
Pagi di Head Office.
Briant menggenggam sebuah amplop yang baru saja diberikan oleh sekretarisnya. Dia membuka dan membaca isinya dan terkejut. Berulang-ulang dia baca isinya tetap sama, pandangannya tidak salah.
Dia letakan amplop tersebut didalam laci meja kerja. Sesaat dia diam sambil meremas bola kecil lentur. Otaknya berputar keras menimbang-nimbang sesuatu.
Smartphone berbunyi.
"Yes, brother Michael." sapa Briant pada orang yang menelphone.
"Apakah kamu sudah menerima hasil test tersebut?" tanya dr.Michael diseberang sana.
"Iya. Baru saja aku membacanya."
"Lalu bagaimana?"
"Kau yakin hasil test itu benar?" tanya Briant ragu.
"Kau meragukan kualitas laboratoriumku, heh?!" suara dr. Michael terdengar kesal.
"Bukan begitu, tapi hasil ini, membuatku bingung." jawab Briant cepat.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan segera memberitahu mereka?" tanya dr.Michael.
"Entahlah. Aku tidak tahu apakah hal ini akan menjadi kabar baik atau buruk bagi mereka terutama Andrew." ujar Briant dengan ragu.
"Cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya. Kau tidak dapat menyembunyikan hal itu." nasihat dr.Michael.
"Aku tahu. Tapi untuk saat ini tolong jangan beri tahu mereka. Keadaan hubungan mereka belum membaik." pinta Briant.
"Baiklah. Tapi jika Andrew menanyakan, aku tidak dapat berbohong."
"Aku mengerti." Briant menghela nafas panjang.
"Brother, apakah hal itu mungkin?" tanya Briant dengan ragu.
"Secara science itu tidak mungkin. Tapi Kebesaran Tuhan bisa mengalahkan semua hukum science. Kecuali..." dr. Michael menahan kata-katanya.
"Lanjutkan kata-katamu brother."
Terdengar dr.Michael menghela nafas panjang.
"Aku tidak yakin. Tapi bisa saja hal itu hanya rekayasa Rachel. Seperti yang kau katakan, banyak hal yang terjadi pada Andrew akibat dirinya."
"Aku mengerti."
Sambungan telphnone terputus. Briant berdiri menatap kearah jendela kaca dengan memasukan kedua tangan didalam sakunya.
Tak lama sebuah pesan wa masuk.
Lia : "Visaku sudah siap, minggu ini aku berangkat. Jangan bilang ke kakakku. Ini kejutan. Salam buat brother Andrew. Thanks Briant."
Briant : "Oke. Beri aku informasi detail kedatanganmu. Seseorang akan menjemputmu."
Sent.
*********************
Sudah lebih dari tiga minggu, Diana hanya melakukan kegiatan dirumah. Selain berkutat dengan tanaman hias dia masih meneruskan belajar berbagai macam bahasa asing dengan guru ahli yang didatangkan oleh Andrew.
Hubungan nya dengan Andrew masih belum ada kemajuan. Dia hanya menanggapi Andrew seperlunya dan sangat membatasi sentuhan fisik. Andrew tampaknya bersabar. Dia menghabiskan lebih banyak waktu dengan bekerja, mengalihkan perhatian dari sikap Diana yang tidak menentu.
Namun begitu, setiap malam hatinya masih tersentuh, bagaimana wanita itu masih senantiasa menantinya pulang bekerja dan menemani makan malam, meskipun dengan minim kata-kata.
Bantal pembatas masih ada diantara tempat tidur. Beberapa kali ketika wanita itu terlelap, Andrew memberanikan diri dengan perlahan mengecup kening Diana juga membelai rambutnya.
Andrew tidak menyadari kalau terkadang Diana mengetahui perilakunya, tapi tetap diam.
Pagi ini ketika Andrew sudah berangkat bekerja dan Diana berkutat dengan tanaman hias seorang pelayan memberanikan diri mendekat.
