Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Perkelahian


__ADS_3

Yang Kangen Jasmine ❤ Conrad ❤ Ruby kali ini author sisipin yaa. Kisah Cinta Conrad dengan dua wanita belum selesai, Masih author pertimbanhmgkan untuk dibuatkan khusus di novel lainnya. Tapi sabar yaaa... Penggemar Lijas pada protes disebelah, merasa dianak tirikan.


...❤❤❤❤❤❤❤...


Gosip buruk lebih mudah melekat daripada gosip kebaikan. Seribu kebaikan yang kita buat akan ternoda dengan setitik gosip yang tidak mendasar. Manusia ketika membutuhkan, akan begitu sangat baik. Tetapi ketika dia tidak memerlukan, maka dia akan mencemooh.


Hal ini terjadi pada Francesca. Di sekolah kembali dia harus kebingungan karena gosip di media sosial yang mengatakan, jika dirinya adalah anak selingkuhan. Francesca bukan saudara satu ibu dengan Aaron. Aaron adalah anak wanita simpanan. Gosip itu membuat kedua anak yang biasanya di elukan, sekarang tampak dijauhi.


Aaron tidak ambil pusing. Dia justru merasa lebih tenang karena tidak ada gadis-gadis yang memburu dirinya. Aaron menjadi lebih bisa fokus belajar. Apalagi sekarang dia lebih tahu, mana teman baik dan mana teman yang hanya baik ketika membutuhkan.


Doni selalu bersama Aaron. Dia dan genk nya tidak pernah luntur kepercayaan pada Aaron. Mereka memang teman sejati bagi Aaron. Aaron mengundurkan diri dari setiap aktifitas olah raga. Dia tidak menghiraukan pertandingan yang akan diadakan antar sekolah. Biarkan mereka yang merasa lebih baik, memperjuangkan nama baik sekolah.


Aaron mengajak Francesca menghabiskan waktunya di perpustakaan. Leony dan Katlyn juga selalu menemani Francesca. Banyak mereka yang mencibir karena keberadaan Aaron dan Francesca bersama de genk, di perpustakaan. Hal ini membuat Francesca menjadi risih.


"Kalian lebih baik menjauh dariku, Aku tidak ingin kalian juga ikut dikucilkan oleh teman-teman yang lainnya." ujar Francesca kepada Leony dan Kaitlyn.


"Tidak Frances, kau tidak bersalah. Kami akan selalu menjadi teman baikmu." ujar Leony.


"Benar. Dari grade satu kita selalu bersama. Hingga dewasa nanti kita akan selalu bersama." sahut Kaitlyn.


"Tapi... aku tidak tahu apakah yang mereka katakan benar atau tidak." desah Francesca dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa tidak kau katakan apa yang terjadi pada orang tuamu?" tanya Leony dengan heran.


Francesca menggeleng.


"Aku tidak ingin menambah beban berat mommy dan daddy. Mommy tampaknya banyak pikiran begitu juga dengan daddy."


"Kau tidak perlu terpengaruh dengan perkataan mereka. Selamanya kau kakak ku. Kita adalah saudara kandung. Biarkan mulut mereka membusuk dengan gosip yang di keluarkan." ujar Aaron dengan tegas.


"Terimakasih adiku tampan." ujar Francesca dengan tersenyum.


"Iya Frances, Aaron... tenang saja, jika ada yang mengganggu kalian, akan kami sumpal dengan bogem." ujar Doni dengan percaya diri.


"Aku akan menyumpal mereka juga..." Si gendut Kenzie bersuara.


"Mau kau sumpal mereka dengan apa, dengan lemak mu?" ledek Doni.


"Huahahhaha... iya kalau mereka mau." Kenzie terkekeh.


Mereka tertawa kecil.


"Hei! Kalian pembawa aib sekolah jangan berisik!" teriak seorang anak di kejauhan.


