Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Rencana


__ADS_3

"Daddyyyyy lihatttt Alon sudah bisa belenang sendili. Daddy lihat kan?" Celoteh Aaron yang gembira karena berhasil sampai di ujung lebar kolam.


Adrew menatap Aaron dengan senyuman. Hari jumat sore ini dia memilih tinggal di mansion dari pada mengikuti inspeksi kapal pesiar. Andrew lebih senang menikmati kebersamaan dengan putranya. Saat ini ia sedang menikmati waktu berenang dengan ketiga anaknya.


"Iya daddy lihat. Aaron semakin hebat. Daddy bangga. " Andrew mengecup pipi Aaron dengan gemas.


"Holeeeee, " Aaron tertawa senang.


Sementara Francesca masih berusaha sekuat tenaganya berenang sampai ni pinggiran dengan mengmgunakan pelampung ditangan. Dengan perjuangan penuh, akhirnya Francesca sampai juga di pinggiran.


"Ayo... Ayo... Holeeee Flances hebatttt. " Aaron bertepuk tangan.


"Daddyyyy, Frances berhasilll." Ucap Francesca dengan mata berbinar.


"Iya, anak daddy hebat semua. " andrew dengan bangga memuji kedua kurcaci berbeda jenis kelamin berbeda itu.


"Wah, kak Conlad hebat. Sudah mutel-mutel belapa kali hebattt." Celetuk Aaron dengan kagum.


"Alon besar nanti mau pintel kaya kakak Conlad." Ujar Aaron lagi dengan percaya diri.


"Iya pertama kali harus belajar bilang R. Inget R bukan l. " Andrew menggoda Aaron yang masih cedal.


"Lllllllllll, " Aaron berusaha mengucapkan kata R.


"Salah. Rrrrrrr. " Ujjar Francesca memberi contoh.


"Lllllllllllllll, " Teriak Aaron berusaha.


"Aaron kok L sih, R. " Kata Francesca dengan gemas.


"Bialin dah, Alon kan masih kecil jadi ndak apa-apa. " Ujar nya dengan kesal, beralasan menyembunyikan rasa malu karena gagal mengucapkan kata R.


"Huh bilang saja gak bisa, alasan. " Sindir Francesca.


"Dibilangin Alon masih kecilllll, " Bantahnya hampir menangis.


"Ayo sudah gak boleh bertengkar. Lihat itu kakak Conrad mau sampai." Andrew melerai kedua bocah ini sebelum semakin ramai lagi bersahut-sahutan.


"Daddy, besuk bibi Matilda ulang tahun. " Kata Aaron kepada Andrew.


Andrew menatap putra bungsunya dengan penuh kasih sayang.


"Aaron mau memberi hadiah ke bibi Matilda? " Tanya Andrew.


Aaron mengangguk.


"Aaron mau kasih apa? "

__ADS_1


"Apa ya... " Aaron berpikir.


"Kasih bantal saja, " Celetuk Francesca.


"Loh kok bantal? " Andrew menatap anak gadisnya dengan heran.


"Soalnya bibi ngantuk an. Kasihan kalau tidur di kamar bermain tidak ada bantalnya. " Lapor Francesca.


"Loh, bibi tidur lebih dulu daripada kalian?" Andrew ingin memperjelas apa yang dikatakan anak-anaknya.


"Kadang-kadang." Jawan Francesca.


"Ngilel lagi, " Tambah Aaron.


Andrew menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia harus menegur pengasuh itu.


"Nah... Dikerjain saja dad. " Conrad tiba- tiba unjuk suara.


"Dikeljain apaan kak?" Tanya Aaron heran.


"Iya, seharian ini dimarahin habis. Kita semua marahin dia. Besuk pagi dikasih kejutan kue tart terua semua bilang, Supriseee! " Conrad mencetuskan ide.


"Nanti nangis, " Francesca merasa kasihan.


"Alon setujuuuu. Keljain bibi Matildaaa. Ya daddy ya. " Aaron mencari persetujuan.


"Ayo dad, seru pastianya. Daddy bebas marah dah hari ini, marahin saja suka tidur waktu menjaga Aaron dan Francesca. " Conrad memaksa Andrew untuk menyetujui nya.


"Hollleeee, daddy kelen. " Teriak Aaron dengan penuh semangat.


"Keren kenapa? " Tanya Diana yang baru datang dengan membawa snack.


"Itu.. " Suara Francesca tertahan dengan teriakan Conrad.


"Francess!!! Ayo renang sana! "


"Capek ah," Bantah Frances.


"Kalau begitu ayo makan itu cake yang mommy bawa. Ada spring roll kesukaanmu." Ajak Conrad.


"Okey." Frances menggandeng tangan Conrad.


Setelah menjauh. Conrad berbisik pada Frances, "Ini rahasia kita berempat. Mommy biar terkejut juga. "


"Ooo begitu ya, " Frances menatap polos.