"Nyonya ini air lemon madu untuk anda."
"Letakan disana."
Pelayan tersebut meletakan minuman tersebut di meja. Kemudian dia memberanikan diri mendekat.
"Nyonya tampaknya anda sudah lama tidak pernah jalan-jalan keluar rumah."
Diana tetap diam tidak menanggapi perkataan pelayan itu.
"Bahkan kami para pelayanpun setiap sepuluh hari mendapat kesempatan untuk refreshing." Pelayan itu masih saja berbicara.
__ADS_1
Diana menghentikan aktifitasnya menoleh kepada pelayan itu. Sandra.
"Pergilah, tinggalkan aku sendiri." kata Diana pada pelayan itu.
Raut wajah pelayan itu berubah dan tanpa bicara dia meninggalkan Diana.
Tak lama Conrad datang.
"Mommyyy i'm home."
"Hallo sayang, kemarilah. Bagaimana sekolah mu hari ini?"
"It's fun. Hari ini setengah hari Conrad buru-buru pulang, ingin bermain dengan mommy."
"Hahhah Conrad sudah besar ya sekarang semakin pintar."
"Iya. Conrad kan sudah Delapan tahun." jawab Conrad sambil menunjukan kedelapan jari tangannya.
"Mommy ayo jalan-jalan"
"Mau kemana sayang?"
"Ke pantai yuk mommy, yang dekat rumah saja."
Diana menimbang sesaat. Kemudian menjawab, "baiklah."
"Asyikkkk." bocah kecik itu bersorak girang dan segera membertahu nanny.
Ketika mereka hendak berangkat Diana mengirim chat berpamitan pada Andrew. Dia tidak menunggu jawaban dari pria itu dan segera menekan mode silent.
Keberangkatan mereka diiringi oleh lima orang pengawal. Terlalu berlebihan bagi Diana. Tapi Butler Jhon memaksa. "Ini perintah tuan Andrew." katanya.
***************
"Nyonya, akhirnya dia keluar dari rumah." lapor seorang pelayan melalui ponsel.
"Bagus! Kemana dia pergi?" tanya wanita diseberang sana.
"Pantai terdekat bersama bocah itu."
"Bagus sekali."
***********
Di pantai, Conrad bermain riang bersama nanny dan seorang pengawal.
Sedangkan Diana duduk di Gazebo. Entah mengapa dia merasa enggan berada di panas dan bermain. Seluruh tubuh nya terasa lemas dan mudah lelah.
Ketika asyik menikmati kelapa muda, seseorang menghampirinya.
"Diana? Apa kabar?" pria muda tampan itu menyapanya ramah.
"Dylan?" Diana terkejut bertemu dengan Dylan dikawasan pantai ini.
Dua orang pengawal langsung berjalan lebih mendekat.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Diana. Pertanyaan basi.
"Menikmati keindahan pantai." jawab Dylan.
"He eh. Tentu saja." sahut Diana, dia merasa bodoh.
"Aku tidak pernah bertemu denganmu lagi di tempat kursus."
"Andrew sudah memberiku guru private."
"Ooh tentu saja." Dylan menganggukan kepalanya. Dapat dia lihat pengawal yang mengawasi mereka.
"Dia tampaknya begitu menjagamu. Kau bahagia?" tanya Dylan.
"Tentu saja." sahut Diana datar.
Dylan menatapnya. Entah mengapa dia merasa ada yang berbeda dengan diri Diana. Sorot mata gadis itu tidak seceria biasanya.
"Kau yakin? Kau dapat membagi bebanmu padaku kapan saja."
"Aku yakin. Terimakasih Dylan."
Di kejauhan seorang wanita cantik berambut hitam melambaikan tangan menghampiri mereka.
"Dia adalah anak dari bossku. Boss memintaku untuk menemaninya disini." jelas Dylan tanpa ditanya.