Aaron dan de genk menatap mereka sesaat kemudian menunduk. Mereka tidak ada niatan untuk membalas ejekan. Karena sekecilnya api yang disemburkan akan semakin membara jika ditambah dengan api pula.


"Heeee... melirik dia. Nantangin ya?!"


Bisik Leonel pada Teddy. Leonel tahu, jika Teddy memiliki iri hati pada Aaron. Karena wanita yang dia sukai selalu membandingkan dirinya dengan Aaron. Dan bara yang ditiup oleh Leonel membakar dirinya.


"Hoii.. kau dasar anak mucikari, keluar dari sekolah ini!" Teriak Teddy.


"Apa hak mu mengeluarkan diriku dari sekolah ini." Aaron yang sudah berusaha menahan diri, tidak terima dengan apa yang mereka katakan.


"Anak mucikari. Anak wanita simpanan dan anak selingkuhan!" Teriak Teddy mengejek.


Aaron tidak dapat menahan diri lagi. Dia menghempaskan tangan Francesca yang menahan lengannya. Dengan wajah memerah, Aaron berdiri, Melompati setiap meja di perpustaakan Dan melompat ke arah Teddy.


Aaron tidak dapat menahan diri lagi, dia melancarkan tinjunya ke arah Teddy. Teddy berusaha berontak. Dia membalas pukulan Aaron. Tapi remaja yang sudah terlatih itu berhasil mengelak. Dia menduduki tubuh Teddy dan melayangkan tinju ke arah wajah lawannya, Hingga Tedyy terkapar tanpa bisa membalas.


Sebuah pukulan di punggung Aaron, menghentikan serangan Aaron pada Teddy. Aaron mengerang kesakitan dan berguling di sisi Teddy. Dia melihat Leonel dengan kursi di tangannya. Melihat Aaron yang diserang dengam licik, Dion dan Kenzie juga ke tiga teman lainnya segera maju.


Mereka tidak terima dengan tindakan licik yang dilakukan Leonel. Baku hantam pun terjadi. Tinju, pukulan, tendangan dan teriakan. Perpustakaan semakin kacau. Petugas perpustakaan tak kuasa melerai mereka hingga segera melapor ke kepala sekolah. Perpustakaan yang seharusnya tenang dan tertib menjadi ajak perkelahian.


Anak-anak lain yang tidak ikut dalam perkelahian itu mulai menjauh. Mereka takut terkena serangan beruntun dari perkelahian yang semakin sengit itu. Anak-anak perempuan menjerit histeris. Mereka takut tapi tetap ditempat dan menonton. Keributan di perpustakaan, mengundang banyak siswa lainya untuk datang.


Francesca panik melihat keadaaan Aaron yang terluka. Dia melihat dengan jelas bagaimana kursi itu menghantam punggung Aaron. Tapi, Aaron masih berusaha untuk berdiri dan membalas Leonel. Aaron beberapa kali menghajar wajah Leonel.


Francessa segera menghubungi supir yang selalu mengantar mereka. Supir tersebut adalah salah satu anggota pengawal yang bisa bela diri.


"Cepat masuk ke dalam sekolah. Aaron di keroyok. masuk ke ruang perpustakaan."


Dengan cepat, Supir pengawal itu berlari menembus pagar besi yang terbuka sedikit, tanpa permisi kepada satpam penjaga. Dia tidak perduli bagaimana satpam tersebut meneriaki dirinya. Supir itu berlari dengan kencang dan menaiki lantai atas perpustakaan.


Saat dia tiba disana. Perkelahian sudah berhenti. Tiga guru olah raga dengan Lima orang satpam, menahan delapan anak yang berkelahi. Tinggal tiga anak yaitu Aaron, Teddy dan Leonel masih terkapar di lantai.


Supir pengawal itu dengan segera menghampiri Aarron.


