Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
84. Aku percaya


__ADS_3

"Ayo antar aku, jangan ganggu mereka." Lia menarik jas Jason dengan keras. Pria muda itu akhirnya melepaskan tangan Diana.


Andrew segera mengangkat tubuh Diana dalm gendongannya dan membawa wanita itu kedalam mobil yang sudah menanti di depan. Diana membenamkan wajahnya dalam dada andrew menghindari puluhan mata yang memandangnya dengan berbagai macam raut wajah.


Beberapa orang tampaknya mengabadikan kejadian tersebut di handphone mereka. Akan menjadi berita heboh lagi, scandal perusahaan apabila sampai masuk ke media social. Oleh karena itu Briant dan beberapa pengawal tetap ditempat dan mulai meminta setiap orang dan cctv rumah sakit untuk mengahapus video rekamanan.


Briany bekerja dengam keras. Dengam tegas dan simpatiknya dia berhasil membuat setiap orang menuruti tanpa kekerasan.


"Tuan, benarkah wanita cantik itu merebut suami wanita yang berteriak?"


"Tuan, apakah anak itu benar milik tuan tampan?"


"Tuan, apakah wanita ketiga itu juga berselingkuh?"


"Apakah pria muda itu adalah ayah bayi wanita itu?"


"Benarkah tuan tampan mandul? Jika mandul bagaimana wanita itu bisa hamil anaknya?"


"Wanita itu terlihat sangat cantik dan lembut, tapi ternyata merebut suami orang dan mengandung anak orang lain."


"Eh bisa saja, wanita yang berteriak itu benar-benar jahat hingga dicampakan suaminya."


"Apa yang terjadi dengan rumah tangga tuan tampan sehingga dia berselingkuh?"


"Kasihan istrinya sampai menangis seperti itu."


"Kenapa mereka memperlakukan istrinya dengan kasar?"


"Ah wanita simpanan tentunya lebih muda dan cantik."


"Beruntungnya wanita cantik itu diperebutkan dua pria tampan."


Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan ketika Briant dan pengawal mulai bergerak menghapus video yang direkam sebelum meluas di media sosial.


Briant hanya diam dan pada akhirnya.


"Yang kalian lihat tadi merupakan latihan dari sebuah syuting film. Terimakasih atas perhatian kalian semua." ucap Briant sebelum berlalu dan meninggalkan lebih banyak tanya.


"Loh syutting ya? Aku ikut di syutting gak ya tadi?"


"Kok kamerawan dan sutradaranya tidak ada."


"Kan latihan makanya tidak ada kamerawan."


"Eh, film apa ya katanya tadi."


"Acting mereka luar biasa ya, seperti sungguhan."


"Artis-artis baru ya. "


"Wah, pantas saja Tampan dan Cantik luar biasa, ternyata aktris."


"Jadi penasaran syuting film apa ya?"


Pertanyaan seperti itu kemudian saling bermunculan diantara mereka dan membuat perwat rymah sakit kewalahan menjawab.


"Kami juga tidak tahu acara apa itu. Maaf, kami harus merawat pasien." ucapan lantang terakhir dari seorang perawat pria membungkam pertanyaan pengunjung yang bertubi-tubi.

__ADS_1


*************


Andrew tidak melepaskan Diana dari pelukannya, bahkan ketika merka sudah berada didalam mobil. Wanita itu duduk di pangkuan Andrew dan menangis dalam dekapan pria yang di cintai nya.


"Ini anakmu. Kau harus percaya padaku." ucap Diana disela-sela tangisannya.


Andrew membelai rambut Kekasih hatinya. Saat ini pikirannya kacau. Suasana hatinya sedang buruk.


"Andrew, kenapa kau diam. Ini anakmu kau harus percaya padaku." Diana menengadahkan wajahnya memandang manik mata Andrew.


Pria itu mengusap air mata yang membasahi pipi mulus Diana. Dengan lembut dia kecup kening wanita itu dan merebahkan kembali kepala Diana di dadanya.


"Iya aku percaya." ucap Andrew lirih.


Isak tangis Diana mulai reda, dia tertidur dalam pelukan Andrew. Semenjak kehamilan tri semester pertama dia merasa lebih lemah dan mudah sekali mengantuk.


Tidak butuh waktu lama, mobil mereka sudah sampai di Mansion. Andrew membopong Diana masuk kedalam mansion, disambut oleh Conrad, butler Jhon, nanny dan beberpa pelayan.


"Mommy kenapa daddy?" tanya Conrad dengan keheranan.


