Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
68. Beri dia waktu


__ADS_3

Saat itu pada waktu dini hari Diana terbangun dari tidurnya. Dengan mata sembab ia mengerjapkan mata memulihkan kesadaran diri. Dapat dia rasakan tangan Andrew melingkar di perutnya. Sesaat dia melupakan kisah yang membuatnya terguncang. Dia membelai tangan pria yang sangat dia cintai itu, kemudia dia memiringkan tubuh hingga dapat menatap wajah pria itu dengan jelas. Jari jemari mungilnya menelusuri setiap sudut wajah tampan Andrew, mengusap lembut cambang di wajah Andrew. Terusik keinginan untuk mengecup bibir nya. Cup! Hangat dan lembut.


Dia pandangi lagi wajah kekasih hati nya, mata Andrew tampak bergerak-gerak dengan gelisah, keringat menetes di keningnya padahal kamar ini cukup dingin dengan Ac. Diusapnya rambut dan bahu Andrew berusaha menenangkan pria itu, di kecupnya kening pria itu dengan hangat seraya berbisik, "apa yang kau mimpikan, aku disini." Tiba-tiba tangan Andrew menggenggamnya dengan erat. Dan Andrew mengingau menyebutkan nama Rachel.


Diana tersentak. Dia teringat semuanya. Kejadian dimana Rachel datang dan mengatakan kebenaran. Rasa sesak itu muncul lagi, air matanya mengalir lagi.


"Kenapa Andrew?" Diana melepaskan tangannya dan masih memandang Andrew. Hatinya sakit. Pria ini bukan miliknya, pria ini milik wanita lain, milik Rachel. Kenapa aku bisa begitu mencintai dia yang bukan milikku. Kenapa kau membuatku hidup dalam mimpi, mimpi yang indah.


Diana berusaha melepaskan genggaman tangan Andrew yang erat. Ketika dirinya sudah terlepas, ia berjalan menjauh dengan langkah gontai. Keningnya terasa berat dan pusing. Dia terduduk di sofa panjang dekat jendela.


Beberapa saat dia menunduk dengan isak tangisannya. Sementara suara Rachel terus menerus bergema di telinganya, "wanita simpanan! Wanita penghancur rumah tangga!" Kalimat itu terus tergiang berulang-ulang. Hingga ketika sentuhan Andrew yang dia rasakan dengan tiba-tiba membuat dirinya muak. Dia tepiskan tangan Andrew dan dengan mata berkaca-kaca juga bibir yang gemetaran berkata, "Aku mau pulang."


Andrew tersentak dengan penolakan Diana, hanya tangan mungil yang menepisnya mampu menyalurkan sengatan listrik di dadanya. Sengatan kecil yang menyakitkan yang membuatnya akan tumbang. Tapi dia bertahan dan duduk dihadapan wanita yang dia sayangi.


"Iya sayang, kita sudah pulang. Ini Mansion mu." ucap Andrew dengan lembut.


"Tidak! Tidak! Aku mau pulang kerumahku!" suara Diana tegas disela isak tangisannya.


"Mansion ini rumahmu. Ini milikmu." Andrew meyakinkannya.


"Aku mau pulang ke negaraku Andrew. Aku tidak mau disini. Aku tidak mau didekatmu." pinta Diana dengan memelas. Dalam kesesaakannya dia memutuskan akan melepaskan Andrew, bangun dari mimpi panjang yang indah. Kembali ke habitatnya.


"Tapi kenapa? Dengarkan penjelasanku, aku mohon." suara Andrew terdengar serak menahan gejolak emosi jiwanya.


"Aku tidak mau! Aku tidak mau!" Diana berubah menjadi histeris dia menutup kedua telinganya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Andrew menjadi lemas. Dia menjatuhkan dirinya di lantai dan duduk bersimpuh di sisi Diana. Dia tidak dapat berkata-kata lagi. Dia tidak tahu bagaimana caranya menenangkan hari wanita dihadapannya. Andrew seorang billionaire rela bersimpuh di kaki seorang wanita biasa.


