Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Tanda Tangan


__ADS_3

Andrew keluar ruangan rawat inap Caroline dengan jengkel. Dia tidak berhasil menyakinkan wanita licik itu. Tidak juga dengan uang.


Andrew berdiri di lorong rumah sakit dengan gelisah. Kegagalan bernegosiasi dengan Caroline itu artinya dia harus kembali bertemu dengan wanita itu.


Andrew mengirimkan pesan pada Diana akan kegagalannya. Wanita itu bersikeras mempertahankan Francesca dan menginginkan Conrad, juga dirinya. Bagaimana dia mengakhiri pembicaraan dengan bersikap histeris.


"Aku sudah menduganya sayang," Ujar Diana dengan sendu.


"Maafkan aku. Haruskah aku tinggalkan Francesca? Kita bisa memantaunya dari jauh." Andrew meminta saran pada Diana.


"Tolong temui dia sekali lagi, " Pinta Diana.


"Jika dia menolak?"


"Jika dia menolak, maka aku akan datang menghadapinya. " Ujar Diana dengan mantap.


Andrew mengerutkan keningnya. Caroline membenci Diana, bagaimana dia bisa menghadapi wanita itu. Bukannyan hal itu akan menimbulkan konflik?


"Kau yakin? Tapi bagaimana mungkin?"


"Aku akan mencoba. Setidaknya aku akan berusaha demi Conrad. Aku tidak ingin suatu saat dia akan menyalakan kita, karena tidak berjuang untuk Francesca. " Ujar Diana.


"Aku tidak ingin kau menderita menghadapi wanita hilang akal itu." Ujar Andrew.


"Aku bukanlah gadis kecil lagi sayang, aku seorang ibu. Dan itu menjadi kekuatanku. " Ujar Diana dengan percaya diri.


"Maafkan aku selalu membuatmu menderita., " Ujar Andrew dengan sendu.


"Hei... Jangann katakan itu. Justru kekuatanku berasal dari cintamu dan cinta anak-anakku. " Diana tersenyum hangat pada Andrew.


"God, kenapa kau datang terlambat di kehidupanku. Kenapa tidak lebih awal sepuluh tahun dari sejak pertama kita bertemu. " Ujar Andrew merajuk.


"Hahhaha waktu itu usiaku baru sekitar tiga belas tahun. Berarti kau menikahi seorang anak-anak. " Diana tertawa lebih lebar melihat wajah Andrew yang cemberut.


Seorang perawat memdekati Andrew.

__ADS_1


"Tuan, istri anda sudah sadar. Beliau menyampaikan pesan akan bersedia menemui anda, jika anak-anak datang bersama anda, " Ujar perawat tersebut.


"Dia bukan istriku! " Sahut Andrew dengan kesal.


"Ini istriku. " Andrew menunjukan layar handphone nya dimana Diana masih disana.


"Ah, maafkan saya tuan, maafkan saya nyonya. " Ujar perawat itu dengan gugup.


"Aku akan menemui wanita itu sekali lagi. " Andrew memandang Diana melalui smartphone nya.


"Berjiwa besarlah. Doaku menyertai mu."


Sambungan telphone di matikan. Andrew kembali ke ruang Caroline yang kini di jaga oleh seorang perawat. Wanita itu menolak menemui Andrew tanpa Francesca dan Conrad.


Akhirnya Andrew meminta Raja membawa kedua anak itu ke rumah sakit. Dalam waktu tiga puluh menit, kedua anak itu sudah datang.


Andrew membawa mereka menemui Caroline. Namun sebelumnya, Andrew sudah berbicara dengan direktur rumah sakit agar membiarkan seorang dokter ahli jiwa dan beberapa dokter ahli untuk menemaninya. Andrew perlu membentuk opini.


Mereka masuk ke ruangan Caroline. Wanita itu tidak keberatan dengan adanya beberapa dokter yang hadir pula. Dalam pikirannya, kedatangan dokter-dokter tersebut memberikan keuntungan baginya. Dokter tersebut bisa menjadi saksi cinta Caroline untuk anak-anaknya.


Dengan ragu dan takut Conrad menghampiri Caroline. Conrad bahkan setengah menarik Francesca untuk mendekati ibu nya. Francesca tampak takut melihat keadaan Caroline.


"Maafkan mommy, Francesca. Kau tahu bukan, aku menyayangi mu, aku mencintaimu." Caroline mengulurkan tangannya agar Francesca mau memeluknya.


