Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
22. makan siang


__ADS_3

Lima bulan kemudian di Apartment di kota M.


"Andrew bulan depan aku akan kembali ke negara ku." kata Diana sambil mengupas apel.


"hmmmberapa lama kamu akan liburan." tanya Andrew yang duduk di depan Diana.


"Biasanya sih dua bulan."


"Kali ini 1 bulan saja ya oh tidak 2 minggu." Andrew berbicara sambil mengunyah apel yang telah dikupas.


"Aduh jangan ah. Aku sudah lama tidak bertemu adikku, keluargaku." Diana menatap Andrew memohon.


"Oke empat mingu."


"Enam, please." masih saling menawar.


"Hehhh tidak disangka kau sanggup tidak bertemu denganku selama itu." Andrew merengek.


"cuma enam sampai tujuh minggu saja. Waktu yang pendek untuk berkumpul dengan keluarga." Diana tersenyum. Biasanya dia memiliki waktu berlibur sekitar tujuh sampai delapan minggu.


"Baiklah nona cantikkk." Andrew menoel pipi Diana.


"Thanks." tersenyum manis.


"Tapi ingat. Handphone harus selalu hidup. kau harus selalu mengabariku kegiatanmu sehari hari. Kau harus mengirimiku foto kegiatanmu sehari-hari." Sederetan persyaratan dari Andrew.


"Hei, itu melebihi ketika aku bekerja." protes Diana.


"Di kapal banyak yang mengawasimu. Lagipula aku sudah berkali-kali mengatakan padamu untuk berhenti bekerja dan tinggalah disini." ujar Andrew lagi.


"Apa yang aku lakukan disini. Setidaknya disana aku bekerja dan menghasilkan uang."


"Kau tidak perlu memikirkan tentang uang, semua yang kau inginkan akan aku sediakan."


"Hahahaha, jangan terlalu memanjakanku. Aku akan membiayai adikku dengan hasil keringatku sendiri." Diana masih bersikeras. Andrew akhirnya mengalah lagi.


"Kau tidak pernah cerita sebelumnya kalau punya adik." Andrew bertanya sambil memandang tajam Diana.


"Karena kau tidak pernah bertanya." Diana mengangkat bahu .


"Ceritakan tentang keluarga mu." Diana memandang Andrew, merasa heran. Ini pertama kali nya Andrew bertanya tentang hal yang pribadi.


"Adikku masih kuliah di bagian komunikasi. Ayah sudah meninggal dan ibu ku sudah menikah lagi. Memiliki dua anak dengan suami baru nya. "


"Maaf. Sejak kapan ayahmu meninggal?" Suara Andrew terdengar simpatik .


"Sejak aku berusia sebelas tahun ."


"Dan ibu mu menikah lagi semenjak kapan."


"Setahun kemudian."


"Kau tinggal bersama ayah tirimu?"


"Oh tidak. Aku tinggal bersama Tante setelah ayah meninggal."


"Lalu ibu mu?"


"Dia kembali ke kota asalnya dan kemudian menikahi pria itu."


"Kamu masih sering bertemu?"

__ADS_1


"Aku dengan ibu ku? hmmm aku hampir tidak pernah berhububgan kecuali urusan uang." Lirih suara Diana hampir tidak terdengar jika saja Andrew tidak memperhatikan gerak mulutny. Andrew memandang Diana iba.


"Sudah jangan bersedih sekarang kan ada aku."


Andrew memeluk pundak Diana.


"Terimakasih. Semoga kau tidak berpaling ke lain hati." Diana menepuk pipi Andew perlahan.


"Kau sudah menjerat ku. Bagaimana aku bisa berpaling." suara Andrew terdengar lembut ditelinga.


"Gombal." Diana tersenyum lebar.


"Hahahha gombal apa itu aku tidak paham."


"Tukang Rayu. "


"Yang penting kamu suka dengan rayuanku." Andrew menciumi pundak Diana.


"Sudah... sudahh... hentikan ini geli. Lihat sudah mau jam 12 siang."


"Sedikit lagi. "


"Sudah. Aku masih harus kerja nanti." Diana berusaha menghindari ciuman dan pelukan Andrew yang semakin erat.


"Makan dulu yukkk lapar " Diana mengusap perutnya.


"Okey." meskipun mengatakan iya, bibir Andrew masih menelusuri leher dan pundak Diana sementara tangannya sudah hendak meremas buah dada Diana. Sesaat ia terlena. Ketika dirasakan tangan Andrew mulai menarik resleting gaunnya Diana segera tersadar kembali dan mulai menahan tangan kekar itu.


"Sudah sayang aku laparrr." dia mulai berontak lebih keras sehingga terlepas dari pelukan Andrew. Andrew mengatur nafasnya sesaat.


"Baiklah ayo kita makan di luar saja. Kita ke hotel Four Seassons, Chinese restaurant disana enak. "


"Okey aku bersiap dulu ya." Diana meloncat girang karena ini pertama kali nya Andrew mau mengajaknya makan di luar. Sebelumnya ada staff khusus yang datang membawakan makanan bagi mereka.


Di Four Seassons


Memandang sekeliling ruangan semua tampak elegan dan berkelas. Bukan saja Manusia nya yang tampak berkelas, Arsitektur bangunan, benda - benda didalam design interior nya terlihat amat sangat mewah.