"Aku tahu aku salah. Aku tidak bermaksud membuat mu seperti ini. Kau tahu bagaimana perasaanku padamu kan?" suara Andrew memelas.


"Kau membuatku menjadi wanita hina, Andrew. Aku tahu aku salah dengan hidup bersamamu tanpa pernikahan. Tapi tidak sebagai penghancur rumah tangga. Tidak Andrew. Tidakkkk!" suara Diana timbul tenggelam diantara isak tangisan yang menyesakan dada. Dia mencurahkan semua yang mengganjal di hati dan pikiran. Dia tumpahkan semua pada Andrew. Bagi dia saat ini Andrew lah pendosa.


"Maafkan aku. Aku melakukan ini karena takut kehilangan dirimu." suara Andrew tercekat.


"Aku tidak ingin mendengar apapun dari mu. Aku tidak tahu siapa lagi dirimu." kata Diana diantara isak tangisannya.


Andrew diam. Dia tidak tahu apalagi yang dapat dia lakukan untuk membuat Diana tenang. Bagaimana menyakinkan dirinya.


Diana turun dari sofa dan melangkahkan kakinya setengah terhuyung. Tangisannya masih seperti badai. Andrew berdiri tepat dibelakang Diana, sehingga ketika dia terhuyung, Andrew dengan sigap memegang tubuhnya.


"Lepaskan aku. Jangan sentuh aku." Diana menepis tangan Andrew dengan marah.


"Ijinkan aku membantumu."


"Tidak!"

__ADS_1


"Kau mau kemana?"


"Aku mau keluar. Aku tidak ingin melihatmu!" seru Diana disela isak tangisnya.


"Tunggu, biarkan aku yang pergi. Kau tetaplah disini. Aku mohon berbaringlah." Andrew tidak berani menyentuh tangan Diana, dia hanya bersikap mengarahkan wanita itu ke tempat tidur. Diana menurut dia berjalan kearah tempat tidur. Andrew menarik nafas, sesaat dia menatap Diana, memastikan wanita itu sudah di posisi yang nyaman. Ingin sekali dia memeluknya dan menguras habis semua kesedihannya, tapi apa daya, wanita itu saat ini menolaknya. Akhirnya dia melangkah pergi dengan berat hati.


Sementara Andrew membalikan badannya dan melangkah pergi, Diana memandang punggung Andrew dengan perasaan terluka.


Hati dan pikirannya belum bisa menyatu. Hati nya menginginkan pria itu, ingin memeluk dan memilikinya. Sedangkan pikirannya berkata lain, dia pria penipu yang menjadikanku wanita simpanan.


"Aku butuh waktu Andrew untuk dapat mendengar penjelasanmu. Saat ini aku hanya ingin sendiri." desah Diana dibalik selimut.


*************


Seorang pelayan yang akan membersihkan ruang kerja Andrew, terkejut melihat tuannya sedang duduk di sofa dengan posisi bersandar lemas. Pelayan tersebut segera melapor kepada butler Jhon. Dengan segera butler Jhon masuk ke dalam ruang kerja dan mendapati kondisi Andrew memperhatinkan. Selama ia melayani keluarga Andrew ini kedua kalinya dia melihat keadaan Andrew begitu desparate. Sebelumnya ketika ibu Andrew meninggal. Bahkan ketika cinta pertama Andrew meninggalkannya, Andrew tidak sefrustasi ini. Ketika ayahnya memaksa dia menikah dengan Rachel untuk menyelamatkan perusahaanpun, meskipun marah dia tidak perduli. Saat ini karena nyonya muda. Nyonya muda yang mampu menyentuh hati semua orang.


"Tuan, makanlah bubur hangat ini." Butler Jhon meletakan bubur tersebut dimeja.


Andrew menggelengkan kepalanya. Butler Jhon menarik nafas.


"Tuan harus makan. Tuan harus kuat. Siapa yang akan menjaga nyonya Diana apabila anda lemah." butler Jhon berusaha memberi semangat.


"Dia bahkan tidak menginginkan aku." keluh Andrew.


