Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
104. Aku Rachel 1


__ADS_3

Rachel memacu Ferrari merahnya membelah kegelapan malam. Kali ini dia mengendarai mobil itu sendiri. Dengan kecepatan penuh Rachel memacu batas kekuatan Ferrari tersebut. Pikiran kalutnya membutuhkan Adrenaline yang tinggi.


Perusahaanya saat ini berada diambing kritis dan memerlukan suntikan dana karena pemerintah menemukan kecurangan yang dilakukan ayahnya dalam hal pajak, belum lagi adanya kebakaran gudang kosmetik. Dan lebih parah pihak Andrew yang mendesak perceraian dengan ancaman akan menyebarkan video mesum.


Rachel ingin berontak dan menandatangani surat cerai itu, uang kompensasi perceraian cukup untuk membiayai damage yang terjadi. Tetapi tekanan dari ayahnya menghalangi keputusannya.


"Jangan ceraikan Andrew. Ikat dia kembali. Kita perlu saham dan uangnya. Dia dan keluarganya harus membalas budi pada kita." Perkataan ayahnya terus terngiang di telinga.


Saat ini Rachel tidak dapat berpikir jernih. Dia lelah dan ingin lenyap dari dunia ini. Dia hendak mengadu keberuntungannya malam ini dengan memacu Ferrari itu secara kencang membelah malam.


Tapi kenyataannya, disini lah dia malam ini. Kembali di rumah dengan selamat. Ternyata kematian belum ingin menjemputnya. Rachel tertawa dan masuk ke dalam rumah dengan limbung mengabaikan salam dari kepala pelayan bahkan tidak menyadari kehadiran sebuah mobil lain dari pemilik yang paling dia takuti.


"Rachel!!!" suara berat dan serak dari pria perokok berat itu membuyarkan tawanya.


"Aku mendengar dari tim pengacaramu kalau Andrew mengetahui rahasia keluarga kita?" tanya pria setengah baya yang masih tampak gagah itu.


Rachel yang baru saja tiba dari kantor miliknya terkejut dengan kehadiran pria tersebut di dalam kamar pribadinya.


Ketakutan terpancar di wajahnya. Bagi setiap orang yang mengenal Rachel mereka pasti akan terkejut bila mengetahui ternyata wanita angkuh itu bisa ketakutan. Aura angkuh yang biasa menghiasi wajah dan sikapnya tampak takluk dihadapan pria tersebut.


Rachel menggigit bibir dan meremas kedua tangannya. Telapak tanganya mulai berkeringat seiring dengan detak jantuknya yang mulai berdebar kencang.


"Kau tidak tuli dan bisu kan!" ucap pria itu yang masih duduk diatas sofa dengan menyilangkan kakinya dan menatap Rachel dengan tajam.


Rachel menunduk dan menjawab lirih, "iya."


"Wanita bodoh! Aku tidak mendidikmu menjadi orang bodoh yang bisa dipecundangi orang lain. Kau yang harus memanfaatkan orang lain bukan sebaliknya!" Pria itu menggeram marah. Suaranya pelan, tapi nada suaranya begitu tajam dan membuat setiap orang yabg mendengar langsung tunduk mendengarkan.


Rachel diam dan menunduk dengan takut.


"Sejauh mana dia tahu?" tanya pria itu lagi.


"Hanya sebatas rekaman video itu."


"Kenapa dia bisa memiliki rekaman itu?"


Rachel memandang pria itu dengan takut dan benci. Bagaimana mungkin pria itu mengucapkan kalimat tersebut sementara dirinya lah penyebab rekaman itu terjadi. Nafsunya yang membuat dia melakukan tindakan itu di ruang kerja Andrew dalam rumah ini.


Tapi tampaknya pria tua itu tidak mau mengakui kesalahannya. Dia masih menatap Rachel dengan tajam dan sikap yang mengintimidasi.Dia tidak pernah salah! Semua tindakannya adalah suara Penguasa. Dia adalah Tuhan dalam keluarga dan kerajaan bisnisnya.

__ADS_1


"Kau tahu, sikapmu yang seperti itu membuatku menginginkanmu." suara pria itu berubah menjadi lembut.


