Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Menjaga Image


__ADS_3

Pagi hari ketika ketiga anaknya sedang bersekolah. Diana mendapatkan sebuah paket.


"Nyonya ada paket untuk anda." Seorang pelayan membawa sebuah kotak kecil berwarna coklat kepada Diana.


Wanita itu menerima amplop tersebut dengan berbinar. Dia meminta pada pelayan untuk meletakan di meja dan memanggil butler Jhon. Diana ingin membuka amplop itu dihadapan butler Jhon.


"Iya nyonya anda memanggil kami?" Tanya butler Jhon yang sudah ada di ruang kerja Andrew. Pria tua itu masih berjalan dengan gagah dan wajah ceria menghampiri Diana.


"Lihat ini, paket dari Tuscany." Diana menunjukan amplop yang baru dia terima kepada butler Jhon.


"Pengasuh itu mengirimkannya? Lalu apakah dia tidak akan kemari, nyonya?" Tanya butler Jhon antusias.


Diana menggelengkan kepala nya.


"Wanita itu menolak untuk datang kemari. Dia tidak ingin, kehadirannya membuat Francesca mengingat masa lalu dan jati dirinya sebagai orang luar di keluarga ini. Dia ingin Francesca lepas dari trauma masa lalunya."


Diana menjelaskan penolakan Lena, pengasuh yang menjaga Francesca semenjak dia bayi di Tuscany.


"Ah, wanita itu baik sekali. Dia benar-benar mementingkan Francesca. " gumam butler Jhon.


"Iya benar. Dia cukup senang dengan foto-foto kebahagian Francesca bersama kita. Maria, apakah dia masih berhubungan dengan Lena?" Tanya Diana yang menugaskan Maria untuk selalu memberi kabar akan kegiatan dan oerkembangan Francesca di mansion.


"Hampir setiap hari nyonya." Sahut butler Jhon yang selalu mengontrol aktifitas dan tugas pelayan di rumah.


"Baiklah. Lanjutkan saja. Aku rasa dia akan bahagia mengetahui perkembangan Francesca setiap hari nya."


"Tolong buka amplop ini." Diana menyodorkan amplop coklat kepada butler Jhon. Setelah dibuka dan di keluarkan, dia menyerahkan lagi pada Diana, foto masa kecil Francesca.


Di sana ada foto bayi gadis kecil itu. Tidak banyak dan tamoaknya sebagian diambil dari foto kamera hp Lena. Di sana juga ada Foto ketika Manuel, ayah gadis itu menggendong Francesca juga terdapat foto nya ketika masih bayi dengan Carolina. Foto terakhir sampai sebatas Francesca berusia dua tahun.


Diana mengambil beberapa foto saat Francesca masih bayi dan berusia dua tahun. Dia menyodorkan foto tersebut pada butler Bernard dan memasukan sisanya kembali ke dalam amplop. Diana kemudian menyimpan amplop itu ke lemari besi. Dia tidak akan menghancurkan ataupun memberikan foto itu untuk Francesca. Mungkin suatu saat, gadis itu akan memerlukannya.


"Butler tolong minta seseorang membesarkan foto ini. Aku akan menyimpan dalam album sebagian foto-foto ini dan yang besar akan aku pajang di dinding, bersama foto bayi Conrad, Aaron dan nanti ke tiga bayi ku ini."


Diana mengusap perutnya dan merasakan dua tendangan disana. Baby nomor tiga tampaknya masih lemah. Hanya beberapa hari lagi dia akan di jadwalkan untuk operasi.


"Baik nyonya."


"Tolong ambilkan sebuah album kosong, aku akan menyimpan foto-foto ini untuk Francesca. Kelak akan ada saat nya dia menanyakan hal ini. Semoga saja dia tidak terlalu cepat merasakan perbedaannya." ujar Diana sambil membelai foto Francesca.


***


Di sekolah.


Hari ini tampak sangat ramai, karena ada pertandingan baseball antar kelas di sekolah Aaron dan Francesca. Semua anak tampak bersukacita berada di lapangan. Apalagi ketika mereka melihat Aaron berhasil mencetak home a run. Bocah itu memang sangat jagoan berolah raga dan selalu percaya diri.


Keringat yang menetes di kening Aaron, membuat bocah itu semakin tampan. Bukan saja menjadi idola para gadis kecil, Aaron juga menjadi idola para guru.