__ADS_1
"Dia cantik." sahut Diana.
"Tidak secantik dirimu." suara Dylan lirih.
"Ya? Kau bilang apa?" tanya Diana yang tidak dapat mendengar jelas suara Dylan.
"Tidak apa-apa." jawab Dylan dengan cepat.
Dylan menatap Diana dengan tajam. Kemudian dia segera berkata lagi sebelum gadis anak boss menghampirinya.
"Kau tahu, aku masih menunggumu dipersimpangan."
Diana terperangah. Dia menatap Dylan bergantian dengan gadis yang semakin mendekat.
"Seandainya aku dipersimpangan, aku tidak akan mencarimu. Gapailah kebahagianmu sekarang." ujar Diana sambil tersenyum menyambut kedatangan gadis itu.
*************
Setelah Dylan pergi dengan gadis tersebut, Diana merasa amat sangat lelah baru saja dia hendak menutup matanya namun batal karena tiba-tiba datang seseorang menyapanya, lagi?!
"Hai girl i think i know you somewhere." ( hai, sepertinya aku mengenalmu di suatu tempat.)
Diana memandang seorang pria muda yang menghampirinya dengan tidak mengerti.
"Maaf, saya rasa anda salah orang."
"Tidak aku yakin. Wajahmu sukar dilupakan." ujarnya yakin.
"Eh?!"
"Grand Cayman! Benar kau gadis yang membuatku tidak bisa tidur sekian lama. Bagaimana kabarmu? Aku selalu penasaran ingin mengetahui kabarmu." pria itu tampak bersemangat.
"Aku baik. Tapi, anda siapa?" tanya Diana tak mengerti.
"Ah iya waktu itu kau setengah mabuk. Aku memberimu kartu nama, kau ingat?" tanya nya dengan penuh semangat.
Diana menggelengkan kepala. Kartu nama apa? Siapa orang ini?
"Ah, pria itu pasti membuangnya. Perkenalkan namaku Jason Madison." Jason mengulurkan tangannya. Diana menyambut. Pengawal menatap tajam.
"Diana."
"Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu Diana. Aku sempat mencarimu kebeberapa hotel di Grand Cayman, tapi tidak dapat menemukanmu karena aku bodoh tidak sempat bertanya namamu."
Diana hanya tersenyum mendengar penuturan pria itu. Ingatannya hanya samar akan kejadian di VVIP club di Grand Cayman.
"Mommyyyy." Conrad berlari menghampiri mereka.
"Hai sayang, kau sudah lelah?" Conrad menghampiri Diana dengan tubuh penuh pasir pantai.
"Iya mommy." seraya menikmati sandwich tanpa menghiraukan Jason.
"Dia anakmu?" tanya Jason tidak percaya.
"Iya." sahut Diana.
"Tidak mungkin. Kalian tampak berbeda. Berapa usiamu?" tanya Jason penasaran.
"Kenapa? Dia anakku."
"Tidak. Tidak. Usiamu sekitar dua puluh lima dan bocah ini sekitar delapan atau sembilan tahun. Tidak mungkin. Tiga tahun lalu ketika aku bertemu denganmu dan pria itu, kalian tidak tampak sebagi suami istri." Ucap Jason menyelidik.
Diana menarik nafas kesal. Pria ini baik tapi terlalu banyak ingin tahu.
"Oh, dia anak pria itu bukan? Apakah kalian sudah menikah?" tanya nya penasaran.
"Eh, aku..." Diana bingung menjawab perkataan pria itu yang tiba-tiba saja muncul seakan mereka akrab.
Belum sempat dia menjawab, sebuah suara yang tidak asing berteriak.
"Hei wanita simpanan! Kembalikan suamiku!"
ππππππππππππππππππ
Apa yang bakal terjadi lagi yaaa...
oh ya, kalau kalian lupa siapa Jason, baca ulang bab 19 yaaa..
Selamat membaca.
Salam
__ADS_1