Rachel menatap pria itu dengan ketakutan, dia beringsut mundur dan hendak berlari keluar kamar, tetapi ketika dia membuka pintu kamarnya, dua orang pria tinggi besar berjas hitam yang entah dari mana datangnya sudah berdiri didepan kamar dan menghadang.


Langkah Rachel tercekat. Dia tahu percuma baginya melawan kedua pria itu. Meskipun dia berteriak memanggil pengawal, mereka tidak akan mematuhi kata-katanya karena pria tua itu yang menugaskan mereka semua di tempat ini.


"Tutup pintu itu atau kau ingin mereka menyaksikan kita?" ucap pria itu mengintimidasi.


Dia melangkah maju mendekati Rachel yang ketakutan. Pengawal yang melihatnya segera mendorong tubuh Rachel dan menutup pintu kamar itu lagi.


"Mau apa kau, pria tua? Jangan sentuh aku! Aku muak menjadi bonekamu." teriak Rachel histeris.


Pria itu tampak semakin bergairah melihat ketakutan diwajah Rachel. Dia menyeringai lebar dan mendekat. Mendekat dan menghentakan tubuh Rachel kedalam pelukannya. Rachel berontak dia mendorong tubuh pria itu sekuat tenaganya. Pria itu sempat terhuyung kebelakang dan hal itu membuatnya semakin marah.


Dia menggampiri Rachel lagi dengan cepat, menampar keras pipi Rachel. Dia terhuyung akibat kerasnya tamparan dari pria itu, pria itu segera menarik tubuh Rachel dengan keras dan menjambak rambutnya.


Rachel menjerit kesakitan. Pria itu tidak menghiraukan dia menarik rambut Rachel dan menyeretnya dengan kasar kemudian mendorong tubuh wanita itu ketempat tidur. Dia menyeringai puas melihat Rachel meringkuk kesakitan dengan tatapan mata penuh kebencian.


"Tidak. Jangan lakukan. Jangan lagi." Rachel beringsut mundul di atas kasur, dia menangis dan memohon.


Pria itu tidak memperdulikan permohonan Rachel. Mata pria itu sudah gelap hingga menutupi hati nuraninya. Dia menarik gaun yang dikenakan Rachèl hingga pakaian itu robek. Sekali lagi dia menarik tangan Rachel yang beringsut mundur, hingga punggung Rachel tegak dengan kedua lutut dikasur.


Melihat itu membuat nya semakin kalap. Dengan satu tangan masih di leher Rachel, satu tangannya lagi mulai meremas payudara wanita itu.


"Kau menikmatinya bukan, anakku sayang. Daddy merindukan menyentuh tubuh indahmu. Kau selalu menjadi anak terfavoritku." ucap pria itu dengan suara serak ditelinga Rachel.


"Menurutlah atau kau akan kehilangan tubuh indahmu ini." ancam pria tersebut. Dan ketika Rachel berhenti memberontak. Pria yang tak lain ayah Rachel melepaskan tangannya dari leher wanita itu. Kemudian dia mulai menciumi punggung Rachel dan melepaskan sabuk yang dia kenakan.


Setelah sabuk dilepaskan dia berdiri dan dengan seringainya ia kemudian melayangkan sabuk itu ke pungggung mulus Rachel.


Plak! Rachel menjerit menerima cambukan dari ayahnya. Dia tidak berani membalikan badannya.


"Ini hukuman karena kau mengacaukan semuanya!"


Plak! Lagi-lagi cambukan sabuk itu melayang ke punggung Rachel membuat kulit indah itu berdarah.


"Ini hukuman karena kau sudah berani menolakku!" Kemudian pria itu terkekeh puas dan dia mulai mengikatkan sabuk yang dia gunakan untuk menyiksa Rachel ke kedua tangan wanita itu.


Mata hati pria itu sudah gelap gulita dia bahkan tidak menghiraukan anak kandungnya menangis terisak. Dia bahkan mengobarkan amarah dan kebencian dalam diri anaknya. Baginya perasaan itu yang dibutuhkan untuk menguasai dunia.