"Tidak ada apa-apa, dia cuma kelelahan. Jangan ganggu mommy dulu ya."


"Okey daddy."


Andrew menaiki tangga diikuti butler Jhon.


"Apa ada yang anda perlukan tuan?" tanya butler Jhon.


"Bawakan teh hangat kedalam kamar. Dan siapkan seorang pelayan khusus menemani dirinya, ingat pelayan yang mengerti keperluan wanita hamil." perintah Andrew.


Setelah membaringkan Diana di tempat tidur, dering telphone terdengar. Andrew mengambil smart phonenya dan menjawab panggilan tersebut.


"Ya Briant?"


"Masalah disini sudah selesai. Apakah kalian sudah sampai dirumah?"


"Iya."


"Bagaimana keadaan kakak ipar?"


"Dia tertidur."


"Bagaimana denganmu?" tanya Briant kuatir.


"Entahlah. Apakah mungkin perkataannya benar?" ucap Andrew dengan frustasi.


"Perkataan wanita itu benar-benar beracun dan racunnya jangan sampai menyebar didirimu dan membuat kau begitu saja mempercayainya." kecemasan briant beralasan.


"Kau benar dia selalu melakukan apa saja untuk mendapatkan yang dia inginkan. Dia dan keluarganya semua sama." Andrew menghela nafas melepaskan kegalauan hatinya.


*********************


"Ayo antar aku ke mansion. Kau tidak perlu berebut mengantar kakakku. Pada akhirnya sama kan, ke mansion brother Andrew." ucap Lia sambil menarik baju Jason keluar dari rumah sakit.


"Hey kucing liar! Kau pikir berapa harga jas yang kau tarik-tarik ini heh?!" bentak Jason kesal.


"Berapapun harganya tidak akan membuatmu jatuh miskin kan bila rusak satu." jawab Lia dengan cuek.

__ADS_1


Jason hanya melirik tajam. Setiap kali beradu mulut dengan gadis ini selalu membuat dia bungkam. Jason melanglah lebar-lebar menuju Lamborgini merah yang diparkir di area khusus depan rumah sakit.


Lia setengah berlari mengikuti langlah lebar dari jason. Dan masuk kedalam mobil dengan cepat pula.


"Wah keren juga mobil ini." gumamnya dengan bahasa negaranya.


"Apa?" tanya Jason yang tidak mengerti.


"Apa? Aku tidak bicara apa-apa denganmu." sahut Lia spontan.


Jason melajukan mobilnya, melewati kerumunana lalu lintas dengan perlahan awalnya.


"Kau tidak takut aku membawamu kabur?" ucap Jason dengam senyum liciknya.


Lia terperangah. Hal penting yang dilupakannya.


"Tidak mungkin, kau pasti masih ingin bertemu kakak ku kan?" jawab Lia merasa benar.


"Dia sudah menolakku bukan? Kenapa aku harus perduli denganmu?" balas Jason dengan terkekeh.


Lia menggeram kesal. Membuat Jasin semakin terbahak dan mengoloknya, "meauw."


Dengan wajah cemberut Lia menveluarkan ponselnya kemudia mengarahkan kepada Jason.


"Lalat buat mesum." Jason menoleh dengan jengkel kepada Lia. Lalu dengan cepat Lia mengambil foto Jason.


"Aha, saat ini aku sudah punya fotomu dan akan aku kirim kepada brother Briant juga plat mobil ini. Jadi, jangan macam-macam."


"Kau pikir aku takut? Kau menantangku kucing liar." Jason segera menancap gas mobil dengan kencang, keluar dari area kota, melalui jalanan sepi pantai dan melewati jembatan penghubung.


"Mau kemana kita? Apa yang kau lakukan?" tanya Lia dengan panik.


"Pulang ke rumah ku." jawab Jason datar.


"Tapi, kau berjanji akan mengantarku kembali ke mansion."


"Aku tidak pernah berjanji apapun." sahut Jason dengan sinis menyembunyikan seringai tipisnya.


"Tapi, kau harus mengantar aku." kali ini Lia benar-benar panik. Dia menyadari telah berbuat kesalahn dengan rasa percaya dirinya yang berlebihan.


"Bagaimana aku mengantarmu, jika kediaman mereka saja aku tidak tahu." Jason menjawab dengan tenamg sambil melirik Lia dan berusaha menahan tawanya ketika didapati gadis itu ketakutan.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hallo sobat pembaca...


Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.


Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.


Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.


Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.


Terimakasih.


Salam sayang 😘

__ADS_1


__ADS_2