Saat Aaron sudah masuk kembali ke dalam base pertahanan. Para gadis tk A sudah berebutan mengambilkan handuk untuk mengelap keringat Aaron dan sebotol minuman untuk mengusir dahaganya. Sedangkan gadis-gadis dari tk B yang menjadi pihak lawan, hanya dapat menggerutu kesal.

__ADS_1


"Hai, aku juga barusan memukul dengan keras dan mencetak home a run, kenapa kalian tidak memperlakukan aku, seperti Aaron di kelompok tk A?" tanya Doni, seorang bocah tk B yang sebenarnya berwajah cukup tampan.


Bukannya mendapatkan perhatian, semua anak gadis malah melengos kesal.


"Kau bukan Aaron. Aura bintang mu tidak ada." ujar mereka dengan ketus.


"Tapi aku adalah kelompok kalian." sahut Doni dengan kesal.


Mereka tidak menjawab. Hal itu membuat Doni kesal.


Sekarang adalah giliran dari regu Aaron yang berjaga. Berarti giliran dari group tk B yang akan memukul bola.


Dengan bersemangat Doni mengayunkan tongkatnya dan berhasil memukul bola tinggi dan jauh. Pukulan itu menjulang tinggi ke arah Aaron yang berjaga. Aaron dengan bersemangat mengejar bola, dia memandang bola yang mengudara di angkasa dan bersiap menangkapnya.


Sementara di hadapannya Doni berlari dengan kencang. DiA harus segera melewati base pertama, kedua dan ketiga. Jika memungkinkan Doni akan kembali ke markas. Itu artinya dia bisa mengalahkan rekor Aaron ya g hanya bisa sampao base ketiga.


Tapi, apa yang terjadi. Ketika hampir sampai di base ketiga, Doni tidak menyadari Aaron yang ada dihadapannya sedang memungut bola. Dan kecelakaan tidak dapat di hindari. Kaki Doni tanpa sadar menendang badan Aaron dan Doni juga langsung terjungkal. Jatuh.


Doni menangis dengan keras, tanpa rasa malu. tangan dan lututnya berdarah, begitu juga dagunya. Sedangkan Aaron memeluk tubuhnya sambil meringis kesakitan. Aaron juga ingin menangis, tetapi ketika melihat puluhan orang berlari mendekat, dia menahan air matanya.


"Aaaaarrrroooonnnn, segerombolan anak gadis berlari ke arah Aaron bagaikan sekelompok bayi gajah. Suara debuman langakah kaki dan debu yang berterbangan membuat Aaron takut sekaligus sesak nafas. Aaron memejamkan mata. Dia tidak mempunyai kekuatan untuk berlari menghindar.


"Huaaaa Aaron pingsaannnn. Aaron pingsannn." teriak sekelompok gadis yang sudah terlebih dahulu sampai di dekat Aaron.


Tidak ada yang mendekati Doni. Hal itu membuat Doni menangis semakin keras. Guru olah raga segera menghampiri Doni dan membopong bocah itu. Beberapa teman pria Doni, mengikuti guru olah raga sedangkan yang lainnya penasaran dengan apa yang terjadi pada Aaron.


Aaron yang masih merasakan sakit akibat tendangan Doni, hanya dapat meringkuk seraya membenamkan wajahnya di tanah. Dia tidak ingin para gadis akan semakin histeris melihat dirinya. Mendengar suara mereka saat ini yang berdengung tiada henti seperti lebah, membuat Aaron bertambah pusing.


"Ah... lihat debu di wajah Aaron membuatnya semakin tampan."


"Lihatlah betapa macho nya Aaron, dia bahkan tidak menangis."


"Benar, Aaron langsung pingsan, tidak teriak-teriak seperti si Doni."


"Ah Doni cengeng, dia badannya saja yang besar. Tapi tetap lebih keren Aaron."


Celoteh anak-anak gadis yang sibuk mengagumi Aaron.


Dimana Francesca?


Gadis itu tidak suka dengan kegiatan ekstrakulikuler berolah raga. Dia lebih memilih mengikuti kelas seni. Disaat Diana memperkenalkan jenis-jenis alat musik, Francesca memilih biola, Sedangkan Conrad memilih gitar. Untuk Aaron, bocah itu masih bingung menentukan alat musik yang dia sukai. Jadi dia masih mencoba semua alat musik.


Saat ini, Francesca sedang berlatih menggesekan biola nya mengikuti nada. Dia sangat senang sekali dengan suara ngek.. ngokkk ngekk ngokkk cantik yang dihasilkan oleh biola.