__ADS_1


Melihat sorot mata kebencian dan tangisan Rachel membuat pria itu justru menyeringai senang dan dia bahkan mulai melepaskan celana panjang, celana dalam kemudian beringsut memeluk Rachel dan menjilati darah di punggungnya.


Tidak sampai disitu saja, pria bejat itu mulai membalikan tubuh Rachel dan mulai mer#m#s juga meng#lum payudara wanita itu dengan penuh nafsu. Rachel tampak memalingkan wajahnya, menutup mata dan menggigit bibirnya.


"Lihat aku Rachel. Pandang aku!" bentak pria itu. Rachel terpaksa membuka matanya dan memandang pria dihadapannya dengan kebencian.


"Ya seperti itu. Aku suka tatapan bencimu itu. Itu yang akan membuatmu bertahan hidup. Kebencianmu akan menjadikanmu Ratu! Hahahahaha." Pria itu tergelak, detik kemudian dia ******* bibir Rachel dengan kasar sambil terus menggerayangi tubuh wanita itu.


Ciuman yang dia lakukan ke sekujur tubuh membuat Rachel merasa mual.


"Panggil aku Rachel." "Panggil aku!" Bentak pria itu seraya mencekik leher Rachle ketika wanita itu diam saja.


"Da.da.daddy.." terbata-bata Rachel menyebut pria itu dalam senggalan nafasnya yang tertahan.


"Iya. Panggil terus dengan bibir manismu itu. Terus. Terus." Rachel berteriak menyebut ayahnya. Dan pria bejat itu terbahak sambil mulai memasukan senjatanya dalam diri Rachel dengan kasar yang mana membuat Rachel melolong kesakitan.


Sakit yang dia derita bukan saja diselangkangan tapi dalam hati dan pikirannya. Dia berontak tapi sia-sia. Pria itu sudah mengikat kedua tangannya. Bukan saja penjaga yang berjaga didepan kamar itu yang mendengar teriakan Rachel tetapi seluruh pelayan juga hanya dapat diam dan bersembunyi. Tidak ada satupun yang tergerak hatinya menolong wanita itu.


Didalam kamar pria bejat itu menghentakan tubuhnya berkali-kali sambil menyeringai penuh nafsu. Sementara tubuh Rachel yang mulai lemas hanya dapat diam membiarkan perlakuannya.


Setelah beberapa saat, pria itu mulai mengerang keras dan tubuhnya bergetar puas. Dia terkulai di sisi Rachel.


Wajahnya terukir kepuasan dan nafas nya masih tersenggal ketika dia berkata, "bibirmu, tubuhmu benar-benar manis. Kau jauh lebih nikmat daripada kakakmu." pria itu terkekeh.


"Kau selalu menjadi kesayangan daddy." ujar nya lembut di telinga Rachel membuat wanita itu bergidik jijik dan mual.


"Hari ini cukup sekali saja ya sayang. Lain kali daddy akan meminum obat kuat dulu sebelum memuaskanmu." ucapan itu membuat Rachel memejamkan matanya berharap menghilang dari hadapan pria itu.


Tak lama kemudian setelah tenaganya pulih pria itu berdiri dan mengenakan pakaiannya, dia melepaskan sabuk dari tangan Rachel dan mulai mengenakannya.


"Sebaiknya kau menghilang selama beberapa waktu. Biarkan Andrew mengambang tanpa arah. Dan bila saatnya tiba, kita akan menjatuhkan bom kematian padanya. Hahahaha." Pria tersebut terkekeh penuh kelicikan dan pergi meninggalkan Rachel yang meringkuk penuh kehancuran.


Hatinya diselimuti kebencian. Kebencian pada segala sesuatu di sekitarnya. Dendam yang membakar membuat dirinya memperlakukan setiap orang layaknya budak. Tidak ada damai dihatinya. Dia tumbuh ditaman gersang yang tampak mewah di kejauhan.


😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭


Sisi gelap hidup Rachel yang memilukan.


Jangan lupa like ya guyss...

__ADS_1


Hayo yang lupa like di scrool ke atas ya, like dari bab satu. Terimakasih.


__ADS_2