"Tuan muda... Mari saja angakat anda." supir pengawal tersebut hendak menggendong tubuh Aaron. Tapi meskipun dengan keadaan tubuh yang lemah, Aaron masih punya harga diri. Tangannta segera menahan gerakan pengawal tersebut.


"Papah saja aku. Jangan mempermalukan diriku dengan menggendong."


"Baik tuan muda." Pengawal itu membantu Aaron berdiri.


"Tunggu! Aaron, pergilah ke klinik sekolah," tahan kepala sekolah.


Tapi pandangan dingin dan tajam dari supir pengawal itu membuat kepala sekolah langsung mundur. Dia membiarkan Aaron dan pengawal itu pergi. Francesca segera turun, kembali ke kelas dan membenahi peralatan sekolah. Kemudian mereka berdua pergi.


"Langsung ke rumah sakit saja. Aduhhh punggung ku sakit sekali." gumam Aaron sambil terlungkup di kuris belakang mobil.

__ADS_1


"Kan sudah aku bilang jangan bertengkar." Francesca tidak tahan melihat keadaan adiknya, Punnggung Aaron sudah memar berwarna keunguan dan hampir menghitam. Dapat dipastikan akan sangat kesulitan bagi dirinya untuk tidur terlentang.


"Tidak bisa selamanya aku bisa diam saja, kakak. Ada saatnya mereka harus dihajar. Mereka harus bertanggung jawab dengan apa yang mereka katakan. Menghina daddy dan mommy itu sudah keterlaluan." sahut Aaron dengan lemah namun masih terdengar tegas.


Francesca terdiam. Di satu sisi dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Aaron, mereka memang sudah keterlaluan. Bahkah Francesca harus menahan dalam hati, akan berita yang mengatakan jika dirinya adalah anak selingkuhan. Disisi lain, dia juga tahu hal ini akan terjadi jika Aaron berkelahi. Dia akan kesakitan. Sangat menyedihkan melihat adik yang selalu membela dirinya, menderita.


Francesca menghubungi Conrad.


"Kakak, ke Rumah sakit Baptist Health sekarang juga."


"Kenapa?"


"Aaron habis berkelahi."


"Heh!" Conrad menghela nafas.


"Aku sudah ada di Rumah sakit Babtist Health," sahut Conrad.


"Apa? Apa yang terjadi padamu kakak?"


"Sudahlah, ceritanya nanti."


... *******...


Sebelumnya, di hari yang sama. Conrad berangkat ke kampus dari flatnya bersama dengan Ruby. Di dalam bus yang dia tumpangi, Conrad mendengar orang-orang bergosip tentang Fantasy cruise line.


"Lihat berita hari senin ini. Berita ini tidak ada kelanjutannya lagi. Pasti sudah ditarik oleh pihak Fantasy Cruise." ujar seorang pria yang duduk di belakang Conrad.


"Berita apa, coba lihat." ujar teman lainnya.


"Gila, prostitusi di kapal pesiar?"


"Benar, mereka mendapatkan penghasilan ganda. Berlibur dan kenikmatan."


"Hahhaha... makanya fantasy cruise line cepat sekali menambah armana kapal barunya yaa."


"Iya benar."


"Kenapa kita tidak pergi ke cruise saja. Bersenang-senang dan mencicipi pekerja disana, hahhahahha."


"Pemiliknya pasti orang mesum, hahhaha."


Conrad yang mendengar nya langsung tegang. Wajah nya memerah. Dia menoleh ke arah belakang dan menegur ke arah kedua orang yang bergosip itu.


"Semua itu fitnah. Kalian jangan mengikuti berita yang tidak benar." ujar nya.


"Ini sudah di cetak, mana bisa fitnah. Polisi pantai yang mengungkapnya."


"Fitnah atau tidak apa perdulimu? Memangnya kau anak pemilik Fantasy Cruise? Hahhahah."


"Mana ada anak pemilik kapal pesiar naik bus. Hahhahhaha."


