatinya terasa sangat sedih, saat mendengarkan perkataan dokter Melia.


"Nyonya. Jangan terlalu bersedih. Sekarang dunia kedokteran semakin maju. Jangan khawatir akan hal tersebut. Anda hanya perlu mengkonsumsi makanan bergizi dan tetap meminum vitamin. Dan yang terpenting adalah berdoa. Semoga saja dalam waktu dua bulan ini, kondisinya membaik." Dokter Melia berusaha menenangkan diri Diana.


"Apakah itu mungkin?" Tanya Diana putus asa.


"Bukankah tidak ada yang mustahil bagi Tuhan?" Ujar dokter Melia berusaha lebih agamawi.


"Apa ada kemungkinan lain ketika dia dilahirkan, operasi?" Tanya Andrew.


Dokter Melia mengangguk.


"Setelah dia dilahirkan, biarkan tim ahli merawat bayi itu. Kami akan lebih mudah mengontrol dirinya saat sudah dilahirkan. "


"Ini salahku Andrew," ujar Diana disela isakan tangis nya.


"Tidak nyonya, ini bukan kesalahan anda. Saya yakin, selama kehamilan, anda sudah berusaha merawat bayi-bayi anda dengan sangat teliti. Ini adalah kelainan yang bisa terjadi pada siapapun di dunia, tanpa bisa mengelaknya." Dokter Melia menenangkan Diana.


"Kita akan berusaha bersama sayang, apapun yang terjadi dia pasti akan sehat." ujar Andrew dengan teguh.


"Nyonya, anda tidak boleh larut dalam kesedihan. Anda harus optimis. Jika perasaan anda lemah, akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang bayi-bayi anda. Ingat nyonya Diana, masih ada dua bayi sehat lainnya yang bisa merasakan kesedihan anda."


Dokter Melia tidak ada hentinya memberikan keteguhan pada Diana. Dia merasa sangat sedih, melihat pasangan favoritnyan ini tampak menderita. Dokter Melia tidak ingin menutupi kenyataan tentang keadaan bayi ketiga, karena itu hak orang tua untuk mengetahuinya.


Andrew dan Diana meninggalkan ruang praktek dokter Melia dengan sedih. Andrew sengaja mendorong kursi roda Diana sendiri, dan membiarkan pelayan yang mendampingi mereka berjalan sendiri.


Andrew paham kesedihan Diana, karena dia sendiripun merasakannya. Perjalanan pulang mereka lalui dengan kesunyian. Andrew hanya dapat menggenggam tangan istrinya, untuk menyalurkan keteguhan.

__ADS_1


__ADS_2