
"Brother! Dimana kakakku?! Bagaimana keadaanya?!" seru Lia yang baru saja datang bersama dengan Briant. Dia langsung menyerang Andrew dengan pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya selama di perjalanan.
Semenjak menerima kabar jika Andrew sudah bersama Diana dan membawa kakaknya ke rumah sakit akibat tembakan, Lia tak henti-hentinya menangis. Dalam hati dia meratapi nasib Diana. Bagaimana wanita itu selalu saja mengalami penderitaan semenjak kecil.
Diana kecil yang sudah ditinggal kedua orang tuanya, hidup bersama nenek sedangkan Lia diasuh oleh bibi nya. Semenjak kecil mereka sudah terpisah.
Diana kecil selalu bekerja keras, dia sudah berjualan semenjak kecil, setiap berangkat ke sekolah, tangan kecilnya selalu dipenuhi oleh sesuatu untuk dibawa dan dijual.
Bahu untuk tas sekolah, tangan kanan untuk keranjang kue dan tangan kiri untuk termos es. Seringkali dia berjalan kaki sejauh 2,5 km menuju ke sekolah.
Meskipun begitu Diana kecil cukup berprestasi, dia mencukupi biaya sekolah dengan bekerja. Saat lulus sma, bibi yang mengasuh Lia menawarkan untuk sekolah malam di bidang perhotelan. Di sanalah, awal Diana bekerja di kapal pesiar. Uang hasil bekerja nya selalu dia berikan sebagian untuk nenek dan bibi nya. Hingga sang nenek meninggal, Diana tetap memberikan sebagian penghasilannya untuk sang bibi yang bagaikan sosok ibu bagi Diana dan Lia.
Lia menyesali hal yang menimpa Diana saat ini. Dia tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri karena membiarkan Diana pergi ke kamar mandi sendiri disaat penculikan.
Briant yang berusaha menenangkan akhirnya hanya diam dan membiarkan Lia menangis.
"Mereka sedang dalam ruang operasi." ucap Andrew dengan wajah lelah.
Mata Andrew sudah memerah bukan saja karena menahan air mata tapi juga karena rasa lelahnya.
"Ya Tuhan kakak...hiks... hiks..." Lia tersedu sambil memegang pintu ruangan operasi.
"Bagaimana Rachel?" tanya Briant.
Andrew hanya mengangkat bahu. Dia benar-benar tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. Mungkin orang akan menilai dia kejam. Tapi, Andrew benar-benar lelah. Dia ingin mengesampingkan hal yang tidak lagi penting baginya.
"Tuan..." seorang pengawal mendekati Andrew dengan ragu.
"Ada apa?" jawab Briant menggantikan Andrew.
"Polisi mencari tuan Andrew hendak meminta keterangan."
Aparat negara itu memang melaksanankan tugasnya. Tapi kalau mereka memaksa pada situasi saat ini, tampaknya kurang berperasaan.
"Katakan pada mereka tidak untuk hari ini. Kau atau siapapun bisa menggantikan tuan Andrew untuk memberi keterangan bukan? Kalian ada ditempat yang sama bukan?" tanya Briant dengan suara menekan.
"Iya tuan..." jawab pengawal tersebut singkat sambil menyembunyikan kegugupannya.
"Lalu kenapa kau masih disini?!" hardik Briant.
Dengan adanya Briant disisinya, Andrew bisa menyimpan sedikit energi nya untuk berbicara dan berpikir.
"Keluarga nyonya Rachel datang. Ibu dan kakak tertuanya." ucap pengawal itu lagi.
"Ah kelompok tidak tahu malu itu." gerutu Briant kesal.
"Biarkan mereka yang mengurusi Rachel. Dan kalian berjaga jangan sampai mereka mendekati tuan mu." ucap Briant dengan tegas. Dia tidak ingin suasana yang sedang tegang ini akan bertambah tidak nyaman dengan kehadiran perusuh.
Beberapa menit kemudian, seorang perawat masuk dengan membawa troli berisi makanan ringan dan minuman hangat juga air mineral untuk mereka. Pelayanan yang tidak biasa dilakukan di malam hari. Mungkin ini adalah salah satu cara yang bisa mereka lakukan untuk meredam kemarahan Andrew.