Staff disana tampak sangat berkelas, tersenyum manis tetapi sedikit kaku. Jelas berbeda dengan karyawan kapal pesiar , crew disana selalu tersenyum dan bergerak bebas, bahkan menari bersama dengan tamu .


Diana merasa kecil diantar mereka. Sepatu hak 5 cm dan gaun selutut nya tamlak sederhana diantara mereka.


Seperti begitu akrab dengan Andrew para karyawan menyapa ramah. Dan Karyawan wanita seperti menyelidik tajam pada Diana. Berusaha tenang Diana hanya tersenyum tipis memandang mereka.


"Kau bersamaku. Kau tidak harus tersenyum pada mereka." Andrew melihat pada wanita disampingnya yang merasa kikuk.


"Baiklah." Diana menggangguk mengerti.


Saat ini mereka sudah duduk di sudut ruangan. Dibalik kaca dengan jelas bisa melihat pemandangan halaman yang terhampar luas.


"Chineese food di negara ini cenderung manis ya. " Diana berkata sambil menyuap nasi dan lauk dihadapannya.


Makanan tersebut dihias begitu cantik di piring.


"Apakah berbeda dengan di negara mu?"


"Sedikit. Ada beberapa masakan chinese yang memang manis tapi selebih nya gurih. Mungkin juga menyesuaikan dengan lidah kami."


"Oh ya? Aku baru tahu. "


"Kalau kau berkunjung ke negara ku, cobalah ." Diana tidak melanjutkan kalimatnya. Karena Andrew bahkan tidak pernah membicarakan tentang kunjungan ke daerah tempatnya berasal.

__ADS_1


"Biasa aku berhenti di Singapore. Negaramu mungkin bisa dimasukan ke jadwal lain waktu. "


"Benarkah?" Mata Diana berbinar.


"Habiskan makanmu." Ujar Andrew tanpa menjawab perkataan Diana.


Tengah asyik berbicara dan menikmati makanan ada seseorang wanita di sudut lainnya sedang memperhatikan keberadaan mereka. Mengeluarkan ponel dan mengambil beberapa jepretan. Memandang sejenak foto-foto yang di ambilnya. Kemudian mengirimkan ke sebuah nomor lain.


"Mau coba panna cota ini?" Diana menyendok dessert panacota dengan saus markisa yang tampak segar. Andrew membuka mulutnya menerima suapa dari Diana.


Klik! Wanita di pojok ruangan kembali mengambil foto mereka.


"Masih ada waktu satu jam lagi sebelum kamu kembali ke kapal apakah kita perlu pindah ruangan?"


"Tidak disini saja." Diana menyentuh tangan Andrew diatas meja.


"Baiklah. Atau kau mau berbelanja di butik hotel ini?"


Andrew menawarkan pilihan lain.


"Tidak, aku tidak perlu apa-apa. Cukup kita pindah disofa sana dan menikmati alunan musik."


Diana menunjuk pada Pianis yang sedang mendentangkan musik romantis.


Mereka pindah kesofa sambil Diana menglayutkan badannya di lengan Andrew.


"Ingat kau adalah wanita ku. Dimana pun kau berada au harus ingat itu!"


"Iya aku mengerti."


"Di rumahmu kau harus ingat untuk setiap waktu memberi kabar. Dan jaga sikap. Kau wanitaku. "


"Tidak ada percakapan dengan pria lebih dari lima menit. Tidak ada pertemuan dengan pria- pria apalagi mantan." Andrew meneruskan kalimat sebelum dan memberikan beberapa ultimatum ke Diana.


"Okey sayang. Kau pun juga begitu. Ingat kau tidak boleh melirik wanita lain."


"Hahahahahahhahahhaa aku tidak perlu melirik mereka. Sebab mereka lah yang akan menghampiri ku sendiri." Andrew berkata dengan percaya diri.


"Sombong!" dengus Diana sebal.


"Hanya dirimu yang membuatku sedikit berusaha." ujar Andrew sambil membelai rambut Diana


"Tidak ada wanita yang pernah menolakku." sesaat kemudoam sifat sombongnya mulai keluar lagi.


Gemas dengan sikap angkuh nya, Diana menjiwit dada Andrew yang keras. Kesal usaha nya sia-sia karena dada Andrew yang berotot, akhirnya dia pukul kecil dada itu sambil cemberut.


Andrew semakin tergelak dan menyandarkan kepala Diana di dada nya .


"Susah memiliki wanita seperti mu yang penurut dan tidak banyak tingkah. Apalagi pandai melayaniku." Suara Andrew lembut sambil mengusap rambut Diana.


Tepat dibagian kalimat melayani, pipi Diana bersemu merah dan kembali menepuk dada Andrew.


"Ingat jangan lupa buat B2 Visa ketika kau kembali. Aku akan mengajakmu berlibur. "


"Benarkah?" Diana memandang Andrew dengan gembira.


"Iya gadis kecil ku." sambil menoel pipi Diana.


"Sudah waktunya kembali ke kapal. Briant akan mengantarmu."


"Kau tidak pergi?"

__ADS_1


"Tidak. Aku ada beberapa urusan yang harus diselesaikan disini." Andrew mengecup bibir dan kening Diana.


Kemudian dia mengantar Diana sampai kedepan pintu lobby dan membiarkan Briant mengambil alih mengantarkan Diana kembali ke cruise. Sementara itu Andrew bergegas kembali kedalam restaurant.


__ADS_2