"Anak pemilik kapal pasti sudah mencoba dulu gadis itu satu persatu." ledek mereka sambil tertawa membahana.


"Tutup mulut kalian. Jangan suka menggosipkan hal yang belum pasti!" Conrad tidak dapat lagi menahan kesabarannya.


"Conrad! Sudahlah!" bisik Ruby.


Ruby merasa cemas melihat Conrad yang tiba-tiba saja marah. Dia khawatir akan terjadi hal yang buruk. Conrad duduk kembali disisi Ruby, masih dengan wajah seram penuh amarah. Ruby yang melihatnya menjadi agak takut dengan wajah seram Conrad.


"Hai pemuda dungu. Seribu kali pun kau belain, Ceo kapal pesiar itu tidak akan menganggap dirimu. Hahahha." Orang dibelakang Conrad kembali mengejek.


Ingin rasanya Conrad menghantam mulut pria itu. Tapi dia berusaha menahan diri. Dengan berkelahi di dalam bus yang memiliki cctv, akan mudah bagi mereka menggiring dirinya ke kantor polisi. Selain akan menambah masalah untuk ayahnya, pada akhirnya Ruby mengetahui siapa dia yang sesungguhnya. Conrad tidak ingin Ruby berpikiran yang buruk tentang dirinya.


Beruntung sekali bus yang di tumpangi Conrad tiba di depan kampus. Conrad segera turun dari bus. Masih dengan wajah yang tegang Conrad berjalan disisi Ruby. Jiwa muda nya terbakar rasa malu, karena tidak dapat melindungi nama baik Ayah yang begitu dia hormati. Ayah bijaksana yang selalu menjadi teladan bagi dirinya.


Conrad mengikuti pelajaran tanpa bisa berkonsentrasi. Sepanjang pelajaran, terngiang semua yang dikatakan oleh kedua pria yang bergosip di bus. Rasanya tidak percaya hal itu terjadi pada perusahaan yang begitu di perhatikan oleh ayahnya. Bagaimana bisa mereia membuat fitnah seperti itu.


Di Kampus ini, hanya sedikit orang yang mengenal status Conrad yang sesungguhnya, sebagai anak Andrew, pemilik Fantasy Cruise line. Karena itu tidak ada yang mendakti dan mengejek dirinya. Conrad masih bisa bersikap wajar.


Namun semua itu tidak bertahan, saat pulang dari kampus. Tepat di parkiran sekolah. Kembali dia mendengar mahasiswa kampus menggosip kan Andrew. Conrad yang masih terbawa emosi dengan kejadian pagi, dengan berang menghardik mahasiswa tersebut.


"Itu Fitnah. Kalian sebagai calon dokter seharusnya bisa membedakan fitnah atau bukan!" hardiknya keras.


"Hei, siapa kamu beraninya bersikap kasar pada kami!"


"Aku hanya mau memberitahu mu, jika apa yang kau baca itu adalah fitnah! Berita bohong!"


sahut Conrad dengan kasar.


"Fitnah atau tidak berita itu sudah ada dimuat di koran. Ini buktinya. Berita ini sudah tersebar. Dan mereka tidak bisa merevisi koran pagi kan?" ujar mahasiswa itu tidak terima dengan sikap kasar Conrad.


"Aku beri tahu kalian, jangan suka menyebarkan gosip. Jangan suka menyebarkan fitnah. Lebih baik isi waktu kalian dengan belajar Anatomi tubuh daripada menggunakan waktu unttuk bergosip."


"Hey kau! Apa urusanmu dengan gosip ini. Apa pemilik kapal itu ayahmu. Sungguh memalukan mempunyai ayah yang merangkap sebagai mucikari." Hina pemuda tersebut lagi.


"Kurang#jar! Tutup Mulutmu! jangan hina dia!"


Tanpa peringatan Conrad melancarkan bogem nya pada mahasiswa tersebut.