*

__ADS_1


"Matilda, kemarilah!" panggil Andrew dengan suara bariton tidak bersahabat.


"Iya tuan,"


Dengan gugup dan perasaan was-was Matilda menghampiri Andrew yang sedang duduk bersama Diana di ruang keluarga lantai atas. Dia tidak mengerti kenapa tuannya tampak begitu tidak bersahabat kali ini.


Basanya, Andrew tidak pernah memanggil apalagi berkomunikasi dengan pengasuh. Semua Diana yang mengatur dan memberi pengarahan. Jadi wajar saja jika Matilda merasa heran dan kikuk ketika Andrew memanggil namanya.


"Aku melihat kau sering tertidur terlebih dahulu ketika menjaga anak-anak. Kenapa bisa begitu?" Tegur Andrew dengan keras.


Matilda terkejut. Memang dia pernah satu, dua kali tertidur saat menemani Aaron dan Francesca tidur siang. Hemmm mungkin lebih dari dua kali. Tapi juga tidak lebih dari dua puluh kali, pikir Matilda.


"Maaf tuan, waktu itu saya tidak sengaja." ujar Matilda dengan gugup.


"Tidak sengaja bagaimana? Bagaimana kau akan bertanggung jawab jika kedua anak tersebut berulah yang tidak-tidak?!" herdik Andrew dengan keras.


Amarah Andrew bukan saja membuat Matilda takut, tapi Diana juga heran. Dia menyentuh tangan Andrew agar pria itu bisa lebih tenang.


"Kalau kau tidak bisa menjaga Aaron dan Francesca dengan baik, lebih baik kau cari pekerjaan lain saja!" Ancam Andrew lagi.


"Tidak... tuan... saya sayang dengan Aaron dan Francesca. Saya tidak mau berhenti bekerja." ujar Matilda dengan gelisah.


Keringat dingin sudah membasahi tubuh Matilda. Dia gemetaran. Bekerja di Mansion ini adalah hal terbaik yang pernah dia rasakan. Gaji besar, anak-anak yang manis dan juga seisi mansion begitu kekeluargaan.


"Iya daddy, bibi suka tidul. lihat dia gemukkk." Aaron mengobarkan genderang perang.


"Suka ngiler daddy. Boneka Francesca pernah diilerin, jadi bau deh." tambah Francesca.


"Aduhhhh Aaron jangan marah sama bibi ya, bibi tidak sengaja tertidur waktu itu. Terus boneka Frances, basah bukan kena iler tapi kena air. Mana berani bibi tidur dengan boneka Frances." Ucap Matilda dengan memelas.


"Bibi Matilda jorok daddy, Conrad sering lihat dia suka mengupil disembarang tempat. Jijikkk." tambah Conrad lagi dengan lantang.


"Aduhh... tapi bibi cuci tangan setelahnya. " Matilda membela diri.


"Lihat! Ketiga anakku tidak menyukai mu, jadi kenapa aku harus mempertahankan dirimu?" tanya Andrew dengan sinis.


Sontak saja kaki Matilda menjadi lemas. Dia jatuh bersimpuh di hadapan Andrew dan Diana. Matilda menangis. Dia takut jika sampai benar-benar di pecat, akan sangat sukar mencari pekerjaan yang seenak di mansion ini.


"Andrew apa kau tidak terlalu keras? Bukannya kau menyerahkan urusan di Mansion ini padaku. Biarkan aku yang menegur dirinya." kata Diana dengan lembut. Dia merasa kasihan melihat Matilda yang terisak hingga bersujud.


"Kau terlalu lembut Diana. Tidak semua pelayan bisa kau perlakukan dengan baik, contohnya dia! Lihat bagaimana anak-anak tidak menyukai dirinya." ujar Andrew dengan tegas pada istrinya.


Diana terdiam, sangat jarang sekali Andrew memanggil nama lengkapnya begitu saja. Andrew biasa memanggil dirinya Sayang atau Ana. Dan yabg lebuh heran lagi, kenapa Andrew tiba-tiba saja campur tangan terhadap urusan pelayan.


"Tuan, Nyonya... maafkan saya. Saya berjanji akan bekerja dengan lebih rajin dan giat lagi. Saya akan bangun lebih pagi lagi dan tidak aoan mengantuk di siang hari. Jangan pecat saya tuan, saya mohon." Air mata berlinang di wajah Matilda. Dia benar-benar terpukul dan sedih.


Aaron menghampiri Matilda, berjongkok di hadapan pelayan itu, kemudian memiringkan kepalanya dan menatap Matilda yang masih bersimpuh sambil menangis.

__ADS_1


"Daddyyyy, nangisnya bohongannn. Ail mata buayaaa!" teriak Aaron dengan nyaring membuat isakan Matilda semakin meraung.


...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚...


__ADS_2