Ponsel Lia berdering. Briant melirik kearah ponsel Lia. Tidak ada nama, hanya nomor saja tertera disana. Setelah berdering beberapa kali, Lia mengangkatnya, "ya Jason." ucapnya datar dengan suara yang terisak. Briant yang mendengar mengernyitkan keningnya.
"Dimana kau, apakah kau ada di rumah sakit? Siapa yang sakit? Apakah kau sakit?" tanya Jason dari seberang bertubi-tubi.
__ADS_1
"Iya aku di rumah sakit, kakakku tertembak..." tangis Lia pecah kembali sebelum sempat menjelaskan lebih lanjut.
tut...tut...tut...
Sambungan telphone dimatikan oleh Jason. Lia kemudian meletakan ponselnya di meja.
Dan tepat saat itu mereka mendengar sebuah suara samar-samar dari balik pintu ruang operasi. Tidak jelas tapi cukup membuat mereka yang berada di ruang tunggu menduga-duga.
Saat itu Andrew dan Lia saling bertatapan tajam. Dari tatapan itu ada kelegaan sekaligus ketakutan. Perasaan yang membaur menjadi satu menciptakan emosi yang tidak bisa mereka ungkapkan.
Suara itu semakin jelas. Tangisan bayi!!!!!
Benar itu tangisan bayi. Owe.... owe... menangis dengan lirih kemudian mengeras seolah terkejut dengan udara yang tiba-tiba masuk kedalam paru-parunya.
Air mata menetes deras di pipi Lia sambil meremas kedua tangannya dan berbalik menatap ke arah pintu operasi. Lebih parah lagi adalah Andrew, dia tampak pucat dan lunglai di sofa. Andrew yang awalnya duduk bersandar tanpa tenaga tiba-tiba duduk dengan tegang setelah mendengar suara tangisan bayi.
Pintu ruang operasi terbuka. Seorang perawat wanita keluar.
"Suster katakan padaku apa yang terjadi didalam. Aku mendengar suara bayi, apakah dia lahir dengan selamat, lalu bagaimana keadaan ibunya?" Lia memberondong semua pertanyaan yang hendak ditanyakan oleh semua orang di ruang tunggu.
"Iya nona. Bayi laki-laki anda sudah lahir dengan selamat tuan Andrew. Saat ini dia sedang di ruang inkubator karena usia nya yang belum cukup lahir. Anak anda sehat dia lahir dengan berat 2,9 kilo dan panjang 53 cm." Perawat wanita tersebut menjelaskan pada mereka keadaan bayi yang baru saja lahir.
"Lalu bagaimana keadaan istri saya?" tanya Andrew penuh harap.
"Maaf, istri anda masih akan melanjutkan operasi untuk mengangkat pelurunya. Dan saat ini keadaanya masih bekum stabil." ucap perawat tersebut sambil menatap mereka.
Kini dia tahu kenapa dr. Bell, menjadikan dia umpan yang harus menjelaskan keadaan di ruang operasi. Orang-orang dihadapannya mempunyai aura yang begitu menyeramkan. Saat itu juga perawat tersebut merasakan hawa membunuh dari pandangan mata Andrew.
Perawat tersebut mengangguk dengan gugup dan kembali masuk ke dalam ruang operasi.
Anakku... ah... terimakasih Tuhan. Sekarang tolong selamatkan kekasihku. Beri aku ijin untuk membahagiakan mereka.
Doa Andrew dala hatinya.
Tangis Lia sudah pecah sedari dia mendengar bahwa Diana akan melanjutkan operasi dan semakin keras lagi ketika perawat tersebut buru-buru kembali ke ruang operasi.
"Kakakkkk... huaaaa.... bertahanlah. Dengarkan tangisan anakmu. Kau harus bertahan. Huaaa...." lia menagis tersedu-sedu membuat pilu hati mereka yang melihat dan mendengarnya.
Briant berjalan menghampiri Lia hendak menenangkan gadis itu. Dan saat yang bersamaan Lia berbalik juga menghadap pada Briant hendak berjalan dan memeluk pria itu untuk menumpahkan tangis dan kesedihannya di dada bidang Briant.