"Beri nyonya waktu tuan. Saat ini anda harus sehat dan kuat sehingga ketika nyonya siap mendengarkan, tuan dalam kondisi yang siap pula. Makanlah demi nyonya, tuan." Butler Jhon tampaknya berhasil membujuk Andrew, dia mulai memasukan beberapa sendok bubur ke mulutnya.


**************


"Nyonya makanlah bubur ini." pelayan tersebut meletakan bubur di meja begitu saja. Dia menatap Diana dengan menyeringai.


"Makanlah bubur ini, jika tidak butler Jhon akan marah pada saya."


Diana hanya melengos mendengarkan perkataan pelayan itu.


"Nyonya, anda tampak pucat, apakah anda bertengkar dengan tuan?" Pelayan itu bertanya sambil melihat reaksi Diana. Ketila dia lihat Diana diam saja, dia melanjutkan perkataannya, "Tapi saya lihat tuan baik-baik saja dan asyik berbicara di telphone dengan seseorang. Kelihatannya sih seorang wanita." tampaknya Pelayan tersebut hendak memancing emosi Diana.


Diana menatap dingin pada pelayan tersebut, dia merasa terganggu dengan kehadiran pelayan yang banyak bicara itu.


"Nyonya..." belum sempat dia menambahkan bumbu penyedap pada nyonya nya, Diana membentak , "keluar kau dari sini!"


Pelayan itu terkejut, ia berjalan mundur dan segera keluar. Sambil membalikan badan dia menggerutu menerima bentakan dari Diana. Tapi, wajahnya langsung berubah saat berpapasan dengan butler Jhon.


"Maaf butler Jhon, saya sudah berusaha, tapi nyonya tetap tidak menyentuh makanannya." lapor pelayan itu dengan wajah sedih.


"Baiklah. Kembalilah bekerja." perintah Butler Jhon pada pelayan tersebut. Pelayan tersebut pergi dengan menyeringai penuh kemenangan, dia berhasil mendekati nyonya muda dan memyebarkan gosio beracun.

__ADS_1


"Hmm.. tinggal satu cara untuk memperbaiki suasana ini." gumam butler Jhon pada dirinya sendiri.


***********


"Briant." Andrew menghubungi Briant lewat smartphone nya.


"Ada apa Andrew, bagaimana kondisi kalian?" Briant saat ini sedang berada do kantor pusat. Meskipun dia begitu mengkhawatirkan keadaan Andrew dan Diana, dia tetap harus bekerja menggantikan posisi Andrew sementara.


"Dia masih belum mau berbicara denganku." keluh Andrew


"Bersabarlah."


"Aku tahu itu. Briant, aku ingin kau melakukan sesuatu."


"Apa itu?"


"Hubungi Lia, dia adik Diana. Katakan padanya untuk segera datang. Aku rasa Diana sangat membutuhkan kehadirannya." ucap Andrew dengan senduh dibalik telphone.


"Kau yakin Lia akan berpihak padamu?" Briant tidak mengerti dengan keinginan Andrew.


"Entahlah. Tapi, aku rasa lebih baik Lia yang datang daripada Diana yang pulang. Aku bisa gila jika dia menghilang di negaranya." jelas Andrew.


"Baiklah, jika itu kau yakin."


"Aku sudah mengirimkan no ponsel dan alamat Lia. Seingatku dia sudah mengajukan B2 Visa."


"Baiklah aku akan mengirimkan juga padanya first class opened tiket ."


****************


Siang hari pelayan yang sama membawa makanan untuk Diana dan mengambil bubur yang disediakan. Tampaknya nyonya muda nya tidak menyentuh sedikitpun sarapan pagi. Hanya segelas teh yang kosong.


Pelayan tersebut hendak mengatakan sesuatu, ketika tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar.


"Hallo mommy how are you?" suara mungil itu sontak membuat pelayan tersebut juga Diana kaget.


Mommy?


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hi guysss apa kabar ?


Semoga kalian makin sayang dengan Andrew dan Diana.


Guysss, tolong jangan lupa like, comment juga share yaaa. Apalagi kalau di kasih Vote.

__ADS_1


Biar makin semangat updated nyaaa.


Terimakasihhhh.


__ADS_2