Tapi gadis tetap berdiri menjauh. Tetap diam di sudut kaki Caroline tanpa mau menghampiri ibunya. Semua dokter dan perawat yang melihatnya dapat menyaksikan rasa takut terpancar, di kedua bola mata gadis itu.


"Ah, kau pasti takut melihat keadaan mommy bukan? Tapi mommy baik-baik saja. Mommy akan segera sehat agar dapat menemanimu, sayang." ujar Caroline dengan lirih.


"Andrew.. lihatlah mereka. Lihatlah diriku. Tidak kah kau ingin bersatu dengan mereka, dengan diriku. Lihatlah aku Andrew aku sakit dan aku perlu dirimu. Aku perlu dukungan kalian." isak Caroline terdengar memilukan.


"Aku akan kembali padamu dengan kedua anak ini. Aku rasa kebun anggurmu cukup untuk membiayai kehidupan sederhana kita," ujar Andrew dengan menatap tajam pada Caroline.


"Ah Andrew ku sayang. Bagaimana bisa perkebunan kecil ini bisa mencukupi kebutuhan kita, masa depan anak-anak? Tentu saja kau harus membawaku ke Miami bersama mu. Kita akan menjadi keluarga yang utuh dan tinggal di mansionmu. Kau senang bukan Conrad dan Francesca?" ujar Caroline dengam bahagia.


Dia menyangka jika Andrew benar-benar akan kembali padanya. Caroline merasa bahagia. Penantian dan perjuangannya melawan kanker, untuk mendapatkan Andrew membuahkan hasil. Caroline sudah tidak sabar untuk tampil cantik dan menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


"Tidak. Kita akan tinggal disini dan hidup dari hasil perkebunan anggur." Andrew menegaskan.


"Tapi mengapa?" tanya Caroline dengan heran.


"Detik aku menandatangain surat cerai dengam Diana, saat itu lah semua hartaku akan berpindah padanya." ujar Andre. dengan tenang.


"Sudah aku duga wanita itu materialistis. Dia sudah mengecohmu. Oh Andrew sayang, kau sudah tertipu oleh wanita mata duitan itu. " Caroline memandang Andrew sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, kau tidak perlu menceraikan dia. Kita bisa tetap memadu kasih dan tinggal bersama anak-anak." Caroline memikirkan alasan lain.


"Perselingkuhan juga termasuk dalam perjanjian itu." ujar Andrew dengan tenang.


"Andrew! Bagaimana bisa kau begitu bodoh dan tertipu pada wanita itu! Lalu bagaimana dengan diriku. Dengan anak-anak. Kami juga memerlukan biaya hidup." ujar Caroline dengan melengking.


Andrew tersenyum kecil. Warna asli wanita itu sudah keluar. Andrew melirik pada barisan dokter dan perawat yang terkejut melihat perubahan tiba-tiba pada Caroline.


"Hanya satu penawaran terbaik untukmu, Caroline."


"Apa itu?" ujar Caroline dengan bersemangat.


Andrew tertawa dalam hati. Dia yakin umpan akan segera dimakan oleh sasaran.


"Aku bisa mengirimkan sejumalh uang untuk mu. Membiayai perawatan yang terbaik. Dan kau bisa bebas Caroline. Terbang mencari kebahagiaanmu. Dan kedua anak ini, biar aku yang menanggungnya. Lepaskan bebanmu Caroline." Andrew kali ini berbicara dengan lembut.


Caroline tertegun. Dia menimbang baik dan buruknya. Untung dan Rugi. Memiliki Andrew berarti kerugian. Melepaskan Andrew berarti kebebasan. Dan dia bisa meminta nominal berapa pun.


Disaat Caroline galau, Raja datang menghampiri wanita itu dengan sebuah kertas kosong bermaterai. Dia meletakan pulpen ke jari tangan Caroline.


Raja berbisik," tanda tangani saja nyonya. Masalah yang lain dipikir nanti. Yang penting anda bisa meminta uang berapapun. dan saya sarankan satu juta dolar. Tanda tangani saja nyonyaa, dengan begitu anda tidak perlu repot mengurus anak. Anak hanya beban saja untuk wanita secantik dan semodern anda."


Dan tanpa sadar Caroline menandatangani kertas kosong bermaterai tersebut.


...💗💗💗💗💗...


follow ig yaaa.

__ADS_1



__ADS_2