Francesca tampak sangat tekun berkonsentrasi mendengarkan arahan dari pelatih. Dan saat itu Carmen dan Carina datang, membuyarkan konsentrasinya.


"Frances, cepat lihat Aaron. Dia saat ini sedang terluka." lapor Carmen.


"Terluka bagaimana?" Francesca menghentikan permainan biolanya.

__ADS_1


"Dia pingsan." ujar Carina.


"Heh?! Apa yang terjadi dengan adikku, dia terluka atau pingsan?" tanya Francesca dengan panik.


"Kena tendang Doni, terus pingsan." lapor mereka bersamaan.


"Huooh! awas kamu doni ya!!!! Pak Guru, saya pergi dulu, mau buat pergitungan dengan Doni!' teriak Francesca yang segera berlari meninggalkan latihannya dan menuju ke klinik kesehatan sekolah.


Francesca diijinkan masuk oleh suster jaga, tapi tidak dengan yang lainnya.


"Katakan pada Aaron kami, mengkhawatirkan dirinya." teriak para gadis yang tidak bisa masuk.


Francesca yang panik dan marah, sudah bersiap mengamuk pada Doni. Tetapi ketika masuk kedalam ruangan klinik. Apa yang dia lihat adalah Aaron tampak baik-baik saja, sementara Doni babak belur. Banyak luka di wajah, tangan dan kaki nya.


"Hei Frances," sapa Aaron ceria.


"Kau baik- baik saja? Kata mereka kau pingsan." tanya Francesca heran.


"Aku pura-pura pingsan. Pusing melihat mereka berlari seperti gajah dan berdengung seperti lebah. Lebih baik pingsan saja." sahut Aaron dengan cuek sambil mengunyah semangkuk pasta.


Francesca lalu menoleh ke arah Doni. Bocah kecil itu tersenyum kecil pada Francesca sambil mengunyah pasta juga.


"Dan kau juga pura-pura pingsan?" tanya Francesca pada Doni.


Bocah itu diam saja, sambil tersipu malu. Malu rasanya mengakui di depan si cantik Francesca, Jika dia sebelumnya menangis dengan keras.


"Kau mau pastaku?" tanya Doni mengalihkan perhatian Francesca.


"Tentu saja. " sahut Francesca dengan mata berbinar. Tanpa memikirkan Doni yang sakit dan kelaparan, Francesc mengambil mangkok pasta Doni.


"Frances! Kembalikan pastanya pada Doni. Dia memerlukan pasta itu untuk mengembalikan tenaganya yang habis tadi." teriak Aaron. Doni sudah menagis keras tadi, apalagi ketika perawaat menorehkan obat di luka nya.


"Ini makan saja punyaku." Aaron memberikan pastanya yang masih setengah mangkok.


"Asyikkk." Francesca mengembalikan mangkok pasta pada Doni dan mengambil bagian Aaron. Doni makan dengan lahap di temani Francesca.


Tiba waktunya pulang. Matilda masuk ke dalam ruang kesehatan dan menggendong Aaron pulang. Awalnya Arin tidak mau di gendong Matilda dengan alasan malu. Tapi ketika melihat jika yang lainnya masih berdoa di ruang kelas. Aaron setuju. Apalagi Aaon tampak masih merasakan sakit.


Sesampainya di mansion. Masih dalam gendongan Matilda. Aaron berteriak mencari Diana.


"Mommyyyy... mommmyyyyy. Aaron kecelakaan tadi. Huaaaaa.... sakittttt.. Huaaaa. Mommyyyyy tolong Aaron. Huaaaaaa." Aaron menangus dengan keras mencari ibunya.


Diana dengan tertatih menemui Aaron di kamar bocah itu. Aaron langsung memeluk Diana dengan menangis sekeras-kerasnya. Bocah itu juga menunjukan sisi kiri perutnya yang berwarna biru.


"Sakit mommy. Huaaaa.... sakittt. " Aaron mengadu dengan keras.


"Sini mommy beri salep ya. Tadi disekolah sudah di rontgent sama perawat. Katanya tidak apa apa-apa, hanya lebam saja. Perawat tadi telphone mommy, mereka bilang Aaron hebat tidak menangis sama sekali. Sekarang kok cengeng?" tanya Diana dengan geli sambil mengusapkan salep ke perut Aaron yang membiru.


"Mommy ini bagaimana sih. Aaron kan harus jaga image di depan mereka."

__ADS_1


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


__ADS_2