__ADS_1


"Aaa! Conrad sudah!" teriak Ruby yang bersama Cornad melewati parkiran hendak menuju halte bus.


Tapi, perkelahian tidak dapat dielakan. Kedua pemuda itu saling menghantam. Meskipun dengan mudah Conrad bisa menghindari serangan pemuda yang pertama. Tetapi serangan dari pemuda lainnya dengan tiba-tiba, tidak dapat dia hindari.


Tinju bersarang di perut dan pinggangnya.


Conrad tersungkur, sementara Ruby menjerit ketakutan. Dia dengan panik menghampiri Conrad. Pemuda itu hendak bangkit lagi tapi tangan Ruby menahannya. Gadis itu tidak ingin Conrad berkelahi lagi.


"Sudah Conrad! Cukup... lihat kau terluka." ujar Ruby khawatir.


"Hei ayo maju, jangan berlindung di balik ketiak seorang wanita." Hardik pemuda yang bertengkar dengan Conrad.


Conrad berdiri dan mengebaskan tangan Ruby, membuat gadis itu terkejut. Ini pertama kalinya dia melihat sisi Conrad yang begitu keras. Selama ini Conrad selalu bersikap baik, ramah, perhatian dan selalu bersikap sopan.


"Kau pikir aku takut?" Conrad meludahkan darah yang keluar dari mulutnya.


Tiga orang pemuda yang mengeroyok Conrad sudah siap dengan kuda-kuda, ketika terdengar suara teriakan menghentikan mereka.


"Kalau kalian tidak bubar! Aku laporkan pada Dekan!" teriakan seorang wanita dengam tegas membuat mereka menoleh kearah asal suara.


Jasmine disana tampak berdiri dengan mata nyalang mengancam pada ketiga pemuda itu.


"Siapa kau? Mahasiswa baru?"


"Berani-beraninya mengancam kami, gadis kecil!" seorang pemuda dengan sikap angkuh dan berandal menghampiri Jasmine. Emosi nya yang penuh dengan kemarahan sangat tergambar di raut wajahnya. Pemuda itu menghampiri Jasmine hendak memberikan pelajaran.


"Jangan dekati dia!" Teriak Conrad yang segera berlari dan menyembunyikan Jasmine dibelakang tubuhnya.


"Wow! Wow! Punya dua gadis ternyata?'" Pemuda itu bertepuk tangan dan terkekeh.


"Kalau aku tidak boleh menyentuh dia, berarti aku boleh menyentuh yang satunya. Sama-sama cantik kok." Pemuda itu memberikan tanda pada temannya untuk mendekati Ruby.


Ruby menjadi panik dia beringsut mundur dengan ketakutan, ketika dua orang pemuda mendekati dirinya dengan mata yang menyala. Saat pemuda itu hampir menyentuh Ruby, kedua tangan Conrad yang gagah, menarik baju mereka dengan kasar dan mendorong mereka menjauhi Ruby.


"Kau tidak apa-apa Ruby?" tanya Conrad panik.


Ruby menggeleng. Saat itu juga terdengar teriakan Jasmine.


"Lepaskan aku brengsëk! Lepaskan!"


Tepat disaat Conrad berlari menyelamatkan Ruby, pemuda yang berada didekat Jasmine segera memeluk Jasmine dari belakang dengan erat.


Conrad menegang, dia memegang tangan Ruby dengan tangan kirinya. Dan dengan tangan kanan dia menunjuk pada pemuda itu.


"Lepaskan dia. Ini urusan kita berdua! Lepaskan dia!" Hardik Conrad dengan keras.


"Wanita ini datang tiba-tiba dengan sukarela. Kenapa tidak. Ayolah jangan rakus. Kau sudah punya satu. Bagi satu dengan diriku." Pemuda yang memegang Jasmine dengan erat terkekeh.