Tapi ditengah langkah kakinya yang berjalan kearah Briant, seseorang menarik tangannya dan langsung memeluk Lia dengan erat.
Jason. Dia ada ditempat itu dan langsung menghentikan langkah Lia yang hendak memeluk Briant.
Lia menumpahkan tangisannya ke dada Jason. Jason membiarkan gadis itu menangis sepuasnya sementara tangannya mengelus rambut gadis itu dengan penuh kasih.
Briant yang melihat hal itu memandang dengan mata dingin. Dia tidak pernah memiliki perasaan bermusuhan dengan Jason sebelumnya. Tapi semenjak dia melihat Lia yang mengangkat nomer tanpa nama di ponselnya dan langsung tahu itu adalah Jason, membuat Briant kesal.
Apalagi saat ini Jason dengan bebasnya mengambil posisi dia yang hendak memeluk Lia.
Andrew yang masih di sofa, menyandarkan punggungnya seraya memejamkan mata dan memijit keningnya. Dia tidak menghirukan kehadiran Jason juga tidak melihat perubahan pada wajah Briant.
"Bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Lia setelah bisa tenang.
__ADS_1
"Aku kebetulan berada ditempat ini dan melihat pengawal Andrew berkeliaran disini."
jawab Jason dengan memandang pada Lia. Mata Lia sudah bengkak karena air mata, wajahnya lusuh, tapi tidak melunturkan kecantikannya bahkan membuat dia tampak lebih cute, menggemaskan.
"Jason, kakakku dia..." suara Lia tercekat di tenggorokan.
"Ssttt.. tenangkan dirimu. Kau bisa berbicara nanti." ucap Jason lembut. Kemudian dia membimbing Lia untuk duduk di sofa dihadapan Andrew.
Kemudian Jason dengan tenangnya mulai membagikan kopi juga teh yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit sebelumnya bahkan juga kepada pengawal Andrew.
Andrew menolak.
"Kau harus minum dan makan sandwich ini agar kau memiliki kekuatan melawanku ketika aku membawa Diana pergi darimu."
ucap Jason dengan tenang memancing emosi Andrew.
Dengan jengkel, Andrew mengambil roti lapis tersebut dan memaksa memakannya. Dia jadi teringat dengan roti lapis yang diberikan butler Jhon. Entah bagaimana nasib roti tersebut saat ini.
Jason tersenyum samar melihat Andrew mulai memakan roti tersebut. Kemudian dia menoleh kepada Lia yang berhenti mengunyah dan melamun. Dia berbisik ditelinga gadis itu yang sontak membuat Lia cemberut sekaligus memakan sandwichnya dengan cepat.
"Lihat, sudah habis. Puas kau!" ucap Lia jengkel.
Jason terkekeh, begitu mudahnya memancing emosi mereka.
Briant yang melihat sikap Jason dapat merasakan ketulusan hati pria billioner muda ini.
Kembali Jason menarik Lia kedalam pelukannya.
"Tidurlah, aku akan membangunkanmu ketika ada kabar tentang Diana."
"Tidak, aku tidak mengantuk." bantah Lia sambil melepaskan diri dari pelukan Jason. Dia juga merasa serba salah ketika Briant menatapnya dengan tajam.
Kembali Jason berbisik di telinga Lia, "tidurlah atau aku cium kau saat ini juga."
Lia menggeser duduknya dan menoleh pada Jason, "kau tidak akan berani."
"Kau yakin?" ucap Jason sambil mencondongkan tubuhnya pada Lia.
"Okey... okey." ucap Lia dengan cepat sebelum Jason bertindak jauh. Gadis itu segera meluruskan kakinya di sofa kemudian meletakan kepalanya di pangkuan Jason.
Jason tersenyum penuh kemenangan. Dan dengan senyuman tipis, Jason membelai rambut Lia. Menyisakan Briant yang menatap tajam juga Andrew yang masih penuh doa.
πππππππππππππππ
Jasonnn buat kami bucin padamu.
Andrew dan Lia semangat yaaaa...
AΓ½oo dukung mereka yaaa lewat like, coment
dan vote kalian..
Trimakasih
__ADS_1