Jasmine menatap Conrad yang masih melindungi Ruby, tapi sekaligus masih mengkhawatirkan dirinya. Dia melihat jika pemuda itu sudah terluka tetapi masih mengkhawatirkan dia dan Ruby. Jasmine tidak ingin Cobrad terluka lagi dengan mengkhawatirkan dirinya.


"Bawa Ruby pergi. Aku baik-baik saja." Teriak Jasmine.


"Lihat dia senang di peluk oleh diriku." ujar Pemuda itu terkekeh. Saat pemuda itu mulai memiringkan wajahnya hendak mencium rambut Ruby yang terurai di leher, Conrad menjadi marah.


"Hentikan! Jangan sentuh dia! Jadilah seorang mahasiswa beradab Bang$at!"


"Apa? Kau mau aku berhenti? Maka berikan kepuasan pada kedua temanmu." ujar pemuda itu.


Kedua orang pemuda lainnya dengan tersenyum licik, menghantamkan kepalan tangan kanan nya ke telapak tangan kiri. Mereka terkekeh dengan seringai yang menjijikan. Conrad tahu apa yang mereka mau. Dia melepaskan pegangan tangannya pada Ruby dan meminta wanita itu menjauh.


"Baiklah. Lakukan yang kalian mau, tapi lepaskan kedua wanita itu." ujar Conrad.


Tanpa peringatan satu pukulan sudah menghantam di wajah Conrad. Pemuda itu terhuyung ke belakang. Ruby memekik. Jasmine menjerit. Melihat Conrad dikeroyok karena hendak menyelamatkan dirinya, Jasmine tidak rela. Dia kemudian menggigit tangan pemuda itu sekuat tenaga dan menghentakan kakinya dengan keras pada kaki pemuda itu.


Pemuda itu menjerit kesakitan dan kaget. Pegangannya melonggar dan kesempatan itu digunakan oleh Jasmine untuk melepaskan diri dari dia. Melihat sanderanya kabur, pemuda itu dengan segera berusaha menangkap Jasmine. Tapi sayang tangannya tidak berhasil menangkap Jasmine, melainkan sebuah pukulan keras bersarang di dagunya.


Tubuh pemuda itu terhuyung dengan keras kebelakang dan tersungkur. Saat dia menegakan badannya dia melihat seorang mahasiswa senior, Robert sedang berdiri dan siap menghajar dirinya lagi.


"Pergi Kau! Sebelum aku habisi dirimu! Berani-beraninya mengganggu adik kandungku!" Hardik Robert dengan keras. Jasmine melihat kehadiran Robert sangat lega. Dia berlindung di belakang tubuh besar Robert.


Pemuda itu awalnya tidak terima, dia bangun dan hendak membalas Robert. Tapi ketika dilihatnya banyak mahasiswa lain yang hadir. Dan tampak beberapa mahasiswa melindungi Conrad. Dia akhirnya berinisiatif untuk kabur.


Dion salah satu teman akrab Conrad yang selalu satu sekolah dengan dirinya, datang membantu. Dion datang bersama Robert, ketika mendengar laporan dari mahasiswi lainnya. Mereka yang sedang asyik bercengkerama di kantin segera menghampiri lokasi kejadian.


"Conrad. Ya Tuhan, bagaimana Ini." Ruby panik melihat Conrad yang babak belur.


"Conrad. Maafkan aku. Ayo aku antar ke rumah sakit." ujar Jasmine dengan rasa bersalah.


"Biar aku saja yang mengantar Conrad," ujar Dion. Pemuda itu kemudian memapah Conrad dan dibawa masuk kedalam mobilnya.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Robert.


"Kakak, untung kau datang tepat waktu." Jasmine kemudian menoleh kearah Ruby, " kau baik-baik saja Ruby?"


Ruby mengangguk dengan wajah pucat.


"Ayo kita ke rumah sakit melihat keadaan Conrad."


Ruby kemudian mengikuti Jasmine menuju mobil gadis itu.

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2